Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 177



Mock battle. Ucapan Tay memang tidak salah.


Semuanya cukup lega saat Tay ingin menantang Neu, teman sekamar sekaligus rival bubuyutannya itu, dalam mock battle untuk pertama kalinya. Keduanya memang berbeda job, berbeda elemen serangan, fisik melawan sihir.


Yudai dan Zerowolf ikut melongo. Dibandingkan dengan mereka berdua, Tay dan Neu baru saja terpikir untuk melakukan mock battle, setelah sekian lama. Animositas keduanya telah memuncak, bahkan saat Neu baru saja tiba dan diinterogasi.


Beatrice mencuri kesempatan Neu untuk menjawab tantangan Tay. “Um … sebaiknya kalian bicarakan baik-baik saja di kamar. Kami ingin istirahat—”


“Banyak alasan untuk menghindar, Topi Putih—” Tay masih memanggil julukan yang sama meski Beatrice sudah tidak lagi memakai sun hat putih pemberian sang ayah. “—teman masa kecilmu ini, si Mata Empat, harus melakukan mock battle sekarang juga. Aku tidak ingin mendengar alasan apapun itu.”


“Hei!” Riri menengahi perdebatan tersebut. “Ini sudah tengah malam! Kamu juga tahu—”


“Jam malam. Persetan dengan itu.”


Lagi-lagi Riri melongo, selama ini perkataannya terpotong saat tengah-tengah kalimat. Ia mendesah menyaksikan aksi Tay.


“Kalian boleh bilang kalian semua lelah, tapi ini urusanku dengan Neu,” Tay menegaskan, “aku tidak mau mendengar kamu juga lelah, itu hanya alasan untuk menjadi pengecut.”


Riri naik darah, terpicu oleh perilaku Tay yang tidak memberi belas kasihan sama sekali. Neu baru saja kembali ke akademi, terlebih lagi butuh usaha keras untuk melawan Sierra dan seluruh anak buah Royal Table, serta butuh waktu lama untuk kembali.


Baru saja Riri melangkah dan tengah membuka mulut, Neu menepuk bahunya.


Neu menjawab tantangan Tay, “Kamu sama sekali tidak berubah, Tay. Baik. Aku terima.”


“Baik. Di tempat mock battle biasa. Sekarang juga.”


Tay berbalik menaiki tangga menuju pintu keluar. Tenang, sangat tenang. Ia berjalan seperti biasa seakan tidak ada yang terjadi, tidak perlu mengendap-endap semenjak jam malam.


“Neu!” Beatrice menarik tangan kirinya. “Kamu ingin kena masalah lagi?”


“Tidak apa-apa.” Neu dengan lembut menarik tangan kanan Beatrice dan melepaskannya dari tangan kirinya. “Aku mengerti sudah lama dia ingin bertarung denganku, begitu juga denganku. Ini waktu yang tepat.”


Zerowolf ikut membantah, “Aku bahkan sering sekali ingin mock battle melawan Yudai, bahkan rela membuang waktu. Tapi … ini … akan membuat dirimu dalam masalah lagi!”


“Biar aku saja yang bertanggung jawab. Mau ikut menonton atau tidak, itu pilihan kalian.”


Melihat Neu beralih menuju tangga keluar dari gedung asrama, Beatrice menghela napas. Tanpa perkataan apapun lagi, ia mempercepat langkah mengangkat kaki dari lounge room dan meninggalkan tangga.


Riri, Zerowolf, dan Katherine yang menyaksikannya sampai terentak sebagai respon. Secara refleks, ketiganya mengikuti langkah Beatrice, meninggalkan lounge room.


Yudai menjadi satu-satunya orang yang tertinggal, Katherine sampai menoleh padanya sebelum mencapai anak tangga pertama. Ia menoleh pada tangga menuju deretan kamar murid laki-laki, menghela napas sekali lagi.


Lagi-lagi ia memikirkan nasib Sans yang selama ini telah absen dari siang dan tidak menyaksikan kembalinya Neu. Benar-benar kacau, sungguh kacau. Terlambat bereaksi, ia mengikuti teman-temannya keluar dari asrama pada tengah-tengah jam malam. Ia merasa terasing dari situasi tersebut, karena lebih sering melamun dan mengkhawatirkan teman sekamarnya.


***


Ruang latihan bertarung lagi! Tempat itu juga menjadi lokasi aptitude test bagian akhir dan ujian akhir semester pertama. Sering sekali, tempat itu juga dijadikan lokasi kebanyakan mock battle, seperti saat Zerowolf menantang Yudai berkali-kali.


Karena tempat itu menjadi satu-satunya pilihan selagi mereka benar-benar melanggar jam malam untuk melakukan mock battle, tidak ada pilihan lain lagi. Terlebih, saat mereka memasuki ruangan itu, suara petir menggelegar menggema menuju telinga, disusul oleh derasnya air hujan mencapai setiap atap kastel.


Tay dan Neu langsung menempati salah satu arena berbentuk persegi panjang di ruangan itu. Tay langsung mengambil pedang dari selongsong punggungnya, dan mulai menggenggam erat. Ia menggeretakkan gigi dan membuang ludah, sudah ingin mengambil ancang-ancang.


Neu, meski penuh kegelisahan di kepalanya, apalagi harus melawan rival bebuyutan sekaligus teman sekamarnya sendiri, mulai menempatkan kaki kanan di depan. Ia menepukkan tongkat pada lantai arena tersebut.


Riri, Zerowolf, dan Katherine sampai melirik setiap sudut, terutama pintu keluar, mengingat mereka juga terlibat melanggar aturan jam malam. Beatrice juga memperhatikan keduanya dengan resah, terutama Neu.


Beatrice mencoba sekali lagi untuk meyakinkan keduanya. “A-anu … Ini … tentu saja bukan gagasan yang bagus untuk melakukan mock battle sekarang.”


Riri menambah dengan tegas, “Benar! Kalian berdua sudah melanggar aturan jam malam, sebenarnya kami berlima juga, sebaiknya kalian lakukan mock battle besok saja. Kita masih punya waktu untuk kembali ke asrama.”


“Alis Melengkung!” Tay mengabaikan permohonan Beatrice dan Riri.


Yudai terlepas dari lamunannya begitu Tay memanggil julukannya berdasarkan ciri khas. Saat pikirannya kembali pada kenyataan, ia terfokus pada arena tengah barisan terdepannya. Yudai memahami alasan memilih arena tersebut agar mereka dapat lebih mudah menuju pintu dan mengendap-endap saat kembali ke gedung asrama.


“Kenapa melamun saja? Cepat kemari!”


Yudai merespon dan segera memasuki arena tersebut, menengahi Tay dan Neu. Ia kembali menghela napas melihat kedua rival bebuyutan itu.


“Aku yang memulai aba-abanya?” Yudai ingin memastikan.


“Tentu saja, bodoh!” Tay memalingkan wajah. “Sudah tahu malah bertanya.”


Zerowolf menggeleng melihat tingkah Yudai seperti itu. Katherine justru mengambil satu langkah, ternganga dengan keadaan Yudai akhir-akhir ini.


“Yudai akhir-akhir ini kenapa? Kalau dia sering melamun seperti itu, nanti aku yang akan menang dalam mock battle selanjutnya,” Zerowolf menyindir, “ya, bisa jadi keuntunganku tersendiri, besok aku akan mock bat—”


Riri menyikut kepala Zerowolf sekali lagi. Lagi-lagi Zerowolf menyentuh bagian atas kepalanya, otaknya seperti mengalami retakan dalam.


“Bukan saatnya!”


Yudai menutup mata dan menarik napas. Begitu ia membuka matanya, ia melirik Tay dan Neu di dua sisi arena tersebut. Baru pertama kali ia memberi aba-aba. Jika biasanya Riri yang memberi aba-aba saat dirinya dan Zerowolf melakukan mock battle, ia harus lebih tegas untuk menengahi mock battle antara Tay dan Neu.


“Baik. Swordsman lawan mage. Berarti pedang melawan sihir—” Yudai berbasa-basi. “—cukup adil. Kali ini, mock battle akan berakhir jika salah satu dari kalian berdua yang menyatakan menyerah atau tidak lagi bisa bertarung. Itu saja.”


“Cepat beri aba-abanya,” suruh Tay.


Yudai mengangkat tangan kanannya, pertanda bahwa Tay dan Neu harus mengambil posisi ancang-ancang. Kedua rival bebuyutan itu saling melirik tajam, memastikan setiap sudut dapat menjadi hal yang dimanfaatkan untuk menerobos pertahanan.


Tay menggunakan kedua tangan dalam mengenggam pedangnya. Neu mulai menyalurkan mana bersumber dari tenaga dari dalam tubuhnya. Serta, Cherie yang masih terlelap di sampingnya akhirnya mengangkat kedua tangan dan membuka mulut.


Neu menjulurkan senyumannya pada Cherie. “Kamu tepat waktu bangunnya, Cherie. Pada saat yang tepat, bantu aku untuk mengalahkan dia. Tapi kamu jangan tidur lagi, oke?”


Tay menyeringai, “Percuma saja.” Ia mengacungkan pedangnya mengarah pada Cherie. “Familiar yang kerjanya hanya tidur tidak akan membantumu sama sekali. Kamulah yang akan kalah.”


Neu menggeleng. “Kita lihat saja nanti.”


“Ehem!” Yudai memperingatkan, memastikan bahwa kedua belah pihak telah siap. “Bersedia.”


Beatrice menelan ludah lagi. Menatap pedang Tay yang tajam sampai mengilat menuju matanya memicu dirinya khawatir dalam keadaan Neu. Baginya ini bukan mock battle biasa, melainkan sudah menggunakan senjata asli, sama seperti saat dirinya berhadapan dengan tim Conti bersama Sans dan Yudai.


“Siap ….”


Tay langsung memelesat langkahnya dan mulai mendorong pedangnya ke belakang, mengunci Neu sebagai targetnya. Yudai yang belum selesai memberi aba-aba sampai tercengang tidak berkutik.


"Hei!" jerit Riri memperingatkan.


Neu cukup cekatan saat Tay menghantamkan pedangnya secara horizontal, seakan ingin membelah tubuhnya menjadi dua. Ia menyingkir dan melompat ke samping belakang. Reaksinya cukup cepat.


“Tidak apa-apa!” Neu memastikan. “Pertarungan sebenarnya tidak ada aba-aba, kan?”


Yudai mengangguk pada Neu. Terlebih itu adalah kalimat yang ia lontarkan ketika ia pertama kali melakukan mock battle melawan Zerowolf. Ia menyingkir dari arena pertarungan.


Kobaran api besar membara mulai menggelegar hebat dari orb tongkat sihir Neu. Sungguh besar ukuran api itu, sampai dari pandangan samping, terbentuk seperti dinding.


“AAAAA!! Itu apinya besar sekali!!” sahut Zerowolf.


“Apa Tay terpanggang?” gumam Riri.


Sihir giga flame milik Neu pun lama kelamaan berhenti. Begitu api besar itu menghilang, terungkap bahu kanan Tay sedikit terpanggang. Bagian bahu kanan pada mantel biru Tay sedikit gosong.


Tay terengah-engah saat menatap Neu kembali berdiri di hadapannya. “Ke-kenapa … se-sejak kapan kamu … dapat mantra sehebat itu?”


“Saat bootcamp di Vaniar. Aku belajar mantra yang hebat ini setelah membeli scroll-nya. Mungkin seharusnya kamu bisa lebih baik daripada ini setelah bootcamp di Silvarion.”


Tay menggeretakkan giginya. “Diam kamu!!”


Mengabaikan bahunya yang sedikit sakit, ia menempatkan momentum pada kaki kiri di belakang, sedikit berjinjit sebagai persiapan akselerasi. Ia menjerit dan kembali berlari, kembali mengayunkan pedang dari belakang.


“Transformate eht pyro combi shattorv inbladari.” Neu kembali menyingkir ke samping sambil kembali membacakan mantra.


Kumpulan belati api bermunculan dari orb tongkat sihir Neu. Seperti hujan belati api, Tay bergeser zig-zag menghindari setiap elemen serangan tersebut.


Tay pun akhirnya mendekati Neu yang tercengang dapat lebih cepat daripada serangan fire blades-nya. Neu segera melompat demi menghindarinya. Akan tetapi, refleksnya sedikit terlambat. Mata pedang milik Tay justru mencapai bagian paha kiri atas.


Goresan pada bagian atas kiri celananya memicu Neu pincang begitu kembali mendarat di lantai arena. Darah segar menetes mencemari celananya di bagian sobekan tersebut, menyadari bahwa mata pedang Tay berhasil menerobos kulit. Saat ia mulai melangkah menggunakan kaki kirinya terlebih dahulu, ia menggeretakkan gigi merespon sakit.


“Hah! Tidak bisa bergerak leluasa, kan?” sindir Tay.


Neu menyeringai. “Ini belum seberapa.”


Mendengar kalimat tersebut, Tay seakan merasa kata demi kata seakan menggema di telinganya. Sebuah kilatan seakan menyambar otak, memicunya memegang kening menggunakan tangan kiri.


Kita ini teman, bukan? Tay?


“U-u-uuuh.” Tay menolak pikiran itu kembali ke otaknya. Kepalanya seperti sedang terimpit dinding bergerak dari dua sisi hingga mau gepeng.


“Tay?” Zerowolf menyahut, merespon perilaku Tay.


Tay menarik napas, kembali menatap Neu telah kembali berdiri tegak dan memperhatikan gerak bibir.


“Kore waze imelihthe pamamagit eht soa!”


Neu mengeluarkan lebih banyak mana dari tubuhnya saat mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Beberapa bilah es mulai turun dari langit-langit seakan-akan terbentuk seperti hujan.


Seperti saat ia menghadapi fire blades, Tay bertubi-tubi melangkah zig-zag sambil menebas es yang sekadar numpang lewat. Mata pedangnya sampai membelah setiap es yang menghadangnya menjadi dua dan langsung menjadi lelehan ke lantai.


Namun, salah satu hujan es merobek kulit pipi kirinya, memicu menetesnya sedikit darah. Ia menggeretakkan gigi terpicu oleh refleks irisan salah satu es tajam seperti sebilah pisau.


“Cherie, sekarang!” sahut Neu.


Cherie pun meluncur dari bahu kiri Neu dan mulai membuka mulut, membuat Beatrice, Yudai, Riri, Zerowolf, dan Katherine melongo. Kekuatan Cherie akan dipamerkan untuk pertama kalinya. Tidak ada yang menyangka familiar Neu yang selama ini kerjanya hanya tidur siap untuk beraksi.


“HAAAAA!!” Tay memfokuskan tebasan pedangnya menuju Cherie terlebih dahulu. Terlebih, ia masih meremehkan makhluk elf tersebut sebagai sasaran empuk.


“Ini dia,” gumam Zerowolf mengantisipasi kekuatan Cherie.


“Sudah cukup!!” bentakan seorang laki-laki terdengar.


Tay dan Neu menoleh menghentikan serangan masing-masing. Cherie pun sampai kaget sampai ia terjatuh ke lantai area tersebut, gagal menggunakan kekuatannya terpicu oleh bentakan. Tay juga ikut tersandung akibat bagian depan kaki kanannya hingga menubruk tubuh Neu. Untungnya, pedangnya justru sudah terjatuh ke lantai setelah bentakan tersebut.


Kedua rival bebuyuan itu terjatuh di lantai arena tersebut. Neu merasakan punggungnya terbanting dengan Tay berada di atasnya.


Beatrice, Yudai, Zerowolf, Riri, dan Katherine melirik ke kiri, menatap sosok yang membentak tersebut melangkah menghampiri dari pintu masuk ruang pelatihan tersebut. Yudai dan Zerowolf tersentak meratapi sosok tidak asing itu.


“Pro-Profesor Baron?” sahut Yudai dan Zerowolf,


“Pro-Profesor? Se-sejak kapan?” ucap Riri.


“Kalian ini … bisa-bisanya—” Kerut wajah Baron mengerut, sampai-sampai urat nadi pada kulit di bagian lehernya juga seperti terbentuk “—sudah terlibat masalah, masih berani, sangat berani untuk … MENYELINAP MALAM-MALAM BEGINI!!”


Beatrice dan Katherine ikut tersentak mendengar peringatan dari Baron. Hampir setara dengan saat mereka mendapat bentakan Alexandria, bulu kuduk berdiri, otot kaki seakan mengerat.


“Pro-Profesor, ma-maaf.” Riri menundukkan kepala. “Kami—”


“Tidak.” Neu memotong dan mendorong Tay ke samping sebelum perlahan bangkit, mengabaikan nyeri pada paha kirinya dan menepukkan tongkat sihir pada lantai arena sebagai tumpuan. “Ini salah saya karena telah kembali secara tiba-tiba. Lalu saya yang menantang Tay untuk melakukan mock battle sekarang juga.”


Tay mendengus mendapati Neu berbohong. Apapun itu, ia juga sudah pasti mendapat masalah, begitu juga dengan teman-temannya yang menjadi “penonton”.


“Saya juga telah membaca teman-teman kemari untuk menonton, menyaksikan perkembangan saya. Kalau harus menghukum, hukum saja saya. Saya mohon.” Neu menundukkan kepalanya seraya meminta maaf kembali.


“N-Neu?” ucap Zerowolf.


Baron melirik seluruh muridnya, terutama Neu yang sungguh serius melindungi seluruh teman-temannya, bahkan setelah hadir kembali secara tiba-tiba setelah beberapa hari menghilang.


“Baiklah. Jika begini lagi, saya akan laporkan Profesor Arsius.” Baron mendengus berbalik. “Cepat! Kembali ke asrama dan tidur!”


Semuanya dapat bernapas lega mendengar keputusan dari Baron tersebut. Yudai dan Zerowolf terlebih dahulu berada di posisi paling depan dalam mengikuti langkah Baron untuk keluar dari ruangan itu.


Riri, Beatrice, dan Katherine seakan mendapati beban terlepas dari paru-paru. Ketahuan menyelinap dari asrama saat tengah malam, otomatis melanggar jam malam, memang merinding. Ini bukan pertama kali bagi Beatrice, semenjak ia sebelumnya mencari Sierra bersama kelima Sans, Yudai, Tay, dan Neu hingga jam malam berlangsung.


Neu memegang tongkatnya menggunakan tangan kiri sebagai penyangga dalam melangkah. Ia juga menghela napas pembelaannya berhasil.


“Terima kasih.” Tay menyusulnya.


“Apa?”


“Kubilang … terima kasih.”


Tay mendengus meninggalkan Neu terlebih dahulu, mengikuti yang lainnya keluar dari ruangan tersebut.


***


Yudai menarik napasnya kembali. Entah kenapa ia sering menghela napas, demi melepas stres atau bukan. Sans sama sekali belum ditemukan hingga tengah malam.


Ia membuka pintu kamarnya, mengungkapkan cahaya telah redup. Keadaan kamar masih tidak berubah, posisi masing-masing perabotan, terutama meja dan kantong di belakangnya.


Tetapi … Yudai melotot ketika ada satu hal menonjol di salah satu tempat tidur kamar itu. Begitu ia memasuki kamar, hal itu menjadi jelas.


“Sa-Sans?”


Sans telah terlelap di tempat tidurnya selama ini.