Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 174



“Hukum saja dia! Hukum!! Profesor Clancy, Anda punya wewenang untuk melakukannya!”


“Hei, Sans! Kamu tidak pantas berada di sini!!”


“Dasar alchemist bangsat!”


Cemoohan dan ejekan bertubi-tubi dari para murid membuat Sans tidak berkutik sama sekali. Ia ingin sekali berdiam diri menahan banting dari semua perkataan murid-murid lain. Sayang sekali, otaknya sudah penuh semuanya, lama-kelamaan, ia menggeretakkan gigi dan menajamkan keningnya. Ingin sekali ia mengelak, akan tetapi, ia kalah jumlah.


Sebuah bantingan ke tanah berumput menghentikan semua orang, mengagetkan semuanya. Sans membanting belatinya keras sampai memicu bunyi seperti bantingan pintu. Ia melangkah cepat meninggalkan semuanya, semua orang yang mengikuti kelas khusus itu.


Semua orang sampai terdiam meliriknya meninggalkan area halaman kastel akademi. Yudai dan Beatrice, selaku rekan satu tim mereka, menjadi satu-satunya murid yang bereaksi lambat terhadap tindakan Sans.


“Sans!!” sahut Yudai dan Beatrice.


“Yudai, Beatrice.” Sahutan Clancy memicu mereka berdua menghentikan langkah dan menoleh. “Lebih baik kalian di sini saja dulu. Saya ingin berbicara pada seluruh murid yang ada di sini.”


Clancy kemudian melirik Conti dan kedua rekan timnya. Matanya melirik tajam, ia sudah tahu apa yang ia akan lakukan terhadap mereka. Terlebih dahulu, ia melirik terhadap semua murid.


“Menurut saya, ini sudah melewati batas. Mengingat ini adalah kelas khusus untuk para pemenang stage keempat Festival Melzronta, sikap seperti ini tidak dapat saya terima.”


Seluruh murid terdiam sampai menundukkan kepala, beberapa dari mereka membuang napas melampiaskan ketegangan, beberapa dari mereka, termasuk Riri, Katherine, dan Zerowolf, terfokus pada tatapan Clancy.


“Tim Conti—” Clancy sudah memutuskan. “—silakan kalian tinggalkan kelas ini, dan kalian tidak usah kembali ke kelas ini. Saya akan pastikan pada ujian akhir semester, kalian akan mendapat pengurangan nilai sebanyak 25 poin.”


Conti dan kedua rekan timnya mendengus kesal atas keputusan Clancy. Mereka membanting pedang kembali pada selongsong, membuang muka pada seluruh murid.


Tidak ada satupun yang menyangka, sangat tercengang, Clancy yang menjadi salah satu profesor perempuan terfavorit bagi seluruh murid, jika dinilai dari kecantikan hingga kemampuan, bisa saja membuat keputusan tegas dan geram akan kebisingan murid-muridnya.


“Semuanya. Kalian sudah tahu keputusan sidang waktu itu. Kalian lihat sendiri Sans tiba kembali di asrama. Sidang memutuskan dia tidak dikeluarkan. Seharusnya tidak ada alasan bagi kalian untuk menghinanya bertubi-tubi. Saya ingin tahu, silakan angkat tangan bagi kalian yang ingin mengikuti kelas khusus ini.”


Seluruh murid, termasuk Yudai dan Beatrice sendiri, mengangkat tangan. Mayoritas dari murid saja tidak sanggup melihat wajah Clancy.


“Tatap wajah saya!” Sesuai dugaan, Clancy menegur. “Dan angkat tangan kalian lagi!”


Seluruh murid mengangkat kepala, masih ketakutan menatap wajah Clancy, bahkan tidak jauh berbeda daripada Alexandria.


“Saya tidak bermaksud untuk mengintimidasi kalian semua, tapi melihat sikap kalian semua, sepertinya kalian tidak bersungguh-sungguh, apalagi jika menyinggung job Sans seperti tadi dan meminta saya untuk menghukumnya. Buat kalian yang masih saja tidak bersungguh-sungguh, silakan kalian tinggalkan kelas khusus ini dan jangan kembali. Saya benar-benar malu melihat sikap kalian semua seperti ini, bagaimana saya menjelaskannya pada Profesor Arsius kalau begini terus?”


Sebagian besar murid mulai merenungi apa yang telah mereka lakukan, mendukung Conti dalam mengintimidasi Sans sebagai murid ber-job alchemist. Tidak sedikit pula yang menggeretakkan gigi, tetap tidak menerima keberadaan Sans, mengingat job alchemist merupakan job terlarang.


“Sudah. Yudai dan Beatrice, silakan bergabung kembali dengan murid-murid lain. Selanjutnya.”


Begitu bergabung kembali dengan murid-murid lain, Yudai lebih memilih berdiri di samping Riri. Ia mengingat Riri rela membantu Yudai untuk membela Sans. Pada saat yang sama, Clancy memanggil dua buah tim untuk saling berhadapan dalam mock battle berikutnya.


“Kenapa kamu membantu kami?” Yudai bertanya.


“Aku ingat saat kita menjalankan misi di penginapan mewah berhantu,” Riri membela, “Ingat dengan memory shard waktu itu?”


Yudai mengangguk. Ia ingat pasti dengan gambaran peristiwa pembunuhan seorang alchemist di tangan massa. Mengingatnya kembali, apalagi jeritan massa dan proses pembakaran hidup-hidup, membuat bulu kuduk berdiri dan udara tertelan.


“Jujur saja, Profesor Alexandria tidak menjelaskan bagaimana perspektif dari alchemist tentang insiden itu, ya, tidak ada di dalam buku, dia tidak akan mau menjelaskannya, apalagi mencarinya.”


Wajah mereka kemudian teralihkan sesaat menatap kedua tim mulai melakukan mock battle, seakan sedang bertempur sungguhan. Sebuah sihir tanah mulai keluar dari tangan seorang murid mage dan terdorong menuju tim lawan. Salah satu anggota tim lawan justru menggunakan skill monk dengan mendorongkan tangannya pada tanah berumput.


Seakan menyaksikan pertarungan sungguhan, murid-murid di atas tingkat mereka pun sungguh hebat. Mereka sampai takjub sejenak menyaksikan pertarungan tersebut.


“Jadi … aku sedang mencari kebenaran di balik insiden alchemist di kerajaan Anagarde. Aku ingin tahu bagaimana perspektif alchemist.”


Zerowolf memotong ucapan Riri, “Kalau itu, sudah kubilang, pasti tidak ada satupun yang percaya alchemist. Kalian lihat sendiri yang lainnya sampai menghina Sans bertubi-tubi. Jujur saja, Riri bahkan memaksaku untuk ke lorong terlarang.”


“Hanya kita berdua yang punya akses ke sana,” balas Yudai, “dan aku belum menemukannya sama sekali. Petunjuk. Apa yang diincar oleh Royal Table dan tentang insiden alchemist itu.”


Zerowolf membuang ludah. “Kalau begitu, kita bersaing saja. Siapa yang menemukan lebih dulu—”


Riri menyikut kepala Zerowolf setelah berjinjit. Ia paling tidak tahan melihat perilaku Zerowolf yang lagi-lagi mengutamakan persaingan melawan rival bebuyutan alih-alih bekerja sama untuk mencari tahu kebenaran.


“Anu … Sans … bagaimana dengannya?”


Terpicu! Yudai langsung membeku. Mendengar kekhawatiran Beatrice, ingin sekali ia mencari Sans yang pergi entah ke mana. Ia terpikir reaksi setiap orang di kelas khusus terhadap keputusan untuk menggunakan skill khusus alchemist.


Sebelum ia memimpin melakukannya, Yudai harus rela berlama-lama menyaksikan setiap mock battle yang memakan waktu lima menit, total pada hari itu, enam mock battle. Tim Riri dan Tim Zerowolf tidak termasuk dalam salah satu dari mock battle itu.


Ketika kelas khusus di halaman depan kastel telah berakhir, semua murid mulai membubarkan diri, berpisah menuju tujuan masing-masing, baik mengikuti kelas lain, ke kantin, atau hanya ke pusat ibu kota. Begitu Riri, Zerowolf, dan Katherine kembali mendatangi Yudai dan Beatrice, Sandee, Ruka, dan Lana memisahkan diri, menyadari mereka lagi-lagi ingin berbicara tentang Sans, memang bukan urusan mereka.


Zerowolf mengabaikan keduanya yang telah pergi. “Terserah mereka saja. Memang sudah menjadi hak mereka.”


Beatrice enggan dalam menerima keputusan itu, “Ta-tapi … mereka teman kita, bukan? Seharusnya—”


“Ya, mereka belum bisa menerima kenyataan Sans masih ada di sini. Yang lainnya juga, tampaknya mereka mengikuti keputusan Profesor Alexandria yang mereka takuti. Kita sudah lihat sendiri, tidak ada lagi yang mau berpura-pura dia masih ada di Akademi Lorelei.”


Yudai kembali menghela napas, Profesor Alexandria memang profesor yang paling ditakuti. Pada saat yang sama, alchemist juga masih menjadi hal tabu bagi kebanyakan masyarakat kerajaan Anagarde, khususnya murid Akademi Lorelei.


Saat ia kembali terpancing tentang Sans, kepanikan melanda.


“Hei! Bukannya kita harus cari Sans!” Yudai melampiaskan frustrasinya. “Beatrice, kamu dan aku cari dia di sekitar kastel. Riri, Katherine, dan Zerowolf, kalian cari di sekitar kota!”


Tanpa ba-bi-bu atau pamit lagi, Yudai memelesat meninggalkan halaman kastel menuju pintu masuk akademi. Sungguh cepat kecepatannya, sampai Beatrice saja kaget.


“Ya,” Zerowolf berkomentar, “sejak Sans ketahuan menjadi alchemist, Yudai benar-benar berubah, di luar karakternya. Seperti kita tidak mengenalnya saja.”


Zerowolf melangkah dan menghela napas, merenungi bersemangatnya Yudai saat melawannya di mock battle atau Festival Melzronta. Yudai yang biasanya selalu riang, bersemangat, dan sedikit ceroboh kini menjadi benar-benar serius dan defensif.”


Katherine berlari kecil dan berbalik menghampirinya. Ia menggeleng, tidak menyetujui pendapat Zerowolf.


“Eh? Katherine, kenapa?” Riri merespon.


“I-itu tidak benar!” Katherine secara berani membantah. Matanya kini tidak lagi sayu seperti sebelumnya, sebuah keberanian seakan tergambar pada bola matanya. “Yudai masih orang yang sama. Dia … masih memiliki tekad! Dia … ingin melindungi temannya. Makanya dia seperti itu.”


Riri dan Zerowolf terdiam, reaksi mereka terhadap jawaban tak terduga dari Katherine itu memicu pemikiran semua orang telah berubah, terlalu banyak, semenjak Sans tertangkap.


Wajah Katherine kembali memerah saat Zerowolf menyentuh tepat pada keningnya. Rangsangan dari telapak tangan Zerowolf bersentuhan dengan kulit seakan mengeluarkan asap kecil dari telinganya.


“Kamu memang tidak sedang demam. Kenapa tiba-tiba semua orang termasuk dirimu berlagak di luar kebiasaan biasa?”


Katherine lagi-lagi terbata-bata, kembali bersikap seperti biasa. Ingin sekali membela dirinya, akan tetapi, ia tidak sanggup berkata ia tahu setiap perilaku dari Yudai.


“Oh ya! Sans! Kita harus cepat mencarinya!” Riri memasuki mode pemimpin lagi dan mendahului mereka berdua meninggalkan halaman depan kastel menuju jembatan perbatasan. Jalannya ia percepat, khawatir akan keadaan Sans.


Kedua kelompok, Yudai dan Beatrice; Riri, Zerowolf, dan Katherine; mencari ke segala penjuru tempat yang mereka ketahui sesuai lokasi tugas mereka. Waktu pun berlalu hingga sore hari, menjelang dimulainya jam malam.


Riri, Zerowolf, dan Katherine kembali ke lounge room asrama setelah berlama-lama di kota, kelelahan berkeliling. Yudai dan Beatrice pun juga ngos-ngosan mengeksplorasi setiap sudut akademi, bahkan sampai hampir melewati area kerajaan.


Nihil, benar-benar nihil. Sans sama sekali tidak ketemu.


Sebelum mereka mulai berdiskusi, seorang profesor menuruni tangga dan menapakkan kaki pada lantai lounge room, memicu seluruh murid yang tengah bersantai menoleh padanya.


“Berkumpul di aula dalam sepuluh menit!” Itulah perintah singkat dari profesor tersebut. “Harap panggil teman-teman kalian yang lain.”


Perbincangan mulai meledak kembali. Seluruh murid pun tidak menyangka. Biasanya, sehari sebelum ujian akhir semester, akan ada pengumuman khusus untuk masing-masing tingkatan. Hanya enam hari sebelum ujian akhir semester dimulai, semuanya harus berkumpul.


Seluruh murid mulai berbondong-bondong menaiki tangga dan mengangkat kaki dari lounge room, sebagian besarnya lagi menaiki tangga menuju kamar dan memanggil murid-murid lain.


Banyak yang berspekulasi bahwa terdapat pengumuman terkait dengan penyelidikan Royal Table atau ujian dipercepat. Yudai sampai mencuri dengar salah satu murid berharap akademi diliburkan saja karena ancaman Royal Table.


Menyadari mereka harus secepatnya ke aula, keberadaan Sans sama sekali masih belum diketahui. Tidak ada pilihan lain selain hanya mematuhi jam malam, dan untuk ke aula. Saat di selasar, ikut berbaris mengikuti murid-murid lain, sama sekali tidak ada suara yang terlontar.


***


Aula akademi sudah penuh dengan murid-murid seperti biasa setiap kali ada pengumuman. Keramaian dari percakapan sudah memenuhi segala sudut ruangan. Begitu pula dengan pembicaraan dari kalangan profesor di depan podium untuk Arsius.


Sans sama sekali belum terlihat di antara barisan murid-murid tahun pertama. Sungguh mengkhawatirkan. Yudai dan Beatrice membuang napas meratapi kenyataan Sans belum berada di samping mereka setelah mendapat perlakuan kejam oleh murid-murid lain di kelas khusus.


Riri pun memperhatikan di antara kalangan profesor. Wajah Alexandria kecut, sama sekali tidak menganggapi percakapan setiap profesor. Profesor yang paling dibenci itu tetap berdiam diri.


Arsius akhirnya bangkit dari duduknya dan menghampiri podium. “Semuanya,” Suara lantangnya lantas menghentikan seluruh kebisingan yang terjadi di aula tersebut. “Sudah kurang lebih tiga minggu kita mendapat kabar ancaman. Sayang sekali, kami masih mencari markas besar Royal Table. Dapat dikatakan penyelidikan masih berada di jalan buntu. Terlebih lagi, kami belum menemukan mata-mata dari Royal Table di sini. Dia masih cerdas dalam menyamar sebagai salah satu dari kita, baik itu murid atau profesor—”


Zerowolf mendengus, “Bukannya sudah jelas. Pelakunya adalah Sierra. Kenapa masih saja belum ada yang memberitahu mereka? Cukup sudah!” Ia mengambil ancang-ancang untuk bangkit dari duduknya.


Riri mendorong sentuhannya pada bahu Zerowolf. “Jangan! Sekarang kita tidak punya bukti.”


“Hei! Tapi jelas-jelas Sierra tidak ada di sini. Dia juga tidak hadir belakangan ini.”


“Untuk sekarang, kita biarkan saja dulu. Membuktikannya dengan perkataan adalah hal yang sangat mustahil, mengingat Sierra juga sedang tidak ada di sini. Nanti kalau kita menyimpulkan sendiri, justru kita akan dicap yang tidak-tidak.”


“—karena pengumuman ujian akhir tinggal enam hari lagi, kami ingin kalian—"


Pintu aula pun terdobrak. Dobrakan pintu itu seperti meledak di telinga sampai seluruh murid melirik, menghentikan pidato Arsius juga. Seorang laki-laki berkacamata telah menapakkan kaki di ruangan tersebut, didampingi oleh dua orang royal guard.


Laki-laki itu ngos-ngosan, panik, peluhnya sampai membasahi bagian depan kemeja putih beserta mantel dark blue-nya. Cherie, familiar-nya juga masih terlelap di bahu. Ia akhirnya sudah berada di hadapan seluruh murid, profesor, dan staf akademi. Profesor Arsius juga meliriknya sambil menghentikan bicara.


Beatrice berdiri membuka mulut, terengah-engah menatap laki-laki itu sungguh tidak asing baginya. Yudai, Riri, Zerowolf, dan Katherine juga ikut berdiri, tidak kalah kagetnya melirik wajah familier itu.


“Neu? Neu!!” jerit Beatrice sampai mendebarkan seluruh murid di sekitarnya.


Beatrice terbirit-birit meninggalkan tempat duduknya hanya untuk mendekati Neu. Yudai ikut berlari mengikutinya, masih tidak percaya bahwa mereka telah melihat teman mereka yang selama ini diculik sudah berada di depan mata.


Tay, masih duduk di antara murid tahun pertama lainnya, menggeretakkan gigi dan membuang muka. Seharusnya ia murka teman sekamar sekaligus rival bebuyutannya itu telah kembali, seharusnya otaknya memendam kebcncian. Akan tetapi, perasaan euforia juga mengindahkan sebagian dari pikirannya. Perasaan bercampur ini memicu Neu menggeretakkan gigi, ingin marah pada dirinya sendiri.


Arsius dan seluruh profesor lainnya sampai kaget. Beberapa profesor lainnya sampai berdebat cukup keras atas kedatangan Neu. Mereka membicarakan Neu sudah lama sekali menghilang dan baru muncul sekarang.


“Neu!!” sahut Beatrice sekali lagi cukup keras. “Akhirnya.”


“Beatrice.” Neu memeluk teman masa kecilnya itu saat sudah dekat. Ia tidak peduli bajunya yang telah basah juga akan menyebar pada kemeja dan mantel Beatrice.


“Astaga!” giliran Yudai menyahut. “Kami pikir kamu diculik Royal Table!”


“Benar, Yudai. Aku diculik. Aku tahu siapa mata-matanya. Orang yang sudah menculik dan membawa diriku ke markas Royal Table.”


Jawaban Neu pada pertanyaan Yudai cukup nyaring hingga memicu keheningan seluruh murid dan profesor di aula. Neu pun melepas pelukan Beatrice dan melangkah menatap Arsius dan seluruh profesor.


“Aku tahu siapa mata-matanya, siapa yang menculik saya. Pelakunya Sierra!!”