Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 26



Ketika fajar telah tiba di benua Aiswalt, seluruh murid tahun pertama Akademi Lorelei terbangun dari tidur dan bergegas menyiapkan barang dan memasukkan ke dalam kantong atau tas masing-masing demi mengikuti tamasya ke Benua Riswein. Antusiasme tinggi sangat terasa, mereka bahkan rela mandi dan berpakaian bebas dan sopan begitu cepat sebelum keluar dari kamar masing-masing.


Mereka menuruni tangga hingga mengantre keluar dari gedung asrama dengan tertib, baris satu banjar lurus tanpa miring. Entakan kaki cukup menandakan kegembiraan murid tahun pertama ketika melewati selasar dan keluar melalui gerbang utama.


Mereka menghentikan langkah ketika mendapati beberapa profesor seperti Dolce dan Hunt telah berdiri di hadapan pintu, menunggu setiap murid mulai berbaris sesuai dengan kelas masing-masing, dalam bentuk tiga banjar.


Ketika seluruh murid sudah berkumpul, Hunt terlebih dahulu mengumumkan setelah menyapa, “Hal yang patut kalian ingat adalah bersikaplah dengan baik. Sebagai murid Akademi Lorelei, kita tentu tidak mau nama baik tercemar di mata masyarakat benua Riswein hanya karena satu sikap buruk. Ini adalah kesempatan pertama kalian untuk melihat dunia luar.”


Dolce juga menambah, “Pertama-tama, ada enam kapal yang akan mengantar kalian sesuai dengan kelas dan jenis kelamin masing-masing. Terlebih dahulu, saya ingin kalian berbaris sesuai kelas dan jenis kelamin masing-masing. Laki-laki di sebelah kiri, perempuan di sebelah kanan.”


Seluruh murid mulai memisahkan diri sesuai dengan kelas dan jenis kelamin masing-masing. Meski tidak terlalu terbirit-birit, kesenangan mereka masih terangkat tinggi, tidak sabar untuk menaiki kapal mengiringi lautan.


Beatrice langsung terengah-engah ketika dirinya harus terpisah dari Sans, Yudai, dan Neu dengan menaiki kapal yang berbeda. Dia merengek kecil ketika memandang setiap perempuan dari kelasnya memisahkan diri membuat barisan yang berbeda.


“A-aku paling dekat dengan kalian. Tidak ada teman mengobrol sama sekali di kapal nanti,” Beatrice mengeluh.


“Sudah, tidak apa-apa,” bujuk Neu, “begitu kita sampai di Benua Riswein, nanti kita nikmati tamasyanya bersama-sama.”


“Ta-tapi … kalian di kapal yang terpisah, aku tidak akan ada teman dekat untuk diajak mengobrol selain kalian.”


“Sudah, cepatlah, daripada semuanya menunggu.” Neu mendorong Beatrice agar dapat memasuki barisan perempuan sesuai kelasnya.


Dolce melanjutkan ketika seluruh murid telah berbaris sesuai dengan kelas dan jenis kelamin masing-masing, “Bukan itu saja. Kalian akan dibagi menjadi beberapa kelompok masing-masing beranggotakan tiga orang. Selama bertamasya, kalian harus tetap bersama kelompok masing-masing mengikuti setiap acara. Setiap ketiga orang yang saya sebut merupakan satu kelompok. Saya mulai dari kelompok pertama.”


Dolce mengungkapkan setiap anggota kelompok dengan memanggil sebuah nama, menggunakan selembar kertas sebagai hasil pengundian acak. Beberapa dari murid yang telah mendapatkan kelompok mengekspresikan kelegaan dan kekecewaan masing-masing, sesuai dengan teman sekelompok yang mereka dapatkan.


“Kelompok 13: Tay, Yudai, dan Neu,” Dolce mengungkapkan ketiga anggota salah satu kelompok.


Wajah Neu seakan kaku seperti patung ketika mendengar dirinya sekali lagi harus berkelompok dengan teman sekamar sekaligus murid paling dia benci, Tay. Meski Yudai juga menjadi anggota kelompok tersebut, dia tetap berpikir tamasya tidak akan menjadi semenyenangkan yang diharapkan.


Hal yang sama juga berlaku untuk Tay. Mendapati dirinya satu kelompok dengan Yudai dan Neu, tepatnya Neu, sudah jelas dari ekspresi masam pada wajahnya pasti ingin mengajukan keberatan. Baginya, sekali lagi satu kelompok dengan Neu, ditambah juga menjadi teman sekamar, akan menyebabkan masalah.


“Kelompok 15: Beatrice, Sierra, dan Sans,” Dolce mengungkapkan anggota kelompok lain.


Beatrice bernapas lega ketika mendapat anggota kelompok yang telah ia kenal, yaitu Sans dan Sierra. Ia paling sering bercengkerama dengan Sans sejak pendaftaran di akademi, terlebih, juga Yudai dan Neu. Dia membentuk senyuman melengkung menyadari betapa beruntung dirinya telah sekelompok dengan Sans.


Anggota lain adalah Sierra. Beatrice mengenalinya sebagai murid perempuan yang tidak memakai seragam pada hari pertama belajar demi memamerkan sebuah hal elegan. Ia juga pernah sedikit menolong Sierra dari cengkeraman sekelompok pria pemabuk saat Festival Malam Walpurgis. Baginya, ini juga kesempatan untuk mengenal Sierra lebih jauh.


“Oke, kalian sudah punya kelompok masing-masing. Setiap profesor akan menggiring kalian menuju dermaga kota. Dimulai dari barisan paling kanan,” Hunt menutup pertemuan tersebut.


Salah satu professor perempuan memanggil, “Baik, barisan paling kanan, harap ikuti saya dengan tertib meninggalkan halaman akademi!”


Satu per satu barisan mulai berjalan meninggalkan halaman akademi menuju kota terlebih dahulu. Barisan Sans, Yudai, Neu, dan Tay menjadi barisan terakhir yang meninggalkan akademi ketika langit malam berpaling menjadi biru oranye menandakan terbitnya matahari.


Neu sama sekali tidak berbicara, bahkan setelah diajak oleh Yudai. Ditatapnya Tay yang jauh terhalang oleh beberapa murid sekelas sudah membuat hati memanas, seperti mulai menyalakan api di tungku.


Ketika seluruh murid mencapai pantai dan dermaga, sudah terlihat enam buah kapal berukuran besar, badan kayu terlihat seperti cokelat keemasan dan terdapat layar putih polos untuk menerima angin.


Setiap barisan masing-masing memasuki kapal sesuai arahan setiap professor pendamping, lurus dan tertib. Beatrice menoleh pada barisan Sans, Yudai, dan Neu ketika menaiki kapal yang terpisah melewati platfon kayu seakan seperti tangga.


Ketika menaiki kapal sesuai dengan barisan masing-masing, mereka mulai terpana dengan luasnya badan kapal, layar putih berukuran besar juga membuat terengah-engah berdecak kagum.


Perjalanan menuju Benua Riswein dari Benua Aiswalt akan memakan kurang lebih dua hari satu malam, setidaknya jika lokasi keberangkatan merupakan dari pusat kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei. Perjalanan cukup lama.


Neu menghela napas ketika mendengar kenyataan bahwa tamasya di benua Riswein akan berlangsung selama empat hari tiga malam, berarti harus menderita cukup lama untuk bersama Tay, teman sekamar sekaligus “musuh bebuyutan”-nya. Merasa tidak nyaman jika harus mendekati Tay berkali-kali, lebih baik berbicara dengan Sans dan Yudai ketika perjalanan berlangsung.


Kapal pun akhirnya berangkat ketika jangkar besi masing-masing telah terangkat dari dasar laut. Kecepatan angin turut membantu kapal agar bergerak secara stabil agar selamat sampai tujuan.


Memasuki bagian dalam kapal, terdapat sebuah ruangan khusus untuk tidur. Seperti kebanyakan kapal, sama sekali tidak ada sesuatu yang empuk. Mereka harus rela tidur di atas lantai kayu kapal sambil menunggu malam berakhir.


Ketika matahari mulai terik, kebanyakan murid memutuskan untuk memasuki ruang tidur kapal demi menghindari hawa panas, hanya untuk sekadar bersantai, mengobrol, dan tidur siang demi membunuh kebosanan selama perjalanan.


Sans membayangkan kembali dalam bentuk kilas balik dari benaknya. Dia mengingat dirinya dan Yudai menaiki kapal menuju Benua Aiswalt dari Benua Grindelr dengan cara menyusup. Jika dia memiliki uang yang cukup untuk menaiki kapal waktu itu, mungkin pemandangan langit cerah dan samudera biru seakan memancar akan berada di depan mata.


“Eh, Sans?” Yudai berlutut Pundak Sans yang sedang duduk bersandar di dinding. “Daripada bosan berdiam diri, kita lihat-lihat setiap sudut kapal yuk!”


“Memang itu dibolehkan?” Sans mempertanyakan.


Neu melangkah menemui mereka sehabis memandang lautan dari sisi kiri kapal. “Memandang samudera saja sudah cukup menyenangkan, apalagi sambil merasakan angin laut. Keluhkan panas, semakin pula dirimu.”


“Ah! Itu percuma saja, Neu!” bantah Yudai. “Omong-omong, kamu belum berbicara pada Tay, kan?”


Neu membuang muka. “Berbicara pada Tay? Lebih baik aku menutup mulut rapat-rapat daripada berbicara dengan orang brengsek itu. Dia bahkan tidak mau membereskan kamar sama sekali, dia menyerahkannya begitu saja denganku.”


Yudai mengingatkan, “Ya, lalu Tay hanya mengerjakan sedikit saat hukuman membersihkan semua kamar mandi di akademi. Sudah berkali-kali kamu bercerita kalau berbicara dengan Tay. Apa boleh buat, kan? Dia teman sekelompok kita, Neu. Aku, Tay, dan kamu, kelompok 13. Lebih baik kita berbicara, lalu berbaikan, sederhana.”


Neu tidak setuju dan menggeleng. “Tidak semudah itu! Kamu dan Sans juga pernah diserang oleh Tay dan teman-temannya saat malam upacara penerimaan murid! Memangnya mudah mengikuti kata-kata kakekmu, Yudai?”


Yudai menggesekkan tangan kiri pada belakang kepalanya. “He he, kata kakekku memang kebanyakan benar, ada juga peluang meleset.”


Yudai menggeleng. “Menurut pandanganku, di balik segala sesuatu, pasti ada sesuatu yang terpendam.”


“Kata kakekmu lagi?” tebak Sans.


“Bukan. Aku menyimpulkannya sendiri,” bantah Yudai.


“Bukannya sama saja dengan waktu itu yang kamu bilang, Yudai?” Neu melongo kritis.


“Membicarakan tentangku, bukan?” Tay langsung menghampiri ketika mendengar percakapan tersebut.


Neu menoleh pada Tay sambil melongo. Sans dan Yudai juga berdecak tidak menyangka Tay telah mendengar beberapa dari seluruh percakapan.


Tay menyindir, “Teman? Teman? Mengapa kalian menganggap diri kalian sebagai teman? Lihat kalian sendiri, memang pantas kalian menyebut teman kalian sebagai teman?”


“Kamu masih belum jera juga?” Neu menunjuk pada Tay.


Seluruh murid yang berada di puncak kapal menoleh pada drama tersebut, seakan sedang menonton sebuah pementasan yang dramatis meledak-ledak. Hal yang kurang hanyalah panggung dan tirai layaknya di sebuah teater.


Neu melanjutkan konfrontasi pada Tay, “Aku yakin, mantan teman-teman-mu pasti sangat menyesal telah berteman denganmu. Sungguh.”


“Betapa menyedihkan sekali kata-katamu itu,” sindir Tay.


“A-apa?”


“Bukannya sudah kubilang sebelumnya, teman ada hanya untuk diandalkan, tidak selamanya teman berada di sisi kita, bukan? Aku masuk ke Akademi Lorelei bukan untuk berteman dengan siapapun, sederhana. Pada dasarnya, kita bisa bergonta-ganti teman lalu membuangnya begitu saja. Hal itu berlaku pada kalian, mata empat dan alis melengkung.”


“Cih!” jerit Neu memalingkan wajah.


“Bodoh. Lebih baik aku ke bawah dan tidur siang saja!” Tay pun berpaling dari Sans, Yudai, dan Neu serta menatap tajam seluruh saksi. “Kalian lihat apa!”


Neu menggeleng menatapi Tay yang menuruni tangga menuju sebuah ruangan. Hawa panas justru memperburuk keadaan. Fisik dan mental, hawa panas telah terhantar ke dalam tubuhnya.


Neu menyimpulkan, “Kamu lihat sendiri, Yudai? Berapa kali kuberitahu hal yang benar, dia tetap saja bersikukuh. Pantas dia tidak punya teman. Jangan heran kalau dia tidak mau bekerja sama dengan kita. Aku lelah!”


Neu berbalik dan meninggalkan Sans dan Yudai, membutuhkan waktu untuk sendiri demi meredam panas dari fisik dan mental. Dia menghela napas dan mengangkat kedua kepalan tangan seakan memukul udara.


Yudai sampai heran dan melongo, bahkan sampai mempertanyakannya pada Sans, “Apa aku memang salah ucap?”


***


Langit pun akhirnya berangsur berubah mulai dari biru cerah, merah oranye, hingga hitam pekat. Warna laut pun seakan memancarkan kepekatan warna pada langit. Udara masih mengalun lembut tanpa penambahan kecepatan.


Malam yang tenang di atas samudera, sama sekali tidak ada angin kencang dan hujan deras. Setiap kru kapal dapat dengan tenang mengontrol arah tanpa perlu khawatir akan bahaya.


Setiap murid di kapal dapat terlelap di ruang tidur, tanpa tempat tidur, hanya lantai. Memanfaatkan lantai kayu sebagai tempat berbaring bukan hal mudah, kadangkala mereka mengeluh tidak nyaman karena punggung langsung mengenai kerasnya lantai alih-alih lembutnya tempat tidur.


Suara dengkuran keras juga seringkali menjadi salah satu keluhan di setiap kapal, apalagi jika dengkuran tersebut berasal dari dekat sang murid yang mencoba untuk tidur. Butuh beberapa lama untuk menyerahkan kesadaran untuk beristirahat setelah menutup mata.


Sans dan Yudai masih terbaring dan terjaga memperhatikan setiap murid di perahu yang sama mulai terlelap satu per satu. Dengkuran juga masih mereka dengarkan cukup nyaring.


Sans berkata jujur, “Kamu juga sering mendengkur seperti itu.”


“Hah? Memang aku mendengkur?” Yudai melongo.


Sans sedikit tertawa. “Fu fu, kamu tidak mengakuinya juga.”


“Tertawa? Lebih baik keraskan saja untuk membangunkan semuanya.”


Sans menghela napas sejenak. “Katanya kita akan tiba di benua Riswein setelah matahari terbit. Aku ingin tahu bagaimana Benua Riswein. Tentu bukan bagian selatan, bagian selatan penuh dengan kubangan rawa beracun.”


Yudai menempatkan kedua tangan pada belakang kepala. “Kakekku bilang aku lahir di Silvarion, saat orangtuaku masih bertualang di Riswein. Seandainya kita ke sana untuk tamasya, mungkin aku bisa dapat petunjuk tentang keberadaan orangtuaku. Dan kalau memungkinkan, kamu juga dapat mencari petunjuk obat penyakit ibumu.”


“Ta-tahu dari mana?”


Yudai mengeringai ringan. “Aku hanya asal menebak. Siapa tahu, keajaiban bisa menunggu kita. Aku percaya dengan keajaiban, keajaiban yang tersembunyi di balik setiap hal.”


Sans menghela napas, semakin terpikirkan tujuan untuk menemukan sebuah obat, semakin juga terpikiran soal ibunya. Sudah beberapa lama semenjak ibunya telah berada di dasar mata air kehidupan sebagai cara agar tetap hidup dalam kondisi tidak sadar.


Tujuannya masih begitu jauh dari genggaman. Sejauh ini, dia belum menemukan obat tersebut di buku dasar alchemist pemberian Nacht dan buku-buku lain di perpustakaan akademi. Dia juga belum terlalu menguasai cara bertarung menggunakan belati dengan sempurna.


Sebagai murid bermantel putih, peluang untuk mencapai tujuannya bisa dibilang cukup rendah, cukup rendah. Bahkan, akan sangat memalukan jika gagal mencapai tujuannya hanya karena dikeluarkan dari akademi.


“Ayo tidur,” bujuk Yudai, “besok akan menjadi hari yang panjang, apalagi aku harus berurusan dengan Tay dan Neu.”


“Ya, aku juga harus mendampingi Beatrice dan Sierra.”