
Terpicu kembali ingatan ketika menjalani aptitude test bagian dalam. Menatap wajah Yudai dan Neu membuat Sierra terputar sebuah kilas balik di dalam benaknya.
Berawal ketika Sierra mengajak Yudai dan Neu untuk mencari herb biru bersama-sama setelah mendapat penolakan dari berbagai murid tahun pertama. Tiga jam telah berlalu, insiden itu terjadi.
Ia menjadi korban insiden nekad tersebut, terutama yang diakibatkan oleh keputusan konyol Yudai, memanjat pohon hingga menjatuhkan sarang lebah. Sarang lebah itu terjatuh tepat menuju kepala.
Sierra dapat membayangkan betapa sakitnya tersengat lebah di dalam sarang tersebut sambil berlari tidak dapat melihat ke luar hingga jatuh ke kubangan lumpur. Begitu sarang lebar tersebut terbelah menjadi dua, dia mendapati Yudai dan Neu telah melarikan diri menghindari kejaran lebah.
Beruntung baginya, meski wajah telah babak belur akibat sengatan para lebah, menurunkan derajat kecantikan secara fisik, ia dapat menemukan herb biru seorang diri sebelum waktu aptitude test bagian dalam berakhir.
Menatap kembali Yudai dan Neu seakan ingin naik darah bagi Sierra. Namun, ia tidak bisa melakukan hal itu, apalagi memperlihatkannya secara fisik.
Yudai langsung menyapa, membuyarkan kilas balik Sierra, “Ah, aku ingat! Kamu Sierra, kan? Kamu yang mengajak kami untuk mencari herb biru bersama saat aptitude test bagian luar, lalu kamu ter—”
Neu langsung menutup mulut Yudai. “Sebenarnya, kami ingin meminta maaf karena insiden itu. Kami sebenarnya ingin menemuimu secara langsung, tapi kamu langsung keluar dari kelas. Kami berdua ingin meminta maaf karena insiden memalukan itu.”
“I-insiden?” ulang Sans. “Memang apa yang sebenarnya terjadi?”
Mendengar permintaan maaf dari Neu secara langsung seakan mendinginkan suasana hati bagi Sierra. Sudah tidak ada alasan lagi untuk melampiaskan naik darah ketika menatap kedua “pelaku kekonyolan” saat aptitude test bagian luar berlangsung.
Sierra memotong, “Tidak usah dibicarakan lagi. Lagipula, aku lulus aptitude test bagian luar. Aku mendapatkan herb biru seorang diri setelah kalian kabur dari kejaran para lebah.”
Yudai tercengang hingga dia mencopot tangan Neu dari mulutnya. “Ka-kamu lolos? Be-berarti … kamu seorang priest? Kamu sekarang seorang priest.”
“Begitulah. Betapa beruntung aku menemukan herb biru sendirian tak lama setelah itu,” jawab Sierra, “oh ya, aku harus kembali ke akademi, memikirkan hal seperti ini membuatku lelah.”
“Tu-tunggu,” Beatrice mengingatkan, “setidaknya nikmati Festival Malam Walpurgis terlebih dahulu, setidaknya sampai pembakaran api unggun.”
Sierra menolak halus, “Aku sering sekali mengantuk akhir-akhir ini. Maaf aku tidak bisa berlama-lama di sini.”
“Oh, baiklah kalau begitu. Tidak apa-apa,” balas Beatrice.
“Aku permisi dulu ya.” Sierra menundukkan kepala sebagai salam pamit sebelum berbalik menuju akademi.
Ketika menatap Sierra berlalu dari alun-alun kembali menuju akademi, Beatrice bertanya pada Neu dan Yudai, “Kalian kenal mereka?”
“Kenapa masih bertanya kalau sudah tahu jawabannya?” ucap Neu.
“Oh ya, ini sosismu, masih hangat.” Yudai menyerahkan salah satu tusuk sosis di genggamannya pada Beatrice.
Sosis bakar tersebut berwarna cokelat keemasan menandakan matang merata, membuat aromanya tercium menuju hidung membuat mulut berliur begitu banyak tidak sabar ingin merasakan kelembutan dan kehangatannya.
“Selamat makan!” seru Beatrice dan Yudai tidak sabar ingin melahap sosis bakar di genggaman masing-masing.
Neu justru melongo ketika Beatrice dan Yudai bersemangat untuk melahap sosis bakar. Dilihatnya begitu nikmat mereka memasukkan satu gigitan sosis bakar menuju mulut, seakan seperti slow motion, memanjang-manjangkan untuk menikmati kulit keemasan terlebih dahulu menggunakan lidah.
Ketika satu gigitan sosis sudah masuk ke dalam mulut, seakan meleleh di lidah, Beatrice dan Yudai kembali berseru, “Enak!”
“Selamat makan,” ucap Sans datar mendekatkan sosis bakar menuju mulut.
Sans mulai menggigit bagian depan sosis bakar tersebut menuju mulutnya. Rasa asin berasap dari kulit keemasan sosis seakan meresap menuju lidah. Ditambah lagi tekstur lembut dari bagian dalam sosis juga seakan meleleh setelah beberapa kali kunyah. Penyatuan rasa asin berasap, kulit cukup garing, dan bagian dalam lembut seakan membuat air liur meningkat, menikmati sosis bakar dan tidak sabar ingin satu suap lagi.
“Ya, sedap sekali,” gumam Sans bahagia dapat merasakan sosis bakar.
Mengikuti ketiga temannya yang menikmati lahapan sosis bakar masing-masing, Neu juga mulai mencicipi sosis bakar di genggamannya. Hal yang sama juga terjadi pada indera perasanya, asin berasap dan kelembutan menyatu menciptakan sebuah konsistensi harmoni rasa.
Saking menikmati sosis bakar tersebut, Beatrice dan Yudai sampai berlama-lama menikmati suapan dan rasa di dalam mulut. Memang sayang kalau cepat habis, itu alasan mereka untuk menikmati sepenuhnya sebuah makanan enak seperti sosis bakar.
Ketika sosis bakar telah habis terlahap, mereka menoleh pada tumpukan kayu bakar. Sama sekali belum saatnya untuk acara api unggun, keramaian Festival Malam Warlpurgis semakin meriah. Semakin banyak pengunjung yang mulai berdatangan menuju alun-alun ingin ikut meramaikan Festival Malam Walpurgis.
Sambil menunggu dimulainya pembakaran tumpukan kayu bakar, mereka berempat memutuskan untuk berkeliling di sekitar alun-alun. Dimulai dari melihat quest board sama sekali tidak memiliki permintaan pekerjaan karena festival tengah berlangsung. Mereka pun beralih menuju stand aksesories pakaian.
Beberapa stand aksesories pakaian menjajakan berbagai perhiasan buatan sendiri, kebanyakan terbuat dari manik-manik, glitter, tali, dan batu akik murahan. Mulai dari cincin, gelang, jepit rambut, kalung, hingga anting, aksesories-aksesories tersebut menjadi bahan perbincangan oleh para pengunjung, terkagum hingga kebingungan untuk memutuskan ingin membeli yang mana.
Mereka berempat juga mendapati beberapa pengunjung yang menikmati secangkir bir. Kebanyakan cangkir tersebut terbuat dari kayu menyerupai sebuah tong besar, bedanya terdapat gagang untuk tangan dan bagian terbuka untuk meminum bir.
Sebuah tawa kepuasan terlontar dari setiap peminum bir, begitu nikmat dan menghangatkan badan, meramaikan suasana menyenangkan dari festival tersebut. Lebih puas lagi jika mereka melakukan toast cangkir bir sebelum meminum-minum.
Berlama-lama untuk melihat segala hal yang terjadi di Festival Malam Walpurgis, mereka berempat kembali pada tempat asal alunan musik sebuah band. Nikmatnya irama musik seperti saat mereka tiba masih dapat terasa, membuat seluruh pengunjung yang mendengarnya menari mengikuti irama. Langkah kaki dan gerakan tangan merupakan pertanda nikmatnya alunan musik.
Begitu sebuah lagu selesai, salah satu dari penyanyi mengatakan bahwa mereka akan memainkan lagu lebih lambat dibandingkan sebelumnya. Alunan musik dari instrumen mulai memainkan irama cukup lambat hingga cocok bagi kedua penyanyi untuk menunjukkan kemampuan bernyanyi hingga nada tinggi.
Gerakan tarian juga ikut lambat bagi pengunjung. Ada pula pengunjung lain yang berhenti menari demi menghayati lirik bercampur irama lambat hingga terhanyut begitu saja.
“Kalian mau menari juga, kan?” ajak Yudai mulai menggoyangkan tubuh secara lambat mengikuti irama.
“Uh, tapi aku tidak bisa menari.” Sans ragu ketika melihat Festival Malam Walpurgis yang semakin ramai. Baginya, menunjukkan ketidakmampuan untuk menari akan memalukan di depan publik.
“Coba saja, gerakan tubuh mengikuti yang lain,” ajak Beatrice.
“Setidaknya lagunya bagus. Aku suka rangkaian kata pada liriknya,” Neu mengomentari band tersebut dalam menampilkan sebuah lagu ballad.
Penonton kembali bertepuk tangan meriah sambil bersorak, mengagumi kemampuan dalam menampilkan lagu ballad penuh makna.
Yudai mulai memberi usul, “Beatrice, sebaiknya kamu juga ikut bernyanyi, coba saja.”
Beatrice melongo, “E-eh? Sebaiknya tidak, ini acara mereka, aku hanya akan mengacaukan—”
Yudai mengangkat tangan, tidak memedulikan perkataan Beatrice, “Hei! Sepertinya ada yang ingin menyanyi juga!”
Seruan Yudai membuat seluruh pengunjung menoleh padanya, tidak menyangka bahwa ada seseorang yang ingin ikut bernyanyi memeriahkan Festival Malam Walpurgis.
Sans tercengang. “Memang ini boleh?”
Salah satu penyanyi menjawab pertanyaan Sans, “Tentu saja!”
“Ayo, Beatrice,” Yudai mempersilakan.
“Ta-tapi—”
Neu justru menyemangati Beatrice, “Kita ingin mendengarmu bernyanyi! Lagipula, kita belum pernah mendengarmu bernyanyi sama sekali. Ayo!”
“—aku ini kan song mage? Apa tidak apa-apa?” Beatrice masih khawatir.
“Tidak apa-apa, selama kamu tidak memegang song sphere sekarang, kekuatan nyanyianmu takkan keluar, kamu juga masih pemula, kan? Ayo!” Neu menarik tangan Beatrice untuk mendekati pemain musik.
“Tu-tunggu!” seru Beatrice.
Ketika berbalik menghadapi seluruh penonton, Beatrice langsung merasakan perhatian tertuju pada dirinya, terutama menatap mata secara langsung, apalagi setelah Neu kembali menuju barisan penonton.
“Ayo, Beatrice!” seru Yudai.
Sans juga ikut menyemangati, meski pada awalnya ragu, “Ka-kamu pasti bisa!”
Mendengar sorakan dari Sans dan Yudai membuat Beatrice terpicu semangat. Dia memperkenalkan diri pada penonton dan pemain instrumen musik, “A-anu, selamat malam. Aku Beatrice. Aku murid Akademi Lorelei. Ka-kalian tidak keberatan, kan? Aku akan bernyanyi salah satu lagu song mage yang telah kupelajari, judulnya Give us Strength.”
Seluruh penonton bersorak memberi semangat pada Beatrice yang akan bernyanyi, terutama Sans, Yudai, dan Neu. Beatrice tertegun tidak menyangka penonton sudah antusias ingin mendengar suaranya.
“Baiklah, aku akan bernyanyi semampuku.” Beatrice menguatkan tekad.
“Berjuanglah!” Salah satu penonton perempuan di barisan depan ikut menyemangati.
Seluruh pemain instrumen musik menoleh satu sama lain dan mengangguk. Mereka mengambil ancang-ancang menggenggam instrumen musik masing-masing untuk bersiap.
Salah satu penyanyi berseru, “Ladies and gentlemen, saya ingin mengenalkan seorang gadis yang spesial! Mari kita sambut Beatrice!”
Pemain sitar terlebih dahulu mulai menggesekkan jari pada tali senar untuk membuat awal kuat. Pemain bagpipe dan djimbe pun turut menyusul membuat harmoni pada irama musik, tepat sebelum Beatrice memulai nyanyiannya.
*Give the bravery for us to fight
Eliminate the march of fear and doubtness
Let the bravery becoming our power
The power the facing the force of evil
We're not gonna just stand
Let the power absorbed into your heart
Let the bravery eliminate the fear inside your heart
Don't just think, better just let it flow
The flow of braveness will lend us strength*
Memasuki bagian refrain, vokal Beatrice memperkuat harmoni irama musik, membuat hampir seluruh penonton menggoyangkan tubuh mengikuti irama. Ada pula yang ikut bersorak kagum pada kemampuan bernyanyi Beatrice.
Give us strength...
So we can beat the force of fear
Give us strength...
So we can be better in our fight
Give us strength...
So we don't just stand and run away
Give us strength...
Let's use our bravery in our battle...
Ketika refrain pertama usai, seluruh penonton mulai bergoyang dan melompat-lompat mengikuti harmoni irama dari gesekan senar sitar, ketukan jari pada djimbe, dan tiupan bagpipe, seakan sedang mengikuti pesta tarian.
“WOOO!!” sorak Yudai kagum dengan suara Beatrice.
Melihat Beatrice mampu membuat seluruh penonton bergoyang hingga melompat-lompat, Neu mendadak teringat sebuah kilas balik. Kilas balik pun terpicu ketika menatap Beatrice sekali lagi bernyanyi.
Ingatan masa kecil dia bayangkan kembali. Bagi Neu, ini bukan pertama kali dia mendengar Beatrice bernyanyi, melainkan ketika masih kecil. Di sebuah hutan, hanya berdua menatap pemandangan dari sebuah tebing.
Neu pernah menantang Beatrice untuk menjerit sejadi-jadinya, memperkenalkan nama, tempat tinggal, dan cita-cita pada dunia. Tepat setelah itu, Beatrice mulai bernyanyi, mengekspresikan perasaannya.
Neu pernah menertawakan Beatrice karena suaranya masih kurang mengagumkan, dapat dibilang masih sumbang. Mendengar perkembangan Beatrice dalam bernyanyi, Neu terdiam, kagum dengan sebuah perkembangan.
Neu menyimpulkan Beatrice memang sejak kecil suka bernyanyi, maka menjadi song mage merupakan salah satu panggilan takdir, bukan hanya sekadar kebetulan atau keberuntungan ketika aptitude test.
Dilihatnya kembali Beatrice mulai menyanyi refrain terakhir dari lagu Give Us Strength yang membuat kagum setiap orang.
Give us strength...
Let the light help you to beat the enemy
Give us strength...
Let your power of your body got bigger
Give us strength...
Let yourself to grow beside the bravery
Give us strength...
So we can win our battle
Give us strength...
Whoa oh…
Give us strength…
Neu mengangguk kagum menyaksikan perkembangan Beatrice sebagai penyanyi. Diperhatikan bahwa Beatrice dapat membuat semua orang bersorak dan bergoyang mengikuti irama musik.
Akhir dari permainan sitar berujung pada sorakan dan tepuk tangan meriah dari seluruh penonton. Beatrice tidak menyangka bahwa nyanyiannya akan disambut secara spektakuler di depan umum, terutama jika melihat Sans, Yudai, dan Neu yang ikut bersorak dan bertepuk tangan.
Salah satu penyanyi kembali mendekati dan memperkenalkan Beatrice pada penonton, “Itu tadi lagu yang mengagumkan, Beatrice! Terima kasih banyak!”
Beatrice berbalik menghadap seluruh band dan menundukkan kepala seraya hormat. Hal yang sama juga dilakukan menuju penonton, berterima kasih telah mengizinkan dirinya untuk bernyanyi.
“Kamu hebat!” jerit Yudai.
“Give Us Strength, lagu penambah kekuatan untuk seluruh rekan saat dalam pertarungan,” gumam Neu menjelaskan fungsi lagu tersebut.
“Eh?” Sans melongo.
“Song mage menyanyikan lagu sebagai mantra untuk menyerang musuh, membantu rekan, hingga menyembuhkan. Bergantung lagunya, kekuatan dari song sphere akan menyebar serata mungkin.”
Yudai mengangguk memperhatikan penjelasan Neu. “Hebat. Aku ingin Beatrice bernyanyi lagu ini suatu saat nanti, saat kita bertarung.”
“Semuanya!” Beatrice telah kembali dari panggung melewati barisan penonton yang bersorak. “Tadi itu benar-benar menyenangkan!”
Neu melipat tangan di dadanya. “Setidaknya, semuanya terhibur dengan nyanyianmu.”
Memperhatikan lagi seluruh penonton, beberapa yang meliriknya kembali bersorak kagum atas penampilan Beatrice. Beatrice membalas dengan melambaikan tangan pada penonton sambil menjulurkan senyuman.
Neu memperhatikan masih ada masyarakat yang tengah menumpuk kayu bakar di pusat Festival Malam Walpurgis. “Sepertinya masih lama acara puncaknya.”