
Baru kurang lebih tiga puluh menit pertama cukup banyak pasangan murid tahun pertama dan kedua telah melupakan tugas stage ketiga Festival Melzronta. Godaan makanan dari setiap stand turut mengalihkan perhatian.
Memang banyak dari mereka pada awalnya ingin mencari tiga profesor yang menyamar sambil mengunjungi setiap stand. Berdasarkan pengalaman, murid tahun ketiga dan keempat menghindari hal ini dan memilih fokus pada tugas. Tentunya saling mengingatkan sudah terabaikan karena pasangan kompetitif hanya berfokus pada kompetisi demi menjadi yang pertama menebak.
Kehadiran profesor yang mereka temui sebelumnya sesuai tingkat masing-masing menjadi pemicu untuk kembali ke kompetisi. Fokus kembali, seakan sebuah kepingan ingatan baru saja mereka dapatkan kembali.
Sans dan Beatrice menjadi salah satu pasangan yang melakukan kedua hal bersamaan, melaksanakan tugas dan mengunjungi beberapa stand untuk membeli serta mencicipi.
Sans kewalahan dalam berkata-kata ketika Beatrice melihat stand makanan yang menarik perhatiannya, terutama stand milik kedai roti yang biasanya mereka kunjungi bersama teman-teman.
“Ah, ada roti!” Beatrice menghampiri stand tersebut.
“La-lagi?” Sans bergumam termenung.
Beatrice sangat kagum melihat menu roti biasa seperti croissant, baguette, dan roti isi sayur atau buah tersedia di meja stand tersebut. Tetapi ada satu menu di barisan paling kanan yang paling memicu kekaguman baginya.
“Ini vyness caviar, kan?” Beatrice menunjuk roti bertopping telur ikan (caviar) jingga dan potongan rumput laut kering yang tersiram kecap asin.
“Benar, ini adalah menu spesial kami selama Festival Melzronta. Harganya 50 vial per buah.”
Sans menelan ludah ketika mendengar harga menu tersebut. Pikirnya, harganya kurang lebih empat atau lima kali lipat daripada menu roti biasa di kedai tersebut.
“Ah, baiklah. Sans, kamu mau?”
Sans menghela napas berubah pikiran. “Ah, a-aku mau deh, terlihat lezat.”
Beatrice menyerahkan uang sebanyak 100 vial sebelum mengambil dua buah vyness caviar dari meja stand tersebut. Ia memberikan salah satunya pada Sans.
Sans menatap beberapa telur ikan (caviar) di atas vyness caviar tersebut berbentuk bola-bola kecil berkilauan, seperti permata yang memancarkan cahaya alaminya. Dalam benaknya terpicu pikiran bahan tersebut pasti cukup mahal.
Terlebih, ini adalah pengalaman pertamanya memakan telur ikan. Menatap vyness caviar sudah membuat liurnya sedikit keluar dari bibir, maka ia mulai menggigit menu tersebut.
Kelembutan dari adonan roti sekenyal mi terlebih dahulu memicu indera perasa dari lidahnya bersama dengan asin dari rumput laut dan kecap asin. Ketika menggigit telur ikan, seakan-akan pecah di mulut dan meledakkan bom rasa.
“Lezat sekali!” seru Beatrice menikmati vyness caviar. “Aku jadi ingat masa kecil saat rela keluar uang lebih banyak membeli ini!”
“Ah, pantas kamu terlihat pernah melihatnya. Jadi menu ini berasal dari kotamu, ya?”
“Tidak tahu.” Beatrice kembali menikmati vyness caviar-nya.
Sambil menikmati gigitan kedua vyness caviar-nya, Sans menoleh ke kanan. Ia cukup tercengang ketika menatap Earth tengah menghampiri salah satu stand tidak begitu jauh.
Aku ingin kamu tetap siaga dekat Beatrice, lindungi dia dari Earth.
Terpicu perkataan Neu semalam pada benaknya. Menatap kembali pada Beatrice yang tengah menikmati vyness caviar membuatnya harus segera bertindak.
“Anu—” Sans menempatkan tangan kiri pada pundak Beatrice. “—lebih baik kita lanjutkan pencariannya, mumpung kita punya waktu yang cukup banyak. Dan akan bagus lagi kita fokus.”
“Oke! Ayo!” Beatrice memutar ke kanan.
“Uh, Beatrice.” Sans menghentikannya dan menunjuk ke arah kiri. “Kita lewat sini saja.”
***
Antrean di hadapan salah satu stand tepat di dekat pintu masuk utara alun-alun cukup membeludak. Pembeli, mulai dari kalangan penduduk kota hingga murid akademi sudah menggenggam uang vial masing-masing dan rela berdesakan membentuk tiga barisan selebar meja stand tersebut.
“Whoa!” Yudai dan Zerowolf bersamaan tercengang mendapati hebohnya antrean hingga menutupi celah jalan di hadapan mereka mencapai batas pintu masuk alun-alun.
“Stand itu menjual apa sampai laris sekali?” ujar Zerowolf.
“Sama sekali tidak tahu.”
Saat Yudai menoleh ke belakang sebelum berbalik, ia membeku menyaksikan seorang wanita bergaun merah berwarna merah daging mentah dengan putih menyerupai lemak. Melihat pada wajah, bukan hanya wig putih panjang melewati bagian dada, tetapi juga wajah tidak asing, terutama kerutan di pipi.
Yudai menyenggol pinggang Zerowolf ketika menatap wanita itu telah bergabung dengan antrean panjang tersebut, menunggu agar dapat membeli produk terlaris di stand tersebut.
Keduanya bersamaan berbisik dan mulai melangkah mundur, “I-itu Profesor Alexandria!”
Tidak ingin terlibat masalah jika berurusan dengan profesor paling dibenci itu, tidak ada lagi pilihan selain berpaling dari pintu utara alun-alun. Mereka hanya tinggal menemukan dua profesor yang tengah menyamar.
Di antara kerumunan tersebut, hampir tidak ada satu pasangan murid pun yang menyadari kehadiran Alexandria sebagai wanita berpakaian gaun daging karena tengah sibuk dan tidak sabar dalam mengantre di depan stand salah satu barang terlaris itu.
Riri dan Katherine menjadi salah satu dari murid di kerumunan antrean tersebut. Ironisnya, saat mereka tengah berbalik mendapati antrean itu menghalangi jalan, muncul kerumunan calon pembeli lainnya, termasuk sesama murid. Jalan tersebut telah penuh danau manusia berdesakan.
“E-eh?” jerit Katherine kewalahan.
“Pe-permisi kami harus kembali,” ucap Riri berusaha mencari celah di antara kerumunan.
“A-aaaaah ….” Katherine sampai pusing ketika harus semakin berdesakan, apalagi tubuh Riri menempel pada bahunya.
***
“Ah!” Yudai dan Zerowolf mendapati satu lagi wajah familier ketika melewati deretan stand di dekat toko blacksmith (yang sebelumnya Tay kunjungi ketika menjalani hukuman).
Sedikit rambut putih di balik penutup kepala dengan berbagai replika buah dan pakaian serba hijau. Dari wajah keriput pada kedua pipi hingga dagu dan kening bersih dari noda, mereka sudah bisa menggambarkan siapa orang itu.
“Pr-Profesor Danson!” bisik mereka berdua lagi.
“Satu—” ucap Yudai.
“—lagi!” Zerowolf melanjutkan, “kita cari satu lagi lalu ke alun-alun.”
“Baiklah!”
Melihat Yudai dan Zerowolf meninggalkan daerah dekat monumen berupa tugu berbentuk seperti lilin kecuali berujung lancip dan didampingi oleh dua patung ksatria itu, Danson dalam hati meratapi betapa memalukan kostumnya.
Danson bergumam sendiri, “Ah, paling tidak aku akan ketahuan lagi.”
***
“Kubilang ke kanan ya kanan!”
“Memangnya kamu ini apa? Ayahku? Atau kamu ingin berlagak sok dewasa?”
“Sudah kuduga ini ide buruk sekelompok denganmu! Lagi!”
Siapa lagi kalau bukan Tay dan Neu yang mengundang perhatian bukan karena sebagai penjaga stand laris manis, melainkan adu mulut mereka cukup nyaring hingga menganggu aktivitas jual beli di stand.
Seluruh orang di sekitar stand tersebut, baik penduduk kota dan sesama murid akademi, menonton kehebohan kedua rival bebuyutan tersebut. Memang cukup menarik bagi murid akademi, semester lalu saja mereka ingat Tay dan Neu pernah berkelahi saat di kantin semester lalu.
“Apa kamu ingin mengontrol diriku seperti biasa?” jerit Tay.
“Mengontrol dirimu, di mimpimu! Lagipula, siapa sudi berkelompok dengan salah satu murid akademi paling dibenci! Meski kamu sudah sering bercengkerama dengan Beatrice dan yang lain, kamu tidak berubah, bahkan keahlian pedangmu sama saja seperti semester sebelumnya!”
Tay mulai berapi-api menganggapi ejekan Neu dan menarik kerah mantelnya, “Katamu keahlian pedangmu sama saja? Kamu bahkan tidak mampu tahu siapa profesor yang menyamar di sekitar sini! Mau hanya penyihir tukang pamer mantra dan kepintaran!”
“Tu-tukang pamer katamu?”
“Benar! Kamu selalu saja menjelaskan sambil berlagak seperti ahlinya! Kamu itu hanya kuat dalam berkata-kata tanpa esensinya!”
“Ya setidaknya aku membaca banyak buku, lebih buku di perpustakaan! Daripada dirmu yang pemalas saat di kamar, tidak membantuku dalam membersihkan! Kamu swordsman bodoh!”
“Diam!”
Yudai dan Zerowolf menjadi saksi dari adu mulut tersebut.
“Memangnya kedua temanmu itu masih tidak akur? Seperti yang kulihat saat ujian akhir semester?” sindir Zerowolf.
“Seharusnya tidak seheboh ini biasanya.”
“Oh!” Keduanya tercengang ketika menoleh pada seorang pria bermantel hoodie cokelat dan bertongkat kayu layaknya orang tua.
Pria itu membungkuk berjalan cukup lambat. Meski begitu, melihat mulutnya tertutup oleh sejenis masker hitam membuat identitasnya misterius.
Melihat mata pria itu memicu ingatan Yudai dan Zerowolf, mereka menjadi salah satu pasangan yang menyadari hanya berdasarkan karakteristik wajah bagian atas. Bahkan hampir seluruh murid di sekitar mereka hanya terfokus pada kehebohan Tay dan Neu.
“I-itu kan—” Yudai dan Zerowolf berbisik ketika pria itu telah numpang lewat. “—Profesor Arsius!”
“Kita … berhasil—” ucap Yudai.
Zerowolf melanjutkan, “—menemukan … tiga profesor yang menyamar.”
Giliran Yudai dan Zerowolf yang heboh mulai berlari. “Ke alun-alun!!”
Bukan hanya Yudai dan Zerowolf yang menjadi saksi pertengkaran Tay dan Neu, melainkan juga Sierra dan Lana.
Sierra memalingkan wajah sambil bersiul seakan tidak mengenal kedua rival bebuyutan itu. Memandang pasangannya, Lana hanya tertawa geli.
“Mereka akrab sekali ya?”
***
“Profesor Hunt!!”
Hunt pun tercengang ketika menatap Yudai dan Zerowolf memanggil namanya. Ia telah berdiri membelakangi titian air mancur bersama tiga profesor lain yang telah mengumpulkan masing-masing murid berdasarkan tingkat semalam, termasuk Baron.
Tanpa basa-basi lagi, keduanya menjawab pertanyaan dari tugas stage ketiga, “Profesor Alexandria, wig putih dan gaun daging; Profesor Danson, topi buah dan baju hijau; terakhir, Profesor Arsius, bermantel hoodie cokelat dan memegang tongkat.”
“Wow.”
Hunt berdecak kagum menyaksikan mereka berdua bersamaan sebagai pasangan mampu menemukan tiga orang profesor selama kurang lebih satu jam pertama semenjak mulainya hari ketiga bazaar Festival Melzronta di kota. Ia melirik pada profesor lain yang juga menjadi perwakilan berdasarkan tingkat murid, termasuk Baron.
Melirik deretan stand lain di alun-alun, terutama di sekitar air mancur, mayoritas pasangan murid masih entah mengerjakan tugas stage ketiga atau asyik berkunjung untuk menikmati makanan. Mengingat Yudai dan Zerowolf yang datang kepadanya dan menebak identitas setiap penyamaran profesor tersembunyi, ia mengangguk.
“Kalian yang pertama menebak identitas setiap profesor yang menyamar dengan benar!”
Yudai dan Zerowolf mengangkat kedua tangan mendekati dagu seraya merayakan sebuah kemenangan.
“Mulai sekarang, kalian dibebastugaskan—”
Belum selesai Hunt menjelaskan, Yudai dan Zerowolf langsung berbalik dan berlari untuk mulai mengunjungi setiap stand.
“Kita adu siapa yang paling banyak makan!” sahut Zerowolf.
“Baiklah! Aku akan makan lebih banyak darimu!” balas Yudai.
Terpicu! Sahutan Yudai dan Zerowolf beserta kehadiran Hunt telah menyadarkan setidaknya dua pasangan murid di dekat air mancur tengah menikmati makan sambil berjalan. Saking kagetnya, salah satu dari pasangan itu menjatuhkan makanannya ke lantai keramik, seakan sebuah kilat memicu ingatan tentang tugas tersebut.
Dalam satu jam selanjutnya, beberapa pasangan lain telah mengidentifikasi profesor yang menyamar di antara keramaian bazaar. Begitu mereka berhasil memberitahu hal itu pada profesor masing-masing di alun-alun, Hunt untuk pasangan murid tingkat pertama dan Baron untuk pasangan murid tingkat kedua; kelegaan seakan teresap ke dalam tubuh.
Sudah bebas dari tugas, bersenang-senang tanpa tuntutan di bazaar menjadi pilihan.
Sans bernapas lega begitu mendapat respon dari Hunt atas jawaban timnya. “Akhirnya … selesai juga.”
Beatrice tersenyum saat mereka berpaling dari pandangan Hunt. “Tadi kita beruntung sekali.”
“Ya, bisa dibilang sebuah keajaiban.”
Sans benar-benar tidak menyangka keajaiban itu terjadi saat mereka memasuki alun-alun lewat pintu masuk timur. Alexandria tengah berjalan memakai kostum daging tepat di hadapan mereka berkeliling, Danson membeku dengan wajah memerah masih mengenakan topi buah, dan Arsius masih berlagak sebagai orang tua berjalan dari belakang kiri.
Keajaiban menemukan ketiga profesor tersebut membawa mereka menyelesaikan tugas tersebut.
Beatrice bersemangat mengusulkan, “Sans, ayo kita beli makanan lagi!”
“Eh? Ma-masih?” Sans membelalak.
Saat melewati kembali pintu masuk timur untuk keluar dari alun-alun, keduanya tercengang mendapati Tay dan Neu lagi-lagi adu mulut, di hadapan seluruh penduduk dan penjaga stand sekitar.
“Jadi kamu mau aku mengerjakan tugas seorang diri, Tay! Pengecut sekali dirimu!”
“Memang lebih baik aku tidak sekelompok denganmu sejak awal!”
“Maumu apa, dasar ampas!”
“Mata Empat ampas!”
Beatrice kewalahan ketika menyaksikan adu mulut itu. “A-anu … mereka seperti biasa, kan?”
“Uh. Benar juga.” Sans memalingkan wajah.