
“Kelompok A! Inilah hari kedua bootcamp kalian,” sapa Baron, “saya benar-benar bangga kalian telah menyerahkan yang terbaik selama placement test kemarin. Kalian tahu ini adalah awal dari kerja keras kalian.”
“Wow.” Yudai sampai membuang napas ke atas, masih menyayangkan bahwa Dolce tidak dapat hadir sebagai salah satu profesor perwakilan job archer. Pada saat yang sama, ia juga cukup bersemangat menatap Baron berada di hadapan dirinya dan murid lain di kelompok A.
Seluruh murid kelompok A telah berbaris menghadapi Baron, seorang profesor perempuan, dan dua orang murid tingkat atas yang berperan sebagai asisten. Masing-masing telah mengambil jarak dari satu sama lain kurang lebih sebanyak satu rentang lengan.
Gerbang Labirin Oslork menjadi lokasi pelatihan khusus murid kelompok A. Gerbang dan pagar yang terbuat dari rumput itu mengingatkan mereka akan tugas field trip pertama mereka. Beberapa dari mereka bahkan tidak ingin memasuki kembali Labirin Oslork sebagai tempat pelatihan.
Baron mulai menjelaskan kegiatan pelatihan tersebut, “Langkah pertama untuk menjadi petualang yang hebat, terutama job swordsman, knight, royal guard, archer, dan monk, kalian harus memiliki fisik yang memadai. Ketika kalian memegang senjata, baik itu pedang, tombak, halberd, panah dan busur, knuckles, atau tangan kosong,”
Profesor wanita berambut pirang bercampur hitam juga menambah, “Kekuatan fisik dasar adalah hal terpenting bagi petualang dengan job tipe fisik. Karena memiliki kekuatan fisik yang cukup memadai, beberapa petualang mampu menyelesaikan misi cukup mudah, bahkan misi kelas A sekalipun.”
Beberapa murid laki-laki bahkan berkomentar terhadap penampilan profesor wanita tersebut. “Profesor Clancy benar-benar cantik seperti biasa. Andai saja aku jadi knight biar bisa diajari beliau.”
“Bahkan lebih baik daripada Profesor Alexandria.”
Baron menganggukkan kepala. “Kita mulai dengan lari di tempat. Kedua asisten, harap berdiri di hadapan seluruh murid kelompok A sebelum kita mulai, kalian akan ikut berpartisipasi sebagai contoh.”
Merinding, melihat dua orang murid tahun kedua sebagai asisten profesor pengampu bootcamp untuk kelompok A, tekanan cukup tinggi telah tertanam melihat standar dari bootcamp. Mayoritas dari murid menelan ludah, berekpektasi tinggi bahwa kedua senior mereka akan memberi kesan tinggi.
Apalagi kedua senior itu merupakan murid nomor satu di masing-masing job ketika menjadi murid tahun pertama.
“Pertama, kami ingin melihat kalian lari di tempat. Mulai dari pelan, lalu tambah kecepatan dan larilah secepat-cepatnya, mengerti?” suruh Clancy.
Tidak ada waktu untuk bersantai, memuji kecantikan Clancy, atau bahkan tersenyum, mereka mengambbil posisi kaki kiri di depan membentuk kuda-kuda, bersiap untuk berlari.
“Baik, kalian boleh mulai, lambat dulu!” Baron memberi aba-aba.
Kedua asisten mulai menggerakkan kedua kaki pada tanah sebagai pemimpin. Seluruh murid kelompok A pun sekadar mengikuti, berlari di tempat. Ketukan kaki dan tanah terlebih dahulu bisa dibilang cukup lembut.
Yudai, Zerowolf, dan Riri menatap sekeliling mereka, seluruh murid, termasuk mereka sendiri, terfokus pada tenaga pada lari, tidak ingin cepat lelah. Bagi Yudai dan Zerowolf, sebagai murid archer, mereka pernah mengikuti regime latihan saat pertama kali mengikuti kelas khusus archer bersama Dolce, maka mereka pikir bisa bertahan lebih lama begitu mencapai kecepatan maksimum.
Yudai dan Zerowolf saling membara pada tatapan, semangat untuk bersaing seperti sediakala juga semakin meningkat. Riri yang berdiri di dekat Zerowolf justru menepuk jidatnya khusyuk.
Kedua rival bebuyutan itu seakan berkomunikasi dalam diam, mereka sama sekali tidak mengurungkan niat untuk kembali bersaing, seakan masih berada di akademi. Entah ingin menentukan siapa yang akan bertahan selama berlari dan menambah kecepatan semaksimal mungkin,
“Tambah kecepatannya!”
Seluruh murid mengeraskan langkah lari di tempat seakan sedang mengetuk tanah. Mendengar perintah Baron, tekanan pada pikiran semakin mengeras, apalagi menatap raut wajah tajam profesor tersebut.
“Lebih cepat lagi!” Baron menunjuk salah satu murid di hadapannya yang masih lamban.
Belum satu menit mereka mencapai kecepatan lebih cepat, banyak dari mereka kehilangan kekuatan dari paha hingga telapak kaki. Kedua profesor tersebut menggeleng memperhatikan mereka.
“Jangan beristirahat dulu!”
Salah satu murid laki-laki bahkan terhenti dan meringis. Ia berlutut tidak mampu menahan nyeri hebat pada kedua kaki akibat memaksakan diri mengikuti irama lari teman satu kelompoknya.
Dua menit telah berselang, mayoritas dari murid kelompok A satu per satu kehilangan kekuatan pada paha dan kaki dalam lari. Kecepatan mereka melambat. Bahkan Yudai dan Zerowolf yang pernah mendapat pelatihan fisik oleh Dolce sebelum serius memanah juga mulai terengah-engah.
Dua orang asisten profesor tetap stabil dalam mengendalikan kecepatan dan tenaga ketika berlari di tempat, tanpa menoleh ke belakang sama sekali mempedulikan seluruh murid yang kelelahan.
Baron dan Clancy menghela napas tidak percaya menatap seluruh murid tersebut. Clancy menangkat tangan kanan memberi aba-aba saat Baron sudah menggeleng kepala putus asa.
Begitu kedua asisten di hadapan mereka telah menghentikan lari di tempat, seluruh murid juga mengikutinya. Napas mereka ngos-ngosan, rasa nyeri dari paha hingga kaki juga terasa pahit. Bagi beberapa, mereka tidak pernah mendapat pelatihan sekejam itu.
Riri sampai terbatuk-batuk dan membungkukkan badan. Sama seperti yang lain, ia juga tidak menyangka pelatihan kelompok hari pertama akan cukup kejam.
Baron menganggapi seluruh kelompok A, “Jujur saja, saya kecewa pada kalian, sangat kecewa. Lari kalian bagaikan berjalan saja. Kalian bahkan tidak bisa mengimbangi asisten kami.”
Zerowolf berkomentar pada Yudai dan Riri, “Pantas saja pengajaran Profesor Baron seperti ini. Terakhir kali saat Profesor Dolce berhalangan hadir, beliau memberi regime latihan berat, lalu suaranya seperti menjerit tanpa ampun.”
“Kau, Zerowolf!” Baron menunjuk dan menegurnya, “Jangan mengobrol saat saya menjelaskan!”
“Ba-baik, Profesor!”
***
Kelompok B melakukan tipe pelatihan yang berbeda daripada kelompok A. Reaksi mereka terhadap regime latihan hari pertama juga tidak jauh berbeda pula.
Lokasi mereka adalah hutan dekat gerbang masuk utama. Speed dan seorang profesor berambut hitam pendek dibelah tengah berdiri bersama seorang asisten tengah mengelilingi mengawasi seluruh murid kelompok B.
Seluruh murid kelompok B meringis berusaha keras dalam menjalani latihan tersebut, yakni memanjat tali yang terikat di atas salah satu batang tertinggi pohon. Beberapa masih tidak mampu mengangkat kaki dari tanah sambil menggenggam tali menggunakan kedua tangan. Beberapa lagi justru tergelincir ke tanah setelah mencoba memanjat tali.
Beberapa seperti Lana dan Sandee justru bergelantungan di tali tanpa kembali memanjatinya. Kedua tangan dan kaki mereka seakan terikat.
“Ke-kejam sekali …” komentar Lana, “padahal di kelas aku tidak pernah berlatih seperti ini.”
Sandee menyetujui, “Coba saja aku menurunkan berat badan sebelum ini!”
Speed dan profesor berambut hitam pendek mengelilingi sekitar pepohonan, menyaksikan beberapa murid telah kembali menginjak tanah alih-alih meneruskan memanjat. Banyak keluhan tangan mereka mulai nyeri, napas mereka terengah-engah, bahkan sampai berbaring.
Profesor berambut hitam pendek itu memperingatkan, “Lemah! Masa memanjat tali seperti itu kalian tidak bisa! Belum waktunya untuk beristirahat!”
Salah satu murid laki-laki justru mengomentari perilaku profesor tersebut, “Profesor Farrar ternyata bisa kejam juga!”
Farrar adalah profesor perwakilan dari job monk yang berada di bootcamp tersebut. Melihat lengannya yang berotot besar itu sudah membuat hampir seluruh murid kagum. Akan tetapi, kekaguman itu harus sirna ketika perilaku garang sudah terlihat jelas ketika pelatihan dimulai.
Salah satu murid perempuan pun mengeluhkan bentakan Farrar, “Kalau mereka begini terus, mana bisa kita mau maju?”
“Ah! Lihat itu!” Salah satu murid lagi menunjuk menggunakan telunjuknya.
Seorang murid telah mencapai puncak dari tali dan akhirnya menduduki batang pohon. Seluruh murid kelompok B pun turut tercengang tidak percaya, termasuk Lana dan Sandee, apalagi keempat orang murid laki-laki yang mengenali sekali sosok murid itu.
Benar, Tay menjadi murid pertama yang berhasil memanjat sampai puncak dan menduduki batang pohon. Ia mengusap kening penuh peluhnya sambil melihat beberapa murid lain kesulitan di dalam penderitaan hari pertama pelatihan bootcamp.
Keempat mantan teman Tay menggeretakkan gigi dan membuang muka. Mereka tidak rela menyaksikan dirinya telah menjadi orang pertama yang berhasil melakukan tantangan pertama dalam pelatihan selama bootcamp berlangsung.
Hal itu berlaku bagi mayoritas dari murid kelompok B. Alih-alih kagum, mereka justru iri dan dengki mendapati murid yang paling dibenci itu justru meraih kesuksesan terlebih dahulu.
Lana pun menganggapi hal tersebut, “Ah, sudah kuduga akan menjadi begini.”
“Untung saja bukan salah satu dari kita,” tambah Sandee.
“Apa yang kalian berdua lakukan? Jangan diam!”
Bentakan Farrar memicu Lana dan Sandee melepas genggaman pada tali, saking terpecah belah konsentrasinya, mereka justru menjerit dan terjatuh kembali ke tanah dan harus memulai dari awal.
“Ayo! Cepat! Panjat talinya!” seru Speed.
***
Kelompok C justru lebih parah daripada kelompok A dan kelompok B. Sesuai dugaan, Alexandria tidak mengenal ampun bagi murid-murid yang masuk kelompok tersebut. Begitu banyak murid yang lemas ketika melakukan pelatihan tersebut, sama sekali tidak mendapat makanan saat berburu atau justru kurang tidur.
“Ayo! Jangan malas! Cepat lakukan!” Alexandria memaksa seluruh murid, bahkan termasuk murid-murid yang seharusnya tidak melakukan pelatihan sekejam regimenya.
Kedua orang asistennya juga merasa sangat iba dengan kondisi murid-murid kelompok C. Dalam hati, sebenarnya mereka keberatan dengan regime latihan dari Alexandria, sangat tidak manusiawi.
Melihat setiap murid kelompok C yang protes dan mengeluhkan alasan yang sama, pasti Alexandria membentak dan memaksa mereka untuk melakukan regime latihan tersebut, atau setidaknya mengancam memberikan nilai rendah sekaligus. Itulah penyebab kedua asisten itu ketakutan saat ingin mengeluh.
Berlari mengelilingi perbatasan kota sebanyak 20 kali, itulah regime yang diberikan oleh Alexandria. Berlari dua keliling saja sudah membuat kaki cepat nyeri dan kaku. Apalagi ketika mayoritas dari murid dalam kondisi kelaparan dan kurang istirahat. Akan tetapi, Alexandria sama sekali tidak memedulikan keluhan-keluhan tersebut dan tetap memaksa agar tidak beristirahat.
Hal ini tentunya terbukti terlalu berat bagi kebanyakan murid kelompok C. Satu per satu murid pun kelelahan dan memilih untuk berjalan. Akan tetapi, begitu mereka melewati depan gerbang masuk, mereka langsung dapat bentakan Alexandria.
“Memangnya kalian pikir ini sulit! Saat kalian bertualang akan lebih sulit lagi! Jangan jalan!”
Memasuki putaran kelima, seorang murid perempuan sampai memaksakan diri untuk berlari, tidak peduli akan kondisinya saat itu. Perut seperti terpukul palu cukup keras akibat lama keroncongan, kedua kaki juga semakin lama semakin panas. Seluruh tubuh turut merasakan sakit.
Akan tetapi, kaki kanannya yang mendadak mati rasa memicu dirinya kehilangan keseimbangan. Ia pun tersandung ke tanah. Bahu kanan mendarat terlebih dahulu, memicu nyeri lebih hebat lagi.
“Oh!” seru salah satu murid yang menjadi saksi.
Salah satu asisten yang sedang berjalan berkeliling dan mengawasi juga menghampiri murid perempuan terjatuh itu. Beberapa murid yang tengah melewati situasi tersebut juga menghentikan lari dan menghampirinya.
“Apa yang terjadi dengan dia?” tanya salah satu murid laki-laki yang masih berlari.
“Sudah, jangan hiraukan, terus lari!”
Beberapa murid pun abai begitu saja, tidak memedulikan situasi tersebut. Beda bagi kebanyakan murid yang melintas, termasuk Ruka, berbondong-bondong menghampiri dan mengasihani murid perempuan tersebut.
“Hei.” Asisten tersebut menggoyangkan tubuh murid perempuan itu mencoba menyadarkannya. Ia kemudian menatap seluruh murid yang menyaksikan kejadian itu. “Ayo, kalian kembali berlari!”
Beberapa murid akhirnya bangkit dan kembali berlari, tidak memedulikan kondisi tubuh. Ratapan terhadap murid perempuan yang terjatuh itu menjadi hal pertama ketika kembali berlari.
Setidaknya tiga orang murid, termasuk Ruka, yang memutuskan untuk tetap menyaksikan kejadian tersebut. Setidaknya dua dari mereka mencoba membantu menyadarkan murid perempuan itu sebagai bentuk rasa kasihan.
Ruka hanya berdiri menatap acuh. Sama sekali tanpa ekspresi menatap kejadian tersebut, memang, ia sangat lelah berlari, terutama sehabis diberi regime tidak manusiawi oleh Alexandria mengingat kondisi kebanyakan murid kelompok C.
Benar, mayoritas dari mereka gagal mendapat buruan di hutan. Kalaupun berhasil, paling tidak hanya slime dan jamur hidup. Itupun mereka lakukan dalam satu jam. Banyak yang tidak sempat makan sama sekali.
Murid perempuan yang terjatuh itu membuka mata dan menggelengkan kepala. Tangisannya meledak begitu tahu ia telah berhenti berlari karena tidak sadarkan diri.
“Tenang, tidak apa-apa,” asisten tersebut mencoba menenangkannya.
“Maafkan aku …. Maafkan aku.”
Salah satu murid ikut menenangkannya. “Tidak apa. Jangan takut.”
“Kamu sudah melakukan yang terbaik.”
Murid perempuan itu panik mengangkat kepalanya. “Tidak. Aku tidak mau gagal bootcamp.”
“Sudah, sudah.” Asisten tersebut mengusap pundaknya.
“Aku tidak mau dikeluarkan.”
“Tenanglah.”
Ruka menghela napas menggeleng. Ia sampai mengepalkan kedua tangannya.
Hari pertama pelatihan kelompok di Silvarion sudah dimulai dengan bencana, bencana besar. Tidak ada yang menyangka standar regime latihan akan begitu ketat dan kejam.