
Petir menggelegar bersama dengan hujan besar menyelimuti bagian luar kastel akademi dan kerajaan bahkan setelah langit seluruhnya menjadi hitam. Suara angin juga berembus kencang sampai dedaunan pada pohon seperti berguncang.
Suara angin, rintikan hujan besar, bersama dengan petir menjadi hal pertama saat Sans kembali memasuki gedung asrama. Mulai dari melewati pintu sampai menuruni tangga menuju lounge room, seluruh murid meliriknya, jengkel, mata menyipit, wajah masam, dan kerutan muncul. Beberapa dari mereka berhenti bercakap-cakap hanya untuk menyaksikannya kembali setelah sidang berakhir.
Sans sudah menduganya. Tidak ada yang senang melihatnya kembali sama sekali. Statusnya sebagai murid bermantel putih sama sekali tidak membantu. Terlebih, ia juga telah lolos dari hukuman setelah menjadi tersangka mata-mata Royal Table. Tentu saja, statusnya juga masih menjadi alchemist. Hal itu memicu kegeraman seluruh murid yang berada di lounge room saat menatap wajahnya.
Bagi mereka, sudah sewajarnya murid bermantel putih yang memilih untuk belajar menjadi alchemist dikeluarkan dari akademi. Sangat tidak adil jika Sans lolos dari stereotipe tersebut, anggapan tersebut seakan patah, dan tidak ada yang suka.
“Kamu masih berani masuk ke sini juga?” sahut salah satu murid laki-laki, menantangnya.
Sans, saat ia tengah menapakkan kaki pada tangga menuju lorong kamar laki-laki, berbalik menatap murid itu.
“Mari kita lihat. Kamu adalah alchemist, dan kamu masih berani-beraninya memasuki gedung ini. Kamu seharusnya dikeluarkan! Memang ada yang salah denganmu!”
Sans hanya diam, ingin sekali menjelaskan bahwa Arsius, kepala akademi, yang telah menyelamatkannya dari hukuman. Akan tetapi, ia tidak ingin dianggap berbohong atau hanya membela diri.
“Kamu sendiri tahu apa yang dikatakan Profesor Alexandria waktu itu! Alchemist itu job terlarang tahu! Ini semuanya, aku yakin semuanya membencimu karena kamu jadi alchemist dan kamu selamat begitu saja! Kami tidak sudi menerimanya!”
Masih saja diam. Bagi Sans, diam adalah jawaban terbaik ketika menghadapi seluruh amukan dari sesama murid, baik itu temannya sendiri atau bukan.
“Kenapa diam saja, arsehole! Tidak usah diam-diam menangis. Laki-laki macam apa yang menangis dalam diam.”
“Sans.” Yudai memanggil selagi ia menuruni tangga, seluruh mata murid tertuju padanya. “Kamu tidak apa-apa, teman?”
“Heh!” jerit murid laki-laki itu lagi menunjuk Sans. “Aku belum selesai berbicara denganmu, shithead!”
Beatrice yang juga baru menuruni tangga menuju kamar perempuan juga menghampiri Sans tanpa ragu, meski ia juga sedang menjadi bahan omongan bersama dengan Yudai.
“Ja-jangan berbicara kasar seperti itu pada temanku!” Tidak diduga, Beatrice berani membela Sans di hadapan semua orang, memicu semua orang terengah-engah dan diam.
Murid laki-laki itu kembali menjerit, “Oh! Lihat! Dua temannya!”
Yudai mulai memastikan, “Apa ada masalah lagi dengan Sans? Apa ada masalah kami berdua berteman dengannya?” Suara lembut tapi menyesakkan seketika mendiamkan semua orang di lounge room.
Tidak ada lagi suara, Yudai mengajak Sans untuk menaiki tangga. Beatrice pun mengikuti mereka berdua, meninggalkan seluruh murid di lounge room mendengus kesal.
Saat mereka tiba di lorong kamar laki-laki di lantai enam dan berbelok, Sans menghela napas. Tidak menyangka, sama sekali tidak menyangka setelah ia menghadapi kesulitan yang merugikan dirinya, Yudai dan Beatrice masih rela membelanya.
“Kalian bisa saja menjauhiku kalau mau. Tidak perlu sampai membelaku segala,” tanggap Sans.
“Aku tidak bisa melakukannya,” jawab Yudai, “kamu temanku, teman sejak kita berdua berangkat bersama-sama dari Grindelr. Aku tidak mau melihatmu sampai dihina bertubi-tubi oleh mereka.”
“Sans.” Beatrice menarik napas. “Maafkan aku. A-aku … juga ingin membantumu. Setelah mendengar semuanya dari Yudai, aku mengerti sekarang. Keputusanmu menjadi seorang alchemist.”
Sans menggeleng sambil kembali berjalan. “Memang, ini sudah menjadi tujuanku. Membuat obat untuk ibuku, hanya bisa dilakukan dengan cara begini, menjadi alchemist.”
Sans membuka pintu kamarnya, rasa lega menyambar dirinya menapakkan kaki. Dua buah kasur empuk beserta meja menjadi sumbernya. Sedikit kegembiraan masuk apalagi setelah mengingat dirinya terpaksa tidur di penjara selama dua malam.
“Sans, maaf,” Beatrice mengajukan pertanyaan saat mereka bertiga masuk ke kamar itu. “Sebenarnya, apa yang terjadi di sidang itu?”
“Ya.” Yudai melanjutkan begitu Sans mulai duduk di kasurnya. “Kami berdua tidak menyangka, padahal sangat berharap. Kamu bisa lolos. Padahal biasanya murid bermantel putih yang ketahuan menjadi alchemist dikeluarkan.”
Sans kembali termenung. Ia ketakutan kedua teman dekatnya itu tidak akan percaya apa yang ia katakan.
“Sans? Tidak apa-apa. Kamu bisa cerita.”
“Ya.” Beatrice mengangguk. “Kami pasti akan percaya padamu.”
Sans kembali menatap ke arah lantai, masih ragu ia harus mengatakan hal sebenarnya. Ia pun mulai bercerita, “Um … kalau kalian masih tidak percaya, tidak apa-apa. Saat sidang dimulai … Profesor Arsius tiba-tiba datang.”
“Profesor Arsius?” sahut Yudai penasaran.
“Ya.”
Sans sudah tahu, Yudai menyahut seperti itu merupakan pertanda bahwa ia tidak percaya akan omongannya. Tapi … semenjak kedua temannya meminta untuk bercerita, Sans melanjutkannya.
Beatrice duduk di samping Sans, merasa tidak enak jika ia harus berdiri seperti mengonfrontasi.
Sans mengatakan ia tidak tahu mengapa tiba-tiba Arsius datang ke sidangnya, kecuali hanya tertarik karena penyelidikan mata-mata Royal Table. Saat gilirannya bersaksi menjelaskan tujuannya, hakim dan pihak juri serta kerajaan tidak memiliki simpati. Anehnya, Arsius justru membelanya karena memiliki tujuan pasti, tujuan yang mewajibkan dirinya menjadi seorang alchemist.
Seperti dugaan Yudai dan Beatrice, Alexandria bertubi-tubi menyerang pembelaan Arsius terhadap Sans, mengklaim bahwa alchemist adalah job terlarang dan berbahaya. Masih saja bersikukuh bahwa murid yang mempelajari alchemist seharusnya dikeluarkan.
Berkat pembelaan Arsius, Sans dan Duke tidak jadi dikeluarkan berdasarkan pemungutan suara pihak juri dan kerajaan. Alexandria sangat kesal mendengarnya.
“Aku percaya padamu,” tanggap Yudai, “ya, awalnya aku sampai tidak percaya, tapi mendengar ceritamu itu … aku jadi bisa membayangkannya.”
“Aku juga,” lanjut Beatrice.
Sans dapat bernapas lega. Ceritanya tidak dianggap sebuah kebohongan seperti yang ia pikirkan.
***
“Sans dan Duke.”
Sans dan Duke tertegun menatap Arsius secara langsung berdiri di hadapan mereka, hanya sebuah meja persegi panjang yang membatasi. Biasanya Arsius hanya akan hadir saat sebuah upacara, pengumuman penting, atau sebuah acara.
“Silakan duduk.”
Ketiganya pun duduk.
Sans pun melirik, ruangan pribadi Arsius tidak semewah yang ia pikirkan. Meski sebagai kepala akademi, Arsius menyukai hal yang sederhana di kamarnya. Jendela besar membelakangi kursi milik Arsius membiarkan sinar matahari dan udara masuk, lantai dan dinding kayu cokelat, serta karpet bundar sebagai sambutan. Memang terasa seperti di rumah sendiri, pada akhirnya tetap menjadi kantor pribadi Arsius.
“Saya sudah tahu hanya melihat dari mata kalian, kalian bukan mata-mata Royal Table, tanpa ragu lagi. Makanya, saya menyelamatkan kalian saat sidang berlangsung. Tapi … kalian ini juga seorang alchemist, job terlarang di Akademi Lorelei dan kerajaan Anagarde.
“Kita mulai dari dirimu, Duke. Kamu baru kurang lebih sembilan atau sepuluh bulan di sini sebagai profesor pengampu pelajaran sejarah sekaligus seorang profesor magang, menyembunyikan fakta bahwa kamu juga adalah alchemist. Bagi yang lainnya, sungguh tidak dapat dipercaya. Kamu berani sekali masuk Akademi Lorelei sebagai profesor sambil menyembunyikan fakta itu.”
Duke mengangguk pada kepala akademi itu.
“Dan kamu, Sans. Kamu gagal dalam aptitude test dan mendapat mantel putih alih-alih mendapat job yang kamu inginkan. Tapi tampaknya, itu tidak perlu bagimu. Karena … saya membaca tujuanmu di lembar pendaftaran, pada hari sebelum upacara penerimaan murid.
“Jujur saja, saya telah melihatmu dari kejauhan. Saya telah mengawasimu sejak kamu lulus ujian akhir semester pertama, saat kamu kalah melawan Dolce sekali lagi seperti di aptitude test bagian akhir, tapi Dolce justru meluluskanmu karena kamu memiliki perkembangan, sesuatu yang tidak terlihat pada murid bermantel putih lainnya. Kamu akhirnya seperti hampir mematahkan stereotipe bahwa murid tanpa job biasanya akan gagal dan dikeluarkan setelah dua semester.”
Sans mengangguk. Dalam hati, ia terkejut Arsius selama ini telah menyaksikan perjuangannya sebagai murid Akademi Lorelei.
“Soal mata-mata Royal Table. Sebenarnya kami sedang berada di jalan buntu dalam penyelidikan. Mungkin semua orang berpikir mata-mata telah ditemukan, kalian berdua. Tapi … seperti yang saya bilang tadi, kalian bukan mata-matanya.
“Duke, kamu telah meminta izin pada saya sebelum bootcamp khusus murid tahun pertama dimulai agar kamu melatih Sans seorang diri, tidak peduli murid-murid lain akan berpikir Sans mendapat perlakuan istimewa atau sesuatu yang mencurigakan. Saya telah berani mengizinkannya, begitu juga dirimu yang melihat potensi dari Sans. Ya, meski ini juga membuat seluruh pihak curiga kalau entah dirimu dan Sans adalah mata-mata Royal Table dan alchemist, apalagi saat masalah Royal Table semakin mencuat di kalangan murid-murid.”
Royal Table. Sans sebenarnya tahu siapa mata-mata di antara kalangan profesor dan murid di Akademi Lorelei. Ia ingin menjelaskan bagaimana temannya sendiri berkhianat dan sampai memicu hilangnya Neu saat bootcamp. Tapi jika mengingat statusnya sebagai murid sementara Arsius sebagai kepala akademi, ia merasa tidak berhak.
“Saya yakin kamu ingin berkata sesuatu, Sans.” Arsius memperhatikan raut wajah Sans.
Sans terkesiap.
“Kalau kamu ingin berbicara, silakan. Tampaknya kamu tertarik dengan topik mata-mata Royal Table.”
“Sans?” Duke menganggapi dan meliriknya.
Sans menutup mata dan membuang napas sejenak, membuang segala keraguan saat mengangkat kepala, menatap tepat pada mata Arsius.
“Soal mata-mata Royal Table …. Aku dan teman-temanku menemukannya. Saat kami akan pulang dari Beltopia setelah menjemput Beatrice.”
Ia bercerita bagaimana Tay memergoki Sierra tanpa sengaja mengungkapkan sebuah identitas asli. Sierra sebenarnya adalah mata-mata Royal Table. Sierra-lah yang bertanggung jawab atas hilangnya Neu menjelang hari terakhir bootcamp.
Saat menemukan Tay dibuat pingsan, semuanya jadi tahu identitas asli Sierra. Terkejut, marah, dan sedih. Seorang teman tega berkhianat mencapai demi tujuan Royal Table.
Arsius mengangguk dan berkata, “Saya telah mendengar ceritamu. Tapi sayang sekali, kata-katamu dan teman-temanmu tidak akan dipercaya orang semudah itu. Kita membutuhkan bukti. Saya juga dapat memastikan Sierra tidak kembali bersama kalian sama sekali. Kita butuh lebih dari itu.
“Beberapa royal guard kerajaan juga sedang mencari markas besar Royal Table, agar kita dapat menyelesaikan masalah besar ini. Kerajaan juga berupaya keras agar dapat membasmi organisasi separatis ini. Sekarang, kita butuh masuk ke dalamnya untuk memastikannya.”
Duke mengangkat tangan. “Jadi Anda menyuruh kami tetap diam? Meski seluruh kata Sans itu benar?”
“Menurut saya keputusan itu akan lebih bijak.”
Arsius bangkit dan berbalik menatap jendela di belakangnya. Ia melirik pada bagian halaman akademi, menyaksikan beberapa murid tengah berlatih menggunakan sihir dan juga pedang. Beberapa pula ada yang tengah sekadar bermain-main.
Ia merasa iba pada Sans dan teman-temannya jika omongan mereka sampai tidak terbukti. Justru karena status Sans sebagai tersangka mata-mata Royal Table dan juga ber-job alchemist, pasti akan menambah buruk reputasinya, terutama teman-temannya.
“Mulai sekarang, Sans, kamu sudah tahu apa yang akan terjadi berikutnya.” Arsius memberinya nasihat. “Statusmu sebagai alchemist, apalagi kamu juga lolos dari hukuman, semuanya tidak akan senang melihatmu kembali. Semuanya tidak akan percaya akan omonganmu tentang mata-mata Royal Table. Saya akan berbicara pada pihak kerajaan untuk merahasiakan hal ini sampai kami siap mengungkapnya secara publik.”
***
Yudai sampai menggesekkan tangan kanan pada rambutnya mendengar penjelasan pertemuan Arsius dari Sans. Ia mengelilingi sekitar kamar, menarik napas, menatap langit-langit.
“Kenapa?” ucap Beatrice.
“Itu yang kupikirkan,” jawab Sans, “kalian juga dekat denganku, pasti semuanya tidak akan percaya omongan kalian tentang Sierra.”
Yudai menghentikan langkah menatap jendela yang tertutup tirai. Keheningan pun diiringi oleh suara sambaran petir bersama rintikan hujan deras.
“Apa gunanya?” Yudai membuka suara menyentuh tirai itu. “Kita sudah tahu Sierra adalah mata-mata Royal Table. Kita semua tahu sendiri, setelah Tay menyampaikannya. Seharusnya tidak ada alasan kebenaran belum terungkap sekarang.”
Sans membalas, “Aku tahu kalian kecewa dengan kebijakan Profesor Arsius. Tapi kita butuh bukti lebih dari sekadar omongan, lebih dari sekadar Sierra tidak datang bersama kita. Profesor Arsius dan pihak kerajaan sedang mengusahakan yang terbaik, mereka sedang mencari markas besar Royal Table.
“Sedangkan kita … kita tunggu saja, hadapi kelas khusus dan ujian akhir semester nanti. Kita fokus saja ke situ dulu.”