
Sans telah menghitung berapa banyak dia menjadi korban pengjahilan selama kelas sejarah berlangsung. Pertama, ia dituduh kentut setelah menduduki bantal karet yang sengaja diletakkan di bangkunya. Kedua, ia terpeleset akibat sihir pembuat licin. Ketiga, bahkan saat berdiskusi materi bersama Yudai, Beatrice, dan Neu di ruang depan gedung asrama, ledakan sebatas air asam mengenai tepat pada wajah dan membuat menghitam ketika membuka buku Sejarah Kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei-nya.
Neu menyimpulkan tindakan jahil ketiga terhadap Sans disebabkan oleh kerikil kecil yang entah dilempar atau diletakkan tanpa ada perhatian sama sekali. Ia menyimpulkan bahwa kerikil kecil itu berupa batu sihir.
Ketika kelas sejarah berlangsung setelah tiga insiden jahil tersebut, sama sekali tidak ada tindakan mencurigakan dari siapapun, terutama para murid di dalam ruangan kelas. Seperti biasa, Duke, selaku pengampu kelas sejarah, menjelaskan materi pelengkap dari bab yang telah mereka baca sebagai tugas.
Yudai melirik tajam Duke. Tatapan profesor tersebut sering berfokus pada Sans selama kelas berlangsung, membuatnya terpicu untuk mengambil sebuah kesimpulan.
Duke mengakhiri pertemuan kali ini, “Baik, segitu saja kali ini. Jangan lupa untuk baca bab selanjutnya sebelum pertemuan mendatang. Pastikan kalian—”
Yudai berbisik pada Sans, “Professor Duke pelakunya.”
“Hah?”
“Sungguh. Dia telah menatapmu selama kelas berlangsung, begitu juga dengan tiga pertemuan sebelumnya. Bahkan, saat insiden jahil yang kedua, dia senyam-senyum sendiri setelah kamu terpeleset. Aku memperhatikannya dengan mataku sendiri.”
“Ta-tapi tidak mungkin profesor akan menjahili muridnya, kan?”
Ketika seluruh murid lain, termasuk Beatrice dan Neu mulai bangkit dari bangku masing-masing dan meninggalkan kelas, Yudai tanpa ragu lagi menghampiri Duke alih-alih mengikuti murid lain.
“Yudai!” Sans memperingatkan sambil berdiri.
“Profesor Duke, saya telah memperhatikan Anda selama tiga pertemuan terakhir,” Yudai mulai mengonfrontasi.
Duke tercengang ketika berbalik menghadap Yudai. “A-apa?”
“Saya sudah tahu, Anda yang menjahili Sans tiga kali, masing-masing dalam tiga pertemuan berturut-turut. Pertama—”
“Apa yang kamu lakukan, Yudai?” Sans sontak menghentikan konfrontasi tersebut.
“Sudah kubilang, Sans.” Yudai menoleh. “Profesor Duke telah memperhatikanmu selama tiga pertemuan terakhir. Sudah jelas beliau ingin bermacam-macam denganmu, apalagi kamu ini murid bermantel putih, tanpa job.”
Duke melerai, “Baik, maafkan saya. Saya mengerti, Yudai. Sekarang, saya ingin berbicara pada Sans, hanya berdua, sekarang juga.”
“Ta-tapi kan—” Yudai mencoba untuk membantah.
“Tidak apa-apa.” Sans menatap Yudai. “Lebih baik kamu tunggu di asrama saja.”
Yudai hanya mengangguk dan memelototi Duke. “Baiklah.”
Sans menoleh pada Yudai yang mulai meninggalkan kelas, meninggalkannya seorang diri. Murid bermantel putih itu beralih pandangan pada Duke yang telah memasamkan wajah.
“Duduklah dulu,” Duke mempersilakan.
Sans kembali duduk di bangkunya, persis sama seperti biasanya ketika kelas sejarah berlangsung.
“Dengar, kalau saya ingin berbicara denganmu, saya bisa saja memanggilmu. Tapi sepertinya kamu lebih sibuk dengan ketiga teman dekatmu itu. Saya lega kamu juga teman dekat Neu, murid yang bisa saya anggap sebagai murid terbaik di kelas.
“Maafkan saya. Mungkin cara untuk mendekatimu tidak terlalu wajar, bukan? Selain menjahili, sejak kelas sejarah semester ini dimulai, aku hampir selalu mengikutimu selama di akademi, termasuk saat kamu dan Yudai memasuki kerajaan Anagarde.”
Wajah Sans membiru ketika mendengar revelasi dari Duke. Mengetahui bahwa salah satu gurunya sendiri adalah penguntit, dia seakan ingin menahan muntah.
“Maafkan saya. Saya sebenarnya mengikuti dirimu karena saya percaya, meski kamu gagal di aptitude test, meski kamu memakai mantel putih sebagai orang gagal, kamu punya potensi tersembunyi. Saya tahu ini benar-benar membingungkan bagimu. Kamu punya potensi untuk menjadi alchemist, job di luar job system Akademi Lorelei.”
“A-Alchemist?” ulang Sans melongo. “Kenapa? Kenapa Anda menganggap saya berpotensi menjadi alchemist? Apa karena perasaan Anda? Apa karena ketertarikan Anda pada saya sebagai murid berkekuatan lebih?”
Sans terpikir ulang, ia memang membaca Buku Dasar Alchemist pemberian Nacht di kamar asramanya hampir setiap ada waktu luang. Tidak disangka, ada seorang profesor yang mengatakan kata “alchemist” tepat di hadapannya di Akademi Lorelei.
Sans melanjutkan, “Saya gagal aptitude test. Saya hanya memakai mantel putih. Saya bukan apa-apa.”
Duke mencoba meyakinkan, “Kamu adalah murid yang gigih, itu yang saya dapat selama mengikutimu. Kamu berlatih menggunakan belati didampingi oleh teman-temanmu, terutama menyelesaikan pekerjaan dari quest board bersama-sama. Meski kamu hanyalah murid tanpa job seperti yang lain, kamu berusaha keras agar tetap menjadi murid di akademi ini.
“Pada umumnya, kebanyakan murid bermantel putih sepertimu memutuskan keluar dari akademi karena merasa tidak sanggup menghadapi berbagai tantangan mendatang. Jika mereka tetap di akademi, lama kelamaan, kebanyakan dari mereka akan dikeluarkan karena performa yang buruk. Begitu mendengar keberhasilanmu ketika menjalankan tugas di Labirin Oslork di dekat Silvarion, kamu mematahkan ekspektasi kami, para profesor Akademi Lorelei. Kamu adalah murid bermantel putih yang sangat gigih dan berusaha keras.
"Saya yakin, kamu punya tujuan yang kuat mengapa kamu harus tetap berada di akademi. Saya ingin mendengar tujuanmu. Meski saya sempat melihat kamu menulisnya saat pendaftaran berlangsung, saya ingin mendengarnya sekali lagi.”
Sans menjelaskan tujuannya, “Sebelum saya datang kemari, Ibu … sakit parah. Beliau terkena penyakit langka hingga sulit disembuhkan. Penyakit itu membuatnya lumpuh tidak berdaya di tempat tidur. Beliau juga melupakan siapa saya sendiri.
“Tetangga saya, Mery, menemukan informasi bahwa bisa belajar di Akademi Lorelei demi mencari obat untuk Ibu. Ternyata tempat itu berada di benua Aiswalt, sedangkan aku berasal dari Grindelr, apalagi desa saya, salah satu desa termiskin.
“Benar, Ibu merupakan alasan mengapa saya kemari, untuk belajar. Saya ingin menemukan obat untuk penyakit Ibu.”
Duke terdiam mengumpulkan emosi hingga hampir meneteskan air mata setelah mendengar cerita Sans.
“Tujuan itu juga menjadi alasan mengapa kamu berpotensi menjadi alchemist,” Duke mengambil kesimpulan, “apa kamu pernah mencari informasi tentang alchemist sebelum ini?”
“Sa-saya, saat tiba di benua Aiswalt, ada seorang lelaki bernama Nacht, dia adalah mantan royal guard kerajaan. Dia memberi Buku Dasar Alchemist. Sama seperti Anda, dia bilang saya punya potensi untuk menjadi alchemist.”
“Buku Dasar Alchemist, ya? Berarti kamu sudah tahu ciri khas dari alchemist. Kamu bisa sebutkan?”
“Gauntlet. Sarung tangan khusus alchemist. Terdiri dari tiga bahan, yaitu jaring laba-laba es, bubuk kristal variant, dan daun ars. Gauntlet merupakan item yang menunjukkan jati diri seorang alchemist. Sebenarnya, saya juga bertujuan menjadi alchemist semenjak saya gagal dalam aptitude test. Saya menganggap bahwa alchemist menjadi job alternatif di luar job system.”
“Begitu.”
“Saya juga sudah mendapat dua bahan, jaring laba-laba es dan daun ars. Saya ingin menemukan bubuk kristal variant, tapi kalau sekarang tidak bisa karena berada di benua Riswein. Sangat disayangkan saya tidak sempat mengunjungi tempat itu saat bertamasya ke sana.”
Duke berdecak kagum terhadap Sans. Dia tidak menyangka bahwa murid bermantel putih itu telah memiliki dua dari tiga bahan benda yang menunjukkan jati diri seorang alchemist. Profesor berkulit hitam itu yakin, potensi Sans melebihi dari harapannya.
“Baiklah. Kita ke kamar saya. Akan saya tunjukkan sarung tangan alchemist, atau sebut saja gauntlet.”