Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 28



Silent treatment, itulah yang dilakukan oleh Tay dan Neu ketika memasuki salah satu kamar penginapan. Tidak heran, lagi-lagi mereka harus kembali menjadi teman satu kamar sama seperti waktu di asrama.


Kilatan pada tatapan mata masing-masing masih menggelegar hingga tidak ada satupun yang ingin melontarkan kata-kata. Tidak ada yang ingin memulai perdebatan, apalagi sampai berujung pertengkaran.


Mereka berdua hanya berdiam diri menunggu hingga waktu istirahat berakhir. Lebih buruk lagi, mereka juga berperan sebagai teman satu kelompok selama 4 hari 3 malam penuh, selama mereka bertamasya. Sekali lagi, mereka berdua satu kelompok sama dengan sebuah bencana, itu yang mereka pikirkan.


Hal itu juga dilontarkan oleh Yudai pada Sans ketika masuk salah satu kamar penginapan yang lain. Sambil duduk di tempat tidur, Yudai kembali menghela napas dan mulai berbicara.


“Aku justru bingung bagaimana caranya mereka berbaikan. Aku tahu tidak akan secepat itu. Aku mencoba untuk ingat, aku tidak terlibat dalam pertengkaran mereka.”


Sans memberi tanggapan, “Memang membingungkan, apalagi semenjak Tay menemui kita saat aptitude test bagian dalam. Katanya teman-teman setia Tay—”


“Kuanggap sahabat, ya, mereka seperti mencampakkannya,” koreksi Yudai, “jujur saja, aku penasaran pada Tay. Mengapa Tay memang orang seperti itu? Tidak punya teman dan ingin memulai perkelahian.”


“Sebaiknya jangan ikut mencari masalah,” Sans menasihati.


“Aku akan mencoba sebaik mungkin.”


Yudai kembali menghela napas sambil bangkit dari duduknya dan berkacak pinggang menyaksikan gorden jendela merah, dinding cat ungu, dan karpet lantai cokelat.


Yudai terpikir bahwa tidak akan mudah untuk melerai pertengkaran Tay dan Neu jika itu benar-benar terjadi pada salah satu acara tamasya.


Sans juga sebenarnya ingin membantu Yudai, terpikir dia akan lebih membela Neu ketimbang Tay. Namun, dia merupakan anggota kelompok yang berbeda, satu kelompok dengan Beatrice dan Sierra, satu-satunya laki-laki. Tentu dia tidak mau menyaksikan pertengkaran Tay dan Neu seperti saat perang makanan di kantin sebelumnya.


***


Jajaran meja bertaplak putih telah berdiri di dalam ruangan berdinding cokelat dengan chandelier di langit-langit. Setiap kelompok telah menempati tempat duduk di hadapan masing-masing meja tersebut, memandangi berbagai garpu, pisau, dan sendok dalam bentuk dan ukuran berbeda-beda.


Obrolan antar anggota kelompok masih saja berlangsung, membicarakan keindahan kota, berdiskusi tentang ciri khas kota, dan menu makan siang yang tentu saja mereka tidak sabar untuk cicipi.


Bagi kelompok 13, silent treatment masih mendominasi mereka. Tay dan Neu masih menyambarkan kilat melalui pandangan, membuat Yudai sama sekali tidak tahu ingin melontarkan kalimat untuk memulai percakapan.


Memulai untuk mengetahui latar belakang masing-masing bagi Yudai merupakan solusi, terutama dirinya masih belum mengetahui latar belakang Tay sama sekali. Namun, hal itu dia urungkan demi mengamankan agar tidak terjadi perkelahian fisik kembali, apalagi sampai memalukan nama baik Akademi Lorelei.


Sans hanya terdiam menyaksikan Beatrice dan Sierra sudah mulai berbicara. Dia sama sekali tidak ingin mengganggu mereka untuk saling mengenal, tidak tahu apa yang harus dia ucapkan.


Beberapa pelayan pun akhirnya tiba membawakan masing-masing sebuah tray tiga piring sourdough dan tiga mangkuk sup hijau pada masing-masing kelompok. Diletakkan menu pembuka tersebut dengan elegan hingga mengesankan masing-masing anggota kelompok, bahkan penampilan masing-masing makanan juga menjadi perhatian dan melumerkan air liur di mulut, tidak sabar untuk mencicipi.


Setelah semua meja telah terlayani, seluruh anggota kelompok masing-masing mengambil garpu, pisau, dan sendok sesuai dengan menu pembuka untuk mulai menikmati hidangan utama. Terlebih dahulu, mereka memotong sourdough menggunakan garpu dan pisau atau menggunakan sendok sup untuk mencicipi sup hijau.


Sourdough menjadi bahan pembicaraaan yang cukup menonjol di ruang makan penginapan. Mereka membandingkan sourdough di Aiswalt dan di Riswein. Sourdough di Riswein pada umumnya memiliki tekstur cukup kering dan keasaman begitu kuat, berbeda dengan di kedai roti di kota kerajaan yang biasanya lebih lembut, basah, dan cukup manis.


Rasa asin dan manis dibalik kehangatan sup juga mengundang indera perasa dapat secara puas  Beberapa murid juga dengan rakusnya sampai melahap sup tersebut seperti kucing dan anjing kelaparan.


Hidangan pembuka selesai, datanglah hidangan utama. Begitu tiga piring hidangan utama tersebut sudah tersaji di meja masing-masing kelompok, semuanya melongo memandang makanan tersebut.


Ya, escargot, salah satu hidangan khas kota Silvarion. Berbagai siput berlapiskan cangkang berbagai bentuk telah tertata sedemikian rupa mengikuti hiasan timun, tomat, lobak, dan saus cokelat.


Saking tidak menyangka mereka harus rela memakan siput sebagai hidangan utama khas kota Silvarion, asam lambung dari mayoritas murid tahun pertama meningkat menuju kerongkongan. Menggunakan peralatan makan seperti garpu dan pisau sudah pasti tidak bisa mengeluarkan daging siput dari cangkang dengan mudah.


Beatrice, sebagai perempuan bangsawan, juga tidak menyangka berbagai siput dalam berbagai bentuk telah tersaji di piringnya. Selama berada di rumah, dia tidak pernah melihat siput dijadikan hidangan sama sekali, meski dirinya berasal dari Riswein.


Beberapa dari murid tahun pertama mencicipi siput escargot hanya menggunakan tangan alih-alih menggunakan peralatan makan, berbagai cara dilakukan mulai dari mencongkel menggunakan jari hingga menyedot melalui lubang cangkang demi memasukkan langsung daging ke dalam mulut.


Bahkan, ketika daging siput memasuki mulut, rasa aneh dan menjijikan telah terhisap oleh lidah, entah karena pola pikir atau adaptasi lidah belum terbiasa, membuat kebanyakan dari murid meminta ember untuk muntah.


Beatrice mulai mengeluh, “A-apa ini benar-benar cocok untuk dimakan?”


“Jangan lihat mereka muntah!” tambah Sierra.


Yudai, menggunakan jiwa petualang meski awalnya merasa jijik, menggenggam secangkang siput escargot menggunakan tangan dan mendekatkan lubang pada mulut seakan-akan sedang mencium bibir. Disedotnya daging siput tersebut dari cangkang menuju mulutnya sambil menutup mata penuh semangat tanpa berpikir panjang.


“Whoa!” seru Yudai mulai mengambil beberapa cangkang siput. “Ini enak!”


“Hah?” Tay dan Neu membuka suara setelah sekian lama.


“Serius, aku bisa menyedot daging siput seharian, aku rela.” Yudai kembali mengambil satu cangkang siput dari piring dari menyedot bagian daging kembali.


“Aku tidak mau makan ini,” Tay menolak.


Neu menyipitkan mata pada Tay sebagai respon. Neu menggenggam sekumpulan cangkang siput berisi daging tubuh dan seakan melemparnya ke dalam mulut Tay dalam-dalam.


“Hei!” jerit Tay ketika giginya terkena cangkang keras siput.


“Cepat kunyah meski itu keras!” jerit Neu sebelum memasukkan cangkang siput ke dalam mulutnya.


“Jangan berpikir,” ucap Sans menyaksikan kelompok 13 mulai menikmati escargot masing-masing.


Sans menggenggam salah satu cangkang siput dari piringnya. Dilihatnya cukup keras cangkang itu, berbumbu dan tampak tidak menggugah selera dari sausnya.


Beatrice dan Sierra juga memulai menggenggam satu cangkang siput dari piring masing-masing sambil memalingkan wajah. Geretakan gigi cukup terdengar sambil mendekatkan lubang cangkang siput tepat mengarah pada mulut.


Bagi kebanyakan murid tahun pertama, mencicipi sepiring escargot yang menjadi makanan khas Silvarion menjadi pengalaman aneh. Setidaknya muntah dari mulut menjadi tanda perjuangan untuk menikmati sepiring escargot.


***


Selesai menikmati makan siang, seluruh murid tahun pertama bersama beberapa professor pendamping keluar dari penginapan mengikuti pemandu wisata. Mereka memulai dari memandang penampakan setiap bangunan. Bangunan di Silvarion tampak bervariasi, ada yang cukup sederhana seperti menggunakan tumpukan kayu agar bangunan stabil, ada juga yang terbuat dari campuran marmer dan batu-bata tanpa cat. Yang terpenting, setiap sudut kota dibatasi oleh dinding batu-bata sebagai pembatas antara kota dan hutan di luarnya.


Berkeliling kota menuju lebih dalam, jalan berubah dari bebatuan menjadi rerumputan bertanah. Bangunan sederhana seperti berwajah jerami dan tumpukan kayu juga menjadi dominan. Penduduk kota pun juga seakan bervariasi jika melihat dari pakaian, mulai dari pakaian kemeja hingga jubah. Kebanyakan memiliki pedang berselongsong yang tersimpan di bagian punggung.


Seluruh murid juga menyimpulkan hampir seluruh penduduk Silvarion bertekad menjadi seorang ksatria berpedang, tidak peduli apa job mereka, mau itu swordsman, knight, atau royal guard. Setidaknya, sebuah stereotipe terbentuk di kalangan mereka berdasarkan beberapa murid asal Silvarion.


Seperti biasa, Tay dan Neu bahkan tidak menjadi bagian dari diskusi antar kelompok dalam melihat situasi kota. Silent treatment masih mendominasi, bahkan Yudai tidak sempat mengatakan pengalaman masa kecilnya di Silvarion entah karena lupa atau melihat situasi kelompoknya.


Yudai juga melihat sekeliling untuk melihat sebuah celah kosong agar bisa menyelinap. Namun, beberapa profesor pendamping, terutama Hunt dan Dolce, kerap mengawasi tanpa lengah sama sekali, terlebih jumlah murid tahun pertama dari Akademi Lorelei masih cukup padat, benar-benar padat.


Yudai menghela napas ketika dirinya belum bisa mencari informasi tentang keberadaan kedua orangtuanya di kota Silvarion. Terlebih, dia akan ketahuan jika mulai mencari di siang bolong. Serta, cukup padatnya jadwal wisata akan membuat lelah fisik dan pikiran meski kesenangan terserap ke dalam otak.


Sans hanya menyaksikan Beatrice dan Sierra saling bercengkerama sesama perempuan, membuatnya sebagai laki-laki tidak enak untuk mengganggu, apalagi jika sampai menghancurkan kesenangan tamasya mereka. Dia berbalik menatap kelompok 13 merupakan salah satu kelompok yang sama sekali tidak berbicara, melainkan penuh aura tekanan.


***


Salah satu bangunan yang mereka kunjungi adalah toko manisan terkenal di kota Silvarion. Manisan di toko tersebut bukanlah permen atau cokelat seperti zaman sekarang, melainkan aneka makanan manis yang kebanyakan telah dibuat segar dan sesuai pesanan.


Dinding ruangan seperti sebuah rak berwarna hijau menjadi perhatian setiap murid tahun pertama yang memasuki toko tersebut. Terdapat pula papan menu manisan terpampang di dekat meja pemilik toko. Terdapat pula pajangan berbagai manisan seperti buah kering terpajang di rak hijau sudah menggugah selera.


Beberapa murid tahun pertama memutuskan untuk membeli berbagai manisan untuk mencicipinya. Berbagai manisan meliputi apel kering, plum kering, honey comb, kubis goreng madu, kue madu, biji bunga matahari, kismis, dan aneka kacang liar.


Sans bekeliling sendiri membiarkan Beatrice dan Sierra memilih aneka manisan sambil bercengkerama, mendapati berbagai manisan yang membuat dirinya kebingungan. Terlebih, uang vial dipegang oleh Beatrice, maka dia bingung harus memilih apa.


Yudai membiarkan Tay dan Neu di luar toko tersebut tidak ingin memakan makanan manis melainkan hanya berdiam diri saling menatap tanpa lelah. Maka, dia memutuskan untuk menggunakan uang vial agar dapat membeli berbagai manisan favoritnya selama di Silvarion.


Selesai membayar pada seorang pemilik toko dan mengambil sekantong kertas berisi manisan pembeliannya, Yudai berbalik menatap Sans hanya terdiam di balik keramaian toko tersebut.


Yudai melewati keramaian murid tahun pertama yang bergeser membiarkannya berjalan. Ketika tiba di sudut belakang toko, dia melihat Beatrice dan Sierra masih asyik memilih aneka manisan di samping kanan, sementara di samping kiri, Sans hanya terdiam.


“Kamu tidak bersama mereka?” Pertanyaan Yudai sontak menyadarkan Sans.


Sans menghela napas, “Uh, aku hanya tidak enak memotong percakapan mereka.


Yudai menyeringai. “Dasar.”


Yudai mengeluarkan salah satu manisan pembeliannya dari kantong kertas. Manisan pertama yang dia ambil adalah sebuah honey comb, sebuah biskuit berbentuk balok berwarna cokelat keemasan. Bagian dalam biskuit tersebut berbentuk semirip namanya, sarang lebah.


“Ini, makanan favoritku di kota Silvarion,” Yudai menyerahkan sepotong honey comb.


“Eh? Kukira siput escargot makanan favoritmu di sini,” Sans mengingatkan makan siang yang menjijikan itu.


“Tadi itu pertama kali aku memakan siput. Ini, makanlah, kamu tahu ini lebih enak daripada siput escargot.”


Sans mengambil sepotong honey comb tersebut, dilihatnya terlebih dahulu bagian atas dan bawah seperti terbungkus rata bagai dinding tanpa potongan sedikitpun. Dilihatnya bagian isi berbentuk seperti sarang lebah.


Sans memasukkan sepotong honey comb tersebut ke dalam mulutnya. Rasa manis madu dari gigitan biskuit tersebut melumer di lidah, seperti berenang di dalam madu rasanya. Rasa manis seketika menambah euforia ke dalam otak.


“Wow.” Sans merasa tertegun ketika rasa manis mendominasi lidah, “enak.”


Yudai mengangguk. “Aku yakin kamu pasti puas memakan honey comb. Honey comb di sini benar-benar spesial.”


“Memangnya ini berbeda di tempat lain, seperti di Aiswalt?”


Yudai mengambil satu potong honey comb dari dalam kantong kertasnya. “Ya, kupikir mereka punya resep rahasia yang membuat honey comb ini lebih enak. Di kampung halaman, tetanggaku pernah membuat honey comb seperti ini, meski rasanya tidak seenak di sini. Suatu saat nanti, kamu harus mencicipinya kalau datang ke sana.”


“Omong-omong, kamu tidak bersama Tay dan Neu?”


“Kamu tahu kenapa.” Yudai melipat kedua tangan di dada. “Besok mungkin aku akan membantu mereka untuk berbaikan, demi mereka menikmati tamasya ini. Tekanan permusuhan tidak akan membantu ini menjadi menyenangkan.”


“Sans!” panggil Beatrice menghampiri mereka membawa sekantong berisi manisan. “Aku beli— Eh! Yu-Yudai?”


Sierra menambah sambil memalingkan wajah, masih terganggu karena insiden saat aptitude test bagian luar, “Bukannya seharusnya kamu bersama Tay dan Neu, Yudai?”


Yudai mengosok kepala menggunakan tangan kiri. “He he. Tay dan Neu tidak mau beli manisan katanya.”


“Aku tunggu di luar saja, biar kalian bisa mengobrol.” Sierra pamit sejenak keluar dari toko. Mengetahui Sans, Beatrice, dan Yudai merupakan teman dekat di akademi, dia membiarkan mereka berbincang sejenak.


Yudai melongo. “Kenapa dengan dia? Apa dia masih terganggu soal sarang lebah waktu itu?”


Beatrice menambah sambil tersenyum, “Aku sudah berbicara pada Sierra, setidaknya dia baik di balik penampilan anggunnya. Sepertinya dia juga dari kaum bangsawan sepertiku.”