Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 146



“Apa ini sebuah lelucon?”


Zerowolf menjadi salah satu murid yang masih saja tidak dapat menerima keputusan dari akademi. Topik tersebut menjadi bahan perbincangan utama begitu mereka kembali ke gedung asrama. Alih-alih kembali ke kamar masing-masing, mereka tetap berdiri di sekitar ruang depan, tangga, atau lounge room.


Riri memberi pendapatnya pada seluruh temannya, kecuali Sans dan Yudai yang ia lihat menyusul begitu saja melewati lounge room, “Situasi ini memang tidak main-main. Tidak heran pihak akademi menyuruh kita untuk kembali ke akademi saat sore, itu pun kalau kita keluar untuk menjalankan misi.”


Zerowolf mengacak-acak rambutnya sendiri, masih saja frustrasi. “Ah! Memangnya kita anak kecil! Kita ini sudah dewasa! Benar-benar tidak realistis menyuruh kita menyelesaikan misi sebelum sore.”


Tay membuang muka. “Masih lebih baik si mata empat yang menghilang. Dia boleh saja menghindari aturan ini. Mungkin dia kabur atau apa intinya? Dia tidak ingin dianggap sebagai mata-mata.”


Sierra memperingatkan, “Tay. Jangan asal tuduh segala. Kamu masih saja senang karena Neu belum kembali sama sekali!”


“Beatrice juga masih belum kembali,” Lana menundukkan kepala, “kasihan sekali Ruka, harus tidur sendirian.”


Ruka tidak peduli dengan empati Lana yang memeluknya dari samping. “Menjijikan. Justru sudah lama aku ingin menyendiri di kamar.”


“Begitu juga dengan diriku. Aku takkan terganggu oleh si mata empat saat tidur. Aku bisa tidur lebih nyenyak dan tenang,” tambah Tay.


“A-a-a-anu,” Katherine baru membuka suara, ingin sekali berbicara, akan tetapi tindakan Zerowolf, Tay, dan teman-temannya yang lain membuatnya terus bungkam.


Zerowolf kemudian melirik pada Sandee yang baru saja menuruni tangga memasuki lounge room, turut melangkah bersama teman-teman sesama royal guard. Gadis itu langsung memalingkan wajah pada wajah murid lelaki bertopi tidak bersalah itu.


“Lihat siapa yang baru mengambil satu langkah menjadi royal guard?”


Sandee pun menoleh, darahnya terpicu naik mendengar ejekan Zerowolf di hadapannya.


“Dasar!” balas Sandee.


“Oh, kamu akhir-akhir ini tidak bersama kami,” tanggap Lana, “dari mana saja?”


Sandee membuang napas cepat, meredakan kemarahannya terhadap Zerowolf. “Profesor Alexandria memanggil kami, murid-murid royal guard, untuk memperimbangkan memulai berjaga di sekitar kerajaan dan akademi. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Aku baru saja mendapat sebuah skill!”


“Skill? Skill apa? Untuk menjaga diriku dari orang lain?” rayu Zerowolf.


“Bukan urusanmu!” tegas Sandee sebelum berpaling. “Kita ke kamar, Sierra.”


***


“Sial!”


Yudai membanting tubuhnya ke tempat tidur. Kegalauan terhadap Royal Table dan juga pihak akademi membuatnya sendu, tidak seperti biasanya. Terlebih ia menjadi salah satu dari saksi langsung waktu Spade dari Royal Table mengakui adanya mata-mata di dalam akademi.


Sans bahkan tidak tahu harus berbicara apa. Ingin sekali ia bercerita tentang apa yang terjadi pada dirinya saat bootcamp, apalagi tentang alchemist. Tampaknya ia harus menunggu hingga matahari terbit, saat semuanya sudah tenang.


Yudai dengan bangkit dari tempat tidur, tidak seperti dugaan Sans. “Kita tidak boleh menjalankan misi sampai sore. Ini sudah gawat sekali.”


“Ya, memang. Profesor Arsius saja sudah mengakui,” balas Sans.


“Neu menghilang, lalu Beatrice pulang ke Beltopia. Kita bahkan tidak tahu kenapa Neu menghilang begitu saja. Sementara Beatrice, tidak, tidak mungkin dia akan pulang. Dia sendiri bilang kalau dia tidak mau kembali ke Beltopia.”


Sans menghela napas dan menutup tirai jendela cukup kencang. “Sungguh aneh sekali. Tampaknya aku tidak bisa belajar alchemy lagi di sebuah tempat baru.”


Yudai langsung ternganga. “Tunggu, tempat baru. Bukannya biasanya kamu belajar di ruang pribadi Profesor Duke?”


Sans mulai duduk di tempat tidurnya, menghadap Yudai. “Sebenarnya kami berencana pindah ruangan dari libur musim dingin, saat Alexandria hampir memergokiku. Ledakan karena kegagalan dalam proses transmutasi rupanya memicu bunyi cukup keras. Jadi Profesor Duke mengusulkan itu, dan pencarian ruangan cukup lama karena mungkin beliau sibuk akhir-akhir ini.”


Bukan hanya keputusan untuk pindah ruangan agar belajar alchemy secara leluasa dan tanpa gangguan siapapun, Sans juga bercerita tentang apa yang terjadi pada dirinya saat bootcamp. Ia sudah menduga akan masuk kelompok C karena gagal menunjukkan keahlian menyihirnya, akan tetapi, Duke datang menjemputnya dengan cara yang amat tidak elegan.


Tiga hari setelah ia “diculik”, ia berada di Arcanium, kota khusus alchemist. Ia mendapat tugas untuk membuat sebuah ramuan middle grade sebagai tugas bootcamp.


Bukan hanya itu, ia juga berhadapan dengan Spinarcia saat berada di sebuah kuil alchemist. Terakhir, tepat pada tujuan awal untuk berbicara, yakni pindah tempat untuk belajar alchemy. Sekali lagi, rencananya dalam bahaya, mengingat mulai esok hari, mulai ada penyelidikan dan pencarian mata-mata Royal Table.


“Jadi begitu. Pantas yang lainnya bilang kalau kamu kabur dari bootcamp. Setidaknya, aku percaya saat dirimu datang bersama Profesor Duke, kamu sudah dapat pelatihan khusus dari beliau.”


“Mungkin … aku akan berbicara dengannya besok.”


***


Seakan tidak mengenal waktu istirahat sehari setelah tiba dari kegiatan bootcamp, Alexandria tetap bersikukuh agar mengadakan kelas filsafat seperti biasa bagi kelas Sans. Seluruh murid hanya bisa terdiam merenungi. Ia tetap ingin mengejar ketinggalan dalam hal pelajaran demi seluruh murid didikannya.


Seperti biasa, memang tidak ada yang suka duduk di hadapan Alexandria selaku profesor pengampu kelas itu. Bahkan tidak ada yang berani memotongnya untuk mulai berdiskusi, kecuali bagi yang benar-benar serius mengikuti arahannya.


Kelegaan akhirnya didapat saat Alexandria mengumumkan kelas telah berakhir. Ironinya, ia juga memberi tugas menulis esai, lagi-lagi seluruh murid mengeluh.


Menjelang bubarnya kelas, Sans dan Yudai melihat bangku sebelah mereka benar-benar kosong. Biasanya bangku itu ditempati oleh Beatrice dan Neu. Suasana kelas kedua sosok itu berubah drastis.


“Mentang-mentang mulai minggu depan sudah masuk libur pertengahan musim semi, tidak ada alasan untuk bersantai. Apalagi, sekarang aturannya sudah ketat gara-gara ada mata-mata dari Royal Table. Manfaatkan waktu dua minggu ini dengan sebaik-baiknya! Saya tidak mau dengar alasan lupa atau karena sibuk menjalankan misi. Titik.


“Satu lagi, sekadar mengingatkan, kalian wajib membuat surat izin kalau kalian ingin pergi ke luar dari akademi selama libur musim semi. Tapi, sebaiknya kalian cepat karena lembar suratnya kami buat secara terbatas.


“Kami ini kerja saja dari kalian untuk membantu menangkap mata-mata itu. Jika tidak, masa depan kalian akan benar-benar dalam bahaya. Sudah, bubar.”


Seluruh murid akhirnya keluar dari kelas tersebut, perasaan lega dan keluhan membanjiri percakapan antara murid. Harus membuat tugas saat libur musim semi, sungguh terlalu.


Tapi tidak bagi Sans dan Yudai. Alih-alih mengikuti barisan murid lain di selasar, mereka justru memisahkan diri.


Yudai membujuk Sans, “Sebaiknya kita ke ruang Profesor Duke.”


“Kita? Maksudmu kamu juga ikut?”


Yudai hanya mengangguk dan menatap tajam dirinya.


“Oh, tidak, tidak. Gagasan buruk.”


***


“Sans?” Raut wajah Duke seketika masam saat memperhatikan Yudai juga datang. “Kamu tahu ini hanya urusan kita berdua, bukan?”


Yudai menjawab, “Kurasa saya juga harus tahu. Saya juga tahu Sans belajar menjadi … alchemist.” Saat ia melafalkan kata alchemist, volume suaranya ia perkecil hingga seperti berbisik.


Duke hanya mengangguk dan mempersilakan keduanya masuk ke ruangan pribadinya. Ruangan itu cukup berbeda dibandingkan terakhir kali mereka berkunjung. Tak terlihat meja yang biasanya dipakai untuk melakukan transmutasi di dekat jendela. Bukan hanya itu, rak yang biasanya memuat botol ramuan juga seakan lenyap.


“Kalian tentu sudah tahu apa yang dikatakan Profesor Arsius.”


Sans mulai duduk mengikuti Yudai di tempat duduk menghadap sebuah meja di bagian depan ruangan. Kedua kakinya sampai bergetar beberapa kali di lantai berusaha menyatukan pikiran acak menjadi sebuah pernyataan jelas.


“Menyebalkan sekali. Kita tidak boleh menjalankan misi sampai matahari terbenam. Tidak seru. Tapi … Sans memberitahuku Anda ingin mengajarinya di sebuah tempat rahasia.”


“Benar.” Giliran Duke membuka suara. “Benar-benar di luar dugaan, situasi yang bahkan tidak bisa dikontrol siapapun di akademi ini. Royal Table, mereka menjadi ancaman bagi akademi ini. Mau tidak mau, mereka mengadakan penyelidikan terbuka untuk menguak siapa mata-mata yang menyamar menjadi murid atau profesor.”


“Berarti … semuanya, di akademi ini … adalah tersangka,” simpul Sans.


“Tidak, tidak, tidak.” Duke menggeleng sambil mengambil posisi duduknya. “Jika mereka sudah curiga dengan orang itu, apalagi menyelinap untuk mengambil informasi rahasia dari kerajaan dan akademi, dia akan jadi tersangka. Sayang sekali, secara teknis, kalau kita berdua melanjutkan berlatih seperti yang kita rencanakan waktu di Arcanium, Sans, terdapat peluang besar kita akan menjadi tersangka.”


“Ya. Aku juga berpikir begitu,” ucap Sans.


“Tapi—” Duke bangkit dari duduknya, sangat cepat. “—saya sudah memikirkan sebuah solusi terbaik. Solusi yang memanfaatkan kita berdua dapat kembali belajar Ialchemist secara sembunyi-sembunyi. Bukan di sini tentunya.”


“Pantas saja Anda memindahkan meja untuk praktik transmutasi ke ruangan itu.”


“Tidak. Saya menjualnya. Kalau memindahkannya, tentu akan cukup jauh dan sulit agar tidak menonjol pada semua orang. Tempat ini harusnya sangat rahasia.”


“Lalu di mana kita akan lanjut kelas khusus alchemist, Profesor?”


“Di lorong terlarang gedung perpustakaan. Lantai 6.”


Mendengar lokasi itu, Yudai langsung teringat sebuah hal. Pengumuman pemenang saat stage terakhir Festival Melzronta ternginang-nginang di benaknya.


“Lorong terlarang di lantai enam gedung perpustakaan. Kalau dipikir-pikir lagi, aku dapat akses ke sana. Hadiah untuk juara pertama kategori individu. Aku dan Zerowolf bahkan tidak pernah ke sana sama sekali.” Yudai langsung mempertimbangkan. “Lalu, aku juga ingat, seharusnya 15 kelompok yang berhasil menghasilkan 1000 vial waktu stage keempat Festival Melzronta dapat kelas spesial juga. Anehnya, akademi belum ada pengumuman sama sekali tentang itu.”


Duke merespon, “Biasanya itu diadakan sebelum ujian semester. Tapi, itu tidak penting sekarang. Setidaknya, beruntung kamu juga datang, Yudai.”


“Aku? Beruntung?”


“Kamu bisa datang ke sana usetidaknya untuk singgah saat waktu luang, untuk membaca. Mungkin tidak akan berpengaruh banyak dalam rencana saya untuk mengajari Sans mulai besok.”


“Apa rencana Anda, Profesor?” tanya Sans.


Duke tegas menjawab, “Ini solusinya. Sans, besok fajar, kamu ke ruangan saya dulu. Lalu kita ke lorong terlarang di perpustakaan bersama-sama. Yudai, kalau kamu ada waktu luang pada sianghari, kamu ke lorong terlarang. Terserah mau melakukan apa. Setidaknya, kamu bisa jadi kedok, ya secara teknis, tidak membantu kami berdua.”


“Saya pastikan tidak perlu ada yang tahu soal ini.” Yudai mengangguk. “Lagipula, ada sesuatu yang ingin saya tahu.”