Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 155



Empat hari perjalanan telah tertempuh, meski terdapat perselisihan antara royal guard pendamping dan murid akademi, meski pula terdapat badai di laut, tujuan pun akhirnya mereka dapatkan bersama-sama, tiba di Beltopia saat matahari


Kesan pertama ketika tiba di Beltopia, kampung halaman Beatrice dan Neu, terdapat beberapa bangsawan berpakaian trendi, bervariasi dari terbuat dari bahan wol dan kulit binatang; menuruni kereta kencana. Ada pula penduduk kelas bawah, terlihat dari pakaian yang sederhana, bervariasi dari hanya berpakaian tipis hingga bahkan hanya bertelanjang dada untuk laki-laki. Keberagaman kedua kelas tentu tidak membutakan perbedaan di antaranya.


Ditambah lagi, terdapat tongkat lentera yang tertancap pada lantai setinggi bangunan, jalan batu berwarna krem seperti yang terlihat di alun-alun di ibukota, dan berbagai bangunan lebih tinggi dari biasanya sampai tiga tingkat. Beberapa bangunan berupa rumah berhias mayoritas krem dan emas berpagar juga dapat terlihat dari kejauhan. Memang, seperti kata orang-orang, Beltopia terbagi menjadi dua kelas, kelas atas dan kelas bawah.


Sierra jadi ingat dengan cerita Beatrice, biasanya orang kelas atas di kota itu memandang sebelah mata terhadap kelas bawah. Tidak heran keluarga Beatrice ingin jauh-jauh dari Neu.


Sans dan teman-temannya beserta kelima royal guard sudah menapakkan kaki dari kapal menuju jembatan di dermaga, terpana dengan keindahan Beltopia. Sungguh, mereka terpesona dengan betapa mewah dan eksklusif beberapa bangunan itu.


Tatro menghentikan distraksi itu. “Sekarang apa? Kita mulai cari teman kalian dari mana?”


Yudai membuang napas dan menggesekkan kaki kanan bersepatunya pada jembatan. “Aku tidak tahu. Kita hanya tahu kalau kampung halaman Beatrice di sini, Beltopia.”


Ruka membuang muka saat menyindir, “Paling tidak, kita berharap agar keajaiban, entah kita kebetulan bertemu dengan Beatrice seperti dongeng, atau kebetulan bertemu seseorang yang tahu keberadaan dirinya. Bisakah kita membuat keputusan.”


Riri mulai melaju dan berbalik menatap semuanya sebagai pemimpin. “Dengar, kita semua tidak punya petunjuk apapun dari saat kita berangkat di mana tempat tinggal Beatrice—”


“Ah, kuharap Neu tidak menghilang, jadi dia tahu di mana rumah Beatrice,” gumam Yudai.


“—pilihan yang terbaik adalah kita harus mencari penginapan saat ini.”


Semuanya tergeletuk mendengar keputusan Riri selaku pemimpin.


“Ayolah ….” Zerowolf protes. “Pasti kita bisa melakukan sesuatu untuk mencari Beatrice. Seperti bertanya pada orang-orang.”


Sierra membantah, “Tidak semudah itu. Aku yakin tidak semua orang yang ada di sini kenal Beatrice, apalagi keluarganya. Mau berharap kebetulan kenal juga sungguh kecil. Lagipula, bangsawan di sini juga tidak ingin sembarang berbicara dengan orang lain, seperti kita misalnya.”


“Berbicara tentang penginapan, sisa uang kalian berapa?” Lana secara polos bertanya, menggunakan lengkungan bibir secara tidak bersalah.


Tentu saja, banyak dari mereka sudah tahu pasti Lana menjadi salah satu yang berharap agar mereka memilih sebuah penginapan mewah. Kesempatan di Beltopia tentu tidak ingin disia-siakan.


“Oh, tidak, tidak. Kita juga tidak diberi anggaran oleh Profesor Arsius atau Profesor Hunt,” tanggap Riri, “mau tidak mau, kita juga harus berhemat.”


Irons mengangkat tangan dengan tenang. Begitu tenang sampai Tatro, sebagai bawahannya, amat heran karena ingin menganggapi perkataan Riri. Butuh sepuluh detik sampai semuanya menoleh padanya.


“Untuk mendapat uang banyak, sebaiknya kita ambil misi di quest board di sekitar sini.” Kaku, itulah cara bicara Irons seperti biasa. “Sebaiknya kita bagi menjadi beberapa tim, satu tim lagi untuk mulai mencari petunjuk keberadaan Beatrice, jika perlu berkeliling kota saja sekalian.”


“Sebentar.” Tatro protes. “Dua hari yang lalu, kita saling berselisih sampai bertarung di atas kapal, lalu badai datang. Sekarang kamu bilang kita harus menjalankan misi untuk mendapat uang tambahan?”


Giliran Yudai yang mengangkat tangan. “Aku dan Sans pernah melakukannya sebelum mendaftar ke Akademi saat tiba di ibu kota.”


“Misi kelas B! Misi kelas B! Aku ingin mengambil misi kelas B!” sahut Zerowolf.


“Kamu semangat sekali,” sindir Sandee.


“Yang penting kita tidak perlu menjadi tunawisma selama beberapa hari ke depan. Aku tidak sudi tidur di luar,” ucap Tay.


“Ehem!” Riri meminta perhatian. “Sans, Yudai, dan Katherine, kalian akan berkeliling kota denganku.”


Yudai, ingin sekali menjalankan misi, sudah bersenang-senang di dalam hati, harus menelan pil pahit saat Riri menugaskannya untuk hal lain. Bibirnya mengecut mengekspresikan tidak puas.


Mendengar kembali ditugaskan bersama Yudai, Katherine kembali tersesat di dalam pikirannya sendiri. Menatap Yudai saja ia sudah gemetaran, sampai keringat di tangan merembes. Ia ingat, setiap kali ingin berbicara pada Yudai, pasti keraguan menggerogoti sampai kehabisan kata-kata.


Sans menyimpulkan mengapa Riri memilih dirinya, Yudai, dan Katherine untuk berkelilling kota. Keempatnya pernah menjalani misi bersama sebanyak dua kali, pertama, saat mengalahkan basilisk di desa Salazar; kedua, membasmi hantu di sebuah penginapan mewah.


Tatro menepukkan bagian tongkat pada tombaknya menuju lantai. “Aku ikut kalian, berkeliling kota untuk mencari informasi. Apa aku benar?”


Salah satu royal guard rekannya meledek, “Ah, melarikan diri dari tanggung jawab.”


“Tentu tidak! Aku harus mendampingi mereka dalam berkeliling kota!” Tatro membantah tegas.


Riri mulai membagi empat tim dengan masing-masing satu royal guard sebagai pendamping. Satu per satu nama ia sebutkan tanpa ada protes sekalipun. Ditambah lagi, ia tidak ingin satu pun yang terluka parah ataupun mati.


Sesuai dengan tim masing-masing, semuanya akhirnya membubarkan diri dan berpencar.


***


Berjalan di daerah tempat tinggal kelas bangsawan membuat cukup merinding, apalagi saat mereka menjadi menonjol karena memakai seragam Akademi Lorelei bagi Sans, Yudai, Riri, dan Katherine; dan berpakaian armor baja bagi Tatro. Seluruh tatapan tertuju pada mereka.


Tubuh Katherine berguncang saat mendapati berbagai bangsawan yang mereka lewati itu mulai bergosip dan memalingkan wajah. Hal itu menambah ketegangannya dari menonjolnya dirinya sebagai murid akademi.


Sementara Tatro, sebagai Royal Guard, mendapat respon lebih baik dari para bangsawan, terutama kalangan gadis-gadis bergaun ber-rok besar. Gelak tawa dan omongan bisik-bisik memicu juluran senyumannya. Ia memang lebih dapat diterima hanya karena status dan martabatnya.


Rumah-rumah besar berpagar juga seakan berderet. Jalan daerah itu bahkan lebih bersih dan bersinar daripada area kelas bawah. Pohon palem di sekitar jalan mengiringi sampai mereka tiba di pusatnya, yaitu gazebo berpilar patung putih dewi beratap kubah kaca.


“Wah, aku kira ini alun-alun ibu kota.” Yudai kagum sekali sampai lupa bahwa mereka sedang berada di Beltopia.


“Kalau di ibu kota, ada air mancur. Di sini ada gazebo,” ucap Sans, “indahnya. Baru kali ini aku pergi ke tempat megah seperti ini.”


Tatro berkata sambil mengangkat dagu, “Wajar sekali kalau kalian murid akademi yang berasal dari beragam daerah, begitu kagum.” Ia menyeringai saat menatap dua orang gadis yang melewati mereka menunjukkan gemericik tawa. “Hai, setidaknya aku dapat diterima gadis-gadis di sini.”


“Oh.” Riri mengingatkan. “Jangan harap. Kita di sini untuk mencari tempat tinggal Beatrice. Mungkin kamu bisa bertanya pada mereka-mereka yang ada di sini. Di mana tempat tinggal Beatrice? Sesederhana itu.”


“Oh, kamu bilang sesederhana itu, ketua?” Giliran Tatro yang membalas sindiran dan membuat gestur tangan berbicara. “Masalahnya, kita tidak tahu siapa saja yang mengenal Beatrice dan keluarganya, ya teman kalian yang pulang kampung ke sini itu. Apakah aku harus bertanya pada setiap orang apakah mereka kenal dengan Beatrice?”


Selagi Riri dan Tatro beradu mulut, Yudai perlahan memisahkan diri.


“Oke, kita memang tidak punya petunjuk apapun selain Beatrice tinggal di sekitar sini. Dia melarikan diri dari rumah hanya untuk belajar di Akademi Lorelei. Ya, sungguh aneh kalau dia disuruh pulang oleh keluarganya, setelah Sans dan Yudai bercerita kalau dia takut dengan Earth, tunangan-nya itu.”


“Oh ya, hanya itu petunjuknya? Lalu kita harus apa, Ketua? Berharap keajaiban datang begitu saja dari langit? Berharap Dewa tiba-tiba memberi petunjuk kalau kita membutuhkannya?”


Sans dan Katherine kewalahan memandang beberapa bangsawan yang hanya numpang lewat menoleh. Bukan hanya menonjol secara pakaian, tetapi juga adu mulut antara Riri dan Tatro.


Katherine mengangkat kedua tangan, ingin menghentikannya tetapi menahan diri. Ia sudah mengambil satu langkah kaki, hanya ia tidak mampu mengutarakan apa yang ia ingin katakana.


“Eh? Yudai?” Sans menyadari Yudai tidak berada di sampingnya.


Ia menoleh ke belakang, Yudai sudah menghampiri salah satu pria bangsawan. Melihat sahabatnya begitu santai dan polos ingin bertanya, ia buru-buru berjalan menghampiri.


Yudai mengajukan pertanyaan itu, “Kami sedang mencari Beatrice. Dia adalah bangsawan seperti Anda. Dia teman kami.”


Pria bangsawan itu angkuh dan membuang ludah ke lantai. “Orang sinting.” Seakan ia juga menjawab orang jelata tidak berhak berbicara padanya.


“Aaaah.” Yudai menggaruk-garuk kepalanya. “Kenapa malah menghindar? Padahal aku ingin tahu di mana Beatrice tinggal saja kok.”


“Yudai.” Sans memanggil. “Jujur saja, aku tidak akan nyaman berbicara dengan mereka.”


“Habisnya, tidak ada satupun yang berinisiatif duluan untuk mencari petunjuk keberadaan Beatrice. Kita hanya tahu ini kampung halamannya.”


“Anu ….” Sosok perempuan berambut hijau panjang berponi di bagian belakang itu menghampiri dari samping kanan mereka. “Kalian … murid Akademi Lorelei?”


Keduanya tersentak mendapati gadis itu. Terlebih, dia tidak seperti perempuan bangsawan. Dari baju berlengan panjang warna abu-abu dan rompi wol cokelat muda tipis, mereka sudah tahu bahwa dia adalah rakyat jelata, rakyat kelas bawah.


“Apa kalian temannya Neu?”