Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 71



Luka gores pada punggung Tay mengucurkan darah hingga mengotori bagian belakang mantel biru tuanya. Rasa sakit pun mulai memicu pikirannya, membuat dirinya menggeretakkan gigi.


Rivera mengayunkan pedang mengarah pada Tay. “Kecepatanmu terlalu cepat sampai-sampai aku harus memanfaatkan celah pada bagian punggungmu. Duel ini hanya tersisa kurang lebih empat menit lagi. Dengan kekuatan seperti itu, kamu tidak mungkin bertahan dengan waktu yang tersisa. Aku mungkin bisa saja membunuhmu.”


“Me-membunuh?! Apa ini diperbolehkan?” jerit Sans panik.


Neu menjawab, “Dulu sering terjadi murid akademi yang kalah dan akhirnya mati saat duel berlangsung. Memang tidak ada aturan bahwa murid bisa saja terbunuh dalam tes ini. Itu juga berlaku saat aptitude test. Kalian ingat saat aptitude test bagian luar seseorang bisa saja terbunuh akibat terkaman binatang buas? Itu juga bisa terjadi di tes ini.”


“EEEEH!” jerit Sans dan Yudai melongo ngeri.


“Cepat menyerah saja, Tay!!” Makian keempat mantan teman Tay mulai meledak.


“Kalau tidak, lebih baik kamu mati saja! Mati sana!”


“Kamu tidak punya harapan melawan Profesor Rivera!!”


Terprovokasi oleh omongan keempat orang itu, Yudai mengepalkan tangan kanannya dan mulai melangkah. “Kurang ajar!”


Zerowolf memberhentikan langkah Yudai. “Lebih baik kamu simpan tenagamu saat ujian duel. Percuma meladeni mereka.”


Neu setuju. “Zerowolf benar, tidak ada gunanya berkelahi melawan mereka sekarang.”


“Paling tidak, kamu bisa simpan tenaga untuk melawanku.”


“Mulai lagi.” Neu menggelengkan kepalanya.


Tay perlahan bangkit dan kembali menggenggam erat pedangnya, mendapati Rivera mulai berbalik dan meninggalkannya. Tangan kirinya juga menyentuh luka pada punggung, terutama sobekan pada mantel biru yang telah bercampur oleh darah.


 “Be-belum …. Masih belum …. Aku masih … bisa bertarung.”


Rivera menoleh pada Tay sambil menghentikan langkahnya. “Apa katamu?”


“Aku masih bisa bertarung! Aku belum berkata kalau aku menyerah! Anda bilang saya hanya punya kurang lebih tiga sampai empat menit untuk bertahan selama duel agar berhasil dalam ujian ini!”


Menganggapi perkataan Tay, salah satu dari empat mantan teman Tay melongo. “A-apa?!”


Neu melebarkan senyuman, mengetahui Tay bukan orang yang mudah menyerah, tidak peduli apa situasinya.


Rivera berbalik menghadap Tay, kurang lebih 300 meter jarak di antara mereka untuk kembali tatap muka sambil menggenggam pedang masing-masing.


Tangan kiri Tay mulai menjauh dari luka pada punggungnya. Tangan kanannya pula menggenggam kuat pedang, bersiap untuk kembali beraksi. Gertakkan gigi sambil melotot memfokuskan pandangan sambil mengambil ancang-ancang.


Tay kembali melesat dan mengayunkan pedangnya. “AAAAAAA!!”


Begitu tiba di hadapannya, Rivera kembali menangkis serangan Tay menggunakan pedang. Dari arah manapun, dia mengayunkan dan menahan setiap serangan, saling menubrukkan mata pedang.


Tay pun menyingkir dan memutari arah kanan Rivera, mengayunkan pedangnya. Meski begitu, pertahanan Rivera masih kokoh akan kecepatan dan akurasi tebasan pedang.


Dia harus lebih cepat, lebih cepat dalam melangkah dan menyerang. Tay mempercepat langkah dalam mengempaskan pedang. Langkah cepatnya sampai membuat Rivera mundur dan bertahan dalam menangkis serangan.


Bunyi tubrukan pedang tersebut semakin dahsyat menuju luar ring, sama sekali tidak dapat memastikan keunggulan paling superior.


Rivera pun dengan cepat mengayunkan pedang setelah menangkis serangan Tay berkali-kali. Mata pedangnya pun mencapai dan merobek di balik rambut sebelah kiri Tay.


Tay kembali tercengang rasa sakit kembali muncul di balik rambutnya, darah pun bercucuran bersama dengan keringat pada kulit kepala. Sakitnya yang cukup berat lantas tidak menghentikannya hingga kehilangan keseimbangan.


Tay justru kembali berlari dan mengempaskan pedangnya. Ayunan pedang dari segala arah sama sekali tidak membuat Rivera lengah dalam pertahanan.


Dia melompat cukup tinggi membantingkan ayunan genggaman pedang ke belakang sebelum mengempaskannya kembali menuju Rivera pada bagian dada.


Rivera justru telah mengantisipasi serangan tersebut, sekali lagi menubrukkan mata pedangnya.


Akan tetapi, Tay mendorong pedangnya ketika kedua kaki telah menginjak lantai ring kembali, mengempaskan setiap sisa tenaganya demi mengempaskan pertahanan Rivera.


Rivera pun juga melakukan hal yang sama, tidak percaya bahwa Tay tetap maju untuk mengalahkannya. Sisa tenaganya pula dia empaskan demi mendorong pedang Tay.


“Ah!” jerit Tay ketika pedangnya terdorong, tenaganya kalah.


“Ah!” jerit Rivera segera menurunkan pedangnya.


Tay justru mendorong mata pedangnya pada leher Rivera, hampir mengenainya.


“Ka-kamu,” ucap Rivera tercengang mendapati lehernya hampir teriris atau terpenggal.


“Cih! Waktunya habis, ya?”


Tay menurunkan pedangnya dan menaruhnya kembali ke selongsong sambil menghela napas.


“Baiklah. Kamu pantang menyerah juga akhirnya. Kamu berhasil mengalahkanku. Seorang murid berhasil mengalahkan gurunya merupakan sebuah pencapaian, meski secara teknis harus terbatas oleh waktu dalam ujian duel,” Rivera mengungkapkan.


“Tidak!” jerit keempat mantan teman Tay tidak puas.


“Akhirnya!!” sorak Yudai. “Tay menang!”


“Woohoo!” jerit Zerowolf.


Neu hanya bertepuk tangan, mengapresiasi usaha “musuh bebuyutan”-nya itu dalam mengalahkan Rivera.


“Akhirnya.” Sans dapat bernapas lega. “Setidaknya Tay selamat.”


Berbagai priest dan mage tipe support mulai mendatangi masing-masing ring, menghampiri peserta duel yang terluka. Kali ini, Katherine yang menghampiri Tay dan Rivera.


Rivera menyuruh Katherine, “Sembuhkan dia dulu.”


Katherine menghela napas begitu menemukan luka gores pada punggung Tay di balik sobekan mantel biru bercampur darah. Dia menyentuh luka tersebut sambil mengucapkan mantra.


“Re-refra eht bruzzar, hela morf eht weib siqlo.”


Keluarlah cahaya putih dari kedua pergelangan tangan Katherine hingga meresap pada luka Tay. Luka tersebut berhenti mengucurkan darah hingga kembali menutup membentuk lapisan kulit baru.


“Aku sudah baik-baik saja,” Tay menolak Katherine menyembuhkan luka pada pipinya, segera mengangkat kaki dari lantai ring.


“Kamu berhasil, Tay!” seru Yudai menghampirinya bersama Sans dan Zerowolf.


“Tidak perlu memuji seperti itu, alis melengkung,” tolak Tay.


Tatapan Tay merujuk pada Neu yang hanya berdiri terdiam menyilangkan kedua tangan pada dada. Dia sudah menduga bahwa rivalnya itu tidak ikut merayakan sebuah kemenangan.


Beralih pada keempat mantan temannya, hujatan demi hujatan ketidakpuasan akan hasilnya bisa terdengar nyaring, meski tidak mengarah langsung padanya.


Tay akhirnya berbelok, mengabaikan setiap orang yang menemui dan membicarakannya, menuju dekat pintu keluar ruangan.


Alexandria menyahut, “Semuanya, harap kembali berbaris!”


“Ada apa dengan dia?” Zerowolf menoleh pada Tay yang ingin menyendiri.


Neu menjawab, “Biar saja dia. Memang suka begitu.”


Berdiri di hadapan pintu, Tay hanya berdiam diri, tidak ingin berbicara pada siapapun. Dia merenungi setiap hal yang terjadi pada pertarungan melawan Rivera, profesornya sendiri.


Kepalan tangannya menubruk pintu, sangat frustrasi akan hasilnya. Napasnya menajam dari mulut hingga terengah-engah.


“Aku kalah! Aku kalah. Kalah telak.”


Tay berbalik, menyaksikan beberapa murid yang telah memenangkan duel putaran kelima cukup puas dan lega hingga ingin bersenang-senang dengan berbicara dan menyombongkan diri.


“Kecepatanku kurang cepat. Kekuatanku juga masih belum cukup.” Tay menundukkan kepalanya. “Aku tidak cukup kuat, sama seperti saat kegagalanku di aptitude test. Sial. Mau jadi orang seperti apa diriku ini kalau begini terus?”


“Tay,” Hunt memanggil, “kamu baik-baik saja?”


Tay mengangkat kepalanya, mendapati Hunt telah menghampirinya. “I-iya.”


“Duel putaran keenam akan segera dimulai. Sebaiknya kamu kembali menghadap ring-ring mengikuti barisan. Ayo.”