Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 50



Yudai juga tertegun mendengar Sans melampiaskan semuanya setelah lama bungkam pada Profesor Duke. Ia hanya berdiri di sebelah kanan pintu memfokuskan pendengaran pada percakapan antara keduanya.


“Ja-jadi … Profesor Duke? Profesor Duke itu alchemist?” ulang Yudai. “Lalu, Professor Duke mengajari alchemist pada Sans?”


Duke menggelengkan kepala sambil berbalik, kedua tangan menggesekkan sisi kepalanya, kebingungan bahwa Alexandria sudah telanjur memberitahu Sans dan seluruh teman sekelas yang sebenarnya tentang alchemist, apalagi sebuah sisi gelap di baliknya.


Tidak tahan dengan apa yang dia lihat sebelumnya, Yudai kembali memasuki kelas. Ia merasa Duke harus tahu yang sebenarnya, bahkan sebelum aksi jahil terjadi.


“Profesor Duke.”


Duke sekilas mengabaikan Yudai, tanpa berbalik sedikit pun. Profesor berkulit hitam itu kembali mendekati mejanya dan mengambil buku Sejarah Kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei yang masih tergeletak.


“Profesor Duke.”


Duke menghela napas sebelum berbalik menghadapi Yudai. “Kamu.”


“Maafkan saya. Saya mendengar semuanya. Saya juga tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Tidak, saya sudah tahu dari awal, bahkan sebelum Anda menjahili Sans untuk membujuknya belajar alchemist.”


“Bukannya kamu ada kelas juga?”


“Besok. Kelas job archer akan diadakan besok.”


Duke mendekati Yudai. “Katakan, apa yang kamu tahu? Sans belajar alchemist dari awal? Kamu tahu dia punya Buku Dasar Alchemist?”


“Saya teman sekamarnya. Bukan hanya itu, dia temanku dari awal, kami berangkat dari benua Grindelr bersama-sama. Ketika kami tiba di Aiswalt, seorang mantan royal guard bernama Nacht memberinya Buku Dasar Alchemist. Ketika dia gagal dalam aptitude test, dia mulai membaca Buku Dasar Alchemist.”


“Nacht,” Duke mengingat kembali identitas Nacht, “saya ingat, saya ingat kalau Nacht adalah mantan royal guard yang benar-benar berbakti pada kerajaan. Nacht juga kenalan saya waktu di akademi ini, kami belajar alchemist bersama-sama selain mengabdi pada job masing-masing. Kami tahu sisi gelap alchemist, kami tahu konsekuensinya.”


“Makanya Profesor Alexandria minggu lalu mengatakan begitu pada Sans. Alchemist itu job paling berbahaya dan terlarang. Beliau mengancam Sans, kalau dia sampai belajar alchemist, dia akan dikeluarkan.”


“Itulah mengapa saya melarang Sans mengatakan hal ini, kalau dia belajar alchemist, pada siapapun, terutamanya teman-temannya, termasuk kamu. Tapi karena kamu sudah tahu dari awal, apa boleh buat.”


“Saya takkan bilang ini pada siapapun, bahkan Beatrice dan Neu. Saya juga tidak ingin Sans dikeluarkan hanya karena dia ketahuan belajar alchemist.” Yudai menghela napas. “Saya mengerti mengapa alchemist benar-benar berisiko, tapi saya tidak ingin diam dan menyaksikan Sans hanya sekadar murid bermantel putih yang gagal mendapat job, karena dia temanku dari awal. Sebaiknya kita membujuk Sans sekarang.”


“Sebaiknya jangan.”


“Kenapa tidak? Sans harus—”


“Saya mengerti Sans telah marah pada saya karena rahasia ini tidak saya bilang dari awal. Seharusnya saya yang mengatakan apa yang disampaikan Profesor Alexandria pada pertemuan sebelumnya. Tapi kita tidak bisa mengulang waktu lagi, kalau bisa, pasti akan sama saja, saya mungkin tidak akan bilang hal ini pada Sans sebelum Profesor Alexandria mengatakannya.”


“Yudai, terima kasih. Kamu boleh pergi.”


“Maafkan saya telah menganggu Anda, Profesor Duke.” Yudai menundukkan kepala sebelum meninggalkan kelas.


***


Beatrice dan Neu melongo ketika melihat Yudai meletakkan baki makan siang di meja dan duduk di hadapan mereka. Lagi-lagi Sans tidak ikut makan siang bersama mereka, itu yang berada di dalam benak masing-masing.


“Sans mana?” Beatrice bertanya.


Yudai menghela napas. “Aku tidak tahu. Mungkin dia masih berada di kamar atau mengambil misi dari quest board seorang diri.”


“Sudah seminggu semenjak Profesor Alexandria memberitahu segala hal tentang alchemist. Mengingat peluang Sans untuk bertahan semakin kecil, Sans juga tidak boleh mengambil risiko untuk mendapat job alchemist. Semua serba salah, kita juga tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Sans bertahan di akademi,” tutur Neu sebelum kembali melahap makan siangnya, “apa sebaiknya kita berhenti berharap saja? Sans tidak akan bertahan lama di akademi ini, seperti kebanyakan murid bermantel putih lainnya, baik sekarang atau masa lalu.”


“Neu!” Beatrice tercengang dengan pernyataan Neu. “Kenapa tiba-tiba—"


“Hadapi kenyataan, aku juga tidak ingin Sans keluar hanya karena dia tidak mampu, apalagi sebagai murid tanpa job yang tidak lulus aptitude test. Berapa kali kita berbicara hal ini? Kalau aku jadi Sans, aku tidak akan mengambil risiko menjadi alchemist, hanya untuk dikeluarkan. Lagipula, kalau sembunyi-sembunyi terus, mau tidak mau akan ketahuan, bukan?”


Yudai tidak setuju. “Tidak bisa begitu. Aku tetap ingin Sans bersama kita di akademi ini. Dia sudah bersama kita dari awal masuk, apalagi aku, dari awal sejak kami berangkat dari Grindelr bersama-sama, tujuannya kuat, mencari obat untuk ibunya yang sedang sakit.”


“Kalau kenyataannya berbeda dari tujuan, percuma kan? Apalagi aku merasa Sans tidak punya apapun lagi, sebesar usahanya untuk bertahan di akademi.”


“Neu! Tidak mungkin!” Beatrice ikut membantah.


“Aku mengatakan sesuai dengan kenyataan. Hadapi saja, kalian berdua. Apalagi Sans terus terpuruk seperti ini, terutama setelah Professor Alexandria melarangnya untuk menjadi alchemist. Peluang Sans untuk bertahan di akademi ini jika dibandingkan dengan kemampuan dan keadaan cukup ren—”


Yudai menampar meja menggunakan kedua telapak tangan, mengundang perhatian beberapa murid lain di kantin, apalagi ketika membentak, “Sans sudah tidak lulus aptitude test! Dia sudah sering berlatih keras! Mau itu misi atau saat kita menemaninya! Sekarang kamu bilang Sans tidak punya harapan untuk tetap berada di akademi? Kamu pikir usaha Sans akan sia-sia saja!”


“Yudai!” Beatrice bangkit dari duduknya, ingin mencoba menghentikan adu mulut sebelum berujung perkelahian. “Neu, Yudai ada benarnya—”


“Terus apa? Setiap kali dia mendapat sesuatu yang tidak diharapkan, dia langsung sedih dan merenung? Tanpa segera melakukan sesuatu untuk mengembangkan diri? Tidak heran kan aku berkata begini? Kalau aku berhadapan dengan Sans, seandainya saja aku bisa mengatakan satu kata ini, dewasalah. Kalian juga dewasalah, hadapi saja kenyataan, jangan terlena dengan mimpi masing-masing kalau kalian tidak mampu melakukannya.”


Yudai bangkit dari bangkunya tanpa menyelesaikan makan siang. “Cukup! Kamu bisa berkata sesukamu! Sama seperti Tay memperlakukan dirimu sendiri! Aku akui, kamu pintar dalam berbicara dan menyampaikan materi, apalagi teori di kelas, tapi ternyata aku sudah salah menilaimu dari awal!”


Neu hanya terdiam ketika menyaksikan Yudai meninggalkan dirinya dan Beatrice, seakan sudah menghancurkan harapan bagi Sans hingga berkeping-keping hanya mengandalkan kenyataan.


Beatrice juga tertegun, menggelengkan kepala pada Yudai dan Neu. “Aku tidak mengerti mengapa kamu tega berkata itu. Tapi kamu sudah keterlaluan.”