Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 133



“Maaf, tapi saya yakin Anda salah orang.” Yudai menggeleng.


“Kamu, Yudai, anaknya—”


Baru saja berbalik dan mengambil hanya satu langkah, panggilan dari pria itu membuatnya mematung kurang lebih selama lima detik. Begitu tercengang bahwa pria itu memang tidak salah orang.


“Saat kecil, kamu hampir diterkam harimau. Saya mendengar cerita itu dari ayahmu sendiri. Lihat dirimu, kamu mirip dengan beliau.”


“Tapi … bagaimana Anda tahu saya putra dari Sanada?” Yudai ingin memastikan bahwa bukan hanya wajahnya yang menjadi pemicu ingatan pria itu.


“Dengar, saya tahu di mana terakhir kali orangtuamu berada.” Pria itu menepuk bahu kirinya. “Sebenarnya sudah lama sekali, saya juga … tidak ingat kapan terakhir kali mereka berada. Katanya mereka pergi ke sebuah kuil yang tersembunyi jauh di tenggara kota ini. Setelah itu … mereka tidak pernah kembali.”


Seperti terhantam oleh angin tepat pada kepala, hatinya juga tersayat memicu sakit pada otak. Sebuah situasi terburuk seakan tertanam pada benaknya.


“A-apa … ja-jadi—”


“Jangan berpikir begitu dulu. Saya yakin orangtuamu masih hidup. Jika mayat mereka tidak ditemukan, mereka masih hidup. Saya yakin, mereka ada di suatu tempat. Mereka pasti akan kembali ke kuil itu.


“Kalau kamu ingin menemukan orangtuamu, mulailah dari kuil itu, kuil Soka. Mungkin kamu akan dapat petunjuk … atau kamu bisa menemukan mereka kembali.”


“Ta-tapi—” Yudai sangat ragu dengan perkataan pria itu.


“Cobalah, ini bisa menjadi langkah awal untuk bertemu kembali dengan orangtuamu.”


Yudai tak habis pikir sampai menepuk pahanya pelan melihat pria itu berbalik dan pergi begitu saja. Memang, peluang untuk bertemu kembali dengan orangtuanya secara langsung, apalagi menggunakan cara pergi ke kuil Soka, nyaris nol. Sudah tidak mungkin mengingat mereka berdua sudah lama tidak terdengar kabarnya.


“Lihatlah!” Suara Zerowolf memicunya untuk berbalik spontan.


Rival bebuyutannya itu menunjukkan sebuah busur yang baru saja ia beli. Seluruh kepala busur itu, mulai dari lengan hingga telinga, semuanya hitam mengkilat, terbuat dari arang.


“Selanjutnya aku akan menantangmu menggunakan ini! Busurku tentu akan lebih kuat daripada busurmu, jadi aku akan menang!”


“Membeli busur seharga 650 vial saja sudah sombong,” sindir Riri yang juga ikut tiba.


Zerowolf membeku mendengar Riri telah menyatakan harga busur tersebut sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Yudai sedikit tertawa, setidaknya sedikit mengobati ketegangannya.


***


Hari berikutnya, seluruh murid mulai mengikuti pelatihan khusus job masing-masing, sama sekali tanpa memandang kelompok. Ini yang paling mereka tunggu setelah empat hari pelatihan umum bersama kelompok masing-masing. Sangat tidak sabar mereka ingin menjadi lebih kuat menggunakan senjata masing-masing.


Murid tahun pertama ber-*job*swordsman menjadi contoh utamanya. Mereka telah berkumpul dan berdiri menghadap sebuah sungai mengalir berkedalaman kecil dan berlebar 50 centimeter.


“Saya bisa dengar kalian bilang akhirnya,” sambut Speed yang telah tiba dengan sang asisten. “Selama di kelas, kalian hanya berlatih melakukan mock battle.”


Tentu saja, keempat mantan teman Tay, atau lebih tepatnya musuh bebuyutan, amat menantikan latihan pertarungan menggunakan pedang asli alih-alih pedang kayu sebagai simulasi. Tentu saja mereka punya target untuk mereka kalahkan di depan seluruh murid.


Tay tetap angkuh memperhatikan Speed dan sang asisten, tidak peduli dengan percakapan sesama murid. Ia hanya ingin berlatih secara serius selama bootcamp berlangsung.


Speed melanjutkan, “Seperti yang kalian tahu, kalian hanya menggunakan pedang saat berlatih sendiri atau bersama teman di luar kelas, atau selama menjalankan misi. Kalian tidak perlu bosan dengan mock battle yang biasa kalian lakukan selama kelas berlangsung. Atau mungkin ada yang menantang mock battle untuk menguji kemampuan masing-masing.


“Kali ini, kalian akan menggunakan pedang masing-masing untuk berlatih bertarung sungguhan, serius. Kalian bia menguji kemampuan yang kalian dapat dari berlatih di luar kelas dan selama menjalankan beberapa misi. Oleh karena itu, saya ingin melihat sampai sejauh mana pengalaman masing-masing dari kalian.


“Pertama, saya dan Oxmaul, asisten saya akan memperlihatkan contoh sword fight.”


Oxmaul mulai menghadap Speed seraya mempersiapkan untuk praktik bertarung. Keduanya saling menatap satu sama lain dan mulai mengambil pedang dari selongsong punggung masing-masing.


Asisten laki-laki berambut hitam panjang diikat itu menggenggam pedang berwarna hitam panjang hanya menggunakan satu tangan. Seluruh murid swordsman itu cukup terpana tidak menyangka ia mampu memegang pedang seberat itu.


Speed menggenggam pedang berwarna hitam marble berbilah miring dan berujung tumpul membentuk garis. Mayoritas dari murid tahun pertama sudah kagum berbinar menyaksikan pedang miliknya itu.


Tanpa aba-aba apapun, keduanya mulai mengayunkan pedang dari belakang ke depan. Kedua serangan mereka saling tertangkis, memicu bunyi seperti sebuah pisau yang diambil dari lemari secara kasar.


Oxmaul kembali mengayunkan pedang seraya mengunci targetnya, yakni bahu kanan Speed untuk menghentikan serangan dan tangkisan beruntun. Ia memang bertujuan untuk melucuti pedang profesor pengampunya.


Sama seperti Oxmaul, Speed juga menangkis setiap serangannya. Ia juga memang berupaya untuk melucuti pedang muridnya demi menunjukkan contoh pertarungan. Memang, ia tahu Oxmaul merupakan murid swordsman tahun kedua terbaik.


Oxmaul pun menyingkir dan mulai menyerang Speed dari samping kanan, memicu barisan murid tahun pertama mundur satu langkah saking terkejutnya. Cukup beruntung, ia menjaga jarak dari berbagai murid tahun pertama agar tidak membahayakan.


Speed cukup cekatan dalam menangkis serangan Oxmaul. Ia sampai bergerak mundur mengayunkan pedang untuk menyerang atau menangkis kembali. Mata pedang pun bertubrukkan berkali-kali cukup keras.


“Oke, sudah cukup.” Speed menghentikan praktik tersebut. “Itu tadi adalah contoh pertarungan yang kami lakukan. Jangan pernah ragu dalam mengayunkan pedang, baik untuk menyerang atau bertahan. Niscaya, lawan akan mencuri kesempatan untuk mengalahkan kalian.


“Baik, kita mulai saja uji tanding pertarungannya. Silakan acungkan tangan siapa yang ingin melakukannya duluan!”


Sangat antusias dan tidak sabar dalam menggunakan pedang sungguhan selama uji pertarungan alih-alih mock battle, hampir seluruh murid swordsman tahun pertama mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil berseru.


Satu-satunya murid yang tidak mengikuti antusiasme tersebut adalah Tay, tidak perlu lagi dipertanyakan.


Oxmaul mulai mengacungkan telunjuk dan menggerakkannya seperti jarum jam. Ia akhirnya menghentikan gerakan telunjuk pada salah satu dari musuh bebuyutan Tay. “Baik, Conti, kamu bisa menjadi lawan pertama.”


Conti, laki-laki berambut cokelat tua, langsung memisahkan diri dari ketiga teman dekatnya dan melaju mendekati Oxmaul dan Speed sambil berbalik.


“Ayo, Conti!” sahut ketiga teman dekatnya itu sambil menurunkan tangan kanan.


“Oke, cukup sulit untuk memilih siapa yang ingin bertarung.” Speed menepuk kedua kepalan tangan.


Conti mengangkat tangan dan memberi usul, “Mungkin biar saya saja yang memilih lawannya.”


“Oh. Itu ide yang bagus,” tanggap Osmaul.


Conti melangkah dan mengamati setiap murid. Kedua tangannya ia letakkan pada pinggang selagi menatap tepat pada wajah.


Ia mengangkat telunjuk, sama persis seperti saat Oxmaul melakukannya. Kali ini, ia juga menajamkan tatapan dan pada akhirnya gerakan telunjuknya terhenti mengarah pada seseorang.


“Tay, aku ingin melawanmu sekarang juga.”


Ketiga teman dekat Conti melebarkan bibir secara sinis, sedikit cekikikan.


“Pasti mereka ingin melihat bagaimana Tay akan tumbang melawannya.”


“Kalau ini benaran terjadi, dia seharusnya tidak pantas masuk kelompok A.”


“Conti dari kelompok B melawan Tay dari kelompok A.” Speed mulai menengahi kedua murid tersebut.


Kedua murid itu mulai mengeluarkan pedang dari selongsong masing-masing. Suara mata pedang tergesek cukup keras saking cepatnya dalam mengambil. Keduanya menghadapkan pedang masing-masing pada satu sama lain.


“Kamu takut menghadapiku?”


Tay mengeratkan genggaman pedangnya, sama sekali tidak menganggapi musuh bebuyutannya itu.


“Ingat, kalian hanya harus melucuti pedang lawan. Jika pertarungan menjadi berbahaya, akan saya hentikan sebelum ada yang terluka. Kita tidak mau ada yang sampai tewas terbunuh,” Speed memperingatkan saat ia menyingkir dari keduanya bersama Oxmaul.


Oxmaul memberi aba-aba. “Seperti saat mock battle, dalam hitungan ketiga, kalian bisa mulai—”


Conti mengabaikan perkataan Oxmaul dan langsung melesat mengayunkan pedang. Ia bergeser menuju kiri dan mengunci Tay tanpa peringatan apapun.


Tay melotot dan menghela hampir tidak berkutik menghadapi serangan tiba-tiba dari musuh bebuyutannya itu. Ia langsung mengempaskan genggaman pedang demi menangkis. Namun, refleksnya sangat terlambat dan membuat dirinya terempas ke belakang. Punggungnya mendarat di tanah terlebih dahulu sambil ia meringis mendapati seragamnya telah tergores.


Conti melebarkan senyumannya tipis, seakan merayakan ia mampu menumbangkan Tay terlebih dahulu, bahkan tanpa aba-aba sama sekali dari profesor dan sang asisten. Ketiga temannya juga ikut cekikikan mendapati Tay mulai “menderita” sebuah karma.


Beruntung bagi Tay, setidaknya ia masih menggenggam pedangnya yang berwarna perak, cukup erat. Secara teknis, ia masih belum dinyatakan kalah. Maka, ia menempatkan tangan kiri sebagai titian untuk kembali bangkit.


Tidak perlu menunggu untuk mengumpulkan kembali tenaga, ia langsung melesat dan mengedepankan pedangnya untuk menyerang Conti.


Conti pun menerima tantangan dari Tay dan melesat mendekatinya. Kedua mata pedang pun bertubrukan cukup keras. Tay pun cukup sigap dalam mengayunkan pedang sekaligus membaca titik serang Conti. Segala arah, baik vertikal atau horizontal, ia mengempaskan tenaga pada genggaman pedang demi menghunuskan Conti.


“Uh!” Conti berkali-kali menangkis dan mendorong pedangnya pada tubrukan pedang Tay. “Kamu hanya beruntung bisa masuk kelompok A! Sangat tidak pantas orang sepertimu berada di sana!”


Conti akhirnya berhasil memanfaatkan celah, ia melaju dan menggores tepat pada pipi kiri Tay. Kini ia berada di belakang musuh bebuyutannya itu sambil sedikit cekikikan.


Tetesan darah mulai merembes dari goresan pipi Tay selebar jentikan jari. Rasa sakit pada lukanya tentu tidak membuatnya tumbang. Ia melirik lawannya cukup tajam, menyipitkan mata, memicu api di dalam hatinya.


Conti berbalik dan mengeratkan genggaman pedangnya layaknya tombak, menonjolkan ujung mata pedang agar ia dapat kembali melucuti pedang Tay.


“Saya bilang jangan sampai membahayakan!” sahut Speed memperingatkan.


“HAAAAAA!!” jerit Conti kembali melesat.


Tanpa ba-bi-bu atau teriakan asal, Tay mempercepat langkah larinya dan mengumpulkan momentum serta tenaga pada genggaman pedang untuk bersiap mengayunkannya.


Saat mereka berdua kembali bertubrukan, kedua pedang pun saling menghantam hingga salah satunya terlempar ke udara. Pedang tersebut mengarah pada barisan murid-murid lainnya.


Murid-murid tersebut berlari berhamburan sambil menjerit panik mendapati pedang tersebut akan menghantam salah satu dari mereka. Setidaknya, tidak ada satupun yang sampai terkena lemparan tersebut.


“Sudah cukup!” sahut Speed.


Seluruh mrid lain memang tidak hanya terenyak menatap pedang yang terjatuh, tetapi juga Conti dan Tay sampai tidak bisa berkata-kata.


Tay kembali menaruh pedang ke dalam selongsongnya. “Pemenangnya sudah ditentukan, bukan? Profesor Speed? Oxmaul?”


Conti dan ketiga teman dekatnya menggeretakkan gigi saking terkejutnya. Tay menjadi pemenang pelatihan battle sungguhan pertama. Keempat murid itu sama sekali tidak menyangka pertarungan akan berakhir begitu.


“Seharusnya Conti yang menang kan?”


“Conti yang paling tangguh, Tay hanya beruntung.”


“Tay hanya berhasil melampaui Conti hanya sekali.”


Oxmaul menganggapi ketiga teman Conti, “Sudah kami bilang, siapapun yang pedangnya terlucuti, terjatuh, atau terempas, dia yang kalah. Memang tidak salah kami memasukkanmu ke kelompok A.”


“Tidak mungkin!” jerit Conti menghampiri pedangnya yang terbaring di tanah rerumputan di antara para murid. “Padahal aku yang berhasil menghantam Tay dua kali! Harusnya aku yang lebih kuat!”


Tay membalas cukup angkuh, “Secara teknis, aku yang lebih kuat darimu dan ketiga teman busukmu itu.”


Ketiga teman Conti menggeram mendengar sindiran dan ejekan Tay, kepalan tangan mereka menguat sampai membentuk sebuah pukulan. Bagi mereka, Tay merupakan orang yang pantas untuk dipukul tepat pada kepala, apalagi agar ia menutup mulut rapat.


Conti akhirnya mengubah amarahnya menjadi momentum genggaman pedangnya. Panas, tangan kanannya sampai berkeringat menggenggam pedangnya, apalagi sambil menatap Tay menghadap Speed dan Oxmaul, membelakanginya.


Oxmaul tengah membuka suara ingin mengomentari latihan pertarungan pertama tersebut. Mulutnya terhenti ketika menyaksikan Conti mulai melesat dan mengayunkan pedang tepat menuju Tay dari belakang.


Serangan tersebut akhirnya tertangkis oleh genggaman pedang yang amat tangguh, lebih tangguh daripada dirinya. Ia menggeretak ketika menatap Speed tepat pada wajah. Speed-lah yang telah menghentikan serangan tersebut.


Tay agak tertegun menatapi Conti memang berniat untuk melukainya dari belakang, bahkan ketika ia tidak memegang pedangnya.


“Kamu tahu kenapa kamu kalah?” Speed akhirnya berkomentar, “Karena kamu terlalu terlalu angkuh.”


Conti menghela napas sambil membuang muka, tidak ingin menerima kenyataan tersebut. Ia menurunkan pedangnya.


“Karena kamu ingin membahayakan Tay dari belakang, bahkan setelah pertarungan berakhir, kamu saya skors selama dua hari. Nilaimu juga saya kurangi 15 poin.”


“Tunggu dulu, Profesor!” Conti menentang keputusan tersebut. Kakinya ia tepukkan ke tanah cukup keras.


“Tidak ada lagi diskusi tentang ini. Kembali ke tempatmu sebelum pelatihan pertarungan kedua dimulai!”


Ruka mengomentari tindakan Conti itu dari kerumunan murid, “Kalau Profesor Speed tidak menghentikan Conti, pasti Tay akan terluka parah. Mungkin bootcamp akan dibatalkan. Sial, aku berharap tidak mengikuti bootcamp seperti ini.”