Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 184



Hanya tinggal satu hari sebelum ujian akhir semester. Begitu seluruh murid terbangun, mereka tahu mereka harus menyelesaikan tugas masing-masing sebelum mengikutinya demi mendapat nilai akhir, sebuah penentuan nilai tahunan mereka untuk menentukan nasib di Akademi Lorelei.


Tekanan terasa bagi seluruh murid tahun pertama, terutama bagi murid yang mendapat nilai tidak memuaskan selama semester pertama dan terutama saat bootcamp. Mereka berpikir mau bagaimanapun, mereka harus lulus, harus lancar dalam penilaian dan tidak melakukan hal memalukan dan memicu ketidaklulusan dan pengeluaran dari akademi.


Bagi murid bermantel putih, mereka tidak mendapat dasar apapun selama dua semester terakhir. Posisi paling tidak menguntungkan terpaksa mereka ambil, tidak mengambil satu pun kelas khusus job. Mereka hanya mengandalkan hasil pelatihan masing-masing dan pilihan senjata.


Itu pun termasuk Sans yang juga menjadi alchemist. Sayang sekali, job itu malah tidak menguntungkannya pula. Selain mendapat pertentangan dari hampir seluruh murid, hampir dikeluarkan, dan juga ketakutan tidak lulus ujian akhir semester, ia selama ini memisahkan diri dari teman-temannya untuk melanjutkan membuat skill, tanpa bantuan Duke, profesor pengampunya.


Kini, semuanya sudah mencari tempat masing-masing, baik itu di hutan dekat perbatasan kastel akademi di setiap arah mata angin, taman depan dan belakang kastel akademi, hingga bahkan keluar kota sekalipun. Tujuannya hanya satu, menguji skill original baru mereka masing-masing. Bagi seluruh murid tahun pertama ber-job berbasis sihir, perpustakaan sudah mereka kosongkan, sudah harus menata kalimat mantra bahasa Conlang, maka mereka harus membaca mantra dan membayangkan efek sihir mereka, termasuk proses pengeluaran mana dan pembentukkannya begitu keluar dari tongkat sihir.


Itu pun yang dilakukan oleh Neu dan Katherine di dekat gerbang perbatasan timur ibu kota. Tidak jauh dari jalan masuk kota, mereka jadikan padang rumput itu sebagai tempat praktik skill sihir baru mereka, original.


Jika perlu, Neu meninggalkan Katherine sejenak untuk mencari mangsa sebagai korban skill originalnya. Kesempatan emas untuk menggunakan skill sihir itu langsung pada musuh bisa menjadi start lebih awal baginya.


Katherine menatap secarik kertas bertulisan tinta hitam di pangkuan. Sebuah kalimat mantra berbahasa Conlang. Ia sudah mengikuti tata bahasanya dalam merangkai kalimat dan juga terjemahan. Dapat ia bayangkan juga bagaimana ia mengubah mana dari dalam tubuhnya dan membentuknya menjadi sebuah sihir secara nyata.


Sayang sekali, seperti dugaannya, ia tersesat dalam renungannya. Matanya tetap menatap tulisan itu sebagai kalimat penentu surat kegagalannya. Dapat ia bayangkan bagaimana jika ia tidak berhasil dan mempermalukan diri sendiri di hadapan seluruh profesor penguji dan murid tahun pertama, hanya karena ia tidak mampu mengeluarkan sihirnya setelah membaca mantra itu.


Membandingkan dirinya dengan Neu dan Sierra, apalagi saat membayangkan betapa hebatnya sihir mereka, lagi-lagi, apalagi saat beberapa pertarungan sebelumnya. Ia ingin sekali meningkatkan kepercayaan terhadap dirinya sendiri, tetapi perasaan keraguan belum tersapu sepenuhnya.


Ia menutup mata dan membayangkan dirinya mampu seperti Neu dan Sierra, membaca mantra sihir tanpa ragu dan menyembuhkan seluruh rekannya, termasuk Yudai yang ia bayangkan terbaring terluka parah.


Ia menatap dirinya sendiri dalam lamunan menyentuh dada Yudai dan mengempaskan mana begitu melafalkan mantra. Sebongkah cahaya menyelimuti kedua tangannya, menghantarkan mananya pada tubuh Yudai seraya menyembuhkan luka.


Lagi-lagi wajahnya seakan mengeluarkan asap. Membayangkan dirinya di dekat Yudai dalam bertarung hanya untuk menyembuhkan memicu malu dan kembali ke dunia nyata.


Katherine bangkit dari duduknya dan menggenggam erat tongkatnya, mengetahui lembaran kertasnya terjatuh ke tanah. Ia membuang napas cepat. Ia ingin menjadi lebih berguna, itu tujuan untuk membuat skill originalnya.


Ia ingin mengikuti langkah Neu, mempraktikkan dalam pembuatan skill. Ia hanya harus melafalkan kalimat mantra yang ia buat dan membayangkan proses perubahan mana dari tubuhnya menjadi sihir sungguhan, dari bentuk hingga efeknya.


Begitu Neu berbalik, ia tercengang menatap Katherine seperti membara dalam pikirannya sendiri. Ia melebarkan senyumannya merespon semangat Katherine dalam pembuatan skill original.


“Kurasa aku akan meninggalkannya sejenak sekali lagi.”


***


Beatrice duduk di salah satu anak tangga perbatasan antara pasir putih pantai dan lantai menuju gerbang ibu kota, meratapi selembar kertas yang masih kosong. Belum ada tulisan satupun di kertas itu, lirik lagu.


Mengangkat wajah dan memalingkan pandangan pada lautan, dilihatnya semakin sedikit kapal berlayar dan singgah di sekitar dermaga, menunggu demi penumpang dan barang-barang yang akan mereka antar ke luar benua Aiswalt. Pantai semakin sepi, itu pikirnya.


Ia kembali melihat kertas yang ia genggam. Belum ada inspirasi apapun untuk dijadikan lirik lagu sebagai skill originalnya.


Dibayangkan Danson sebagai profesor pengampunya, juga berbagai murid tahun pertama lainnya. Menjadi song mage, setelah lulus dua bagian aptitude test, merupakan hal terhormat bagi murid Akademi Lorelei. Ekspektasi pasti tinggi, semuanya berharap lebih darinya.


“Oh. Kamu di sini rupanya.”


Ia menoleh ke belakang. Ruka sudah berdiri di belakangnya, menggenggam pedang, sampai memicu detak jantungnya terhenti sejenak.


“K-kamu mengagetkanku.”


“Tidak perlu. Aku hanya ingin melihat keadaan laut sebentar. Tay bilang dia ingin sendiri."


"Bagaimana dengan skill originalmu?" Beatrice bertanya pada teman sekamarnya itu.


“Aku baru saja punya ide, beberapa bahkan sampai tidak masuk akal bagi swordsman. Padahal aku ingin seranganku seperti mage atau archer, dapat kena jarak jauh. Tapi mau bagaimana lagi, aku ini swordsman. Bagaimana denganmu?”


Beatrice kembali menatap kertas kosongnya, berandai-andai jika kertas itu sudah menyediakan kalimat demi kalimat untuk lirik lagu sebagai skill original. Sayang sekali, ia tahu ia harus memikirkan kata-katanya sendiri.


“Aku … masih kebingungan menulis lirik lagu.” Ia kembali menoleh pada Ruka. “Kalau kamu menulis lagu baru untuk song mage, apa yang akan kamu pikirkan?”


Ruka memalingkan wajahnya, menutup mata. Ia tidak percaya Beatrice akan bertanya seperti itu. Ia berandai-andai, merenungkan jika ia lulus dua bagian aptitude test alih-alih hanya bagian akhir, pasti ia akan menulis lagu untuk mantra penyerangan.


Ia menyeringai, tidak mungkin ia menjadi penyihir, apalagi menjadi song mage. Menjadi ksatria berpedang adalah pilihan utamanya. Renungan itu mengingatkannya ketika ia bermimpi menjadi royal guard alih-alih hanya seorang swordsman. Ia sudah bersusah payah berlatih pedang tanpa peduli apapun. Tidak heran, banyak sekali peminat yang ingin menjadi royal guard. Begitu ia hanya lulus aptitude test bagian akhir daripada aptitude test bagian dalam, tidak ada pilihan lain.


“Aku tidak tahu harus menjawab apa. Kamu lulus aptitude test bagian dalam dan luar kan? Sebagai tipe support dan healer. Kamu ingin menjadi song mage seperti apa? Lebih baik bayangkan sendiri, karena aku tidak bisa.”


“Eh?”


“Lagipula, kamu satu-satunya murid song mage dalam lima tahun terakhir. Lebih baik, kamu pikirkan apa tujuanmu, apa masa lalumu, dan juga apa keinginanmu untuk saat ini.” Ruka menghela napas. “Aku tidak percaya aku memberi nasihat seperti itu padamu. Aku … biasanya tidak sudi memberi belas kasihan pada siapapun, bahkan temanku sendiri, merepotkan saja.”


Ruka pun berbalik kembali menuju gerbang kota. Merespon kata-katanya, Beatrice bangkit dari duduknya dan berbalik menyapa.


“Terima kasih banyak.”


Ruka menghentikan langkah. “Kamu tahu. Kamu merepotkan sebagai teman sekamarku.” Tanpa melihat Beatrice, ia menyindirnya, “kamu selalu ingin sesuatu yang bahagia, ingin sesuatu yang positif, ingin sesuatu tanpa halangan. Tidak heran, kamu melarikan diri dari rumah setelah dipaksa menikah dengan Earth, si laki-laki arsehole itu. Lalu kamu diculik dan berharap kamu diselamatkan. Kehidupan memang tidak semudah itu. Menulis lagu dan juga menghadapi ujian adalah bagian dari kehidupan.


“Makanya kamu tidak becus menulis lagu, karena kamu hanya berharap fantasi di mana kamu akan terus bahagia terwujud. Sebaiknya kamu pikirkan kenyataannya, sebuah kenyataan sekarang ini. Sama sepertiku. Aku terus berharap kenyataan memang menyakitkan.”


Setiap kalimat Ruka yang Beatrice dengan memicunya kumpulan ide masuk ke dalam otaknya. Ingin sekali ia menulis, meski ia saat ini tidak membawa pena bulu dan botol tinta. Maka, ia berbalik kembali ke kota, membiarkan embusan angin meluncur berlawanan melewati kulitnya.


***


“Sial! Sial! Sial!!”


Tay membantai berbagai monster tanpa ampun sama sekali. Selama ini, ia menggunakan hutan di dekat gerbang perbatasan barat akademi, sama seperti hari sebelumnya. Tanpa ampun, ia menebaskan pedangnya pada setiap tubuh binatang dan monster, seperti beruang yang ia penggal kepalanya, memicu cipratan darah.


Beberapa murid yang menyaksikan aksi Tay itu langsung merinding, menelan ludah, dan menahan muntah. Brutal, sangat brutal aksi tersebut. Sampai-sampai mereka berlari terbirit-birit begitu Tay menoleh pada mereka.


Lana dan Sandee menjadi salah satu murid yang menyaksikan aksi kejam Tay tersebut. Lana sampai menggigit kuku, ketakutan melihat berbagai monster yang Tay temui langsung terbabat habis tanpa sisa. Cipratan darah dari bangkai monster itu juga memicu Sandee memalingkan wajah.


Tay menusukkan ujung pedangnya pada bangkai seekor monyet bertelinga lebar seperti kelinci dan berleher bulu putih. Tepat pada jantung, cipratan darah seperti meledak dan melebar di tanah sekitarnya.


Ia mengelak menyangkal berbagai kilas balik, dari masa kecilnya hingga saat terkhianati oleh keempat mantan temannya tepat setelah aptitude test. Ia lampiaskan segala kemarahan dari kilas balik dengan menebaskan pedangnya, sambil membuat skill originalnya. Tampaknya, ia pikir ia tidak berhasil sama sekali karena satu per satu kenangan buruk kerap menghantuinya.


“SIAAAAAAL!!” jerit Tay menatap langit biru cerah, membayangkan sosok seluruh orang yang membuat dirinya menjadi seperti sekarang. Ingin sekali ia memenggal kepala mereka sebagai wujud balas dendam.


Lana dan Sandee yang memperhatikan Tay di balik semak dan deretan pohon bergeser ke kiri mereka, mengambil kesempatan untuk keluar dari berjalan seakan tidak ada yang terjadi. Mereka mempercepat langkah demi tidak menampakkan diri dari pandangan Tay.


“Ah. Kenapa dia selalu begini? Padahal kita mau menguji skill original, tapi dia sepertinya belum melakukan apapun,” Lana mengeluh sampai membuang napas dan meratapi jalan tanah.


“Biasa, tidak heran dia adalah murid yang paling dibenci, di kalangan murid tahun pertama lagi. Katanya seluruh Akademi Lorelei juga, tapi aku tidak tahu apa itu benar.”


Mata Lana berbinar merespon tanggapan Sandee. “Kalau begitu kasihan sekali dia! Aku ingin jadi adiknya saja sekalian!” Ia mengangkat kepalan tangan kanannya ke atas, membangun pendiriannya.


“Kamu itu bukannya sudah jadi adiknya Sans? Sudah cukup!”


Lagi-lagi, mata Lana semakin berbinar. Ia meneteskan air matanya. Lengan kirinya mencapai kedua mata seraya mengusap air mata yang mulai bocor dari bendungan. “AAAAAH!! Andai saja Sans tidak mengambil jalan alchemist! Kenapa! Kenapa di—”


“Ugh!” Sandee menoleh ke depan, seorang yang tidak asing berada di hadapannya. “Dia lagi.”


Sosok itu adalah Zerowolf yang melambaikan tangan memasang wajah tidak bersalah dan polosnya. Melihat wajahnya saja memicu bayangan bagi Sandee untuk menusukkan halberd tepat pada antara wajah atau jantung.


“Sepertinya kalian juga ikut menguji skill original kalian ya? Aku juga ingin ikut!”


Lana menepuk tangannya dua kali. “Ah! Kebetulan! Kami juga lagi menguji coba sekali lagi—”


Sandee memotong tegas, “Hei! Kami baru saja selesai mengujinya, hanya tinggal menunjukkan saat ujian akhir semester. Jadi kami tidak punya waktu untuk menemanimu.”


“Masa? Tadi Lana bilang kalian baru saja—”


Sandee memalingkan wajahnya lagi, membantah Zerowolf, “Sudah kubilang jangan ikut campur!”


“Kamu tidak pernah bilang sama sekali.” Zerowolf kembali melongo, mempertahankan wajah tidak bersalahnya.


“Kamu itu sering sekali menganggu kami! Bahkan sejak Festival Melzronta waktu itu! Waktu itu kubilang jangan ikut urusanku!”


“Hah? Festival Melzronta? Memangnya aku ingat kamu berkata seperti itu.”


Sandee kembali berapi-api. “Iya! Iya! Aku mengatakannya! Kamu pasti tidak mendengarnya!" Ia memasang wajah angkuh, membuang muka dari hadapan Zerowolf. “Ayo, Lana, kita kembali ke kastel daripada harus menghadapi si archer bodoh dan menyebalkan ini!”


“E-eh? Sekarang? Ta-tapi aku belum selesai menguji skill—”


“Pokoknya sekarang juga!” Sandee mengegaskan.


“I-iya.” Lana pamit mengayunkan tangan kanannya. “Dah, Zerowolf.”


Zerowolf menoleh ke belakangnya, dilihatnya Sandee dan Lana meninggalkannya begitu saja. Masih saja Sandee mengomel tentang dirinya, bukan hanya terdengar lancang di telinganya, tetapi seisi hutan juga dapat mendengarnya.


“Kamu lihat saja nanti, Sandee.” Zerowolf kembali menyeringai.


***


Sans meratapi beberapa bangkai monster dan hewan di hadapannya, terutama slime ungu. Ia telah mengalahkan mereka seorang diri, seorang diri. Seperti murid-murid lain, ia menjadikan kumpulan monster itu sebagai mangsa dalam mempraktikkan skill originalnya sebagai tahap akhir pembuatan.


“Oke, ini skill originalku,” Sans memastikan.


Yudai yang bersandar di salah satu pohon telah menyaksikan Sans selesai menguji skill membuka mulut. Sans pun menoleh dan menghampirinya.


“Sans? Kamu yakin itu skill originalmu? Kamu ingin menunjukkannya saat ujian akhir semester ini?”


Sans merespon, “Ya. Hanya tinggal satu langkah lagi untuk tetap bertahan di akademi ini. Satu langkah lagi. Satu langkah lebih dekat untuk mencapai tujuan. Aku takkan ragu lagi kali ini.”


Sans menatap langit sudah berwarna jingga, pertanda sore telah tiba. Tak hanya itu, menatap langit juga dapat membayangkan dirinya pada masa depan, mampu menjadi murid dan menyelesaikan tujuannya.