
“Waaaah!”
Itulah reaksi setiap murid ketika tiba Pulau Familiar Izaria. Langit biru cerah setelah matahari menanjak turut menambah warna pada pulau eksotik itu. Tidak bersalju seperti di kebanyakan wilayah lain di Kerajaan Anagarde saat musim dingin, hutan di dalamnya masih utuh mempertahankan warna dan bagiannya, terutama dedaunan di setiap pohon dalam hutan.
Pemandangan itu sudah di depan mata ketika seluruh murid dan profesor pendamping menapakkan kaki di pasir putih. Keindahan alam itu juga mendorong semangat untuk menangkap Familiar.
Hunt, salah satu profesor pendamping, mengumumkan, “Seperti yang kalian lihat, kita sudah tiba di pulau eksotik di bagian selatan Benua Grindelr. Nah, kalian dapat dengan bebas melihat-lihat keindahan alam di pulau ini sambil memburu Familiar. Begitu matahari mulai terbenam, harap kalian kembali berkumpul di pantai untuk memulai perjalanan pulang ke akademi. Begitu saja dari profesor pendamping kalian, bubar!”
Hampir seluruh murid tahun pertama berbondong-bondong meninggalkan daerah pantai melintasi deretan pepohonan untuk memasuki area hutan, tidak sabar ingin menangkap Familiar secepatnya sambil menikmati alam.
Tay berkata pada Neu secara jengkel. “Sekarang apa? Kita seperti biasa berjalan bersama, kita berenam?”
Sierra menunjuk Tay dan Neu, “Karena kalian berdua telah pertama ke sini, sebelum kita semua, lebih baik kalian—”
Beatrice melongo hingga memotong perkataan Sierra, “A-apa! Kalian ke sini sebelum kembali ke akademi? Kalian tidak pernah bilang sebelumnya.”
Neu memotong, “Itu tidak penting lagi. Kita coba tangkap Familiar seperti biasa dulu, lalu—”
Yudai melongo, “Kenapa tidak langsung saja dengan cara khusus itu? Cara khusus?”
Tidak sempat menganggapi usulan Yudai, kelima temannya itu melintasi deretan pepohonan untuk memasuki area hutan eksotik.
“Hei!” jerit Yudai terbirit-birit menyusul.
Ketika berjalan bersama kelima teman dekatnya, Sierra kembali teringat, terpicu saat hari-hari terakhir liburan musim dingin. Ia melirik Beatrice, teman terdekatnya yang tidak ia duga dapat lebih akrab.
Bersamaan dengan misi utamanya, setiap kenangan akan pertemuan dengan kelima teman dekatnya itu terlintas seperti kilat. Senyuman Beatrice setiap kali membuatnya bermekaran akan kebahagiaan.
Ia menggeleng agar menghalangi setiap kenangan itu, misi utamanya yang ia simpan erat-erat dalam pikirannya. Misi utamanya di Akademi Lorelei.
***
“Pokoknya, sekali membuat kesalahan sekecil apapun, bisa berbahaya.”
Seorang lelaki berambut kribo dan berkulit hitam pekat mengingatkan ketika dirinya dan Sierra hampir melewati perbatasan timur kota. Sebagai satu rekannya, benar-benar krusial untuk melaksanakan sebuah rencana secara perlahan.
Hanya ada penerangan lentera dan jalan bersalju di hadapan mereka. Tengah malam, yakni saat langit penuh kegelapan dan udara dingin semakin menusuk kulit, saat yang tepat untuk mengakhiri percakapan akan sebuah rencana.
“Black Jack’s apprentice, setidaknya sebelum semester kedua berakhir, masing-masing dari kita harus selesai menyelidiki rahasia tergelap dari Akademi Lorelei, jika perlu, Kerajaan Anagarde juga.”
Sierra menganggapi datar. “Jangan khawatir. Akan kucari rahasia itu, dimulai dari setiap tempat di kastel. Pasti ada kepingan rahasia yang sudah dihancurkan. Tapi membutuhkan waktu. Apalagi, aku juga sudah membuat teman.”
Lelaki itu menatap bibir Sierra menonjolkan kata teman melalui artikulasi suara. Ia berpikir dua kali untuk menganggapi.
“Black Jack’s apprentice, memang bagus kamu membuat koneksi dengan murid lain, kamu menganggap mereka sebagai teman. Tetapi … pada akhirnya kamu perlu mengabaikan mereka demi misi ini. Teman yang terlalu akrab denganmu akan menganggu—”
“Tidak perlu berkata seperti itu aku juga sudah tahu. Jika misiku selesai, aku takkan peduli apa yang terjadi pada mereka, teman-ku. Ya, sebenarnya aku terpaksa bergaul bersama mereka.”
Sierra mengingat kembali ketika Beatrice mengajak dirinya dan Tay untuk bergabung ke lingkaran pertemanannya, sehari setelah perburuan air mata phoenix berujung kegagalan. Demi menjaga penyamarannya, hampir tidak sia-sia untuk tetap mempertahankan sebuah kedok.
“Baiklah. Begitu kamu mendapat kabar baik, saya ingin tahu, begitu juga dengan apprentice yang lain.”
“Tentu saja aku ingin tahu bagaimana kabar kedua apprentice selain kita.”
***
Sierra mengalihkan pikiran itu sementara waktu untuk kembali fokus pada masa kini, yaitu bersama kelima teman dekatnya di Pulau Familiar Izaria. Untuk sementara, ia hanya mengikuti alur sesuai sistem belajar-mengajar di akademi selagi mempertahankan sebuah kedok.
Ditatapnya Beatrice yang berseri-seri memberi sorakan semangat untuk memburu Familiar semampu mungkin. Ia tersenyum kecil menganggapi tindakannya telah mengajak menjadi teman dekat.
Beralih pada Tay dan Neu yang saling bertengkar secara verbal akhir-akhir ini. Ia menghela napas mengamati keduanya tidak berubah semenjak liburan musim dingin berakhir.
Mengamati Sans dan Yudai, keduanya melirik-lirik keindahan alam dari Pulau Familiar Izaria. Mulut terbuka lebar merupakan pertanda decakan kagum terhadap permata tersembunyi itu.
Sierra dapat memastikan semuanya baik-baik saja untuk sementara, tidak ada satupun temannya yang ingin mengorek informasi privasi lebih dalam satu sama lain. Ia yakin masing-masing temannya sedang menyimpan rahasia sama seperti dirinya. Ia hanya mengetahui informasi tentang keluarga Beatrice ketika meminta untuk bercerita.
Semakin ke dalam area hutan itu, kumpulan pohon dan bebatuan berlumut seakan bergerak berbaris menghampiri. Lumut pada batu dan bagian bawah badan pohon memperkuat warna kesegaran pada mata berkat pancaran sang surya dari puncak langit.
Jalanan tanah berumput juga semakin landai. Semakin pula lebat rumput pada tanah itu.
Melihat tanah sudah mulai datar, mereka menghentikan langkah sejenak begitu melewati pertanda awal dari Pulau Familiar Izaria. Sudah tiga puluh menit mereka melangkah, terutama Sierra yang seakan terselip oleh lamunannya.
Sebuah makhluk berbulu ungu tebal berbadan lingkaran sempurna, berkaki kecil mungil, dan bercula dua melangkah mengitari jalan di hadapan mereka. Makhluk itu bernama fuzzball.
“AAAAAH!” seru Beatrice tidak luput heboh menatap fuzzball ungu itu. “Lu-lucu sekali!!”
Mata Beatrice berbinar-binar menyaksikan langkah fuzzball itu. Langkah makhluk itu menambah penampilan dan kharisma anggun seakan bersinar memantulkan cahaya.
Neu berkomentar, “Sudah kuduga, pasti Beatrice—”
“Akan kutangkap kau!!” Beatrice mulai memelesatkan larinya mengincar makhluk itu.
Ironinya, fuzzball justru menambah kecepatan larinya, bahkan melebihi kecepatan manusia. Seakan menyisakan asap, fuzzball meloloskan diri.
Beatrice pun tersandung ketika tertegun menyaksikan fuzzball incarannya berhasil kabur. Tubuhnya pun terjatuh ke tanah, begitu pula dengan sunhat putih khasnya.
“A-apa?” jerit Yudai ikut kaget.
Sans juga ikut melongo tidak menyangka makhluk seimut fuzzball mendadak mengubah citra dari imut menjadi gesit. Tidak heran ia berpikir familiar susah sekali untuk ditangkap.
Saking kagetnya, Beatrice menggerakkan kedua tangan perlahan pada tanah berumput, seakan-akan kesulitan untuk bangkit kembali.
“Begitulah,” komentar Neu, “Familiar memang sulit ditangkap. Butuh usaha keras untuk melakukannya.”
“Tadi kamu bilang ada cara khusus,” ulang Yudai, “maksudku, saat di kelas.”
Sans meletakkan kepalan tangan pada dagu, meniru pose Yudai dalam berpikir. Menyaksikan pula setiap murid tahun pertama di sekitar mereka berusaha sekeras mungkin untuk menangkap Familiar tanpa hasil berarti.
Sierra ikut menyaksikan kepanikan dari setiap murid tahun pertama yang gagal menangkap Familiar itu. Jeritan sebagai pencarian solusi memang bukan jawabannya, saking frustrasinya dalam sebuah kesulitan itu.
“Mungkin … kita juga bisa menggunakan cara khusus itu. Sambil kita juga berusaha untuk menangkapnya. Lagipula, kita juga takkan tahu bagaimana Familiar menganggapi kita untuk mengajaknya menjadi pendamping.”
Tay memiringkan kepalanya. “Aku tidak mengerti apa maksudmu, Mantel Putih.”
***
Sans dan teman-temannya melanjutkan perjalanan, melirik-lirik setiap sudut memastikan adanya Familiar. Jika perlu, berpencar menjadi pilihan alternatif semenjak mereka ingin mendapat makhluk pendamping secara individu.
Berbagai cara untuk menangkap Familiar telah mereka lakukan, mulai dari “mengejar” langkah lari, mempersiapkan umpan berupa dedaunan atau buah-buahan yang terdapat di sekitar hutan, hingga bernyanyi menarik perhatian.
Upaya pertama “mengejar” Familiar tidak berhasil menyebabkan mereka merasa cukup letih, sama seperti murid-murid lain. Mereka hanya harus rela menyaksikan makhluk siluet, pixie, dan fuzzball bebas berkeliaran begitu meloloskan diri dari cengkeraman manusia.
Upaya kedua, seakan memancing perhatian hewan menggunakan umpan, hanya mendapat peluang kecil. Tidak banyak Familiar yang tertarik memakan umpan masing-masing, jika berhasil, kegagalan kembali menghantam. Upaya untuk menangkap Familiar yang telah memakan umpan itu berujung melarikan diri.
Upaya ketiga, Beatrice mengandalkan suara emasnya untuk menarik perhatian setiap Familiar. Meski usahanya cukup untuk memicu para Familiar menuju sumber suara, kegagalan lagi-lagi harus mereka terima. Setiap Familiar itu kembali melarikan diri dengan menambah kecepatannya.
Hampir setiap tempat di Pulau Familiar Izaria telah mereka singgahi, dari hutan hingga menuju sekitar danau kecil jernih. Area bercahaya kuning suci turut menjadi distraksi akan keindahannya, yakni di mana tanaman seakan berfotosintesis menghayati tarian cahaya dan embusan angin lembut dan menyegarkan.
Sans menghela napas ketika menyaksikan langit mulai menguning. “Sebentar lagi senja ….”
“Kita bahkan belum mendapat Familiar sama sekali!” Beatrice berlari-larian panik. “Apa yang harus kita lakukan! Apa yang harus kita lakukan!”
Yudai menggaruk bagian belakang kepalanya. “Apa ya? Aku sudah kehabisan akal tentang cara khusus ini, benar-benar kehabisan akal.”
Tay menggelengkan kepala. “Lagipula yang lainnya juga sudah memutuskan untuk kembali ke kapal. Menyerah begitu saja. Tampaknya ini juga bukan tugas yang penting sekali.”
“Ta-tapi—” Beatrice ingin mengganggapi.
Tay kembali jujur. “Peluang untuk menangkap Familiar itu kecil sekali. Ingat apa kata Profesor Hunt dan … si Mata Empat ini. Tidak punya pilihan lain selain menyerah.”
Yudai menghela napas. “Kamu benar, Tay. Sebaiknya kita menyerah saja lalu kembali ke kapal.”
Ketika mereka berenam baru saja berbalik, berniat untuk mengakhiri perburuan Familiar, Neu menghentikan langkah secara rapat, tercengang dengan apa yang baru saja ia lihat.
Sebuah peri setinggi telunjuk mengitari kepala Neu, mengepakkan sayap setipis kaca menimbulkan bunyi gemericik berirama. Ia berhenti tepat menatap Neu sambil melengkungkan bibir ke atas.
Rambut pelangi, tanduk ungu bergaris seperti unicorn, pakaian putih, dan berpupil menyerupai rosario, kesan pertama dari Neu menatap penampilan peri yang merupakan salah satu Familiar itu.
Peri itu membuka mulut lebar menyatakan sebuah bunyi abstrak lembut. Neu menyimpulkan bunyi itu sebagai sapaan.
“Uh, ya, aku Neu.”
Peri itu kembali mengelilingi Neu, kali ini bukan hanya mengitari bagian kepala. Begitu kepala telah ia kelilingi, beralih pada leher menuju bagian torso, seakan sedang meneliti lebih lanjut.
Ia menempelkan tubuhnya pada pipi Neu. Tubuh lembutnya bergesekan dengan tekstur kulit kasar wajah Neu, merasakan geli dan kehangatan pada saat yang sama.
Neu bertanya ketika peri itu berpaling dari pipi dan menatapnya, “Kamu mau ikut denganku?”
Peri itu mengangguk sambil menyatakan bunyi abstrak, tersenyum setuju.
“Ja-jadi kamu Familiar-ku? Ka-kamu akan mendampingiku?”
Peri itu menjawab dengan menggoyangkan tubuhnya dan mengepakkan sayap lebih kencang.
“Baiklah.” Neu menawarkan pundak kirinya sebagai titian peri itu.
“Neu?” sahut Yudai, “Apa lagi yang kamu lakukan? Cepatlah!”
Neu melirik pada peri yang baru ia dapat itu. “Ayo. Akan kukenalkan dirimu dengan teman-temanku.”
Neu pun berbalik dan mulai melesat, menyusul teman-temannya yang sudah terlebih dahulu dalam perjalanan kembali menuju pantai. Didampingi oleh cahaya sphere kuning suci yang bertebaran, sebuah kebanggaan telah tertanam, ia berhasil “menangkap” sebuah Familiar.
“L-lho?” Beatrice bereaksi menatap sebuah Familiar di pundak Neu. “Ka-kamu berhasil menangkapnya?”
Peri di pundak Neu menjadi pusat tatapan bagi lingkaran teman dekat itu. Sans dan Yudai tidak kalah terkejut dan melongo. Mereka menatap bentuk tubuh mungil dan lugu tubuh peri itu, terutama rambut pelangi dan tanduk ungu.
“Tu-tunggu dulu, Mata Empat!” jerit Tay menghentikan langkah. “Kenapa kamu justru berhasil menangkap dia! Familiar!”
“Cara khusus?” tebak Yudai.
“Imutnya!” Beatrice terpesona akan tampilan peri itu selagi melanjutkan perjalanan kembali menuju pantai.
“Yang penting, kamu sudah dapat Familiar. Dan bolehkah aku suatu saat ikut bermain dengannya?” Yudai sangat antusias menatap peri itu.
“Omong-omong, kamu sudah memberinya nama?”
Neu terdiam saat menganggapi pertanyaan Beatrice. Menatap kembali peri yang berada di pundak kirinya itu, sungguh sulit untuk memberi nama sesuai dengan deskripsi fisik. Misteri, anggun, dan imut, ketiga hal itu menjadi kata kunci untuk menggambarkan Familiar-nya.
“Ah!” Beatrice mengangkat telunjuknya, bersamaan saat embusan angin mengencang. “Karena dia cantik dan imut seperti malaikat, terutama rambut pelanginya, kamu namai dia Cherie. Cherie, nama yang imut.”
Yudai menganggapi secara antusias sekali lagi, “Nama yang sangat bagus!”
Tay melipat kedua tangan di dada, mendengus kesal. Iri, sangat iri menyadari sekali lagi ia kalah melawan rival bebuyutannya itu dalam hal menangkap Familiar.
Sans menyambut dengan senyuman untuk anggota baru lingkaran pertemanannya itu. Ia tidak dapat mengungkapkannya menggunakan kata-kata untuk bereaksi terhadap keberhasilan Neu menangkap Cherie.
***
“Aku masih tidak mengerti, kamu berhasil menangkap peri itu, um, maksudku Cherie, sementara yang lain, terutama aku sendiri, tidak. Aku juga tidak mengerti tentang cara khusus itu.” Yudai masih berputar-putar dalam memikirkan cara khusus untuk menangkap Familiar.
“Cara khusus itu tidak kita lakukan sendiri, Yudai, seperti yang dijelaskan Profesor Hunt, begitu juga dengan tugasmu sendiri.”
“Aku tahu itu, tapi … masih saja aku pusing memikirkannya. Kita sudah berusaha menangkap Familiar, berharap agar cara khusus itu kita terapkan.”
“Itu dia!” Neu menegeaskan. “Selama kita berusaha menangkap mereka, para Familiar itu menerapkan cara khusus itu, jadi bisa dibilang kita tidak langsung menerapkannya. Para Familiar telah menguji kita semua, kesabaran dalam menangkap Familiar adalah kunci utamanya. Familiar juga menilai kepribadian setiap manusia yang mengincar mereka sebagai makhluk pendamping, apakah mereka orang baik, juga menilai masa lalu.”
Yudai mendengarkan sambil melakukan pose berpikirnya seperti biasa, meletakkan jari pada dagu. Di sebelah mereka, Sans dan Tay tengah berbaring terlelap, sama seperti mayoritas penumpang kapal, termasuk Zerowolf dan Riri. Ditatapnya sejenak pula Cherie yang tertidur layaknya bayi. Kesunyian di dalam ruang dalam kapal membantunya untuk fokus.
“Ini yang cukup langka,” lanjut Neu, “Familiar juga menguji tingkat kesedihan seseorang untuk menilai kepribadian. Jadi, inilah mengapa aku terus bersabar selama memburu Familiar. Tidak heran, murid-murid yang lain frustrasi setelah gagal menangkap Familiar, dan akhirnya mereka tidak dapat sama sekali.”
“Oke.” Yudai mengangguk. “Aku sudah sedikit mengerti.”
Yudai tersenyum menatap kembali Cherie. Penjelasan Neu juga mengingatkan dirinya tentnag bayi phoenix yang ia ikut rawat bersama Sans dan Beatrice saat libur musim dingin. Ia dapat mengambil sebuah kesimpulan.