
Lagi-lagi, seluruh murid tercengang.
Setiap dinding pagar rumput sekali lagi bergeser dan berputar. Tatanan labirin pun seketika berubah menjadi jalan baru. Seluruh kelompok beranggotakan masing-masing tiga murid tahun pertama Akademi Lorelei sekali lagi harus menghadapi jalan baru demi keluar dari Labirin Oslork dengan selamat.
Tidak semua kelompok yang mampu melanjutkan perjalanan untuk menyelesaikan tugas. Karena entah sama sekali tidak meminum air atau kehabisan air sebelum waktunya, satu per satu murid tahun pertama mulai tumbang, mulai dari tidak sadarkan diri akibat kelelahan atau beristirahat cukup lama akibat tenggorokan kering dan kehabisan tenaga. Beberapa kelompok memutuskan untuk melanjutkan perjalanan meski kedua kondisi tersebut menyerang, tetapi dalam kecepatan lambat.
Langit pun lama-kelamaan berubah mulai dari biru cerah menjadi oranye, pertanda sore telah tiba. Selama kurang lebih tujuh jam, belum ada satu kelompok pun yang lolos dari tatanan Labirin Oslork. Mereka kerap tersesat entah melewati jalan sama persis, menemukan jalan buntu, atau kelelahan.
Kelompok 13 yang beranggotakan Yudai, Tay, dan Neu menjadi salah satu kelompok yang memperlambat langkah karena dahaga telah menguras tenaga dan membuat tenggorokan kering akibat hawa panas pada siang hari. Napas mereka terengah-engah seraya kelelahan.
Ketiganya tidak ingin beristirahat demi melanjutkan perjalanan untuk mencari jalan keluar. Rintangan-rintangan seperti jamur gas penidur, makhluk spooky yang menyebabkan jantung goyah, dan ranting yang hidup kerap mereka lewati. Satu-satunya manfaat yang mereka dapatkan adalah kelelahan sirna sejenak setelah tersadar dari gas penidur.
Ketika langit mulai menampakkan kegelapan di balik warna oranye, sekumpulan kabut berbentuk uap air berasap seperti awan mulai bermunculan. Pandangan seluruh kelompok pun mulai terganggu akibat munculnya kabut.
Beruntung bagi salah satu kelompok, yakni kelompok 10, mereka telah keluar dari Labirin Oslork tepat sebelum kabut menyerang pandangan. Ketika mereka berhasil lolos, seluruh professor pendamping turut menyambut ketika matahari akan segera terbenam.
Bagi kelompok lainnya, mereka harus menghadapi rintangan kabut. Kabut tersebut sedikit menghilangkan pandangan akan beberapa rintangan sebelumnya. Tidak heran beberapa murid tahun pertama langsung tercengang tanpa melihat makhluk spooky, rantai hidup, dan jamur gas penidur di sekitar.
Beatrice berkomentar, “Aku bahkan tidak ingat akan muncul kabut seperti ini!”
Sierra menganggapi, “Mungkin mereka ingin membuat kejutan lagi!”
Kelompok 15, Sans, Beatrice, dan Sierra; kembali melangkah tidak peduli akan rintangan di sekitar mereka. Meski persediaan air di botol sudah habis tidak bersisa, mereka memutuskan untuk berlari melewati kabut dan menyusuri tatanan labirin demi mencari jalan keluar.
Keberadaan jamur gas penidur, makhluk spooky, dan rantai hidup sudah semakin jarang terlihat. Sans menganggap keberadaan ketiga rintangan tersebut sebagai pertanda baik, bahwa mereka sudah mulai menuju jalan keluar.
Berkali-kali berbelok, berkali-kali mendapat jalan buntu, mereka kembali melesat melewati kabut seakan dikejar oleh sebuah monster. Usaha mereka terbayar ketika sebuah jalan lurus berakhir dengan sebuah celah luas antara dua dinding pagar rumput.
Sans menyimpulkan jalan celah luas tersebut, “Ah! Itu pasti jalan keluarnya!”
“Tu-tunggu kami!” jerit Beatrice berusaha menyamakan kecepatan Sans yang berada di depannya.
Begitu melewati celah tersebut, kabut pun seketika menghilang dari pandangan. Setidaknya beberapa kelompok lain dan beberapa profesor pendamping seperti Hunt telah berdiri di hadapan mereka.
Mereka akhirnya berhasil keluar dari Labirin Oslork dengan selamat. Begitu menapakkan kaki pada lantai batu, dedaunan berguguran dapat terlihat di depan mata. Hutan penuh pohon dan kebun liar berbunga telah berada di depan mata, memancarkan keindahan dari berbagai warna. Pemandangan matahari terbenam juga membantu menyinari hingga mencapai klimaksnya.
“Berhasil!!” jerit Beatrice.
Hunt mengumumkan, “Kelompok 15, kalian kelompok ketujuh yang berhasil keluar dari Labirin Oslork!”
Sierra menghela napas sambil membelai rambut panjangnya. “Kerja bagus, Sans.”
“Ah!” jeritan Yudai terdengar dari belakang hingga membuat Sans, Beatrice, dan Sierra menoleh.
Seperti yang diduga, kelompok 13, Yudai, Tay, dan Neu; akhirnya juga tiba sambil ngos-ngosan, benar-benar kelelahan. Menyusuri Labirin Oslork selama beberapa jam tanpa minum dan tenaga memadai akhirnya berbuah hasil.
“Akhirnya!” Neu mulai merobohkan tubuhnya ke lantai.
Tay justru tidak melontarkan komentar apapun, melainkan mengabaikan seakan tidak kenal kedua rekan satu kelompoknya. Dia melangkah menjauhi dirinya dari Yudai dan Neu.
“Sans!” sahut Yudai menemui Sans.
“Neu! Kamu juga berhasil!” jerit Beatrice mendekati Neu.
Sans menyoraki Yudai. “Kebetulan! Kita menyelesaikan tugas ini dalam waktu yang hampir bersamaan!”
Neu menghela napas sebelum mengungkapkan pada Beatrice, “Kamu takkan percaya apa yang terjadi pada kelompok 13 selama di dalam Labirin Oslork.”
Sierra ikut terdiam menyaksikan keempat sahabat karib di hadapannya itu kembali berkumpul. Dia kembali membelai rambut panjangnya sambil berpaling pandangan pada kelompok lain.
Begitu matahari terbenam, setidaknya sembilan kelompok telah berhasil lolos dari Labirin Oslork dengan selamat. Butuh waktu beberapa lama bagi seluruh profesor pendamping untuk menemukan seluruh kelompok yang masih berada di dalam Labirin Oslork.
Yudai menganggapi pernyataan Sans, “Hah? Aku tidak bertemu siapapun selagi di Labirin Oslork.”
“Masa? Ta-tapi aku bertemu dengan orang aneh, pria berambut panjang, namanya kalau tidak salah Spinarcia. Dia bilang dia ingin menguji kami.”
“Hanya pergantian tatanan labirin dan munculnya kabut, dua itu bahkan tidak disebutkan oleh Profesor Dolce dan Profesor Hunt. Mungkin mereka memilih kelompok tertentu untuk diuji seperti kelompokmu, dengan memunculkan orang aneh seperti um—”
“Spinarcia.”
“Benar.”
***
Akhirnya, memasuki hari terakhir tamasya di kota Silvarion, seluruh murid tahun pertama akan kembali ke Akademi Lorelei. Sama sekali tidak terduga apa yang telah terjadi, mulai dari memakan hidangan aneh seperti siput escargot dan hiu fermentasi hingga mendapat tugas untuk lolos dari Labirin Oslork, kejadian tersebut terekam menjadi sebuah salah satu kenangan berkesan bagi kebanyakan murid.
Setelah selesai membereskan segalanya di kamar penginapan masing-masing dan menikmati sarapan, semua murid tahun pertama satu per satu, sesuai kelompok masing-masing, mengucapkan selamat tinggal pada kota Silvarion dengan kembali mengunggangi kereta kencana menuju pantai.
Bagi Tay dan Neu, tamasya tersebut hampir menjadi penyiksaan batin. Hampir setiap waktu mereka harus bersama sebagai teman satu kelompok. Begitu lega bahwa semuanya telah berakhir. Kabar buruknya, mereka tetap harus bersama sebagai teman sekamar di asrama.
Silent treatment lagi-lagi mendominasi kereta kencana kelompok 13. Sama sekali tidak terlontar kata terima kasih dari mulut Tay atas kejadian pada hari sebelumnya. Neu juga membuang muka dengan menghadap jendela, kembali menatap pepohonan sebagai pemandangan untuk menenangkan diri.
Hal yang sama juga tergambar pada perasaan Yudai. Dia lega tidak perlu menyaksikan perseteruan antara kedua teman sekelompoknya secara langsung. Itu salah satu kabar baiknya.
Yudai sama sekali belum memiliki petunjuk apapun tentang keberadaan kedua orangtuanya, baik dari luar dan dalam kota Silvarion. Tanpa petunjuk apapun, pencarian informasi tersebut akan berujung sia-sia dan mengganggu waktu wisata bersama murid tahun pertama lainnya.
Yudai berjanji dalam hati, suatu saat nanti jika sudah menemukan sebuah petunjuk, dia akan kembali ke kota Silvarion, demi menemukan petunjuk keberadaan kedua orangtuanya.
Sementara Sans, terdiam menatap kedua teman sekelompok di hadapannya, Beatrice dan Sierra, saling bercengkerama di dalam kereta kencana. Renungan akan kejadian di Labirin Oslork membuatnya terpukul, terpukul untuk membulatkan tekad.
Sans juga tetap memasang tujuan utama mengapa dia datang ke Akademi Lorelei dan ingin menjadi kuat dalam bertarung, ibunya, ibunya yang tetap berada di mata air kehidupan dalam jangka waktu lama.
Dia putar ulang di dalam benaknya saat melawan Spinarcia. Sans belum cukup kuat. Dia ingin menjadi lebih kuat dan berguna dalam pertarungan, menyamai tingkat teman-temannya, tak lain adalah Beatrice, Yudai, Neu, dan Sierra.
Selanjutnya, Sans tahu apa yang harus dia lakukan.
***
Butuh setidaknya dua hari satu malam untuk perjalanan pulang dari benua Riswein menuju benua Aiswalt, sama seperti saat keberangkatan. Hanya terganggu oleh badai, setidaknya tidak terlalu mengganggu waktu tidur murid tingkat atas di atas lantai salah satu ruangan kapal.
Hari esok telah tiba saat kapal telah mendarat di benua Aiswalt, lebih tepatnya di pantai dekat kota pusat kerajaan Anagarde. Keluar dari kapal sambil berbaris secara beraturan dan lurus tanpa bengkok, aroma, suasana, dan udara dari benua Aiswalt langsung terasa. Beberapa murid, termasuk Yudai, sampai mengucapkan “Aku pulang”.
Setelah melewati kota dan hutan perbatasan, kastil Akademi Lorelei kembali mereka masuki. Memasuki ruang depan kastil, terasa seperti rumah bagi kebanyakan murid tahun pertama.
Karena baru saja pulang dari tamasya di kota Silvarion, waktu bebas diberikan pada seluruh murid tahun pertama. Tidak heran, kebanyakan murid langsung bergerak menuju gedung asrama, seperti halnya yang dilakukan oleh Tay dan Sierra. Beberapa lagi memutuskan untuk pergi ke kota atau perpustakaan akademi.
Menatap seluruh murid tahun pertama berpencar, Sans, Beatrice, Yudai, dan Neu menjadi empat murid terakhir yang berdiri di ruang depan akademi. Tidak tahu ingin melakukan apa untuk menghabiskan waktu bebas seharian penuh, Beatrice meniupkan napas sejenak.
Menatap Sans, Yudai, dan Neu telah berada di hadapannya, Beatrice terpikir bahwa ini saatnya untuk mengungkapkan permintaan sang pelayan keluarga, Oya, pada mereka. Terpikir bahwa akan mudah untuk mengungkapkan melalui kata-kata.
Namun, keraguan berasal dari ancaman Oya dari benaknya justru menahan kata-kata tersebut terlontar melalui mulut. Ancaman Oya untuk mengeluarkannya dari akademi terus terpikir membuatnya bungkam.
Neu membuka suara, “Kalian mau ikut ke perpustakaan? Sebaiknya kalian juga mencari informasi di sana.”
Yudai menolak halus, “Aku ingin berlatih memanah di ruang kelas archer.”
“Eh? Memang kamu tidak lelah?”
“Daripada waktu luang seharian penuh dihabiskan hanya untuk istirahat, akan lebih baik aku memfokuskan diri untuk berlatih.”
“Bagaimana dengan kalian, Sans, Beatrice?”
Beatrice tercengang seraya terbuyar dari lamunannya. “Eh? A-aku tidak tahu.”
“Aku juga ingin kembali ke asrama,” ungkap Sans.
Yudai berubah pikiran dengan semangat. “Baiklah! Sans, aku akan ke asrama dulu, lalu nanti siang, aku berlatih. Apa nanti sore kamu ingin berlatih?”
“I-iya. Aku harus menjadi lebih kuat lagi. Aku tidak ingin diam saja menyaksikan kalian bertarung.”
Beatrice justru memuji, “Kamu sudah hebat. Kamu melawan orang asing itu di Labirin Oslork.”
“Beatrice.” Suara Hunt terdengar dari belakangnya. “Ada seorang perempuan ingin menemuimu. Ikut aku.”
“Eh?” jerit Beatrice.
Beatrice mulai tegang memikirkan kemungkinan bahwa perempuan yang mendatangi Akademi Lorelei untuk mencarinya adalah sang ibu. Detak jantungnya mulai berdebar kencang hingga menyebabkan tumpukan batu simbolis pada kepala. Beatrice berpikir tidak mungkin ibunya tiba di Akademi Lorelei beberapa hari setelah Oya mengajukan permintaan dan ancaman.
Beatrice pun terdiam sambil menemui Hunt, tidak mengajukan satu kata pun. Dia mengikuti Hunt melewati pintu utama dari kastil akademi.
“Mungkinkah? Jangan-jangan seseorang dari keluarga Beatrice. Ibunya, bukan?” Yudai menebak.
Neu menyimpulkan, “Sudah cukup lama Beatrice tidak pulang ke rumah, apalagi aku tahu keluarganya melarang untuk keluar dari rumah tanpa izin, apalagi becengkerama dengan laki-laki.”
“Jadi begitu.”
“Omong-omong, kita bertemu di kantin nanti siang,” Neu pamit.
Selagi menaiki tangga, Neu terpikir, Beatrice tidak boleh sampai dipaksa untuk pulang ke kampung halamannya di Riswein. Apalagi peluang bahwa perempuan yang mengunjungi akademi itu adalah ibunya Beatrice. Memang lama kelamaan semua akan terbongkar, terutama keberadaan Beatrice di Akademi Lorelei sebagai murid.
Neu tentu tidak ingin perjuangan Beatrice menjadi song mage dibilang sia-sia. Dia sudah mendengar perkembangan ketika Festival Malam Walpurgis. Baginya, senyuman Beatrice, terutama saat bersama Sans, Yudai, dan dirinya, merupakan kesenangan tersendiri.
Yudai bertanya pada Sans setelah Neu berlalu dari pandangan, “Jadi, kamu akan membaca Buku Dasar Alchemist lagi?”
Sans mengangguk. “Aku masih harus belajar dasarnya, demi menyembuhkan Ibu.”
***
Tubuh Beatrice sampai gemetar ketika mengelilingi taman, khawatir bahwa sang ibu telah tiba di Aiswalt, terutama di Akademi Lorelei. Ancaman Oya pun sungguh akan menjadi kenyataan secepat angin.
“Nyonya.” Hunt berhenti di dekat sebuah aliran sungai dikelilingi oleh taman bunga.
Menatap perempuan itu berbalik menampakkan wajah, Beatrice akhirnya dapat bernapas lega. Ketegangan pun sirna menjadi sebuah kesenangan, tergambar dari lengkungan bibir ke atas.
“Te-Teruna,” Beatrice memanggil nama perempuan itu ketika Hunt kembali menuju akademi.
Perempuan berambut pendek dengan ikatan membentuk ponytail di belakang di hadapannya itu mendekati dan mulai mengeratkan pelukan, melepas rasa rindu. Beatrice menganggap Teruna sebagai pelayan pribadinya.
“Oh, Beatrice, syukurlah. Kamu baik-baik saja di Akademi Lorelei. Lihat dirimu, kamu benar-benar cantik dan tangguh,” sambut Teruna ketika melepas pelukan. Song sphere di genggaman tangan kiri Beatrice menjadi perhatiannya. “Kamu menjadi song mage. Aku tidak percaya ini, kata ayahmu song mage cukup langka.”
“Teruna, kengapa jauh-jauh kemari? Aku bilang aku akan baik-baik saja sebelum pergi.”
“Aku tahu. Tapi aku harus menyampaikanmu sesuatu. Keadaan tidak pernah sama semenjak kamu pergi dari rumah, semuanya berubah.”
“Ya, aku tahu, Oya sudah menemuiku di Silvarion. Dia memiliki sebuah permintaan.”
“Beatrice sayang, aku harus memberitahumu sebuah kabar dari rumah, beberapa lama setelah kamu pergi dari rumah. Ini tentang ayahmu.”