
“Kamu itu, memang masih punya hati pada musuhmu sendiri.”
Tay mendengar sindiran Ruka secara halus saat melewati gerbang masuk kastel menuju ruang depan. Ia hanya terfokus pada tangga di hadapannya, ingin segera kembali ke kamarnya. Menghadapi Conti dan teman-temannya sama saja seperti menghadapi monster ganas.
Tay menganggapi sambil menghentikan langkah di tengah-tengah tangga. Ia menutup mata, mengingat dirinya agar membiarkan Conti dan teman-temannya mengambil daging beruang buruan Ruka.
“Anggap saja mereka tidak perlu berburu lagi sebelum membuat skill original.”
“Lalu … bagaimana dengan skill o-ri-gi-nal kita?”
“Aku sudah memikirkannya selama melawan Conti dan teman-temannya tadi. Tinggal kucoba besok. Aku lelah menghadapi mereka. Kamu bisa kembali ke hutan itu atau ke hutan di dekat perbatasan timur ibu kota saja. Aku ingin sendiri.”
Tanpa pamit seperti biasa, Tay melanjutkan menaiki tangga dan berbelok kanan. Begitu ia berbelok dan bersandar pada tepi dinding selasar, ia menutup mata dan menarik napas cepat. Telunjuk dan jari tengah kanannya mencapai kening.
Kita ini teman, Tay.
Kalau kamu tidak melakukannya, awas saja. Kami takkan sudi berteman denganmu lagi.
“Uh! Sial!”
Tay meluncurkan kepalan tangan kirinya pada tembok di dekatnya. Kuatnya kepalan tangannya itu sampai memicu kerak bergaris di antara bekas pukulannya itu.
“Sudah kubilang aku tidak ingin ingat itu lagi! Tidak!”
Tay mempercepat langkahnya di selasar, berharap dengan itu, pikiran itu akan terusir dari benaknya seperti tersapu udara.
***
“AAAAAH!”
Zerowolf kini menyadari dari pukulan mace troll pada lantai di dekatnya bisa saja meremukan tubuhnya. Ia bergeser menyingkir ke kanan begitu salah satu troll itu menghantamkan mace besi dan menngunci dirinya sebagai target.
“Sial!” Yudai mendapati satu troll berjalan mengarah pada dirinya. “Memang benar mereka itu dungu, sangat dungu. Tapi pukulan mace-nya itu lho!”
“Terima kasih tidak membantu!” gerutu Zerowolf mengambil panahnya sekali lagi dari quiver, mencari kesempatan untuk menembak.
Yudai menarik napas dalam dan ikut mengambil panahnya. Ia berfokus pada kening troll berbentuk lonjong itu sebagai target. Begitu ia menarik panah bersama tali busurnya menggunakan genggaman sekuat mungkin, ia melepaskan seraya meluncurkan tembakan.
Sayang sekali, tidak seperti tembakannya yang seperti biasa, Panahnya justru meleset, seperti melewatkan begitu saja dan mencapai langit-langit.
Yudai langsung berlari saat troll itu mengangkat mace-nya dan mengempaskannya pada tembok. Cukup beruntung ia merunduk terlebih dahulu dan meluncurkan tubuhnya di lantai sebelum kembali bangkit.
Yudai menatap sisi tembok yang penyok itu akibat serangan troll. “Sekarang aku penasaran, kenapa tempat ini tidak runtuh setelah beberapa orang kemari dan menjadi korbannya?”
“Bukan waktunya penasaran seperti itu!!” jerit Zerowolf panik sampai menembakkan panahnya bertubi-tubi pada dua troll sambil berlari mengelilingi arena. Saking paniknya, setiap tembakan yang ia luncurkan banyak meleset, padahal incarannya hanya kepala.
“Tiga-tiganya menyerang! Kita mundur saja?” bujuk Yudai.
“Tentu saja tidak! Sudah telanjur mengambil misi ini!!”
Zerowolf kembali meluncurkan tembakannya sambil bersandar di dinding setelah berlama-lama lari, menyaksikan salah satu troll sudah mengangkat mace-nya. Ia menggeretakkan gigi menghadapi kenyataan bahwa ia akan remuk oleh pukulan troll.
Ironisnya, tembakannya itu mencapai salah satu lubang hidung troll yang tengah mengincarnya itu. Darah segar terciprat dari lubang hidung sampai bola mata naik ke atas. Troll itu mulai oleng ke kirinya.
“****! Jangan hidungnya!!”
Troll itu akhirnya roboh dalam posisi menyamping. Darah dari lubang hidung yang kini terhalang oleh panah bercampur dengan ingus lengket seperti mimisan.
Satu lagi troll pun membuka mulutnya dan menjerit mendapat rekannya telah terbunuh. Ia melihat Zerowolf sebagai “pelaku” pembunuhan rekannya itu dan mulai mendekatinya perlahan. Tekanan pada langkah kakinya juga memicu getaran pada lantai.
“Whoa! Whoa!!” sahut Yudai menggerakkan lengannya ke depan demi keseimbangan. Akan tetapi, ia menoleh ke belakang, mendapati troll yang mengincarnya mengayunkan mace ke atas untuk menghantamnya.
Yudai menyingkir meluncurkan badannya ke kiri, semenjak di kanan hanya ada dinding. Pukulan mace troll itu mencapai lantai hingga penyok.
“Oh, oke. Penyok sekarang,” sindir Yudai tidak acuh.
Melihat ayunan mace troll yang menyerang Yudai itu memicu bohlam keemasan secara harfiah menyala di dalam benaknya. Bertepatan dengan itu, ia menoleh ke kirinya, troll yang tengah ia hadapi mengayunkan mace-nya dari atas.
Zerowolf melompat mundur begitu mace itu mencapai lantai. Ia kembali melompat dan kedua tangannya mendapat pada mace itu. Ia memeluk puncak demi menyimbangkan diri. Peluh pada telapak tangan memicu kakinya tergelincir, tetapi genggaman tangannya yang berpeluh masih erat. Ia sendiri tidak percaya, secara teknis, genggaman pada besi seharusnya memicu untuk lepas.
Begitu mace itu kembali ke atas kepala troll, tubuhnya terseret terjatuh karena genggamannya tergelincir dan tidak mampu menahan lebih lama agar dapat tetap di puncak. Bokongnya mendarat pada puncak kepala troll
Troll itu pun meraung mengangkat tangan kirinya dan meraih punggung Zerowolf sebelum mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Kena kau!” Zerowolf tidak lama mengambil panahnya sebelum troll incarannya.
Ia melepas tarikan panah dan tali busurnya. Panahnya meluncur tepat menuju kepala troll yang tengah mengayunkan mace-nya ke belakang sebagai ancang-ancang.
Panah Zerowolf tepat mengenai bola mata kanan troll! Ayunan mace troll seperti mengerem dan tubuhnya berguncang merespon nyeri hebat sampai penglihatannya terbutakan, memicunya untuk melepas Zerowolf dari genggamannya.
Zerowolf mendarat di lantai dengan tangan menyentuh terlebih dahulu. Lutut kirinya ikut terbentur ringan, masih memicu nyeri sampai sedikit meringis. Akan tetapi, ia langsung mengambil panahnya lagi dan menembakkannya mengarah tepat pada kepala.
“HAAA!”
Tembakannya tepat menusuk kening troll lawannya itu, menumbangkannya seketika.
Troll kedua telah terkalahkan, tubuhnya roboh ke depan. Zerowolf pun menyingkir mendekati dinding, mengamati troll itu roboh kurang lebih 40 centimeter dekat pada troll pertama.
Ia menatap Yudai yang masih terfokus menghindari troll terakhir, apalagi dari hantaman mace. Setiap tembakannya meleset selama ini karena sambil mewaspadai gerakan ayunan mace.
Yudai meniupkan napas sambil mundur berbelok, ia mengambil satu lagi panah, mengunci tepat pada kening troll sebagai titik lemah. Ia sudah menarik tali busur bersama dengan panah, tarikannya erat ingin segera menembak.
Ia menarik kembali panah dari busurnya dan seperti mengembalikannya pada quiver. Akan tetapi, ia meraih dan mencengkeram semua sisa panah, keputusan yang berani dan gila. Itulah reaksi Zerowolf saat melihatnya.
“Yu-Yudai!!” sahut Zerowolf hanya bisa menyaksikan.
Ia menarik seluruh sisa panah sekaligus dan mengangkat busur serta sedikit mengarahkan ke atas, memastikan salah satu dari tembakannya dapat mencapai target terkuncinya.
Seluruh panahnya meluncur, beberapa darinya justru melewatkan bagian kepala troll itu, Yudai langsung membuka mulut mendesah. Akan tetapi, lima panah berhasil tertancap pada bagian kepala. Terdapat tiga panah yang mengenai tepat pada kening, satunya menusuk bagian tulang hidung, dan satunya lagi mencapai mulut.
Troll itu meraung kesakitan sampai mengangkat kepalanya. Lama-kelamaan, tubuhnya miring dan ia menjadi lemas. Otomatis, ia roboh ke kiri dan kehilangan kesadaran. Tongkat besinya juga terjatuh ke lantai, sampai meremukkan beberapa panah Yudai.
“Be-berhasil?” ucap Yudai.
Zerowolf menginterupsi lamunan Yudai terhadap troll itu, “Hah! Kamu lihat sendiri! Kamu hanya mengalahkan satu troll! Aku berhasil mengalahkan dua troll! Dua troll! Dua troll! Berarti aku menang! Aku menang melawanmu dalam misi ini!”
Yudai menoleh pada Zerowolf, tenang, sangat tenang. Ia menyeringai menganggapi sindiran rival bebuyutannya itu.
“Zerowolf, kamu ingat apa yang kamu katakan di alun-alun, sebelum menjalankan misi ini lho?”
“Um … tentu saja! Kita bertanding sambil mengerjakan misi!”
“Ya, sambil mencari inspirasi untuk membuat skill original, bukan?” Yudai menemukan celah pada pernyataan Zerowolf.
Terpicu! Zerowolf sampai mengingat kembali kilas balik ketika mereka ingin mengambil misi dari quest board di alun-alun. Ironisnya, ia yang mengatakannya saat akan keluar dari asrama.
Bisa sambil mencari inspirasi juga kan?
Zerowolf ingin menggunakan kesempatan ini untuk membela, “Ta-tapi aku tidak pernah berkata—”
“Intinya aku menang!” Yudai sudah tidak mau tahu lagi.
Zerowolf mengacungkan telunjuknya, baru saja ia membuka mulut untuk bersuara lagi, suara langkah kaki kembali terdengar nyaring. Saking keras, suara ketukan itu sampai berkali-kali seperti mengikuti irama.
Mereka melirik pada jalan menuju lebih dalam itu, langsung tercengang troll akan kemari dalam jumlah lebih banyak daripada sebelumnya.
“Ki-ki-kita ambil ingusnya! Cepatlah!” sahut Zerowolf panik buru-buru mengambil sebuah botol kecil.dari sakunya.
Zerowolf berlari terbirit-birit menghampiri troll kedua yang ia kalahkan, semenjak troll pertama dan ketiga tumbang tertancap panah pada bagian hidung, maka ia tidak mungkin mengambil ingus troll bercampur darah.
Yudai terburu-buru mengambil panah sisanya yang telah ia tembakan, setidaknya masih utuh dan bisa dipergunakan kembali.
Panik, sangat panik. Jantung mereka berdegup semakin kencang, seakan mengontrol mereka untuk cepat melangkah. Apalagi suara ketukan itu kurang lebih mendekati iramanya seperti degup jantung mereka.
“Ayo! Cepat!” Zerowolf membuka tutup gabus dan mendekatkan mulut botol pada lubang hidung troll itu. Ia menekan hidung sebelah kiri agar mempermudah troll untuk menumpahkan ingus.
Ingusnya pun keluar, bentuknya cairan berbusa jernih. Melihatnya keluar dan memasuki botol itu sampai ia membuang mukanya, jijik.
Ia buru-buru menutup botol itu dan berlari kembali menuju jalan keluar arena tersebut. Yudai yang menoleh langsung terpicu mengikutinya, setelah mengumpulkan setidaknya lima panah utuh sisa.
Tentu saja, dalam perjalanan keluar, mereka lagi-lagi bertemu kembali dengan segerombolan floateye. Zerowolf menggerutu dan mengeluh tidak memiliki waktu untuk meladeni monster-monster itu, semenjak mereka hanya memiliki sisa panah terbatas.
Menghindari setiap serangan floateye, terutama tembakan sinar merah dari mata dan gigitan taring beracun. Minim amunisi panah, tidak ada lagi pilihan selain bertahan sambil berlari kencang. Jika terdesak, mereka menembakkan panah tepat pada kening atau mata gerombolan monster itu.
Begitu mencapai cahaya yang berarti pintu keluar, mereka akhirnya kembali ke sebuah hutan rindang. Mereka ngos-ngosan telah bersusah payah menghadapi rintangan selama di gua itu, terutama menghadapi troll demi menyelesaikan misi, yaitu mengambil ingus.
Zerowolf menunjukkan sebotol ingus troll untuk memastikannya. Misi telah selesai, tinggal mengantarnya pada seseorang yang mengutus misi itu.
***
Selesai memberi sebotol ingus troll, yang berarti misi telah terselesaikan, Yudai dan Zerowolf menerima upah tersebut yang mereka bagi menjadi dua.
Sambil merintangi jembatan perbatasan antara kota dan kastel akademi, Zerowolf meniupkan napasnya. Ia berpikir secara teknis seharusnya ia menang melawan Yudai dalam hal jumlah troll. Ia lagi-lagi kalah dalam mengembangkan ide untuk skill original.
Yudai menghentikan langkah di tengah-tengah jembatan, menatapi langit telah berubah warna menjadi biru bercampur putih menjadi kuning jingga, pertanda sore akan tiba. Baginya, tidak terasa mereka berdua menyelesaikan misi kelas B dalam waktu yang cukup lama, mengeksplorasi jalan di gua menghadapi floateye dan mengalahkan tiga troll.
Zerowolf menginterupsi lamunannya lagi, “Omong-omong, aku lapar! Aku ingin makan di kantin!”
“Kamu duluan saja,” bujuk Yudai, “aku ingin lebih lama di sini.”
“Ah! Payah!” sindir Zerowolf lagi, “Setidaknya, kita masih ada satu hal lagi. Adu skill original! Entah besok kita bersama lagi membentuk skill original, aku takkan kalah! Dan … intinya aku masih menang dalam misi tadi! Dua troll melawan satu troll!!”
Tanpa pamit, Zerowolf berlari melewati jembatan menuju gerbang masuk kastel akademi. Dilihatnya Zerowolf berlari sambil tertawa sendiri, Yudai menggeleng kembali.
“Hei! Yudai!” sapa Sans dari samping kanannya, baru saja tiba begitu melewati jembatan.
“Sans. Oh, kamu sudah mulai membuat skill-mu juga?”
Sans mengangguk. “Aku … ke perpustakaan dulu untuk sekadar riset, lalu aku ke luar kota untuk memikirkan skill apa yang harus kubuat. Bagaimana denganmu?”
Yudai kembali menatap ke bawah jembatan itu, terdapat aliran sungai deras. Ia menghela napas sejenak, memikirkan kedua orangtuanya beserta kakek dan neneknya. Ia suadh berhasil sampai sejauh ini, membuat skill original sendiri.
“Yudai?”
“Aku sudah punya ide untuk skill originalku!” Yudai langsung memasang wajah berseri-serinya. “Itu saat aku mengerjakan misi kelas B bersama Zerowolf!”
“Mi-misi? Kamu menjalankan misi saat-saat begini?” Sans lagi-lagi tertegun. “Oke. Aku paham, kamu paling bersemangat saat menjalankan misi, jadi tidak heran, kamu dapat inspirasi dari sana.”
“Tentu saja!” sahut Yudai berpaling dari pemandangan sungai di bawah jembatan itu. “Kita ke kedai roti yuk!”
“Eh? Sore-sore begini?”
***
Berbagai lembaran tulisan berbahasa Conlang sudah seperti tidak tertata, berserakan di meja kamarnya. Ia mencoba membayangkan kalimat yang pas untuk menjadi mantra barunya sebagai skill original.
Ia mengambil salah satu dari lembaran itu sambil mengangguk, memastikan kalimat itu akan menjadi mantranya. Sambil membayangkan bagaimana cara kerja mantranya sambil melafalkan di dalam benaknya, ia mengangkat wajah, optimis, sangat optimis.
Ia melirik pada Cherie yang duduk di sudut kanan meja itu. Posisi tidur familiar-nya itu seperti seekor bayi naga yang mendengkur lembut. Menatapnya, Neu ingin segera menunjukkan kekuatan familiar-nya itu di hadapan seluruh teman-temannya.
Pertama, ia harus lulus ujian akhir semester, yaitu menyelesaikan skill originalnya.