
Tidak ada satupun yang membuka suara semenjak mereka kembali berangkat setelah berkemah. Semuanya hanya fokus melanjutkan perjalanan kembali menuju akademi di benua Aiswalt. Terlebih dahulu dan sesuai kesepakatan bersama, mereka akan melewati pegunungan Santavale. Pegunungan tersebut merupakan satu-satunya akses tercepat dari kota Beltopia menuju kota Silvarion.
Semuanya masih termenung atas kejadian malam sebelumnya. Sierra merupakan mata-mata Royal Table yang menyamar sebagai murid Akademi Lorelei. Tidak ada satupun yang menyangka sama sekali, seperti tidak ada indikasi bahwa dia adalah pelakunya, pelaku di balik kemungkinan terbongkarnya sebuah rahasia besar. Masalahnya, mereka juga tidak tahu rahasia terbesar tersebut dan mengapa sampai dapat menghancurkan reputasi akademi.
Melangkah pelan tapi pasti, tanpa percakapan sama sekali, melintasi kembali padang rumput. Hanya suara gemericik hujan rintik-rintik turut menemani dan mulai membasahi pakaian pada pagi buta.
Zerowolf melirik semuanya. Baginya sangat canggung tidak ada satupun suara yang keluar dari mulut. Terlebih lagi, semuanya seakan berjalan tanpa arah, seperti mayat hidup.
“Kalian semua kenapa?” Ia menjadi orang pertama yang membuka suara, ingin sekali membujuk agar semuanya tidak terus terpuruk. “Hanya karena teman kita mata-mata dari Royal Table, kalian menjadi begini! Setidaknya kita berhasil menyelamatkan Beatrice.”
Semuanya mengangkat kepala, merespon kata Zerowolf. Mereka tidak tahu ingin menjawab seperti apa.
Riri pun sudah tahu apa yang ia ingin katakan. “Memang benar kita berhasil menyelamatkan Beatrice dari sebuah pernikahan paksa dan tanpa cinta. Tapi kalau soal Sierra, kita benar-benar kecolongan, sungguh. Kita ceroboh telah mengandalkan dirinya sebagai teman.”
Sans memalingkah wajah dan menggeretakkan gigi. Ia telah merenungi dari saat ia bangun tidur bahwa semuanya bukan mimpi. Salah satu temannya, Sierra, telah menjadi seorang pengkhianat.
Begitu pula dengan Beatrice, ia sudah percaya Sierra merupakan orang baik di balik gaya berpakaiannya, seorang priest berpakaian serba gelap. Ia bahkan menjadikan Sierra sebagai orang pertama yang tahu keadaan dirinya pada awal semester pertama. Mempercayai bahwa Sierra adalah seorang pengkhianat di balik cangkang menghancurkan hatinya berkeping-keping, tidak sebanding dengan saat dipaksa menikahi Earth.
Tatro, sebagai salah satu royal guard pendamping di posisi terdepan, menghentikan langkah dan berbalik.
“Riri ada benarnya juga.”
“Tatro,” gumam Zerowolf.
Tatro melanjutkan, “Pasti sangat sakit, seseorang yang sangat kalian kenali, seseorang yang kalian anggap sebagai teman sendiri, seseorang yang kalian anggap sebagai sahabat, tiba-tiba saja memutuskan untuk berkhianat. Kita semua lengah dengan pertemanan dengannya, bahkan kami juga tidak menyangka. Sebaiknya kalian merenungi apakah kalian terlalu percaya dengan Sierra.”
“A-apa maksudmu?” Sandee heran. “A-aku sama sekali tidak mengerti.”
Tatro menceritakan pengalamannya, “Waktu aku baru saja direkrut sebagai royal guard, ada seseorang yang berkenalan denganku dan sepakat untuk membentuk kelompok. Tapi dia justru mengakui kerja keras timku sebagai kerja kerasnya seorang diri, sementara kami seakan tidak melakukan apa-apa, hanya dianggap sebagai beban. Makanya, dia seorang diri naik pangkat. Kami … tetap berada di posisi sekarang.”
“Dia sebenarnya memang tidak berguna bagi tim,” ucap Irons datar, “kami bahkan tidak tahu bagaimana kabarnya. Kalau dia seperti itu terus, mungkin dia akan diberhentikan secara tidak hormat sebagai royal guard.”
“Di kehidupan nanti, kalian hanya bisa percaya pada diri kalian sendiri. Kita tidak tahu siapa yang menusuk dari belakang.” Tatro memalingkan wajah, mengingat momen pengkhianatan dari teman satu timnya.
Riri mengangkat tangan, sedikit keberatan. “A-aku sudah percaya pada teman-temanku. Aku harus percaya kalau mereka takkan mengkhianati kita semua.”
Yudai langsung teringat. “Beatrice, kalau tidak salah, saat aku, Sans, Tay, dan Riri berada di kamarmu, Teruna, pelayan pribadimu tiba dan bilang dia diselamatkan oleh orang bertopeng. Apa dia memberitahumu bagaimana penampilannya?”
Beatrice mengangguk. “Aku tidak begitu ingat pasti. Teruna hanya bilang dia bertopeng zirah merah.”
Zirah merah. Yudai langsung teringat saat ia dan seluruh murid tahun pertama ber-job tipe fisik didatangi oleh sosok tersebut berserta pasukan Royal Table waktu di Silvarion. Apalagi saat pria bertopeng zirah merah itu mengolok-olok nama baik Akademi Lorelei dan bertekad untuk membongkar rahasia terbesar kerajaan.
“K-kalau tidak salah, d-d-dia … juga yang datang waktu aku, Riri, Zerowolf, Tay, Sandee, Lana, dan Ruka … berada di Silvarion, menjelang hari terakhir bootcamp.”
Semuanya terdiam dan melongo, apalagi saat mengingat sosok itu sungguh tidak asing. Sosok pria bertopeng zirah merah meski telah meneror akademi sudah berani menyelamatkan seseorang. Kebingungan, seperti berkeliling, sebuah pertanyaan muncul. Semuanya kembali termenung merenungi kemungkinan jawaban itu.
“Kenapa dia sampai menyelamatkan pelayan pribadi Beatrice?” gumam Lana.
Tay membuang ludah ke samping. “Soal itu, sebaiknya tidak perlu dipikir-pikir lagi. Soal Royal Table, Sierra, atau penyelidikan mata-mata, peduli amat! Bukankah kita semua seharusnya kembali melangkah, melanjutkan perjalanan?”
Perkataan tegas Tay lantas memicu semuanya mengangkat kepala, tidak menyangka dirinya yang sebenarnya sinis dan tidak acuh sudah berani mengutarakan pendapatnya, apalagi setelah dirinya menjadi korban serangan Sierra.
“Siapapun yang tetap ingin menganggap Sierra masih teman kalian, sebaiknya bergabung saja dengan Royal Table!”
Ucapan Tay memicu amarah bagi beberapa dari temannya, membalas sulutan api dengan api.
“K-kamu ini!” jerit Zerowolf mulai mengambil langkah cepat, ingin sekali meluapkan amarahnya, baik dalam bentuk pukulan atau tembakan panah.
“Zerowolf!” Riri menghentikannya bahkan sebelum ia mendekati Tay untuk mengonfrontasinya.
Zerowolf mengurungkan niatnya untuk mengayunkan busurnya tepat pada wajah Tay sebagai senjata pukulannya. Ia memalingkan wajah sejenak sebelum beralih pandangan pada Riri di belakangnya.
“Tay benar.” Riri setuju. “Kita tidak bisa tinggal pada masa lalu, saat Sierra masih menjadi teman kita, teman yang dapat kita percaya. Masih terlalu cepat kita mengerem lalu melangkah mundur. Kita hanya bisa melangkah maju, lurus demi tujuan kita semua. Contohnya kembali ke akademi melewati pegunungan Santavale!”
“Sudah, sudah.” Giliran Lana yang membujuk. “Mau sampai kapan kita mau berhenti di sini? Kita jadi buang-buang waktu karena merenungi masalah Sierra.” Ia mendorong bahu Sans ke depan. “Ayo, Kakak. Jangan melamun terus. Kita jalan kembali yuk.”
Melihat Lana yang mendorong Sans agar kembali melaju, Irons dan Tatro kembali melangkah terlebih dahulu. Semuanya mengikuti, kembali melangkah menuju tujuan mereka saat ini, pegunungan Santavale, Silvarion, dermaga, dan akhirnya ibu kota dan Akademi Lorelei.
“Tay.” Giliran Yudai yang mendekati Tay. Kali ini ia menepuk pundak kirinya. “Kamu ternyata memang teman yang baik. Kamu sampai peduli dengan kita semua, terus melangkah maju.
Tay membuang muka dan kembali melangkah saat Yudai mendahuluinya. “Bukan apa-apa.”
Sebuah kilatan seakan membekukan Tay. Ingatannya terpicu kembali, apalagi setelah mendengar pujian dari Yudai. Sebuah siluet muncul dalam benaknya, sampai menggeretakkan gigi menahan gejolak ledakan dalam dirinya.
Telunjuknya ia tekan pada kening, masih menggeretakkan gigi. Terbayang bahwa siluet sebuah sosok itu seakan mengulurkan tangan sambil meruncingkan bibir ke atas. Membayangkan sosok itu memicu sebuah kilat seakan menusuknya dari belakang.
Kita ini kan teman. Ya kan, Tay?
“U-uh ….”
Tay membuang napas keras, menghilangkan bayangan dalam benaknya. Ia kembali mengikuti seluruh teman di hadapannya, melanjutkan perjalanan.
“Teman? Apanya yang teman? Ujung-ujungnya pasti semuanya akan menusukku.”
***
Sebuah pegunungan telah di depan mata saat hujan sudah mulai reda. Embusan angin juga mulai lebih kencang, ditambah lagi kabut putih seperti menyatu dari langit menutupi sebagian dari bagian atas pegunungan berwarna antara hijau dan cokelat.
“Pegunungan Santavale!” sahut Tatro.
“Kalau tidak salah, butuh sekitar dua atau tiga hari untuk mendaki pegunungan ini menuju Silvarion,” ucap Irons, “ya, kalau tidak lewat sini, butuh enam sampai tujuh hari dari Beltopia.”
Zerowolf mengutarakan keluhannya, “Inilah kenapa kita seharusnya naik kapal saja dari Beltopia. Dan kita juga sudah mengalahkan berbagai monster yang menghalangi di hutan, di bawah hujan lagi.”
Riri membalas keluhan itu, “Karena Irons sudah memilih jalan ini sebagai bentuk latihan, mau bagaimana lagi. Kita mulai mendaki.”
Riri, sebagai pemimpin, mulai menapakkan kaki pada tanjakan kecil di hadapannya yang menjadi seperti pintu masuk pegunungan tersebut. Kabut pun mulai menebal sedikit demi sedikit.
“Oke! Kita mulai!” Yudai sangat bersemangat mengambil ancang-ancang untuk mendaki.
“Kita semua harus berhati-hati, berbagai monster bisa saja menanti selagi dalam perjalanan,” bujuk Irons.
Tanpa keluh-kesah lagi, semuanya mulai mengikuti langkah Riri untuk mendaki pegunungan tersebut. Angin lembut seakan kembali menyambut beserta kabut putih. Menatap pada jalan tanjakan, campuran warna hijau dan cokelat seperti menandakan lumut dan tanah menjadi satu.
Cukup banyak jalan menanjak, apalagi berbelok. Mereka harus berbelok berkali-kali mengitari ujung dari pegunungan tersebut. Terlebih lagi, jalan yang mereka lewati antara luas dan sempit, berganti-gantian.
Terlebih berbagai monster dan binatang yang menghalangi harus mereka kalahkan. Secara berganti-gantian, terutama mengandalkan penyerang jarak jauh seperti Yudai dan Zerowolf, mereka menyerang setiap monster yang berdatangan.
Zerowolf sampai berkomentar jika Neu tidak diculik dan juga ikut mereka, pasti pekerjaan mereka akan lebih mudah dalam mengalahkan setiap monster di pegunungan, mengingat kebanyakan dari mereka merupakan penyerang jarak dekat, ditambah lagi Katherine dan Beatrice merupakan job tipe sihir kategori support atau defense.
Saat langit mulai memudar, dari biru kelabu menjadi oranye gelap, menandakan hari akan berakhir, mereka masih berada di dataran miring menanjak lipatan. Harus mencari tanah lebih mendatar atau menuruni bukit agar dapat memasang tenda kemah.
Saat mereka tiba di dataran rendah setelah hampir setengah hari mendaki, langit pun menjadi hitam. Sekali lagi, mereka membangun tenda untuk berkemah untuk menghabiskan malam pertama di tengah-tengah pegunungan Santavale.
Tanah bercampur rumput dan lumut menjadi satu-satunya dataran pada lokasi kemah mereka. Oleh karena itu, mereka masih harus berburu makanan dengan mendaki gunung. Juga, ada dua orang yang berjaga jika ada marabahaya di sekitar.
Perjalanan menyusuri pegunungan Santavale memang masih panjang, apalagi mengingat perjalanan menuju Silvarion dan ibu kota masih lebih panjang lagi. Tidak ada keluh-kesah tentang rute dan juga situasi Sierra sebagai mata-mata Royal Table.
Perjalanan mereka masih berlanjut besok. Mereka juga memasang pola pikir agar mereka harus terus maju tanpa melihat ke belakang.