Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 37



“Beatrice? Beatrice sayang? Buka pintunya.”


Ketukan pintu bersama dengan panggilan sang Ayah menjadi pemicu terlepas dari lamunan kesedihan. Beatrice sama sekali tidak ingin menggunakan tenaga untuk bangkit dari tempat tidur hanya untuk membukakan pintu.


“Beatrice, Ayah tahu bagaimana perasaanmu, Nak. Teruna menceritakan semuanya pada Ayah. Ayah mengerti mengapa kamu tidak menginginkan apa yang diharapkan ibumu.”


Masih saja terdiam, tidak bergerak sama sekali. Kata-kata sang ayah belum cukup untuk memberi tenaga bagi Beatrice untuk bangkit dari posisi berbaring di tempat tidur menuju pintu kamar.


“Beatrice, tolong buka pintunya. Ayah ingin berbicara padamu, Nak.”


Beatrice masih tidak ingin keluar dari kesenduan. Tidak ada yang akan mengerti perasaannya sama sekali, baik itu ayahnya, ibunya, dan bahkan Teruna. Dia hanya membutuhkan teman sebaya semenjak dilarang menemui teman laki-laki seperti Neu.


“Beatrice. Maafkan Ayah. Kalau Ayah tahu perasaanmu seperti ini, Ayah akan mengerti. Kenapa kamu tidak bilang pada Ayah, Nak.” Nada sang ayah mulai merendah.


Beatrice sedikit mengangkat kepala, menoleh pada pintu yang masih tertutup dan terkunci rapat.


“Ayah bisa mengerti bagaimana perasaanmu, tapi ibumu tetap bersikukuh agar kamu tetap menjadi perempuan bangsawan sesuai harapannya, Nak. Kalau ibumu sudah begitu, sudah susah menghadapinya.


“Beatrice, tolong buka pintunya. Ayah hanya ingin bicara padamu. Ayah dan Teruna sudah berbincang. Teruna memberitahu Ayah segalanya tentang impianmu. Setidaknya, kalau boleh, Ayah ingin membantu mewujudkan impianmu, pergi ke dunia luar, pergi dari kota ini, pergi dari rumah ini. Kalau kamu bahagia, Ayah juga akan bahagia, Nak. Bahagia melihatmu kembali tersenyum.


“Ayah mohon. Berikan Ayah kesempatan untuk berbicara padamu, Nak.”


Mempertimbangkan perkataan sang ayah, Beatrice terdiam sejenak. Setelah mengingat perlakuan kedua orangtua selama ini, dia tidak yakin. Kepalanya masih seperti mendapat beban berat masih terjebak dalam kesenduan.


Kedua orangtuanya telah menghancurkan impian Beatrice dalam berbagai cara. Pertama, melarang Beatrice bertemu dengan teman laki-laki seperti Neu. Kedua, para pelayan harus mengawasi jika ingin keluar. Ketiga, perjodohan antara dirinya dan Earth tanpa persetujuan sama sekali, lebih parahnya, tanpa benih kasih sayang yang tumbuh. Keempat dan terakhir, pemaksaan untuk belajar hal-hal yang lazim dilakukan oleh perempuan bangsawan.


Memang seharusnya kedua orangtua tidak terlalu banyak ikut campur dalam kehidupan sang anak yang akan berusia 18 tahun, usia dewasa. Beatrice telah mempertimbangkan hal itu berdasarkan kata teman-temannya.


“Beatrice?” panggilan sang Ayah kembali terdengar bersamaan dengan ketukan pintu tiga kali.


Beatrice akhirnya bangkit dari tempat tidur dan berbalik. Perlahan, seperti tengah mengumpulkan tenaga, dia melangkah mendekati pintu. Setelah mempertimbangkan kembali sejenak, mengandalkan kata hati, dia akhirnya membukakan kunci sebelum menarik gagang pintu.


Pintu pun terbuka menampakkan sang ayah telah berdiri. Beatrice menghela napas dalam-dalam.


“Katakan, apa kata Ayah tadi benar? Atau hanya perangkap agar aku harus tetap mengikuti pelajaran khusus perempuan bangsawan?”


“Ayah bersungguh-sungguh. Kamu sudah menceritakan semuanya pada Teruna. Setelah pertengkaran hebat dengan ibumu tadi, Teruna memberitahu Ayah tentang perasaanmu, perasaanmu yang tidak kami pertimbangkan. Ayah sudah berkata jujur. Apa lagi yang kamu inginkan untuk membuktikan kata-kata Ayah, Nak?”


“A-Ayah.” Kedua mata Beatrice kembali berkaca-kaca, bendungan air mata seakan kembali bocor.


“Beatrice, Ayah mohon. Berikanlah Ayah kesempatan untuk membantumu. Ayah ingin membantumu keluar dari rumah ini dan mewujudkan impian aslimu. Kamu ingin pergi ke dunia luar, kan? Kamu ingin melihat dunia lebih jauh?”


“Ayah!” Beatrice mengikat sang ayah pada pelukannya, melampiaskan tangisannya.


“Beatrice sayang.” Sang ayah membalas pelukan Beatrice. “Ayah yakin, kamu pasti mau Ayah membantumu. Kalau kamu bilang ini dari awal pada Ayah, Ayah bisa saja membantumu lebih cepat, Nak.”


Beatrice menjerit melampiaskan kesedihan yang selama ini terpendam semenjak kanak-kanak akibat perlakuan sang ibu. Air matanya tumpah pada kemeja sang ayah.


***


Semenjak malam itu, Beatrice tetap harus menjalani pembelajaran tentang perilaku perempuan bangsawan seperti perintah sang ibu. Kali ini, ketika malam menyingsing, sang ayah memanfaatkan kesempatan untuk memberi bimbingan padanya.


Sang ayah memberikan materi pembelajaran tentang cara bertahan di dunia luar selama setidaknya empat atau lima bulan. Konon, jika berada di kelas bangsawan, laki-laki lazim mendapat materi tersebut sebelum pergi bertualang.


Mulai dari menghadapi binatang buas di hutan atau gunung hingga pertahanan dasar menghadapi orang mencurigakan, terutama perampok dan penipu. Kebanyakan berupa kata-kata dan gestur tubuh untuk bertahan.


Ketika hari terakhir telah tiba, sang ayah menutup bimbingan tersebut dengan sebuah pesan, pesan yang cukup banyak untuk diungkapkan.


“Beatrice sayang, begitu saja bimbingan dari Ayah. Kamu siap untuk pergi mencari ilmu lain di Akademi Lorelei.”


“A-Akademi Lorelei?” ulang Beatrice.


“Kamu akan mempelajari segala hal di sana, sebagai awal untuk mewujudkan impianmu, melihat dunia luar. Belajarlah selama tiga tahun. Kamu akan mendapat bimbingan lebih dari setiap guru terpercaya di sana.


“Beatrice sayang, yang kamu harus ingat adalah kamu hanya bisa menjadi dirimu sendiri, itu satu-satunya cara agar kamu bahagia. Seseorang tidak mungkin menjadi orang lain karena paksaan, apalagi apa yang diinginkan ibumu, Nak. Jadilah perempuan yang bijak. Jadilah kuat. Bahagialah. Ketiga hal itu akan membantumu menjalani kehidupan dengan sepenuh hati. Kamu berhak menjadi diri sendiri tanpa terikat oleh aturan apapun, terutama aturan ibumu.”


“A-Ayah.” Beatrice menerima nasihat terakhir sang ayah sampai terengah-engah, tidak tahu respon apa yang dia ingin utarakan.


“Kamu siap.”


***


Ketika malam semakin larut, saat sang ibu tengah terlelap, begitu juga dengan hampir seluruh pelayan; saatnya untuk perpisahan secara mengendap-endap, meski jalannya seperti biasa, di halaman depan.


Beatrice telah menggiring tas ransel di punggungnya untuk persediaan makanan dan pakaian, juga uang untuk menaiki kapal menuju benua Aiswalt serta pendaftaran murid baru Akademi Lorelei. 


Hanya sang ayah dan Teruna, pelayan pribadinya, menghadap Beatrice dan membelakangi pintu depan rumah. Gadis berambut brunette itu tidak menyangka bahwa sudah sejauh ini mereka telah membantu untuk menggapai mimpi.


“Beatrice, satu lagi.” Sang Ayah menyerahkan sebuah sun hat putih berpita cokelat. “Ini untukmu.”


“A-ayah.” Beatrice menerima sun hat itu di kedua telapak tangannya. “Padahal tidak usah repot-repot membelikanku ini.”


“Anggap saja ini hadiah dari Teruna—”


Teruna membantah, “Dia hanya malu mengakuinya.”


“Baiklah. Ini adalah hadiah perpisahan dari kami. Kamu akan terlihat lebih cantik jika memakai topi itu.”


Beatrice menatap sun hat di genggamannya itu, wajahnya memerah ketika membayangkan berada di dalam cermin menatap dirinya sendiri, tepat pada wajah. Dia menghela napas ketika memikirkan reaksi orang asing terhadap dirinya.


“Pakailah,” bujuk Teruna.


Beatrice perlahan meletakkan sun hat tersebut pada kepalanya. Ketika kembali menatap Ayah dan Teruna di hadapannya, wajah mereka dapat dikatakan berseri-seri, mulut juga terbuka lebar.


“Kamu cocok sekali!” Teruna berdecak kagum.


Wajah Beatrice kembali memerah, tidak dapat menahan malu mendengar pujian dari kedua orang terpercaya di hadapannya itu. Dia menundukkan kepala sambil menjulurkan senyuman.


“Nah, kamu tersenyum lebih lebar. Sudah lama saya tidak melihat senyuman Nyonya Muda seperti itu,” Teruna kembali memuji.


Beatrice memalingkan wajah berniat menyembunyikan wajah merah dari senyuman.


“Sudah cukup. Pergilah. Sebelum ibumu dan pelayan yang lain sadar bahwa kita berada di sini. Jika bisa, carilah ilmu sebanyak mungkin sambil berkeliling dunia. Belajar sebaik mungkin di Akademi Lorelei. Kamu tahu, kalau kamu gagal di Akademi Lorelei, tidak ada tempat untuk kembali.”


Beatrice hanya mengangguk, sudah mengetahui ancaman jika dia kembali ke rumah.


“Berhati-hatilah, Nyonya Muda,” pamit Teruna.


Beatrice berbalik setelah mengucapkan salam perpisahan sambil kembali menjulurkan senyuman. “Aku pergi dulu, Ayah, Teruna. Terima kasih untuk segalanya.”


Beatrice akhirnya mengambil langkah untuk menyusuri halaman depan menuju gerbang depan yang telah terbuka lebar. Dia menyimpulkan bahwa pasti Teruna atau sang ayah yang membukakan gerbang tersebut.


Jantung Beatrice berdegup ketika melangkahi gerbang depan rumah itu seorang diri, tanpa pengawasan siapapun, sang ayah, sang ibu, dan bahkan para pelayan. Ketika langkah pertama telah diambil keluar dari halaman depan rumah, dia akhirnya menarik napas.


Kebebasan, akhirnya didapat juga sebagai perempuan dewasa, tidak ada lagi pengawasan orangtua, tidak ada lagi tuntutan tertentu, dan tidak ada lagi batasan.


“Aku siap.”


Beatrice akhirnya meninggalkan rumahnya sendiri hingga seakan menghilang dari pandangan menuju bayangan malam.


***


Sierra benar-benar tidak menyangka di balik wajah kegembiraan Beatrice terdapat sebuah cerita masa lalu kelam. Saking asyik dan menghayati cerita tersebut, dia akhirnya menghabiskan roti isi dan secangkir tehnya terlebih dahulu.


Beatrice mengakhiri ceritanya, “Itu cerita masa laluku. Aku tahu, kalau aku sampai dikeluarkan dari Akademi Lorelei, tidak ada tempat untuk pulang. Tidak ada tempat selain rumah. Akademi Lorelei adalah rumahku sekarang.”


Beatrice mulai menggenggam roti isi dan mengambil satu gigitan menuju mulutnya. Rasa asin dan gurih seakan mengobati kesenduannya selagi bercerita.


“Ternyata ini enak!”


“Beatrice, apapun yang terjadi, setelah mengalami semua ini, aku yakin, ayahmu ingin kamu bahagia, berhasil, dan bangga. Aku juga pernah mendengar pepatah seperti ini, selalu carilah ilmu tidak peduli kamu berada. Kamu akan belajar selagi berkeliling dunia setelah lulus dari Akademi Lorelei.”


Beatrice mengangguk sambil melanjutkan makannya. Setelah menceritakan semuanya pada Sierra, kesenduan mulai terangkat dari benaknya.


***


“Beatrice?” Yudai tercengang ketika mendapati Beatrice dan Sierra tengah menuju gedung asrama ketika berbelok. “Kamu … baik-baik saja, kan? Kamu tidak sakit?”


Sierra langsung pamit begitu mengetahui Yudai ingin berbicara pada Sierra, “A-aku sebaiknya masuk duluan. Sepertinya kalian ingin berbicara cukup penting.”


Yudai terheran menatap Sierra memasuki gedung asrama terlebih dulu. Tangan kiri menggosok rambut bagian belakang kepala.


“Kenapa ya? Apa dia masih terpikir saat aptitude test bagian luar.” Yudai kemudian menoleh pada Beatrice. “Beatrice, Neu benar-benar khawatir padamu setelah selesai kelas sejarah.”


Beatrice mengulum bibir melengkungkan menjadi sebuah senyuman khasnya. “Aku baik-baik saja. Lihat.”


“Oke.” Yudai tidak yakin. “Tapi tadi kamu pucat. Apalagi semenjak kita pulang dari Silvarion, kamu cukup murung.”


Meski sudah mengeluarkan keresahan yang terkait dengan cerita masa lalunya pada Sierra, Beatrice masih belum yakin ingin mengatakannya juga pada Yudai, Sans, dan Neu. Dia tidak yakin akan reaksi ketiga teman dekatnya itu jika dia mengutarakannya.


“Sudah, jangan dipikirkan,” Yudai membalas senyum, “aku akan bahagia kalau kamu juga bahagia, aku yakin Sans dan Neu juga akan begitu. Kamu senang berada di sini, itu sudah cukup.”


“Yudai.”


“Kalau kamu ada yang ingin disampaikan, terutama saat murung seperti tadi, bilang saja. Aku akan senang hati mendengarnya. Meski seperti yang dikatakan nenekku, butuh waktu untuk menyampaikannya melalui kata-kata. Suatu saat nanti, kamu bicara padaku saat seperti tadi.”


“Iya.”


Beatrice merasa saat itu bukan saat yang benar untuk menyampaikan segalanya pada Yudai, Sans, dan Neu. Seperti kata Yudai, dia membutuhkan waktu untuk menyampaikan ancaman dari Oya agar mendapat air mata phoenix.


“Beatrice, kamu mau makan di kantin? Aku yang traktir.”


“Eh? Ti-tidak usah repot-repot.” Wajah Beatrice kembali memerah, merasa tidak enak jika harus mengandalkan seseorang untuk membayar makan malamnya. “Aku juga sudah makan di kedai roti.”


“Aku dapat upah ekstra setelah menyelesaikan dua pekerjaan dari quest board seorang diri. Sans dan Neu sedang sibuk juga.” Ucapan Yudai terhenti ketika perut keroncongannya berbunyi. “Benar, aku belum makan setelah kelas sejarah. Jadi kamu makan sedikit saja.”


***


Wajar jika sore itu kantin tidak ramai dengan kunjungan murid, Yudai dan Beatrice menjadi salah satu dari pengunjung kantin yang sepi tersebut, seakan kantin serasa milik berdua.


Baru kali ini Beatrice hanya berdua dengan Yudai, biasanya dengan Neu. Wajah memerah karena canggung pun terlihat sambil menoleh sepiring daging cincang gulung.


Yudai langsung melahap sepiring daging cincang gulung miliknya seakan seperti binatang buas, bersemangat untuk menghabiskannya apalagi rasa asin bercampur gurih memicu kesenangan tersendiri.


“Baru kali ini kita … hanya berdua, tanpa Sans dan Neu.”


Yudai memberi usul sambil mengunyah suapan daging cincang gulung, “Oh ya, kalau Sans dan Neu sibuk sekali, kamu mau tidak mendampingiku menyelesaikan pekerjaan dari quest board?”


“Eh?”


“Aku ingin merasakan tambahan kekuatan dari nyanyianmu, Give Us Strength. Bisa jadi kekuatan tembakanku akan lebih kuat. Ya, katanya waktu tugas di Labirin Oslork, Sans menjadi lebih kuat dalam menyerang menggunakan belati.” Yudai menyeringai.


“Ba-baik, aku akan berusaha.”


“Oh ya. Besok Neu mengajak kita ke perpustakaan untuk berdiskusi tentang bab keenam Sejarah Kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei. Katanya akan lebih baik kalau kita juga ikut terlibat dalam diskusi di kelas nanti. Nanti setelah kelas khusus archer selesai.”


Beatrice kembali memuluskan senyuman. Dia tidak sendiri di Akademi Lorelei. Ketiga temannya, Yudai, Sans, dan Neu; justru membuatnya lebih bahagia.


Memikirkan nasihat sang ayah pada masa lalu, Beatrice tahu dia telah membuat keputusan tepat untuk mencari teman agar dapat berjuang bersama, apalagi demi meraih mimpi masing-masing.