
Sans meringis ketika salah satu pedang cahaya mencapai lutut dan telapak kaki kirinya, memperlambat gerakan. Terpicu oleh rasa sakit sahabatnya itu, Yudai menembakkan panahnya tepat pada Sierra tanpa pikir panjang.
Ia menggeretakkan gigi ketika panahnya justru terkena hujan pedang cahaya hingga terbelah menjadi dua di udara. Sudah tidak ada pilihan lagi selain menghindar sambil memikirkan ulang strategi serangan.
Ironisnya, hanya area di mana Duke dan Spinarcia masih saling bertarung sama sekali tidak terkena serangan Sierra. Keduanya tetap saling menangkis senjata tajam seperti tanpa henti.
Duke ingin menoleh memperhatikan ketiga muridnya tengah kesulitan menghadapi serangan beruntun Sierra. Ingin sekali ia beralih untuk membantu, akan tetapi ia tengah sibuk menghadapi Spinarcia yang tanpa ampun mengerahkan seluruh energi dan serangan berpedangnya.
“Lebih baik, kamu fokus padaku!” sindir Spinarcia.
***
Berkali-kali Tay melampiaskan ayunan pedangnya, berkali-kali pula serangannya tertangkis. Tidak hanya itu, kecepatannya pun melambat dalam refleks, memicu dirinya terserang.
Darah, darah, dan darah. Darah segar bercucuran dari luka pada dada, bahu, dan lengan. Akibat sekumpulan nyeri itu, pergerakannya menjadi terhambat. Ia tidak mampu mengikuti pergerakan Diamond yang semakin sering bergeser mengelilingi.
Terdistraksi oleh kumpulan luka dan nyeri, Tay tercengang menatap ke sampingnya, tebasan pedang Diamond kembali meluncur menuju dirinya. Ia menghela napas tidak dapat bereaksi.
Darah lagi-lagi muncrat. Puncak pedang tajam Diamond pun berhasil menusuk bagian atas dada kanan Tay. Tay pun sampai memuncratkan darah dari mulut terpicu dari serangan itu.
“T-T-Tay!!” jerit Neu.
Begitu pedang Diamond telah terangkat dari lubang luka, Tay pun kembali ambruk ke lantai, dengan darah mulai mengalir menggenang.
Diamond menghela napas menatap Neu yang gemetar mengenggam tongkat sihir. “Berikutnya giliranmu. Akan sangat mudah untuk mengalahkanmu.”
Neu melangkah mundur ketika Diamond mulai menghampirinya. Suara langkah kaki seperti bertepatan dengan detak jantungnya. Adrenalin memicu dirinya menggeretakkan gigi.
Panik, ia menjeritkan salah satu mantranya, “En pyro, daco nad parn—”
Tanpa berkutik atau sadar, ia terkena tebasan pedang secara diagonal. Darah pun berhamburan keluar dari dadanya. Seluruh ototnya seperti membeku, memicunya untuk ikut roboh ke lantai.
“Sungguh menyedihkan. Arsehole seperti kalian lebih baik mati saja, murid Akademi Lorelei.”
Diamond berbalik dan menghadap pintu menuju kurungan, meninggalkan Neu begitu saja. Tanpa ampun, ia juga menginjak punggung Tay saat tengah menghampiri pintu.
“Menganggu saja. Lebih baik semua yang menyusup dihukum mati saja.”
Diamond mendekatkan tangannya pada gagang pintu. Ia memunculkan cahaya abu-abu sebagai bentuk mananya. Lama-kelamaan, suara kunci terbuka terdengar, memicu pintu terdorong ke dalam.
Ketika mengambil langkah pertama, sebuah genggaman keras menarik kaki kirinya. Ingin mengangkat kaki, tetapi masih tetap menginjak lantai.
Diamond secara tenang menoleh ke belakang. Tay-lah yang telah mengcengkeram kakinya, menghentikan langkah.
Ia tertegun mendapati Tay masih memiliki sedikit tenaga untuk merayap meski luka yang cukup banyak. Bahkan darah pun menodai lantai.
“Ma-masih … masih belum selesai.”
“Percuma saja. Kalian tidak bisa mengalahkanku. Lebih baik, kalian saksikan bagaimana aku akan membunuh teman-teman kalian. Teman-teman kalian akan mati dengan tenang, tanpa rasa sakit.”
Terpicu kembali! Mendengar kata teman-teman terlontar dari mulut Diamond memicu sebuah kilas balik bagi Tay.
***
Satu tahun sebelum memasuki Akademi Lorelei, Tay terbaring tidak berdaya di rerumputan. Darah telah bercucuran dan menodai pakaiannya. Ia hanya bisa menoleh pada keempat laki-laki di hadapannya.
“Ke-kenapa? Ku … ku … kukira kita ini teman. Kita … semua teman.”
Keempat laki-laki berpedang di hadapannya itu menyeringai. Salah satu dari mereka sampai menginjak telinga kiri, memicu semakin banyak nyeri.
“Bangsat sekali dirimu. Kamu percaya dengan hal itu? Kita semua teman? Kamu tidak sadar juga kami selama ini hanya memanfaatkanmu. Kukira kamu akan menyadarinya, tapi kamu bodoh, sangat bodoh.”
Tay terperangah. Sebuah napas berat masuk ke dalam paru-parunya, seperti sebuah mata pedang mengiris bagian dalam tubuhnya itu.
“Teman? Kami tidak sudi menganggap arsehole sepertimu sebagai teman. Menyebalkan.”
Merasa terkhianati, Tay menggeretakkan giginya. Ingin sekali berdiri, tetapi nyeri pada tubuhnya justru menghentikannya. Ia masih tidak percaya telah terkhianati oleh temannya sendiri.
“Dengan sikapmu seperti itu, kamu tidak pantas untuk mendapat teman.” Ketika keempat lelaki itu berbalik meninggalkannya begitu saja, salah satu dari mereka menegur, “Jangan pernah tega menghampiri kami lagi. Jika kamu berhasil hidup, kamu tidak pantas menjadi seorang petualang, apalagi royal guard.”
***
Jari-jemari seperti mencakar lantai. Kilas balik itu seperti memicu Tay mengambil kembali kekuatannya. Giginya ia geretakkan, energi dari emosi seperti meluap-luap. Ia melepas cengkeraman pada kaki Diamond seraya mengambil tumpuan pada lantai.
Perlahan ia mengubah posisi dari berbaring menjadi berlutut. Ingin sekali meluruskan kaki menuju posisi berdiri, akan tetapi ia mulai terombang-ambing.
“Akh ca apelle kah, pyro nhelv, fur eht obm.”
Neu membantunya dengan merapalkan mantra White Flame. Bara api putih meluncur dari tongkat sihirnya dan mulai mengelilingi tubuh Tay.
Api putih tersebut seperti masuk ke dalam tubuh Tay. Luka pada setiap bagian tubuh akibat tebasan pedang Diamond perlahan menutup. Darah pun berangsur seakan terserap.
Ia dengan mudah bangkit mengambil pedangnya, bersiap untuk kembali menghadapi Diamond.
“Sudah kubilang … tidak perlu membantuku.”
“White Flame, menarik. Tapi … sepertinya lukamu belum tertutup sempurna, bukan?” tanggap Diamond kembali mengenggam pedangnya, kali ini memutuskan untuk bertarung di hadapan berbagai ruang kurungan, di mana masing-masing sandera telah tertidur di dalamnya.
Tay menapakkan kaki pada ruangan tersebut, mulai mengayunkan perlahan pedangnya secara vertikal. “Blade … Revenger!”
“Baiklah,” tanggap Diamond, “Diamond Shield.”
Mana dari tubuh Diamond bersinar memicu bayangan sebuah perisai di antara pedang panjangnya. Ia ikut menangkis menggunakan pedang itu terhadap serangan beruntun ayunan pedang Tay. Saat pedang Tay mengenai salah satu bagian tubuhnya, ia sama sekali tidak terluka.
“Akh ca apelle kah, pyro nhelv, fur eht obm.” Tidak ingin berdiam diri, Neu menyentuh keningnya seraya mengucapkan mantra White Flame.
Api putih turut menyelimuti dirinya, memicu luka luar dan dalam perlahan menutup. Energi yang masuk ke dalam setiap ototnya memicu dirinya untuk kembali berdiri.
Ditatapnya Tay dan Diamond yang telah memasuki ruangan kumpulan kurungan. Ia perlahan mengikuti langkah mereka, tidak peduli akan larangan Tay untuk membantunya.
Lagi-lagi, Tay lambat dalam menghadapi bilah pedang mencapai lengan kirinya, tanpa sempat untuk mengayunkan pedangnya kembali untuk bertahan.
Neu kembali membacakan mantra White Flame. Maka, luka pada lengan kiri mulai tertutup dan perdarahan terhenti.
Tay meringis menatapi Diamond sama sekali tidak mundur akibat serangannya.
“Baiklah. Setidaknya lakukan sesuatu selain sihir menyembuhkan!” sahut Tay.
Neu menghela napas, ia memang terpikir untuk menggunakan sebuah mantra. Jika ia menggunakan mantra serangan seperti Lightning dan Giga Flame, terdapat peluang Tay juga akan kena meski menghindar.
Ia menutup mata dan menghela napas. Pertama kali ia menggunakan mantra, mengingat Diamond cukup cekatan dalam bertahan dan menyerang. Ia ingin memanfaatkan peluang Tay hampir selalu bergerak ke segala sisi untuk menyerang.
Ia juga menatap Cherie yang masih terlelap, kehabisan energi setelah menghadapi pasukan Royal Table. Ia terpikir untuk menggunakan kekuatan familiar-nya itu, akan tetapi, ia juga berpikir Cherie akan ketakutan menghadapi Diamond.
Ia pun terpikir sebuah mantra yang belum pernah digunakannya. Ia mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, menggerakkannya mengarah pada Diamond, tetapi menghindari arah depan Tay yang tengah bertubi-tubi menebaskan pedangnya.
“Neu!!” jerit Tay mulai merasa kecepatannya lamban akibat pertahanan Diamond. “Lakukan sesuatu!!”
Pedang Diamond pun meluncur setelah pedang Tay menurun serta mencapai bahu kirinya. Lagi-lagi goresan pedang pada bahunya memicu darah seperti meledak setelah ia berputar.
“Pulsar, kag het kaishi.” Panik, Neu akhirnya merapalkan sebuah mantra.
Sebuah dorongan sihir tak kasar mata meluncur dari tongkatnya. Sihir itu tidak jauh berbeda daripada kekuatan Cherie. Tidak heran ia tidak pernah menggunakannya semenjak mempelajarinya.
Tay pun sampai menubruk dinding sambil menyentuh bahu kirinya yang terluka itu, menghindari sihir Neu.
Terpicu oleh fokusnya terhadap Tay, Diamond membelalak menoleh pada Neu. Seluruh ototnya membeku, hanya menyisakan embusan napas dan gerakan pupil mata. Saking tercengangnya, ia tidak bisa bergerak.
“Terima kasih banyak.”
Tay menebaskan pedangnya hingga mencapai kerah zirah Diamond. Tebasannya memicu dorongan ke belakang.
Diamond pun terempas pada salah satu pintu kurungan. Mendadak, ototnya kembali dapat bergerak begitu kepalanya menubruk dinding pintu.
“U-u-uh …” Diamond menyentuhkan jari-jemarinya pada lantai, perlahan bergerak.
Tay berkomentar, “Seharusnya andalkan kekuatan familiar tukang tidur itu saja sekalian.”
Diamond perlahan bangkit, terlebih dahulu berlutut dan mengambil pedangnya.
“M-motherfucker.”
Tay kembali siaga, mengedepankan genggaman pedang di hadapannya. Neu ikut perlahan mendekati sambil mendorongkan genggaman tongkatnya.
“Sungguh, benar-benar menyedihkan,” ucap Diamond begitu ia berdiri secara utuh, “lain kali, kita bertemu lagi.”
Tidak lama setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Diamond mendadak menghilang, seperti tertelan angin.
“Tu-tunggu!!” jerit Neu sampai menjatuhkan tongkatnya. “****!”
Tay menerobos masuk ke dalam ruangan deretan kurungan. Terlebih dahulu, ia langsung menghantam pintu pertama menggunakan tebasan pedangnya. Pintu tersebut seketika terbelah, mengagetkan Neu.
“Bicara nanti! Kita bebaskan dan sadarkan mereka dulu!” perintah Tay.
“Oh, benar. Aku hampir lupa,” ucap Neu, “kita bebaskan Riri dan lain, dan juga Tatro dan royal guard lainnya!”
***
Hujan pedang cahaya tak henti-hentinya menyerbu Sans, Beatrice, dan Yudai. Sierra berulang kali merapalkan mantra tanpa henti. Meski begitu, ia sengaja tidak menargetkan Spinarcia dan Duke yang mulai melaju pada ujung ruangan dinding buntu.
Beatrice pun kewalahan, sampai-sampai kaki dan lututnya terkena sihir tersebut. Seperti tertusuk pedang, ia langsung berlutut roboh sambil menghela napas.
“Beatrice! Tidak!!” jerit Sans.
Yudai menggeretakkan giginya, memberanikan diri untuk mengambil satu langkah dan mengambil beberapa panah. Ia tahu banyak dari tembakannya akan terkena sihir hujan pedang cahaya.
“Beatrice! Mendekatlah pada pintu dan coba bernyanyi sekali lagi!” sahut Yudai saat dirinya mulai terkena hujan pedang sambil bergerak secara lateral berbolak-balik, hanya menembus sisi badannya.
“Yudai!” Sans juga mendekatinya, ia menghela napas dan mulai menjentikkan jari, ingin menggunakan mantra ajaran Duke.
“ARROW RAIN!!” Yudai melepaskan genggaman beberapa panah pada tali busurnya.
“Bolt, ecm morf ah kopn!” jerit Sans menjentikkan jarinya dua kali, mengarah pada Sierra dan Eldia.
Terlebih dahulu tembakan Yudai membentuk seperti hujan panah begitu mencapai puncak langit. Beberapa justru terhantam oleh hujan pedang milik Sierra. Hanya menyisakan satu yang mengarah padanya.
Sementara bolt snap milik Sans begitu cepat membentuk luncuran kilatan petir. Saking cepatnya, sampai tidak terhantam oleh serangan Sierra. Serangan Sans itu menghantam tepat pada mata.
“AAAAARRRGH!!” jerit Sierra terbutakan sampai tubuhnya terasa goyah.
Satu tembakan Yudai mencapai hidungnya, memicu cipratan darah keluar dan menghentikan sihir hujan pedangnya.
“Si-Sierra!” jerit Eldia mendapati rekannya telah berlutut jatuh kesulitan untuk bernapas akibat hidung tertancap panah. Dengan cepat, ia mencabut panah itu dan membiarkan rekannya itu berbaring.
Sierra menyentuh hidungnya sambil membisikkan mantra untuk menyembuhkan.
Geram terhadap serangan itu, Eldia melompat menyambangi Sans dan mengayunkan pedangnya ke atas, mengincar tepat pada kepala.
Sans tertegun mendapati Eldia mendatanginya dengan sambutan tebasan pedang. Responnya yang lambat pun memicu menangkis menggunakan belati. Sayang sekali, kekuatan dan kecepatan tebasan pedang jauh lebih besar, membuat belatinya terpental jauh mengarah pada dinding di sebelah kiri. Ia juga tersandung ke belakang dalam posisi berbaring.
Yudai pun mundur dan mendekatkan tangan pada quiver. Namun, tidak ada satu pun panah yang tersentuh. Menoleh ke belakang, ia menyadari ia telah kehabisan panah.
“Sans!!” jerit Yudai.
“MATI!!” Eldia kembali mengangkat pedangnya, ingin membelah tubuh Sans menjadi dua mulai dari kepala.
Terpicu dengan jeritan Eldia dan juga Yudai kehabisan panah, Duke menyingkir dari Spinarcia dan melesat menghampiri mereka. Dengan cepat ia mengayunkan belatinya, menebas gagang pedang milik Eldia sebelum mencapai kepala Sans.
Eldia pun terlucuti, pedangnya pun terpental. Yudai langsung menghindar ke kanan agar tidak mengenai mata pedang miliknya.
Duke mengayunkan belatinya menuju dagu Eldia hingga terjatuh.
“Bodoh sekali,” Spinarcia menyindir sebelum membisikkan mantra dan mendekati Duke dari belakang.
Ia memelototkan mata dan mengusap pedangnya memicu hawa api hitam bergerigi. Ia mendorongkannya pada Duke yang menoleh tidak berkutik.
Darah … seperti ledakan dahsyat. Darah keluar begitu banyak dari tubuh Duke, menciprati lantai.
Sans, Beatrice, dan Yudai seperti terempas menatap Duke serangan pamungkas Spinarcia sangat dahsyat, sampai menembus bagian dada. Pandangan mereka terasa pecah menghadapi kenyataan tersebut, terlebih saat Duke akhirnya roboh tanpa bergerak sedikit pun ke lantai. Beatrice pun menghentikan nyanyiannya dan ikut menghampiri Duke.
Mereka tidak bisa melihat bagaimana bentuk serangan Spinarcia berdampak besar pada Duke. Sangat cepat sampai tidak kasat mata.
Kedua mata Duke tidak terpejam apalagi bergerak. Pupilnya pun sudah sangat kecil. Tubuhnya sudah mengerut.
Sans menjatuhkan belatinya menatap mentornya itu sudah tidak benyawa lagi. Hatinya sungguh hancur seperti sebuah cahaya menyilaukan pandangannya untuk tetap di kenyataan. Ia perlahan menghampiri dan berlutut meratapi Duke sambil meledakkan tangisannya.
Yudai menggeretakkan giginya, air matanya ikut menetes, napasnya terengah-engah. Ia tidak tahu harus bagaimana menatapi mayat tersebut.
Tangisan Beatrice ikut meledak. Menatap darah mengalir begitu saja di lantai dari lubang luka besar pada dada Duke sudah mendebarkan hatinya.
Sierra dan Eldia bangkit dari jatuh mereka, memperhatikan Duke telah roboh bergenang darah. Napas Sierra telah pulih setelah menggunakan sebuah mantra penyembuh, sementara Eldia mengambil kembali pedangnya dan berlari kembali mendekati Sierra, diikuti oleh Spinarcia.
Suara langkah kaki seperti beribu-ribu akhirnya tiba. Spinarcia, Sierra, dan Eldia mendengus mendapati seluruh royal guard yang telah mereka tangkap bersama Tay, Neu, Riri, Zerowolf, Katherine, Lana, Sandee, dan Ruka telah menapakan kaki di ruangan.
Seluruh royal guard tertegun sampai mengerem langkah mendadak, mendapati Duke sudah tewas terbunuh. Spinarcia pun menyambut mereka dengan tawa terbahak-bahak di atas penderitaan.
“AAAAAAAARRRGH!!” jerit salah satu royal guard perempuan.
Tatro mengumpat, “****.”
Salah satu royal guard itu menjerit, “Mereka membunuh Profesor Duke!!”
Terpicu oleh provokasi itu, satu per satu royal guard mulai berlarian menghunuskan senjata mengejar Spinarcia, Eldia, dan Sierra. Akan tetapi, ketika mereka mendekat, ketiga anggota Royal Table itu mendadak menghilang seperti angin.
“****! Sejak kapan dia bisa menghilang!”
Tay, Neu, Riri dan Zerowolf bergegas menghampiri Sans dan Yudai. Mereka juga mendapati Duke telah tidak bernyawa dan celana Sans telah terkena darah sangat banyak.
“Tidak! Tidak!!” jerit Sans terus menggoyangkan tubuh Duke.
“Sans.” Riri berlutut membujuknya.
“Tidak!!” jerit Sans menolak uluran tangan Riri. “Spinarcia membunuhnya! Dia membunuhnya! Profesor Duke, aku belum siap untuk berlatih alchemist seorang diri!”
Katherine, Lana, Ruka, dan Sandee mendekati Beatrice yang ikut menangis sambil menutup seluruh wajahnya. Mereka berempat sama sekali tidak tahu harus melakukan apa untuk menenangkan Beatrice, kecuali hanya mengusap bahu dan memberinya setengah pelukan.
Yudai menoleh ke kanan, mendapati Spinarcia, Sierra, dan Eldia telah menghilang setelah para royal guard menyerbunya. Amarahnya mendidih, benar-benar mendidih. Saking terpicunya, napasnya mengencang sampai menarik quiver dari punggungnya dan membantingnya keras. Suara bantingan quiver-nya sampai mengagetkan yang lain.
“Yudai …,” ucap Neu.
“MOTHERFUCKER!!” Yudai melampiaskan jeritannya, tatapannya juga merujuk pada langit-langit seiring ia berlutut. Jeritannya ia lanjutkan dengan ledakan air mata, masih terpicu atas kematian Duke.
Seluruh royal guard mengalihkan perhatian pada mayat Duke. Wajah mereka kembali masam, masih tidak percaya invasi Royal Table memicu korban jiwa, meski hanya satu.
Sans menyandarkan kepalanya di dekat tulang leher Duke, membiarkan darah mengotori wajahnya. Menatap hal ini, Neu langsung berlutut dan membantunya berdiri.
“Sans, sudah,” ucap Neu.
“Tidak! Tidak! ****! ****! ****!” Sans meronta-ronta, menyikut genggaman Neu seraya menolak ajakannya. “Profesor!!”
“Biar kami yang membawa mayatnya. Kalian harus keluar dulu.” Giliran Tatro yang membujuknya.
Giliran Riri membantu Neu agar memaksa Sans berdiri. Kali ini mereka berdua menyentuh kedua bahu dan mengangkatnya secara paksa.
“Tidak! Lepas! Lepaskan! Profesor Duke!!” jerit Sans mendapati dirinya digiring paksa untuk berdiri dan keluar dari ruangan itu.
“Yudai.” Zerowolf menghela napas menghampiri rival bebuyutannya itu bersama Tay.
“Sh-****.” Yudai menggesekkan mata menggunakan lengan. “Profesor Duke!”
“Cepat berdiri, Alis Melengkung!” Tay memaksanya untuk berdiri.
“Biar royal guard yang membawa mayatnya,” bujuk Zerowolf ikut mendorong Yudai untuk berjalan.
Beatrice masih histeris, apalagi menatap Sans dan Yudai ikut meronta-ronta saat keluar dari ruangan. Setelah terbujuk oleh Sandee dan Ruka, gilirannya untuk mengikuti.
“Sierra ….” Beatrice meratapi pertemanannya dengan Sierra yang hancur melebur.
***
Sans dan teman-teman akhirnya mengangkat kaki dari tavern, berbalik menatapnya. Invasi geriliya terhadap markas Royal Table berakhir menjadi kegagalan. Tidak hanya mereka gagal menangkap Sierra, mereka juga terkhianati oleh Eldia. Ditambah lagi, Duke yang mereka bawa sebagai “pendamping” sudah tidak bernyawa.
Ditatapnya satu per satu royal guard keluar melalui pintu utama. Wajah mengarah pada pasir, mereka tahu mereka telah mengacaukan misi tersebut, apalagi sampai melibatkan murid Akademi Lorelei.
Riri pun menyadarinya. “Ini gawat. Kita memang seharusnya tidak berada di sini.”
Tay, Neu, Zerowolf, dan Ruka menatapnya sinis. Kalimatnya tidak tepat pada waktu tersebut.
Riri mengklarifikasi, “Setidaknya kita sudah mencoba. Kita mencoba untuk menangkap Sierra dan membantu para royal guard.”
Barisan royal guard pun berakhir dengan menggiring mayat Duke. Mayat tersebut sudah terbungkus kain putih, masih menimbulkan noda merah darah dari luka.
Menatap bungkusan mayat itu, Sans kembali roboh, kali ini ia seperti tertawa, meski air matanya kembali mengalir.
Saking terpicunya oleh reaksi Sans, Beatrice dan Yudai bergegas menghampiri dan menyentuh punggungnya.
Sans mengangkat tangan kanannya, gelak tawanya berubah menjadi tangisan histeris. Air matanya menetes pada pasir, membasahinya. Hatinya telah hancur total menatap Duke dibawa oleh sekelompok royal guard sebagai benda mati.
Yang lainnya ikut menghela napas, membiarkan angin laut lembut beserta suara tebasan ombak mengiringi duka.