Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 196



Tidak biasanya seluruh murid yang memutuskan untuk tinggal di asrama Akademi Lorelei untuk berkumpul kembali di ruang utama kastel. Fakta karena mayoritas dari penghuni asrama pulang ke kampung masing-masing membuat setengah dari lantai ruang depan kosong melompong.


Arsius berdiri membelakangi pintu keluar, menghadap seluruh murid, profesor dan staf yang tetap tinggal di akademi selama awal musim panas. Beberapa royal guard yang terlibat seperti Tatro dan Irons juga mengiringi mereka di dekat tangga.


Arsius mendesah, berat baginya untuk menyampaikan kabar dan pidato di luar aula, apalagi sebuah kabar buruk. Seperti sebuah tangki pipa macet, kata-katanya melambat melewati kerongkongan keringnya. Ia menghela napas.


“Hari ini—” Arsius kembali menarik napas. “—kita kehilangan sosok yang berharga, sangat kehilangan. Seperti yang kalian tahu, Profesor Duke merupakan profesor yang luar biasa, masih muda, berani … dan kritis dalam berpendapat.


“Beliau mungkin baru saja satu tahun berada di sini sebagai seorang profesor, profesor pengampu pelajaran Sejarah Kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei. Beliau mungkin, seperti yang kalian tahu, melanggar sebuah aturan di akademi, menjadi seorang alchemist, mungkin sebelum ia menginjakkan kaki di akademi ini.”


Mendengar pidato dari Arsius tentang Duke, Sans menundukkan kepala, menghela napas mengingat kenangan terakhir bersama profesor yang menjadi mentornya itu. Air matanya masih menetes di pipi, sayatan tajam dan dalam di hatinya masih belum terobati.


Beatrice dan Yudai yang berada di sampingnya juga menghela napas mendengar pidato Arsius. Wajah mereka masam, mengingat perjuangan Duke selama berada di akademi, termasuk membantu mereka menginvasi markas Royal Table.


Sans, Beatrice, dan Yudai telah gagal menangkap Sierra, apalagi mengalahkan dirinya, Spinarcia, dan Eldia. Sebuah pengkhianatan besar yang tidak mereka pernah sangka.


Itupun juga terasa bagi Tay, Neu, Riri, Katherine, Zerowolf, Lana, dan Sandee. Ruka hanya acuh tak acuh, menghadapkan wajahnya mengarah pada Arsius.


Suka atau tidak, seluruh murid lainnya, terutama bagi yang sudah telanjur menyimpan benci, turut bersimpati pada kabar kematian Duke.


“Saya telah meminta Duke untuk membantu penyelidikan Royal Table, bersama para royal guard di belakang kalian semua. Tapi tidak ada yang menyangka bahwa … Duke telah tewas selama penyelidikan Royal Table. Ia ikut beberapa royal guard kerajaan untuk menginvasi markas Royal Table begitu mereka menemukannya.”


Dari pidato tersebut, Sans dan teman-temannya tahu, Arsius rela berbohong pada murid-murid lainnya dan seluruh profesor, demi melindungi martabat mereka sebagai murid akademi.


Arsius mengelilingi sekitar pintu keluar utama kastel itu, masih menatap barisan murid terdepannya. “Suka atau tidak, dalam usianya yang masih sangat muda, dalam kegiatan selama di akademi yang relatif singkat, satu tahun. Kalau tidak ada penghormatan seperti ini untuk beliau, akan sangat kurang ajar bagi akademi.


“Ini dia, kematiannya, perjuangannya, mengingatkan kita harus lebih giat lagi dalam berjuang, sebagai murid Akademi Lorelei, sebagai seorang petualang, sebagai seorang royal guard kerajaan, dan sebagai seorang pengajar. Kita mungkin dari kota yang berbeda, dari tiga benua yang berbeda, tapi kita punya satu kesamaan, berjuang bersama demi mengabdi pada kerajaan.”


Keheningan sejenak mengiringi akhir dari pidato penghormatan dari Arsius kepada Duke. Semuanya menutup mata tanpa satu pun yang bersuara.


Sans merenungi kembali saat ia bersama Duke, seorang profesor dan mentornya. Mulai saat ia menemuinya selama pendaftaran murid Akademi Lorelei. Ia menulis tujuannya di formulir pendaftaran sampai memicu perhatian Duke.


Tidak heran, Duke menjahilinya untuk mencari perhatian, tiga kali. Jika Yudai tidak mengonfrontasi profesor itu, Sans mungkin tidak akan menjadi seperti sekarang. Ia akan tetap menjadi murid tanpa job, bermantel putih dan tanpa harapan untuk melanjutkan studinya setelah dua semester.


Duke telah mengajarkannya banyak hal tentang alchemy, mulai dari pembuatan gauntlet sampai membuat bootcamp sendiri di kota Arcanium di Grindelr. Ia telah menjadi lebih kuat berkat bantuan Duke.


Kini, ia harus berjuang tanpa mentornya itu.


***


Saat menyusuri selasar, suasana pun menjadi penuh kemuraman. Banyak murid yang menyendiri berjalan mondar-mandir, keluar-masuk ruang kelas, sampai bersandar di dinding tidak melakukan apapun.


Sans, Beatrice, Yudai, Neu, dan Tay tidak saling berbicara semenjak Arsius membubarkan seluruh murid dari ruang depan kastel. Tatapan selalu mengarah pada lantai, seakan mereka berada di bawah alam sadar sendiri, mereka kembali merenungi ketika Duke terbunuh oleh Spinarcia dengan sadis.


Spinarcia mati seketika tanpa sempat mengucapkan kata-kata terakhir. Menatap Duke yang menjadi mayat dengan mata terbuka lebar waktu itu sungguh memecahkan hati mereka berkeping-keping.


Saat mereka berbelok dan menuju pintu gedung asrama, mereka tertegun Alexandria sudah bersandar di dinding samping pintu tersebut.


“Kalian, saya sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi,” Alexandria melepaskan sandarannya dari dinding, berkacak pinggang pada kelimanya.


Semuanya sudah tahu, wajah garang Alexandria menandakan ia akan mendapat teguran tegas atau setidaknya bentakan.


“Kalian telah menyelinap ke markas Royal Table tanpa izin, membawa Profesor Duke bersama kalian. Kalian harusnya sudah tahu, Royal Table sudah bukan lagi urusan kalian. Saya yakin Profesor Duke pernah bilang Royal Table sudah hanya menjadi urusan kerajaan dan royal guard.”


Tay membuka suara, membalas teguran Alexandria, “Apa memang ini hanya urusan kerajaan? Sejak akhir bootcamp di Silvarion, terutama saat aku dan Yudai—”


“Stop!” Alexandria mengangkat tangannya. “Siapa suruh kamu berbicara! Saya belum selesai!”


Kalimat khas Alexandria, seperti dugaan mereka, mampu menutup mulut. Sans menelan ludah mendapati ketegangan menyelimuti tubuhnya, memicu getaran di dalam dirinya, terutama dalam sistem pernapasannya. Ia ingin menahannya, tetapi ia tidak sanggup semenjak menatap profesor itu di hadapan dirinya.


Satu-satunya pilihan bagi Sans untuk menenangkan diri hanya menatap ke arah lantai.


“Kalian ini seharusnya malu! Sangat malu tahu tidak! Menyelinap saat malam hari, saya mengerti jam malam tidak berlaku selama libur, tapi—” Alexandria menyadari Sans berpaling dari pandangannya. “Hei, Sans! Lihat saya! Lihat mata saya!”


Sans tertegun mendapati Alexandria membentaknya, maka ia kembali menangkat kepalanya.


“Kalian berlima, beserta enam orang teman kalian lainnya, sudah ikut campur. Sebenarnya kematian Duke tidak akan terjadi jika kalian tidak bertindak sembarangan seperti waktu itu!”


Ingin mengelak, ingin membantah, ingin sekali membela diri, tetapi jika Alexandria sudah mengomel sangat lantang, sangat sulit untuk menghadapinya tanpa memotong setiap kalimat terlontar.


“Kalian berempat,” Alexandria menunjuk Beatrice, Yudai, Tay, dan Neu, “kalian masih berani berteman dengan Sans, si alchemist pelanggar aturan. Begitu juga dengan Profesor Duke yang entah kenapa masih dipertahankan di akademi ini.”


Yudai ingin membela, “Sans tetaplah teman kami … apapun yang terjadi!” Ia mulai memberanikan dirinya menantang perkataan Alexandria. “Kami tahu, Sans tidak disukai banyak orang di sini karena ia mempelajari alchemist.”


“Benar,” ucap Neu, “tindakan kami takkan berubah kalau Sans jadi dikeluarkan dari akademi. Kami … ingin mengangkap Sierra.”


“Mage sok tahu dan archer ceroboh,” Alexandria memanggil julukan bagi Yudai dan Neu, “kalian tidak tahu bullshit. Alchemist dari dulu merupakan sumber bencana bagi semua orang di kerajaan ini, di dunia ini. Kalian lihat sendiri akibatnya, Profesor Duke yang seorang alchemist saja sampai tewas terbunuh.


“Dan terutama buat kamu, Sans.” Giliran Sans untuk mendengarkan teguran Alexandria. “Ya. Kamu. Kamu mungkin beruntung telah diselamatkan dari hukuman, berkat bantuan Profesor Arsius, bersama Profesor Duke. Kamu telah mengiring teman-temanmu ke dalam bencana, begitu juga dengan akademi ini. Royal Table! Royal Table mengancam akademi dan kerajaan.


“Kamu tahu, sangat menyebalkan menjadi dirimu, Sans. Kamu dan Profesor Duke seharusnya dikeluarkan dari akademi. Kamu dan Profesor Duke menggiring teman-temanmu dalam masalah waktu itu. Kamu tahu, semuanya salahmu, kematian Profesor Duke, membahayakan teman-temanmu selama melawan Royal Table, kamu intinya mengacaukan rencana kerajaan untuk menumbangkan Royal Table!


“Kamu sudah tahu aturan dibuat untuk dipatuhi, bukan untuk dilanggar! Kamu sudah melanggar, kamu membahayakan kita semua, tahu tidak! Kamu memang pengacau di akademi ini. Banyak sekali yang ingin kamu keluar dari sini karena kamu tetap bersikukuh menjadi alchemist.”


Mendengar kalimat bertele-tele itu sangat keras dan jernih. Setiap kata-katanya mengiris hati Sans secara hebat. Ia tidak bisa berkata-kata untuk membela dirinya. Ia tahu semuanya itu tidak benar, ia tidak mungkin melakukan sejauh itu. Benaknya sudah penuh dengan badai.


“Itu tidak benar!” bela Yudai geram.


“Saya tidak berbicara padamu, archer ceroboh!” bantah Alexandria. “Sebaiknya kamu tahu bagaimana mengunci mulutmu selagi seseorang berbicara.”


“Saya punya nasihat untukmu, Sans. Kalau kamu peduli dengan teman-temanmu, sebaiknya kamu berhenti menjadi alchemist saja. Kalau kamu tetap menjadi alchemist di akademi, kamu itu sampah masyarakat.”


Alexandria secara angkuh membuang muka saat mengangkat kaki dari hadapan mereka. Yudai menoleh padanya geram.


“Profesor macam apa yang menghina muridnya itu?” dengus Yudai.


“Kamu tidak sendiri, Yudai. Aku juga pernah,” Tay menambah.


Sans mendahului keempat temannya tanpa peringatan


“Sans!” sahut Beatrice mendapati Sans masuk ke dalam gedung asrama terlebih dahulu dan memcepat langkah.


Saat keempatnya menyusul, Sans sudah berlari menuruni tangga dan melewati lounge room begitu saja. Tanpa menoleh pada siapapun di lounge room, Sans langsung menaiki tangga menuju kamarnya.


Riri, Zerowolf, dan Katherine yang tengah duduk di hadapan perapian menolehnya heran.


“Sans?” sahut Riri.


Zerowolf bertanya begitu Beatrice, Yudai, Tay, dan Neu menghampiri, “Ada apa dengannya?”


Beatrice mendesah mendengar pertanyaan itu. Yudai pun mengambil alih menjawab, sungguh geram bereaksi terhadap perkataan dan perlakuan Alexandria terhadap Sans.


Riri, Zerowolf, dan Katherine melongo sampai berdiri, menoleh pada tangga menuju deretan kamar laki-laki. Mereka bertiga mendesah naik darah.


Terlebih, Katherine sampai meneteskan air matanya, tidak menyangka seorang profesor di akademi tega mengejek seorang murid sendiri. Ia dapat membayangkan dirinya sendiri jika Alexandria membentaknya di hadapan orang lain.


Zerowolf menendang kaki dari kursi, sangat keras sampai kursi itu mundur, serta beberapa murid di sekitar lounge room menoleh terpicu oleh suara seperti ledakan kecil.


“Profesor macam apa dia!” sahut Zerowolf. “Mana ada guru seperti itu!”


Riri menatap lantai, merenungi segalanya yang telah terjadi. “Pada akhirnya, kita yang disalahkan. Profesor Alexandria ada benarnya juga. Kita … sudah menyelinap dari akademi, membawa Profesor Duke, dan ikut campur masalah Royal Table. Kita juga tidak punya wewenang lagi untuk menyelidiki sendiri.”


“Ja-jadi kamu membela—” sahut Zerowolf.


“Aku tidak membenarkan kata-kata Profesor Alexandria. Aku sendiri tidak menyangka Profesor Alexandria sampai sejauh itu menghinanya,” ucap Zerowolf.


Tay membalas, “Sebenarnya, beliau sudah menghinaku dari awal. Dia bilang swordsman penyendiri tolol padaku. Memang, dia pantas menjadi profesor yang paling dibenci. Sungguh pantas.” Ia beralih menuju tangga. “Aku sudah muak dengan **** ini.”


Yudai lah yang terus membayangkan reaksi Sans setelah menatap Duke tewas di hadapannya. Sudah merasa tak dapat terhibur, justru Alexandria ikut campur, memanas-manaskan situasi. Dari raut wajah Sans, ia bisa tahu, perasaannya pecah total. Segala penderitaan Sans dari awal, tidak lulus aptitude test, sering menjadi bahan olok-olokan, terutama sebagai murid tanpa job; hingga akhirnya terekspos sebagai alchemist.


Beatrice juga berpikir sama, merasa Yudai juga merenunginya. Seorang profesor akademi telah memupuskan harapan Sans seakan seperti debu. Diam-diam, air matanya menetes.


***


Selama dua minggu, Sans sama sekali tidak berminat untuk berkumpul kembali, menjalankan misi, atau berlatih bersama teman-temannya. Setiap kali Yudai berbicara dengannya, ia hanya menutup mulut.


Setiap sorenya, ia meninggalkan kamar asrama dan pergi ke suatu tempat. Contohnya ke pantai, hutan perbatasan ibu kota, atau alun-alun untuk duduk di tepi air mancur. Ia menghabiskan waktu sorenya memikirkan ulang.


Ia membayangkan Duke mati seketika mendapat serangan terakhir yang ditujukan padanya dan Yudai. Darah, darah, dan darah. Membayangkan tubuh mentornya yang tidak bernyawa itu menggetarkan seluruh tubuhnya, terutama otak dan gigi, seperti sedang menggigil meski panas masih menyengat sore hari.


Kamu telah mengiring teman-temanmu ke dalam bencana, begitu juga dengan akademi ini.


Kamu tahu, semuanya salahmu, kematian Profesor Duke, membahayakan teman-temanmu selama melawan Royal Table, kamu intinya mengacaukan rencana kerajaan untuk menumbangkan Royal Table!


Kalau kamu peduli dengan teman-temanmu, sebaiknya kamu berhenti menjadi alchemist saja. Kalau kamu tetap menjadi alchemist di akademi, kamu itu sampah masyarakat.


Setiap kali ia mengingat semua kalimat Profesor Alexandria itu, ia meringis meneteskan air matanya. Semakin deras tetesan air mata, semakin sedikit lebih keras tangisannya, sampai ia menutup wajahnya membendung malu.


***


Beatrice, Yudai, Neu, Riri, Zerowolf, dan Katherine telah berkumpul di lounge room, mendesah Sans bertingkah mengasingkan diri. Riri yang terlebih dahulu berbicara untuk membujuk Sans.


Yudai mengasingkan diri dari percakapan, melirik situasi di lounge room pada siang hari. Mengingat kastel akademi sudah semakin heningl semakin banyak pula yang kembali ke kampung halaman masing-masing selama dua minggu terakhir. Ia ingat Tay, Lana, Sandee, dan Ruka memutuskan untuk meninggalkan kastel selama sisa liburan musim panas.


Ia bisa saja kembali ke kampung halamannya, kembali menemui kakek dan nenek, Akan tetapi, ia sudah menulis surat ia memutuskan untuk tinggal. Kastel akademi, terutama gedung asrama seakan sudah menjadi rumah keduanya.


Pada saat yang sama, ia yang paling mengkhawatirkan Sans. Sebagai teman sekamarnya, ia tidak berbuat apa-apa jika Sans mengabaikan ajakan untuk berbicara. Sama seperti waktu Alexandria pertama kali menjelaskan alchemist sebagai job terlarang.


“Sans?” sahut Riri menoleh pada tangga menuju deretan kamar laki-laki.


Beatrice, Yudai, dan Neu yang semula duduk di kursi bangkit.


“Akhirnya,” ucap Beatrice.


Giliran Neu membuka suara. “Sans, kami khawatir sekali denganmu.”


“Kamu sudah mendengar kata-kata Profesor Alexandria. Kamu—” Riri merendah, “—memasukkan kata-kata beliau ke dalam hati.”


“Kami tahu bagaimana perasaanmu, Sans.” Giliran Yudai yang berinisiatif berbicara. “Setiap kali aku bertanya, kamu mengabaikanku, sama seperti waktu itu. Kita—”


“Ada yang ingin kukatakan,” Sans membuka suara.


Beban seakan sedikit terangkat bagi Yudai, begitu pula dengan teman-temannya yang lain. Mereka memfokuskan pandangan pada Sans, terutama mendengar apa yang akan ia lontarkan.


“Aku akan keluar dari Akademi Lorelei.”