
“Ternyata benar kamu tetap di sini selama libur musim dingin, Yudai!” Zerowolf mengangkat telunjuk saat menginjak anak tangga terakhir menuju lounge room.
“Ah ….” Sans menyuruh Beatrice sigap dan panik. "Cepat!"
Beatrice secara tepat tetapi berhati-hati mengangkat bayi phoenix dari meja di antara sofa dan meja. Tidak ingin Zerowolf segera melihat rahasia itu, ia menyembunyikan tangannya di belakang punggung.
“Um, halo, Zerowolf. Ternyata kamu datang lebih awal, ya?” sapa Yudai menghampiri.
“Benar sekali! Kudengar dari sesama murid archer tahun pertama, kamu benar-benar tetap di akademi selama liburan! Sekali lagi, benar! Mereka benar!” Zerowolf juga melirik pada Sans dan Beatrice. “Lho, kalian tidur di lounge room semalam?”
Beatrice menelan ludah, kewalahan sambil menyembunyikan bayi phoenix.
“Se-sebenarnya kami ketiduran saat bersantai di lounge room,” Yudai berbohong.
“Te-tentu,” bela Beatrice sambil bergeser, masih menyembunyikan genggaman bayi phoenix di belakang punggung, “a-aku dan Sans ada urusan dulu sejenak.”
Yudai menganggukkan kepala pada Sans, memberi sinyal untuk mengikuti Beatrice keluar dari gedung asrama demi menyembunyikan rahasia bersama dari Zerowolf.
“Ah, se-sepertinya kalian punya urusan. Ka-kami pergi dulu,” ucap Sans.
Zerowolf, tanpa memperhatikan apa yang terjadi ketika Sans dan Beatrice mulai menaiki tangga tergesa-gesa, kembali menunjuk Yudai, “Kita sebenarnya … masih ada urusan yang akan kita urus setelah tiba di akademi lagi.”
“U-urusan? Urusan apa?” Yudai melongo polos.
“Ka-kamu lupa? Sebelum libur musim dingin dimulai, saat kita … mendapat peringkat ujian akhir semester masing-masing, aku bilang akan menantangmu dalam mock battle sekali lagi, sekali lagi saat kita tiba di akademi!”
“Mock battle? Aku bahkan tidak ingat.”
“Sial, sial, sial! Kamu mendengarnya secara keras dan jernih! Aku ingin mengalahkanmu dalam mock battle kali ini! Hah, jangan-jangan kamu ingin melarikan diri dariku? Kamu ingin menjadi pengecut? Kalah sebelum bertanding?”
“Baiklah. Aku terima tantanganmu.” Yudai mengangguk.
“Nah, begitu!” seru Zerowolf.
“Ada apa ini?” Riri menuruni tangga di sisi kanan lounge room, baru saja ia meninggalkan kamarnya. “Pagi-pagi begini kalian sudah ribut.”
“Hei, Riri, lama tak berjumpa!” Zerowolf melambaikan tangan. “Eh, kamu juga tetap berada di akademi?”
“Ternyata kamu datang lebih awal daripada yang lain. Padahal libur musim dingin belum selesai.”
“Makanya, teman-teman dari kelas archer yang juga berada di kampung halamanku memberitahu Yudai tetap di akademi.”
Riri menghela napas. “Lalu?”
“Tentu saja aku tidak bisa berdiam diri sementara Yudai sibuk berlatih di akademi selama liburan!”
“Eh? Ja-jadi?”
“Sejak kekalahanku pada mock battle pertama, aku sudah berlatih keras. Dengan kemampuan memanahku, akan kukalahkan kamu, Yudai!” Zerowolf sekali lagi mengacungkan telunjuknya.
“K-kamu tidak mau menyerah juga, ya?” Riri melongo. “Baiklah, biar aku yang memberi aba-aba saat mock battle-nya.”
“Tidak perlu.”
Selagi ketiganya masih dalam percakapan, Katherine masih terdiam di tangga sebelah kiri sehabis dari kamarnya. Kebetulan, ketika dirinya mencapai anak tangga terakhir, percakapan itu masih berlangsung.
Tatapannya terfokus pada Yudai, masih saja berwajah polos seperti biasa. Pipi Katherine semakin memerah ketika berpikir bahwa ia harus menyapa.
Keraguan masih saja berada di dalam pikirannya. Sulit untuk bertatap muka dengan Yudai, apalagi hanya untuk menyapa.
Katherine kembali menudukkan wajah menghadap kaki dan anak tangga di bawahnya. Masih saja ragu untuk tetap menuruni tangga.
“Oh, Katherine.” Tatapan Riri membuyarkan pikirannya.
‘E-e-eh!” sahut Katherine tercengang sampai kembali menaiki satu langkah mundur, apalagi setelah menyaksikan Riri berbalik.
“Yo, Katherine!” sapa Zerowolf. “Kamu juga tetap di sini?”
“A-a-a-anu … Anu—” Katherine tahu bahwa ucapannya menjadi kesan canggung.
“Kenapa?” Zerowolf melongo.
“Katherine, Yudai dan Zerowolf akan mock battle, kamu ingin menonton bersama, kan?” tutur Riri.
Katherine kembali terdiam. Ia mengharapkan Yudai menyapa terlebih dahulu.
“Oh, kamu khawatir padaku? Sejak saat kita membasmi Basilisk?” terka Yudai. “Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Lagipula, ini mock battle, jadi tidak ada panah sungguhan. Kamu pasti semangat untuk melihat pertarunganku dengan Zerowolf, kan?”
Menatap senyuman Yudai seperti itu lagi, Katherine seperti tertusuk oleh panah pada hatinya, membuatnya semakin gugup.
***
Kedua rival, Yudai dan Zerowolf, kembali berdiri saling berhadapan.di pusat ruang kelas khusus archer. Anggap saja mereka seakan-akan berdiri di ring, bersiap untuk bertarung, sama seperti mock battle sebelumnya. Busur telah berada di genggaman masing-masing. Quiver berisi panah tumpul juga terpasang di punggung.
Arena pertarungan itu sama sekali tanpa pembatas, sehingga mereka dapat bergerak sesuka hati. Pihak penonton, yaitu Sans, Beatrice, Riri, dan Katherine, hanya berdiri membelakangi deretan papan tembakan.
Riri bertanya, “Jadi, Zerowolf, kamu mengubah aturan mock battle-nya?”
“Mana seru kalau pakai aturan seperti yang pertama kali.” Zerowolf menyeringai. “Kalau sebelumnya kita masing-masing punya lima belas panah dan siapapun yang menghabiskannya terlebih dahulu akan kalah.”
Yudai menambah, “Siapapun yang berhasil menembak duluan akan menang. Dua aturan mock battle.”
“Kau benar, Yudai. Kali ini, kita sepakat untuk mengubah aturannya. Masing-masing dari kita memiliki lima panah untuk ditembakkan. Panah yang sudah ditembakkan dan tergeletak di lantai boleh diambil oleh salah satu dari kita untuk menambah amunisi. Siapapun yang berhasil menembak lawan sebanyak tiga kali jadilah pemenang.”
Riri mengangkat tangan kanan. “Kalian tidak akan langsung menyerang tanpa aba-aba, kan? Biar adil, aku saja yang beri aba-aba.”
Zerowolf mengeluh, “Jangan, kamu juga tahu dalam pertarungan asli, termasuk dalam misi, tidak ada aba-aba sama sekali.”
“Akan lebih baik mock battle ini diawali oleh aba-aba,” tegas Riri.
Beatrice melahap roti yang masih hangat di genggamannya ketika menyaksikan mock battle terinterupsi oleh hal sepele. Kulit garing dan lembutnya bagian dalam roti membuatnya terdistraksi hingga nikmat.
Sans hanya terdiam sambil menikmati roti pada genggamannya, yakin bahwa Yudai akan sekali lagi menang.
Riri mengulang peraturan mock battle kali ini layaknya seperti seorang instruktur atau profesor pengawas, “Baik. Aturan mock battle ini berbeda daripada biasanya. Yudai dan Zerowolf, masing-masing dari kalian memiliki lima panah untuk ditembakkan. Selama pertarungan berlangsung, kalian boleh mengambil panah yang telah kalian tembakkan dan tergeletak di lantai secepat mungkin untuk menambah amunisi.
“Siapapun yang berhasil menembak lawannya sebanyak tiga kali terlebih dahulu adalah pemenangnya.”
Katherine masih saja tersipu, sekali lagi menyaksikan Yudai akan bertarung. Ingin sekali ia memberi semangat berupa sorakan, tetapi berakhir mengurungkan niat karena khawatir akan menganggu.
“Baik, bersedia ….” Riri mengangkat tangan kanannya untuk memberi aba-aba.
Yudai dan Zerowolf masing-masing mengambil panah pertama dari quiver. Bagian ekor dari panah mereka dekatkan pada tali busur seraya mulai membidik satu sama lain.
“Siap ….”
Keduanya mulai menarik tali busur dan ekor panah bersamaan, menempatkan kaki kiri di depan, dan melirik tajam memastikan akurasi tembakan. Dalam mengunci target, mereka mengerahkan tenaga pada tarikan tembakan, memastikan kecepatan
Beatrice mempercepat menikmati rotinya, tegang karena Yudai akan kembali bertarung. Genggaman pada kulit garing roti juga semakin erat, menghantarkan kehangatan pada jari.
“Mulai!” Riri mengayunkan tangan kanannya.
Tembakan pun akhirnya lepas dari genggaman masing-masing. Masing-masing panah pertama meluncur dari busur. Kecepatan dan akurasi menjadi batu loncatan pada kemampuan keduanya.
Sesuai dugaan kedanya menyingkir dari tembakan itu. Zerowolf hanya bergeser. Yudai justru berguling ke lantai begitu menghindari tembakan yang mengarahnya.
Memanfaatkan kecepatan dalam meraih panah dari quiver dan sambil dalam posisi berbaring, Yudai kembali menempatkan ekor panah pada tali busur dan menembakkannya.
Yudai kembali bangkit dan berbalik melirik pada satu panah tergeletak di samping belakangnya. Berlari sambil melirik mengawasi gerak-gerik Zerowolf, cara terbaik untuk tetap siaga.
Zerowolf kembali mengambil panah dari quiver dan kembali membidik Yudai siaga mengambil kesempatan.
Yudai berlutut dan mulai meraih panah di lantai. Begitu melirik, dapat ia lihat Zerowolf kembali melancarkan tembakan.
Belum sempat mengambil panah tumpul itu, ia kembali berguling di lantai demi menghindari tembakan Zerowolf. Cukup cepat ia kembali bangkit.
“Wow,” gumam Sans kagum, “Yudai bagus sekali refleksnya.”
Tanpa mengambil panah tumpul di lantai terlebih dahulu, Yudai kembali bergeser. Sambil berlari, ia mengambil panah dari quiver bersiaga untuk menembak. Sisa panah di quiver-nya hanya ada dua.
Ia tahu harus mengambil dua panah bekas tembakan Zerowolf untuk menambah amunisi setelah melepas tembakan.
Tak disangka! Alih-alih mengindar dan mundur, Zerowolf justru melaju hampir menghampiri Yudai sambil mempersiapkan tembakannya. Tindakannya mengejutkan semua orang.
“A-apa?” ucap Sans.
“Ja-jangan-jangan—” terka Riri.
“Ah!” Konsentrasi Yudai buyar menyaksikan Zerowolf telah menguncinya sebagai bidikan dalam jarak kurang lebih 30 centimeter. Bahkan ia belum sempat mengambil panah dari quiver-nya.
“Terima ini!” Zerowolf melepas tarikan ekor panah dan tali busur secara bersamaan.
Saking terkejutnya, Yudai bahkan tidak sempat menghindar. Tembakan panah tumpul Zerowolf melesat hingga mengenai dadanya.
“Ah!” jerit Yudai tersandung masih tercengang.
“Yu-Yudai!” sahut Sans juga terkejut.
Riri turut berkomentar, “Zerowolf berhasil menembak Yudai sekali.”
Tanpa membiarkan Yudai kembali bangkit, Zerowolf memanfaatkan kesempatan untuk kembali menembak. Diambilnya panah dari quiver, tidak perlu menunggu untuk mengempaskan tenaga pada tarikan tali busur dan ekor panah secara bersamaan. Satu lagi tembakan ia luncurkan.
Begitu mengambil panah bekas tembakan Zerowolf yang mengenainya, Yudai kembali berguling di lantai mengarah kiri demi menghindari tembakan satu lagi itu.
Berdiri perlahan, Yudai mengandalkan panah yang baru ia ambil itu beserta satu panah dari quiver-nya. Mengetahui Zerowolf hanya memiliki sisa satu panah di quiver, dua ekor panah ia dekatkan pada tali busur.
Riri berkomentar nyaring, “Yu-Yudai menembakkan dua panah? Panahnya tersisa satu di tangan, kecuali kalau dia mau mengambil salah satu panah yang tergeletak di lantai lagi.”
Alih-alih mengambil panah yang tergeletak di lantai terlebih dahulu, Zerowolf menggunakan panah terakhir sejauh ini dari quiver-nya dan kembali membidik Yudai. Ia juga mengambil langkah mundur.
Keduanya kembali meluncurkan tembakan. Zerowolf dengan sigap menyingkir tepat setelah melepas ekor panah dan tali busur. Larinya gesit hingga kakinya bergeser. Tatapannya kini beralih pada panah bekas tembakan di bagian arenanya. Sebuah kesempatan tidak terlewatkan satupun untuk menambah kembali amunisi.
Ketika tengah berlutut mengambil salah satu dari panah tumpul itu, sebuah tembakan sontak mengenai lengannya. Teralihkan untuk mengambil amunisi membuatnya tidak sempat untuk mengangkat kepala menyaksikan Yudai kembali menembak.
“Si-sial. Aku tertembak juga.”
Zerowolf merebut panah yang baru saja menjadi tembakan Yudai itu dari lantai. Ia memperhatikan Yudai berlari mulai mengumpulkan panah bekas tembakannya di depan.
“Satu sama,” gumam Riri.
“Baik, saatnya pembalasan!” Zerowolf kembali bangkit dan menempatkan panah yang baru ia ambil pada tali busur, mengunci Yudai sebagai target.
Cukup cepat untuk mengumpulkan tiga panah bekas tembakan, menambah jumlah menjadi empat buah, Yudai mengambil salah satunya dari quiver begitu bangkit dan menyaksikan Zerowolf telah mempersiapkan tembakan sambil melangkah lebih dekat.
Mengetahui bahwa Zerowolf akan melancarkan tembakan lebih dekat, Yudai mempercepat langkah mundur dan mulai menghadap kanan, seakan bergeser dan berganti sisi arena pertarungan.
“Ya!” Zerowolf kembali melancarkan tembakannya.
Yudai sekali lagi menggesekkan kaki pada lantai untuk bergeser sebelah kiri. Ia menoleh menyaksikan tembakan Zerowolf beralih pada deretan papan tembak.
“Whoa!” jerit Beatrice menyaksikan tembakan Zerowolf mencapai lantai di hadapannya.
Yudai hampir mencapai deretan papan tembak, cukup dekat di hadapan Riri dan Katherine. Ia mengerem dan kembali menapakkan kaki, mengambil salah satu panah dari quiver-nya.
Zerowolf juga mengandalkan serangan jarak dekat. Ia kembali berlari lurus sambil membidik Yudai, menguncinya sebagai target.
Saking tercengangnya, respon Yudai cukup lambat ketika menyaksikan tembakan dekat Zerowolf sekali lagi. Ia kembali menyingkir selesai menembak dengan panik.
Zerowolf mendapat tembakan Yudai tidak meluncur dengan indah dan hanya terkena lantai di dekat kedua kakinya. Ia melepas tembakannya cukup erat.
Lengan kanan Yudai berhasil menjadi target tembakan bagi Zerowolf. Respon Yudai sedikit terlambat saat bergeser hingga menubruk dirinya pada lantai.
“Ah! Yudai!” Sans mulai panik.
“Kalau Yudai kena satu tembakan lagi, Zerowolf akan menang.”
Beruntung bagi Yudai, sambil berbaring, ia menggapai panah dari quiver cukup cepat dan menempatkan pada busur. Cukup sigap ia melepas satu tembakan lagi.
“Ah!” Zerowolf terlambat menyadari ketika Yudai dapat menembak sambil berbaring cukup cepat. Responnya juga lambat hingga kaki kanannya berhasil menjadi target tembakan.
Yudai pun bangkit kembali begitu berhasil menembak kaki kanan Zerowolf. Ia mengambil dua panah terakhir dari quiver-nya, bersiap untuk kembali menembak dua panah sekaligus.
Zerowolf justru berlari mundur dan menyiapkan panah terakhir dari quiver-nya. Tarikan pada tali busur dan ekor panah lebih erat daripada sebelumnya, sekali lagi mengunci Yudai sebagai target.
“Baiklah!” Yudai melepas tembakannya.
“Jangan harap bisa menembakku dengan dua panah sekaligus seperti tadi!” Zerowolf benar-benar penuh api semangat ketika bersiap melepas tarikan tali busur dan ekor panahnya.
Zerowolf kembali bergeser menghindari tembakan Yudai dan mengambil satu langkah lebih depan. Kesempatan ketika lawannya itu sudah tidak memiliki panah, ia meluncurkan tembakannya sekali lagi.
“Ah!” Tepat sebelum ia melepas tembakan itu, satu dari tembakan dari Yudai meluncur tepat mengarah pada dadanya.
Zerowolf sama sekali tidak mengantisipasi tembakan Yudai satu lagi. Ketika tembakan itu hampir mencapai dirinya, baru sadar bahwa lawannya itu tadi hanya melepas satu panah dalam tembakan pertama alih-alih dua sekaligus.
“Uh!” Zerowolf berlutut ketika dirinya terkena panah tumpul terakhir dari Yudai.
“Selesai! Pemenangnya adalah Yudai!” Riri mengumumkan hasil akhir dari mock battle itu.
Yudai menghela napas dan menyeringai. “Menang juga.”
“Ke-kenapa?” ucap Zerowolf menundukkan kepala. “Aku masih saja kalah.”
Yudai mengulurkan tangan ketika mendekatinya. “Zerowolf, tadi itu menyenangkan sekali, bahkan lebih daripada sebelumnya.”
Zerowolf bangkit dengan menyentuh lutut terlebih dahulu. “Kamu menang lagi, Yudai.”
“Kamu semakin bersemangat saja.”
“Tentu saja!” Zerowolf mengacungkan telunjuk lagi. “Kita mock battle lagi sekarang juga! Aku masih tidak mau ka—”
Dari samping, ketika menghampiri keduanya, Riri menarik kerah baju Zerowolf. Sans, Beatrice, dan Katherine juga melongo mendengar pernyataan itu.
“Sudah cukup untuk hari ini. Kamu baru saja tiba di akademi, kan?”
Zerowolf berseru pada Riri, “Tapi kan aku ingin melawan Yudai sekali lagi!”
“Dasar bodoh, kamu bahkan tidak mau beristirahat dulu sehabis perjalanan panjang ke sini.”
“Serius, aku sudah beristirahat selama perjalanan!”
Sans, Yudai, dan Beatrice semakin melongo atas perilaku Zerowolf.
Katherine masih saja tersipu malu menatap Yudai. Ingin sekali memuji dan memberi selamat padanya, tetapi debaran jantungnya seperti memblokir pikiran menuju bentuk suara. Ia tidak bisa mengungkapkan di balik keramaian itu.