Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 66



Situasinya sama seperti saat aptitude test bagian akhir. Seluruh murid tahun pertama, tidak memandang warna mantel, telah tiba di ruang latihan bertarung, mendapati seluruh profesor, beberapa dari mereka akan menjadi instruktur atau penguji, telah berdiri di hadapan mereka dan membelakangi setiap ring.


Ruang tersebut merupakan ruangan yang sama persis ketika mereka menghadiri kelas bertarung pertama pada awal semester. Juga ruangan tersebut biasanya dipakai sebagai ruang latihan khusus swordsman. Tay tentu mengenali atmosfer lebih tajam daripada kelima teman dekatnya, ring kosong pun terdapat sebanyak 12, masing-masing enam dalam satu barisan.


Hunt menyambut seluruh murid tahun pertama, “Selamat datang di ujian bagian duel. Selamat datang kembali di ruang di mana kalian telah berlatih dan menghadapi aptitude test bagian akhir. Seperti yang sudah kalian ketahui, beberapa instruktur atau biasa kalian panggil profesor, telah berada di hadapan kalian untuk menjadi lawan duel. Kami ingin melihat bagaimana perkembangan kalian semenjak aptitude test berakhir.


“Tapi sebelum kita mulai, khusus murid job priest dan mage tipe support, kalian tidak akan diuji dalam duel.”


Seluruh murid priest dan mage tipe support tahun pertama menyatakan kelegaan masing-masing, mengetahui bahwa kebanyakan dari mereka tidak memiliki kemampuan bertarung, baik dalam fisik atau sihir. Jeritan dan sorakan meledak di antara mereka.


“Harap tenang!” Hunt memecah keramaian tersebut. “Alih-alih menghadapi duel sebagai bagian dari ujian, kalian tetap memiliki tugas selama ujian duel berlangsung. Kalian harus menyembuhkan setiap murid yang terluka dan semuanya akan diawasi oleh instruktur job priest dan mage tipe support, termasuk profesor pengampu kalian. Silakan kalian memisahkan diri dan menemui instruktur kalian di sudut kiri.”


Begitu Hunt melambaikan tangan kanan menunjukkan lokasi instruktur job priest, seluruh murid job priest dan mage tipe support, termasuk Sierra dan Katherine, memisahkan diri dari seluruh murid tahun pertama.


“Satu lagi, saya ingin bertanya pada Beatrice, sebagai satu-satunya murid song mage. Sudahkah kamu memilih pasanganmu dalam menghadapi ujian duel. Patut diingat, pasanganmu tidak akan menghadapi instruktur sesuai dengan job-nya.”


Beatrice menjawab pertanyaan Hunt, “Aku memilih Neu.”


Neu mengangguk. “Ya. Dia memilihku. Dia ingin menggunakan lagu yang baru saja dia pelajari.”


“Baik.” Hunt kemudian memanggil instruktur khusus song mage. “Profesor Danson, Anda akan menghadapi Beatrice dan Neu bersama saya.”


“Baik,” ucap Danson, seorang lelaki berambut pendek putih dan berkacamata. “Saya juga ingin melihat bagaimana perkembangan anak didik saya sendiri sejauh ini. Apapun hasilnya, kamu akan menunjukkan apa saja yang telah kamu dapat selama satu semester. Tunjukkan kemampuanmu bersama pasangan bertarungmu, Beatrice.”


Beatrice mulai kewalahan ketika merespon, apalagi mengetahui bahwa Danson tidak akan menahan diri selama duel berlangsung. “Ba-baik! A-aku akan berusaha!”


Profesor yang mengungkapkan diri sebagai instruktur mage tipe attacker itu juga mengumumkan, “Beatrice, Neu, kalian akan bertarung di ring paling kanan. Saya harapkan kalian mengeluarkan kekuatan sebaik mungkin.


“Khusus yang lain, setiap instruktur akan memanggil nama kalian satu per satu secara acak. Masing-masing job memiliki dua instruktur yang akan memilih kalian dan bertarung secara bergantian, khusus swordsman dan archer ada tiga, mage juga ada tiga, termasuk saya. Kalian hanya diuji satu kali dalam batas waktu 10 menit. Patut diingat, aturannya kurang lebih sama dengan saat menghadapi aptitude test bagian akhir, kalian dapat menyerah jika tidak mampu melanjutkan duel. Tetapi, khusus murid bermantel putih, Dolce akan menjadi lawan kalian.”


Mayoritas dari murid tahun pertama beralih pandangan pada beberapa murid bermantel putih. Percakapan kembali pecah begitu mengetahui Dolce, sebagai profesor yang paling ditakuti sebagai lawan duel, apalagi sebagai alumni nomor satu sepanjang masa, harus menjadi hal kesialan bagi mereka.


Dolce mengungkapkan, “Khusus murid bermantel putih, saya sudah mengamati senjata pilihan kalian, kebanyakan dari kalian memutuskan untuk tidak menggunakan sihir sebagai senjata. Asal kalian tahu, saya bukan hanya ahli memanah, saya juga mampu menggunakan senjata seperti belati, pedang, dan halbert, serta bahkan tangan kosong.”


“Baik. Saya serahkan pada setiap instruktur untuk memanggil nama yang siap untuk menjadi lawan masing-masing. Beatrice, Neu, Profesor Danson, kita ke ring paling kanan di barisan pertama.”


“Semoga berhasil,” ucap Sans pada Beatrice dan Neu yang mulai memisahkan diri.


“Berjuanglah!” seru Yudai.


“Ba-baik!” ucap Beatrice begitu dia dan Neu mulai mengikuti langkah Hunt dan Danson.


“Zerowolf,” salah satu instruktur archer, Baron, profesor lelaki berambut merah, memanggil.


Zerowolf tertegun tidak menyangka dirinya akan dipanggil sebagai murid archer pertama yang akan menghadapi duel. Dia menoleh pada Yudai yang berada cukup dekat di samping kanannya.


“Kenapa aku duluan yang dipanggil.”


“Setidaknya kamu beruntung dipanggil paling pertama sebagai murid archer.”


“Yudai, suatu saat nanti, setelah ujian duel ini, aku akan kembali menantangmu dalam duel!” sumpah Zerowolf.


Yudai justru mengalihkan, “Ma-maksudmu duel mock battle, kan? Ah, aku jadi lupa soal itu.”


“Po-pokoknya aku akan menang!” Zerowolf menunjuk Yudai. “Sebelumnya, kamu saksikan saja bagaimana aku bertarung! Lihat saja bagaimana kemampuanku semenjak kalah darimu dalam mock battle yang lalu!”


“Ah, ta-tapi kan, aku juga ingin menyaksikan pertarungan Beatrice dan Neu.”


“Li-lihat saja diriku!” seru Zerowolf. “Pokoknya pelajari dan tontonlah aksiku.”


Alexandria mengumumkan, “Bagi murid yang telah dipanggil namanya, harap ikuti lawan kalian menuju ring!”


Tay mengomentari tingkah Zerowolf, “Merepotkan saja, memangnya dia tukang pamer?”


Yudai justru mengulum senyuman, “Menurutku dia bukan orang yang seperti itu.”


“Uh, alis melengkung. Pandanganmu sama sekali tidak berubah pada dia. Perhatikan saja dia. Dia bahkan ingin dirimu melihatnya bertarung, padahal kita ingin menyaksikan si sunhat putih dan si mata empat  Dia justru ingin mencari perhatian setelah—”


“Dia bukan orang yang seperti itu. Ya, aku juga butuh pemanas seperti seorang rival. Zerowolf orangnya.”


Begitu seluruh murid yang telah terpanggil telah berdiri di hadapan lawan masing-masing di ring, Dolce mengangkat tangan kanannya sambil berbalik.


Neu berpesan pada Beatrice sambil menggenggam erat tongkatnya, “Beatrice, lakukanlah sebaik mungkin. Jangan khawatir, kita akan melawan mereka bersama-sama. Kamu bernyanyi saja sekuatmu.”


“Ba-baik, a-aku akan berusaha.” Beatrice hampir tidak bisa menyembunyikan ketegangannya.


“Baik, pertarungan putaran pertama—” seru Dolce.


Di ring yang lain, Zerowolf mengangkat busur menggunakan tangan kiri dan mengambil salah satu busur dari quiver-nya, menempatkan kaki kanan di depan, menghadapi Baron.


“—dimulai!”