Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 156



Episode 148


“Maaf, maafkan aku.” Perempuan berambut hijau panjang berponi itu menundukkan kepala, malu.


Sans dan Yudai terheran mendapati perempuan itu mendadak menemui mereka, seperti sebuah sihir yang mempertemukan kedua belah pihak. Mereka ingin tahu siapa gadis itu dan mengapa dia menghampiri.


“A-aku melihat kalian memakai seragam Akademi Lorelei, terutama—” Gadis itu menunjuk Yudai. “—mantel biru tua. Kakakku memakai yang sama. Kalian adalah murid Akademi Lorelei. Apa kalian sedang kebetulan berdarmawisata?”


Sans dan Yudai saling menatap. Kebingungan ingin menjawab apa.


Sans memutuskan untuk mengajukan pertanyaan. “Jadi … siapa nama kakakmu? Dan kami tidak sedang berdarmawisata. Kami sedang mencari teman yang tiba-tiba saja dijemput keluarganya ke sini.”


“Kalian tidak dengar? Namanya Neu.”


Neu. Perempuan itu adalah adiknya Neu. Sans dan Yudai terdiam dan terbelalak meresapi kata-kata yang terlontar dari mulutnya.


“Apa Neu juga ikut kalian ke sini?”


Ragu sekali, apalagi menghadapi pertanyaan dari adik Neu yang berada di hadapan mereka. Memang berat mengatakan yang sebenarnya, kenyataan bahwa tidak ada kabar tentang Neu semenjak bootcamp berakhir.


“Sebenarnya—" Yudai mulai memberanikan diri untuk bercerita.


“—Neu tidak bisa ikut. Dia … ada urusan di akademi.” Riri yang menghampiri dan menepuk pundak Yudai dan meyambung jawaban itu, mengutarakan sebuah kebohongan.


Yudai sampai tersentak mendengar Riri berbicara.


“Dia … um … diminta profesor untuk menjadi asisten dalam riset di luar akademi. Jadi … dia tidak bisa ke sini.”


Kebohongan yang buruk. Sans dan Yudai sudah tahu mereka tidak akan mempercayai kebohongan tersebut semudah itu.


“Oh.” Beruntung, sang adik Neu percaya begitu mengangguk sekali. “Tidak heran dia sering bercerita hampir setiap profesor memujinya. Wajar sekali dia diminta menjadi asisten. Dan … kalau boleh tahu, siapa teman kalian?”


“Beatrice,” jawab Sans lemah.


***


Meja cokelat yang sudah agak lapuk dengan empat buah kursi menjadi hal pertama saat memasuki rumah Neu. Tentu saja, sang adik Neu menjadi orang pertama yang memasuki rumah dan duduk di hadapan meja.


“Siapa namamu lagi?” tanya Tatro.


“Judith.”


Sans dan Yudai memperhatikan dinding rumah yang tidak dicat sama sekali, hanya berupa tumpukan kayu jati cokelat tua, kokoh, terlihat sangat kokoh. Lumayan untuk rumah penduduk kelas bawah.


Riri mulai bertanya, “Apa benar Neu berteman dengan Beatrice sejak kecil? Dari yang kudengar dari Sans dan Yudai, mungkin kita dapat menggali petunjuk dari itu.”


Judity mengangguk. “Benar. Neu dan kelompoknya sering sekali mengajak Beatrice bermain. Ya, Beatrice satu-satunya perempuan di kelompok itu, tapi dia tidak keberatan, ia bermain seperti layaknya anak laki-laki, tanpa memedulikan statusnya. Sering sekali mereka bertualang kecil ke suatu tempat, ke luar kota, setidaknya tidak bertemu dengan monster.


“Sungguh, mengingat Neu tidak lagi bisa bermain dengan Beatrice waktu kami berdua masih anak-anak memang menghancurkan perasaannya. Hanya karena perbedaan kelas, setiap kali Neu ingin berkunjung untuk menjemput Beatrice, pelayan dan orangtuanya melarang. Tapi mendengar ini … sungguh mengiris hatiku saat mendengar dari kalian kalau Beatrice dijemput paksa oleh orangtuanya.


“Beatrice sudah dipaksa untuk mengikuti gaya bangsawan, lalu harus menikahi tunangannya, sungguh, aku tidak tega melihat upaya keluarganya menghancurkan sebuah mimpi. Neu selalu bilang dari kecil kalau dia dan Beatrice ingin melihat dunia luar bersama.”


Judith mengusap air matanya tidak dapat menahan tangisannya. Tangan beralih dari mata menuju meja, sedikit demi sedikit tenaga dalam tekanannya ia lampiaskan.


Yudai memukul meja itu perlahan, masih berdiri di depan kursi. “Keluarganya. Mereka memaksakan sebuah mimpi pada Beatrice.”


“Tapi kita tidak tahu kenapa keluarga Beatrice memaksanya pulang ke kota ini,” Riri mengingatkan, “karena kita juga masih belum menemukan tempat tinggal Beatrice, kita masih tidak punya petunjuk apapun sejauh ini.”


“Aku mungkin tidak bisa membantu kalian. Aku juga tidak ingat betul di mana rumah Beatrice. Kalau Neu ikut, kalian pasti akan menemukannya dengan mudah, dia pasti sangat ingat.”


Tatro menegaskan, “Apa kita harus berkeliling kota lagi sekarang? Mungkin percuma kalau kita tinggal di sini terus lalu—”


“Ah.” Seorang wanita berabut cokelat diikat gaya bun di bagian atas, memasuki rumah itu. “Ada tamu ya. Kenapa kamu tidak siapkan teh dan biscotti, Judith?”


“Ah, Ibu. Mereka ini teman-temannya Neu. Apa tidak merepotkan menyiapkan teh?” jawab Judith.


“Anda pasti ibunya Neu,” Yudai memperkenalkan diri secara spontan.


Riri membelalang pada Yudai, mengingatkan sopan-santun pada orang yang lebih tua.


“Ah, jangan melihatku begitu.”


“Tidak apa-apa, anggap saja rumah sendiri,” jawab ibunya Neu, “saya ambilkan teh dan biscotti untuk kalian ya.”


“Sebenarnya tidak perlu repot-repot—”


“Sudah, tidak apa-apa.” Ibunya Neu berjalan menuju dapur di depan ruang utama rumah itu.


Sekadar info, rumah Neu memiliki lima ruangan, ruang utama yang terluas, kamar Neu, kamar sang ibu dan Judith, dapur, dan kamar mandi lengkap dengan sumur. Tidak seperti kebanyakan rumah kelas bawah seperti rumah Sans yang hanya memiliki dua ruangan. Sans sedikit iri melihat rumah Neu lebih “bersih”.


Sungguh, ia sangat penasaran dengan rumah Beatrice. Ia sampai membayangkan kemungkinan rupa rumah Beatrice, pastinya luas, megah, dan elegan penuh warna.


***


“Beatrice?”


Beatrice tahu betul suara itu, suara dari orang yang dapat ia percaya. Ia pun bangkit dari tempat tidur dan bergegas melangkah menyaksikan pintu itu terbuka.


Teruna cukup cepat menutup pintu, tanpa menimbulkan bunyi kencang, cukup tenang dalam “membanting”-nya.


Beatrice menghela napas. “Besok … pernikahanku dengan Earth.” Ia menundukkan kepala. “Aku tidak mau menikahinya sama sekali. Aku tidak mau hari esok tiba. Kalau aku menikah dengan Earth, aku … aku—”


Teruna memeluknya erat, berusaha sebaik mungkin untuk menenangkannya. Ia tahu, usahanya tidak berhasil seutuhnya untuk menghadapi kenyataan yang harus dihadapi majikannya itu.


“Saya juga tidak rela kamu sampai menikah dengan Earth. Dia—” Sungguh berat bagi Teruna untuk mengatakannya. “—tidak cocok.”


Beatrice kembali merenungi kematian ayahnya. Air matanya kembali menetes di pipinya. Ingin sekali menangis, tetapi ia tahu, ia tidak boleh membiarkan siapapun tahu kalau Teruna sering sekali masuk ke kamarnya secara diam-diam.


“Saya tahu kamu masih memikirkan ayahmu.”


“Aku benar-benar gagal, gagal total.” Beatrice mulai terisak-isak, sampai kata-katanya terpotong oleh tarikan napasnya. “Aku … aku … membuat … usaha … ayahku … sia-sia. Ayahku sudah bersusah … payah membiarkanku … ma-masuk ke Akademi … Lo—Lorelei.


“A-aku gagal total sebagai anaknya.”


Teruna mengusap-usap punggung kiri Beatrice. “Jangan berpikir begitu. Kamu sudah berusaha sebisamu. Tidak ada yang menyangka kamu akan kembali ke sini.


“Aku ingin kembali ke Akademi Lorelei!”


Teruna sudah tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menenangkan Beatrice, apalagi memikirkan rencana agar ia dapat lolos dari jeratan pernikahan. Apalagi, pernikahan adalah sebuah hal yang sakral, suami-istri saling berkomitmen untuk melengkapi kehidupan masing-masing. Tapi ia tahu pernikahan Beatrice dan Earth hanyalah pernikahan cinta sebelah tangan. Beatrice sama sekali tidak mencintai Earth, sama sekali.


Teruna tidak lagi memiliki pilihan selain hanya berkata, “Aku akan pikirkan bagaimana caranya. Cepat atau lambat, mau itu sebelum atau sesudah pernikahan itu. Kamu sepertinya harus bersabar dulu, Beatrice. Kita akan temukan caranya, pada saat yang tepat.”


Memperhatikan Beatrice tidak lagi bicara, Teruna hanya bisa merasa iba menatap matanya yang sayu. Ia ingin sekali tetap berada di ruangan itu hanya untuk menemani.


Tak lama, hujan pun turun, begitu cepat iramanya menjadi deras di luar, mewakili kesedihan Beatrice yang tak berujung.


***


“Ah, hujan.”


Riri memperhatikan dari jendela rumah Neu seluruh kota mulai diguyur hujan. Suara derasnya mulai berdengung menyelimuti suasana rumah.


Sans, Yudai, Katherine, dan Tatro yang masih menikmati secangkir teh panas dan biscotti juga melirik pada jendela. Cukup tertegun sambil mendapatkan hawa hangat dari secangkir teh, sungguh beruntung mereka telah setidaknya menghangatkan diri.


“Bagaimana dengan yang lain? Hal yang bisa kupikirkan hanyalah mereka akan kembali ke kota ini basah kuyup,” ujar Yudai.


“A-apa ini masih siang?” Katherine terbata-bata dalam berkata.


Mereka hanya bisa menunggu di dalam rumah tersebut, menikmati biscotti sambil berdiam diri menatap hujan. Sayangnya, saat sore menyingsing, terlebih lampu di sekitar jalan kota mulai menyala, menandakan sudah menjelang malam.


“Sial, kita bahkan tidak sempat ke luar kota untuk mencari petunjuk lagi,” ucap Yudai.


“Apa yang lainnya juga mencari petunjuk?” gumam Sans perlahan.


Judith bangkit dari duduknya. “Kalau hujannya tidak reda sampai malam, kalian lebih baik menginap saja di sini.”


Riri terbelalak mendengar ajakan Judith. Sans dan Yudai juga sampai tidak menyangka mendengar tawaran tersebut.


“Ti-tidak usah.” Riri menggeleng. “Ka-kami tidak enak harus merepotkan kalian.”


Ibunya Neu juga meyakinkan, “Tidak usah khawatir, kami tidak keberatan. Lagipula, kami juga harus membantu teman Neu seperti kalian. Oh, murid perempuan bisa tidur di kamar kanan dengan saya dan Judith.”


“Kalian boleh beristirahat di kamar sebelah kiri.” Judith menunjukkan pintu kamar kiri pada Sans, Yudai, Riri, dan Tatro.


***


“Oi.” Tatro memanggil. “Apa Beatrice juga menjadi teman penting bagi kalian? Sampai rela kalian datang kemari?”


“Memangnya kamu tidak ada pertanyaan lain untuk ditanyakan?” balas Riri sinis.


“Ya, sepertinya begitu. Dari yang kudengar, Beatrice sudah menjadi teman terpenting bagi teman kalian yang juga menghilang itu, ah … Neo?”


“Neu.”


“Neu. Itu dia.”


Yudai mulai menyentuh kelambu di langit-langit kasur, lembut dan tipisnya sutra seperti menyentuh lembut jari-jemarinya. Ia dapat merasakan pelukan dari sutra pada jari hanya dengan mata tertutup.


Melihat sekeliling kamar, Sans cukup kagum dan iri pada saat yang sama. Kamar tidur Neu memang lebih baik daripada kamarnya. Lantai kayu tanpa debu. Tidak ada tanda lapuk, goresan, dan noda hitam di setiap dinding, atap, dan pintu keluar kamar. Atmosfer kamar itu tidak menyesakkan.


Tempat tidur milik Neu juga hampir satu setengah kali lebih luas daripada miliknya, dilengkapi oleh kelambu sutra pengusir nyamuk. Tentu saja, bukan kamar Neu jika tidak ada rak buku.


Buku-buku berbaris di rak buku memenuhi dinding bagian tengah kamar. Berbagai tema seperti buku sihir, sejarah, hingga biografi menghiasi berbagai judul. Tidak heran, Neu memang menjadi salah satu murid terpintar di kelasnya.


“Sans, Yudai.” Riri mengingatkan mereka untuk fokus.


“Oh.” Yudai terlebih dahulu menjawab, “kenapa Beatrice teman terpenting kami, kan? Uh. Aku dan Sans sudah mengenalnya dari awal kami masuk Akademi Lorelei, bersama Neu, ya, bersama Neu.”


Sans melanjutkan, “Kami juga sepakat untuk berjuang bersama dari awal, untuk lulus dari akademi. Menjalankan misi, berlatih bersama, pokoknya dia bisa dibilang penambah semangat, apalagi nyanyiannya menambah kekuatan kami selama bertarung. Kami tidak ingin membarkannya keluar dari akademi begitu saja.”


Tatro hanya mengangguk, seakan berpura-pura memahami.


“Besok, kita akan mencari informasi dari mana? Dari area kelas atas lagi?”


“Tentu saja. Hanya itu petunjuk yang kita tahu. Dia dari kelas atas,” jawab Riri. “Tapi … kita harus tahu diri juga. Hormat, dan tanya dengan tenang.”


***


Teruna membuang napas saat menutup pintu Beatrice dan menguncinya. Ia menutup mata merenungi usahanya telah menjadi sia-sia, sama seperti perkataan Beatrice.


Mendiang ayah Beatrice sudah serius ingin putrinya segera keluar dari jeratan tatanan rakyat kelas atas. Ia sudah mempersiapkan putrinya itu untuk bersiap agar menghadapi dunia luar, mulai dari belajar di Akademi Lorelei.


Teruna berbalik setelah menyadari kebahagiaan Beatrice telah hancur, hancur total. Mau tidak mau, ia harus menyaksikan majikannya itu menikahi seorang pria yang tidak ia cintai sama sekali dan terjebak di tatanan kalangan kelas atas untuk selamanya.


“Beraninya.”


Teruna terbelalak bergeser dan menoleh ke sebelah kanannya. Oya, ketua pelayan keluarga, telah berdiri menghadapinya, bersama dengan dua anak buahnya.


“Apa saja yang telah kamu lakukan selama di sana? Lama sekali? Aku tidak ingat menyuruhmu ke kamar Beatrice setiap saat, tanpa izinku.”


Teruna membela diri, “Beatrice adalah majikanku. Aku adalah pelayan pribadinya. Sudah sepatutnya aku melayaninya. Sudah sepatutnya aku juga mendengarkannya.”


“Tapi bukan berarti kamu melanggar perintahku. Menyelinap masuk ke kamarnya bukan perintahku. Yang penting, dia harus bersiap untuk upacara pernikahan besok.”


“Kenapa?” Teruna mengangkat kepalanya, matanya seperti berbinar api. “Kenapa? Aku tahu ini adalah tradisi keluarganya. Tapi … aku sudah mendengar dari Beatrice sendiri, dia sama sekali tidak bahagia kalau menikahi dengan Earth. Pernikahan macam apa kalau tanpa cinta, hanya sebagai tuntutan tradisi bangsawan!


“Aku sudah memperhatikan dari saat Beatrice tidak boleh keluar rumah dan bergaul bersama teman sebayanya, teman masa kecilnya yang kalian sebut sebagai rakyat rendahan. Sudah lama, dia menderita gara-gara kebijakan ini. Aku senang, ayahnya sudah sadar dia terlalu memaksakan sebuah kebahagiaan Beatrice. Tapi sungguh, sungguh, ibunya dan kalian semua tetap memak—”


Napas Teruna terhenti memicu omongannya terpotong. Ia membuka mulutnya lebar sebagai reaksi ledakan dari syaraf, sungguh hebat. Ia menatap ke bawah, pisau, tancapan pisau di perut bagian atasnya beserta darah menodai pakaiannya.


Mata, mulut, kepala, dan tangannya bergetar mendapati Oya telah menusuk dirinya.


“A-a-a-apa … y-yang … ka-kau … la-ku—”


Tubuh Teruna ambruk seketika, dengan pisau masih menancap pada perut Teruna.


Oya memberi perintah pada dua anak buahnya. “Bawa dia pergi dari sini.”