Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 119



“Uh ….” Duke perlahan melepaskan bahu kirinya dari tancapan kristal. Darah pun mulai bercucuran ke lantai, membuat Sans lebih tercengang.


“Pr-Profesor—” Sans masih dalam keadaan terkejut, apalagi menyaksikan Duke telah terluka parah akibat serangan wyvern crystal.


Sans sampai berkeringat menyaksikan wyvern crystal melangkah perlahan. Ia mengalami hiperventilasi dan menggigil menatap wyvern crystal tepat pada mata. Takut, sangat takut, apalagi melihat Duke telah menjadi korban serangan makhluk itu. Baginya, situasi ini lebih buruk daripada saat ia menghadapi basilisk bersama Beatrice, Yudai, Riri, dan Katherine.


“A-a-ambil kristalnya!” Sahutan Duke membuyarkan Sans dari alam bawah sadarnya.  


Panik, Sans langsung meraih potongan kristal yang bertebaran di lantai. Secara terburu-buru ia langsung melempar setiap genggaman kristal ke dalam kantungnya hingga suara wyvern crystal meraung lebih keras.


Duke perlahan bangkit tanpa memedulikan nyeri hebat dari bahu kirinya. Ia segera menepuk pundak Sans cukup keras sebagai peringatan.


“Sudah cukup, cepat lari sebelum—”


Wyvern crystal itu kembal meraung dan mengempaskan kristal yang tertempel di seluruh kulitnya sebagai peluru. Ia mengipaskan sayapnya dua kali sebagai pemicu meluncurnya setiap kristal.


“Ah!” jerit Sans menoleh.


Duke mendorong dirinya dan Sans demi menghindari tembakan kristal-kristal. Tubuh mereka terbentur ke lantai, terutama bahu Duke yang semakin dahsyat rasa sakitnya.


“Duke!” Sans menggotong bahu kanan profesornya seraya membantunya berdiri. Ia mulai mempercepat langkah dan berhati-hati sambil menggiring profesornya pada saat yang bersamaan.


Pertama, jalan yang telah menjadi bekas tiga pasang rune mereka harus lalui. Memang terlihat mudah tanpa ancaman sama sekali. Akan tetapi, suara nyaring dari wyvern crystal juga menjadi pemicu tenaga terempas dalam lari Sans.  


Sans tidak ingin dirinya dan Duke menjadi korban dari serangan wyvern crystal hingga mati. Ia tentu tidak ingin perjalanannya sebagai murid akademi Lorelei dan alchemist terhenti, apalagi ia baru melewati langkah pertama untuk membuat gauntlet, langkah selanjutnya untuk mencapai tujuannya.


Jalan menanjak dan menikung menjadi hal selanjutnya yang harus ia langkahi. Harus cepat dan berhati-hati, apalagi beban setiap langkah sangat berat, ditambah lagi ia sambil menggandeng Duke.


Langkah lari Sans menjadi beban dalam bernapas, penat semakin cepat menghadang. Adrenalin di dalam tubuhnya memuncak hingga detak jantung semakin terpacu. Tanpa melihat ke belakang, ia dapat merasakan hawa dari wyvern crystal tepat di belakangnya.


Mengambil tikungan pertama dari tanjakan itu, ia melewati lubang yang setara dengan 1,85 meter. Begitu Sans dan Duke telah melewati jalan tersebut, tubuh wyvern crystal akhirnya tertubruk oleh pembatas jalan, kepalanya sama sekali tidak muat.  


Cukup beruntung, dinding batu cukup kokoh jika terhantam tubuh berkristal wyvern crystal. Makhluk itu mengamuk tidak dapat mendapatkan kedua mangsanya.


Sans terus berlari melewati tanjakan hingga akhirnya tiba di jalan landai, itulah saat para golem menanti. Tidak ada waktu untuk meladeni para golem, itulah pikir Sans. Satu-satunya hal yang harus ia lakukan yaitu meloloskan diri dari tambang kristal Munich.


Selesai lolos dari para golem, satu lagi jalan menanjak telah menanti, yaitu jalan menuju pintu keluar tambang yang menanjak. Begitu sebuah cahaya telah di depan mata, hal itu menandakan sebuah jalan keluar telah dekat.


Lelah, sangat lelah setelah melewati jalan menanjak terakhir. Sans dapat bernapas lega ketika langit putih kelabu telah berada pada pandangannya. Ia berhasil keluar dari tambang kristal Munich.


“Profesor,” panggil Sans khawatir menatap Duke masih meringis menahan luka dalam pada bahu kirinya.


Cukup panik. Ia terburu-buru membuka kantongnya dan mengambil satu botol ramuan penyembuh luka.


“Ini, minumlah.”


Duke sigap mengambil botol ramuan itu menggunakan tangan kanannya. Masih saja menggeretakkan gigi menahan nyeri dahsyat. Ia menggunakan gigi untuk membuka tutup gabus dan meniupnya ke lantai.


Secara tidak sabaran, ia mendekatkan mulut botol pada mulutnya dan meminum ramuan itu dalam satu tegukan tanpa sisa. Meski ramuannya telah habis, masih saja ia meringis kesakitan.


“Se-sepertinya i-ini tidak cukup. Ba-bawa saya ke desa terdekat.”


Sans menyadari bahwa luka yang Duke derita itu bukan sekadar luka biasa seperti saat seseorang terkena serangan biasa seperti satu tebasan pedang. Ia harus segera ke desa terdekat agar Duke dapat beristirahat.


***


Butuh kira-kira setengah hari dari tambang kristal Munich untuk mencapai sebuah desa terdekat. Desa itu memang tidak asing bagi Sans semenjak ia pernah ke sana. Benar, desa itu adalah desa Salazar. Dari bekas reruntuhan monument selamat datang, ia dapat mendapat kilasan balik


Desa itu masih dalam proses restorasi. Meski ada beberapa bangunan yang telah terbangun kokoh, masih ada beberapa bangunan yang masih belum selesai, dari dinding terbuka, tumpukan batu-bata yang masih belum lengkap, dan bangunan yang masih belum memiliki atap.


“Penginapan … semoga penginapan sudah jadi,” gumam Sans begitu melewati sebuah reruntuhan.


“Ke-kenapa kamu hanya diam?” gumam Duke.


“E-eh?” Sans tercengang atas reaksi Duke.


“Pe-pertama, saat dirimu tiba di kota atau desa dalam kondisi mengkhawatirkan seperti saya, a-apalagi dalam membawa rekanmu sendiri, se-seharusnya kamu berteriak meminta pertolongan.”


Sans lagi-lagi mengisap napas, membeku karena tidak terpikir hal seperti itu.


“Ah, ka-kamu—” Seorang laki-laki berkepala gundul dan berjenggot putih tebal menyahut menemuinya.


“A-Anda—” Sans mengenalinya sebagai kepala desa Salazar. “—a-anu … apa ada tempat—”


“Ah!” ucap laki-laki itu tercengang menatap Duke yang tengah terluka parah. Ia langsung menyahut salah satu perempuan yang baru saja keluar dari bangunan di dekatnya. “Kamu! Apa ada bangunan yang masih kosong dan sudah jadi?”


“I-iya.”


“Antar mereka ke sana! Sekarang juga!”


“B-baik!”


Perempuan itu dengan sigap mengantar mereka pada salah satu bangunan yang baru saja selesai dibangun, tepat di dekat pusat desa, di mana masih banyak reruntuhan dan bangunan yang masih dibangun pula.


Dinding batu hitam menjadi ciri khas dari bangunan yang baru saja dibangun itu. Begitu melewati pintu kayu bangunan itu, hampa, itulah kesan pertama bagi Sans. Tidak ada apapun selain dinding hitam dan lantai batu.


“Mo-mohon maaf karena bangunan ini baru saja jadi, maka—”


“Ti-tidak masalah,” ucap Duke “Ini saja sudah cukup.”


“Baiklah. Jika butuh bantuan harap beritahu saja.” Perempuan itu membusungkan badan dan pamit.


Sans membantu Duke berbaring di dekat dinding secara perlahan. Dapat ia lihat bahwa Duke menggeretakkan gigi menahan sakit ketika bahu kirinya mendarat pada lantai batu, sesuatu yang membuat Sans sedikit ngeri.


“Ini saatnya kamu menggunakan skill yang telah kamu pelajari di ruangan saya,” ucap Duke.


“Jika percobaan pada tikus waktu itu berhasil, kamu juga pasti bisa menyembuhkannya. Lalu … saya tahu kamu punya sebuah scroll di kantongmu. Saya tahu itu adalah sebuah scroll untuk menyembuhkan, coba kamu gunakan setelah skill itu.”


“A-Anda tahu saya bawa scroll itu?”


“Benar. Lakukan saja.”


“Ba-baik!”


Terlebih dahulu, Sans menyentuh bahu kiri Duke, sedikit menekan meski tahu rasa sakit sedikit meningkat. Ia melafalkan sebuah mantra khusus skill tersebut dengan berbisik, hampir tidak terdengar oleh Duke.


Ia menutup mata memusatkan tenaga sambil melafalkan mantra. Tenaganya pun berubah menjadi sebuah sinar berwarna hitam di sekitar bahu Duke. Sinar itu meledak-ledak mulai menghentikan perdarahan hebat di dalam luka tersebut.


“A-aaah!” jerit Duke masih kesakitan.


Sans menatap rasa nyeri pada Duke belum menghilang seutuhnya setelah selesai menggunakan skill penyembuh tingkat pertama. Ia menyadari inilah alasan mengapa scroll itu tepat digunakan.


Begitu ia meraih scroll itu dari dalam kantongnya, ia kembali bertanya-tannya dalam hati. Ia sama sekali tidak mengingat menaruh scroll itu di dalam kantongnya, apalagi menyentuhnya pertama kali.


Pertanyaan yang sama persis seperti saat ia berada di kamar sebelum berangkat kembali terpancar. Apakah scroll itu merupakan kejutan dari Neu untuknya semenjak temannya itu merupakan mage? Sebuah kemungkinan, Yudai menaruh scroll itu tanpa Sans mengetahuinya.


Begitu ia meraba-raba gulungan scroll tipis itu, terpiculah sebuah ingatan. Ingatanya yang tidak ia sangka sama sekali.


***


“Enak sekali!!” seru Beatrice menikmati sepotong permen apel sambil menikmati hari ketiga bazaar Festival Melzronta.


Sans hanya mengangguk sambil menggigit permen apel yang ia pegang. Sambil melihat sekeliling, melihat setiap stand menjajakan barang dagangannya, ia merasa sudah terlibat dalam keramaian Festival Melzronta. Dalam hati ia cukup bersenang-senang, apalagi setelah meyelesaikan tugas hari ketiga.


Lepas dari lamunannya, ia menyaksikan Beatrice mulai berlari cepat dengan girang, seakan masuk ke dalam kerumunan orang.


“Be-Beatrice, tu-tunggu!” seru Sans. “Pelan sedikit!”


Ketika ia menyusul memasuki kerumunan itu, Beatrice sudah tidak berada di depan mata. Ia tercengang ketika tidak ada seorang pun di dalam kerumunan itu yang ia kenal.


“Beatrice? Beatrice?”


Tidak ingin membuang waktu dan tenaga untuk mencari Beatrice dan kebingungan dalam tersesat, ia lebih memilih untuk berjalan sendiri. Saat ia berbelok, sebuah stand telah memikat perhatiannya.


Kumpulan scroll berjajakan di stand tersebut sungguh berbeda daripada kebanyakan stand yang menjual makanan. Belum sempat ia kembali berjalan, sebuah sentuhan dari belakang membuatnya tercengang.


Seorang wanita berambut putih dan berkeriput serta berhoodie cokelat dekil merupakan orang yang menyentuhnya. Sans cukup tertegun ketika wanita tua tiu merupakan pemilik stand scroll tersebut.


“Kamu tertarik dengan scroll ini, bukan?”


“A-aa—” Sans begitu ragu dalam menjawab. “—aku hanya melihat-lihat—”


“Ah, saya tahu scroll yang paling menarik perhatianmu.” Wanita tua itu seakan bisa mencuri pikiran Sans. “Ini. Scroll yang akan bermanfaat untukmu. Saya tawarkan ini hanya 20 vial.”


“Ta-tapi—”


“Harga murah ini tidak akan kamu dapatkan di toko scroll manapun, apalagi scroll yang sangat bagus ini. Ini adalah scroll advance healing, dapat menyembuhkan luka parah sekalipun.”


“A-aku bukan ma—”


“Tidak apa-apa. Kamu pasti tergiur dengan harga murah, kan? Apalagi barang istimrwa ini? Jangan khawatir, ini bukan scroll palsu, jadi ini akan bermanfaat untukmu.”


Merasa tidak enak jika menilai dari penampilan sang penjaga stand yang sudah tua renta itu, Sans menghela napas. Ia akhirya mengambil scroll yang ditawarkan wanita itu dan membayar uang sebesar 20 vial.


“Terima kasih, Nak. Anda benar-benar membuat keputusan tepat. Anda akan menjadi seorang petualang yang baik.”


***


Sans kini menyadari bahwa ia secara tidak sadar tergoda untuk membeli scroll tersebut. Memang bukan pemberian Neu atau Yudai, melainkan secara impulsif ia mendapatkannya sendiri.


Mengingat perkataan Duke bahwa ia tahu kegunaan scroll itu, ia berpikir dua kali. Ia sama sekali belum memberitahu kegunaan asli scroll itu, apalagi menguji keasliannya.


Ketika menyaksikan Duke masih meringis kesakitan, Sans membuat keputusan. Tidak ada salahnya untuk mencoba. Ia hanya berharap scroll advance healing itu benar-benar asli dan manjur dalam mengobati luka dalam bahu kiri Duke.


Ia membuka gulungan scroll itu dengan menarik dari dua arah. Ia mengarahkannya pada bahu kiri Duke secepat mungkin ketika sebuah sihir dari dalamnya mulai keluar dalam bentuk sinar putih.


Sinar putih dari dalam scroll itu mulai merambat menuju luka dalam bahu kiri Duke. Sihir itu menyinari sekitar luka dan terserap ke dalam saraf. Kekuatan dari scroll advanced healing turut membantu menghalangi respon nyeri menuju otak, berangsur-angsur luka dalam Duke mulai pulih.


Namun, luka tersebut menutup menjadi bekas berwarna kecokelatan sebagai hasil dari proses pembekuan darah. Hal ini berarti proses penyembuhan luka dalam belum selesai seutuhnya. Skill penyembuhan tingkat pertama Sans berhasil menghentikan perdarahan, sementara scroll


Advance Healing menutup luka dalam Duke mulai dari menghentikan rasa nyeri pada saraf hingga membantu proses pembekuan darah.


Tahap terakhir, demi menyempurnakan proses penyembuhan luka pada bahu kiri Duke, sesuai perintah, Sans menyerahkan sebotol ramuan cairan merah, yaitu ramuan penyembuh luka. Terlebih dahulu, ia membuka tutup botol gabus sebelum berada di genggaman Duke.


Duke perlahan menempatkan tangan kanan pada lantai sebagai tumpuan untuk bangkit dari posisi berbaring menuju posisi duduk. Dengan tangan kiri, ia mendekatkan mulut botol ramuan pada mulutnya secara perlahan. Ia meminum ramuan itu dalam satu teguk.


Sans dapat bernapas lega ketika menatap bekas luka pada bahu Duke lama kelamaan tersamarkan berkat ramuan penyembuh lukanya. Dengan begitu, Duke sudah baik-baik saja, kekhawatirannya sudah mereda.


“Beruntung kamu membawa scroll Advance Healing. Saya tidak perlu bertanya bagaimana kamu mendapatkannya. Yang jelas, kamu sudah melakukan proses penyembuhan dengan baik.”


“Sa-saya—” Sans kembali mengingat-ingat bagaimana ia mendapat scroll Advance Healing tersebut. “—hanya kebetulan mendapatkannya—”


Belum slesai berbicara, kepala Sans mulai bergoyang kesana-kemari, menandakan bahwa dirinya sangat lelah setelah berjalan sambil membawa Duke menuju desa Salazar. Tidak dapat menahan rasa kantuk dan berputar-putar lagi, Sans akhirnya menutup mata dan mulai berbaring. Ia pun membiarkan kelelahan mendominasi tubuhnya.


Sans tertidur cukup lelap, terlihat dari mulutnya membuka-tutup. Dengkuran cukup nyaring menandakan bahwa ia sangat lelah setelah melewati hari yang menguras tenaga lebih.


Duke mengangguk menyaksikan Sans. “Kamu sudah berkembang. Mulai besok, tantanganmu sebagai alchemist baru akan dimulai.”