
“Aaaaah!!” jerit Beatrice tercengang ketika menatap ke dalam pemanggangan kayu.
Sebuah bencana terjadi pada kelompok Yudai. Pada bagian atas pemanggangan, lusinan adonan vyness caviar mereka masih dalam bentuk yang sama, mentah dan tidak mengembang. Ketika Beatrice menatap bagian bawah pemanggangan tersebut, ia lagi-lagi kewalahan ketika api tidak menyala.
Waktu pun terbuang percuma ketika mengira bahwa lusinan vyness caviar akan segera siap. Sans dan Yudai bahkan mengira vyness caviar buatan mereka akan lama sekali matang jika dibandingkan dengan kelompok Zerowolf.
“Ma-maafkan aku!” Beatrice menundukkan kepala begitu menyadari kesalahannya.
“Pantas saja tidak mau matang …,” ucap Sans.
“Ti-tidak apa-apa,” Yudai berusaha menenangkan keduanya, “setidaknya belum ada yang datang ke sini, kan? Kita nyalakan saja dulu panggangannya, lalu kita akan siap.”
Zerowolf menyeringai menyaksikan “bencana” yang terjadi pada kelompok Yudai. “Seertinya kamu ada masalah ya, Yudai?”
Lusinan vyness caviar telah tersaji di meja stand kelompok Zerowolf tepat sebelum bencana itu terjadi. Hanya tinggal menunggu deretan penduduk kota agar mengunjungi dan membeli.
Keramaian dari pembicaraan oleh kelompok lain mulai terdengar. Zerowolf pun menoleh saat satu per satu penduduk mulai mendatangi alun-alun dan menghampiri berbagai stand.
“Ba-bagaimana i-ini?” Katherine mulai panik.
“Sandee, Katherine, saatnya sebarkan senyuman kalian. Mari kita menjual vyness caviar sebanyak-banyaknya.”
“Aku ingin bertanya. Kamu ingin mengandalkan kcantikan kami untuk memancing pelanggan?” tebak Sandee.
Zerowolf menjawab sambil merayu, “Ah, jangan garang begitu. Nanti kamu menakut-nakuti pelanggan lho.”
Sandee memalingkan wajahnya yang memerah. “Ka-kamu yang memprovokasi!”
Lambat laun, ketika matahari telah mulai menanjak menuju puncak langit, semakin banyak penduduk dan pengunjung yang mulai keluar dan menginjakkan kaki pada jalan kota. Alun-alun pun menjadi pusat keramaian, antrean demi antrean mulai menanti.
Setiap kelompok murid akademi mulai menyambut dan menawarkan produk olahan masing-masing.
“Selamat datang!”
“Silakan dinikmati!”
“Fish sticks! Siapa yang mau fish sticks!”
“Mohon dicoba apple meringue-nya!”
Katherine langsung kewalahan ketika mendapati setidaknya lima pelanggan pertama sudah mengantre di depan meja stand kelompoknya. Ia tidak sanggup memilih kata untuk mulai menyambut mereka selain mengangguk-angguk
Sandee mengambil alih memamerkan karisma dari wajah anggunnya. “Selamat datang!”
Salah satu pembeli menunjuk pada salah satu pada salah satu hidangan yang tersaji di meja tersebut pada piring kertas, “Vyness caviar, ya?”
“Aku mau satu!”
“Baik. Silakan, hanya 30 vial,” sambut Sandee lagi.
Kelima pelanggan itu masing-masing mengambil sepiring vyness caviar tepat setelah membayar. Melihat vyness caviar tersebut, adonan roti tampak berwarna putih tanpa kecokelatan. Kilau kumpulan caviar beserta siraman kecap asin dan potongan rumput laut terimpit adonan itu juga menambak estestik.
Gigitan pertama, kekenyalan adonan roti mulai melumer di lidah. Gigitan pada caviar memicu ledakan rasa dari pecahan. Kerenyahan dari rumput laut dan gurihnya siraman kecap asin memicu kenikmatan harmoni pada lidah.
“Enak!!”
Jeritan kelima pembeli pertama turut memicu perhatian pengunjung. Cukup penasaran dengan kenikmatan vyness caviar buatan kelompok Zerowolf.
Zerowolf menganggapi deretan para pengunjung yang telah mengantre, “Nah! Selamat datang! Masih ada banyak untuk kalian!”
Antrean yang semakin lama cukup panjang di hadapan meja stand kelompok Zerowolf memicu kepanikan bagi Beatrice selaku anggota kelompok Yudai. Terlebih, ia menyaksikan beberapa orang memakan vyness caviar sembari berjalan mengunjungi stand lain.
***
“Cepat beli.”
Permintaan datar dari Ruka memicu kengerian bagi pembeli. Tatapan matanya seperti membara, rahangnya mengepal, dan dahinya seakan menggelap.
“E-eh!” Riri cukup tercengang mendapati Ruka telah bersikap tidak sopan. “Ru-Ruka, bukan seperti itu! Kamu justru mengusir pembeli.”
“Menurutku lebih baik daripada selamat datang atau silakan mencoba, sudah terlalu klise dan lebih mencemar—”
Riri menutup mulut Ruka dan menundukkan kepala pada antrean terdepan pembeli. “Ma-maaf!”
Riri membalikkan tubuh Ruka dan mendorongnya menuju area dapur stand kelompoknya. Mungkin bertukar tugas merupakan ide yang bagus.
Lana, yang juga bertugas untuk membuat crepe, sungguh menikmati proses pembuatan produk. Senyumannya turut menghiasi gerak-geriknya dalam setiap langkah dari menghadap wajan panggang berbentuk kotak menuju area pelanggan.
Dalam proses pembuatan crepe, pertama adonan dituangkan pada wajan. Adonan tersebut diratakan hingga membentuk lingkaran sempurna. Begitu adonan mulai mengering, toping berupa potongan buah pun diletakkan sebagai bahan isian. Terakhir, lipat menjadi dua bagiann dan sekali lagi hingga membentuk segitiga.
Lana dan Ruka masing-masing dapat memanggang dua crepe pada saat yang sama sesuai pesanan. Kecepatan dan kejelian Lana mampu mengembangkan pelayanan stand kelompok Riri hingga pembeli tidak kehilangan kesabaran.
Lana menyerahkan masing-masing dua crepe pada pembeli di antrean terdepan sesuai pesanan. “Maaf menunggu lama. Silakan.”
Kedua pembeli itu menatap penampilan crepe, kulit tipis membungkus isian buah, aroma dari kehangatan membuat liur keluar dari mulut.
Gigitan pertama, garingnya kulit crepe dan kesegaran dari potongan buah turut melebur di mulut. Rasa manis dari kedua elemen hidangan itu memberi efek begitu menyenangkan.
Melihat reaksi dari pembeli yang telah memakan crepe kelompoknya, Riri semakin bersemangat untuk mengajak pengunjung festival untuk berkunjung ke stand-nya.
“Baiklah! Selamat datang! Silakan crepe-nya!”
***
“Terima kasih banyak!”
“Se-semoga Anda me-menikmatinya.”
Zerowolf tersenyum menatap dua hal yang telah terjadi di stand kelompoknya selama satu jam pertama semenjak melonjaknya pengunjung. Sandee dan Katherine dapat menyebarkan senyum ketika melayani pembeli. Kedua, lusinan pertama vyness caviar di meja stand kelompoknya sudah terjual sebanyak 75 persen.
Satu hal lagi yang membuatnya menyeringai adalah ketika menatap stand kelompok Yudai. Cukup puas ketika akhirnya ia mampu melampaui dalam persaingan ketat melawan rivalnya itu.
Terlebih, ia berpikir bahwa pembeli pasti akan mengantre untuk menikmati vyness caviar buatan kelompoknya dibandingkan buatan kelompok Yudai. Berkat kabar mulut ke mulut dan antrean panjang, ia menikmati semuanya.
“A-antrean kelompok Zerowolf ramai!” tunjuk Sans panik. “Tidak mungkin.”
Beatrice melanjutkan sambil kewalahan, “Se-sementara kelompok kita … baru lima yang terjual.”
Yudai termenung meratapi meja stand kelompoknya yang masih penuh dengan vyness caviar. Dalam benaknya, terpikir bahwa kelompoknya telah merencanakan menjual menu itu terlebih dahulu daripada kelompok Zerowolf.
Kini, ia terdesak untuk memutuskan agar menebus kesalahan yang menyebabkan terlambat memulai.
***
“Kamu dari awal kerjanya membuat orang marah-marah saja! Mengabaikan temanmu sendiri saat aptitude test dan saat di Labirin Oslork! Kamu memang orangnya tidak bisa diandalkan untuk bekerja sama. Pantas kamu ini tidak punya hati!”
“Apa! Cepat ulang sekali lagi kalimat terakhirmu!”
“Kamu kerjanya hanya protes saat kita berkumpul bersama! Tanpa memikirkan solusi! Masalahnya ini Festival Melzronta, Tay!”
“Mata Empat yang egois! Egois! Wajar saja kamu adalah murid paling dibenci! Paling dibenci!”
Tay menunjuk keras-keras, “Wajar kamu juga dibenci karena sok tahu! Sudah memulai duluan, tidak mau minta maaf lagi!”
“Apanya! Hah?”
Stand kelompok Sierra turut menjadi pusat perhatian sekaligus buah bibir di kalangan publik, terutama di area dekat gerbang menuju akademi. Akan tetapi, publisitas tersebut merujuk ke arah yang salah.
Alih-alih tertarik pada produk makanan yang tersaji di meja stand, drama di antara kedua anggota kelompok justru menjadi tontonan. Seluruh pengunjung yang sekadar menumpang lewat mengalihkan perhatian menuju sumber pemicu rasa penasaran.
Menatap keramaian pengunjung di hadapannya, apalagi pertengkaran Tay dan Neu, ia membutuhkan solusi agar produk kelompoknya dapat teralihkan dari drama. Lama kelamaan, kesabarannya telah menipis.
Ia menggenggam kepala kedua rival bebuyutan itu dan menubrukkannya demi menghentikan semua drama tidak perlu di antara kelompoknya.
Tay dan Neu memang berhenti saling meneriaki memancing amarah. Benturan kepala memicu ringisan menahan rasa sakit. Keduanya memegang bagian atas kepala yang benar-benar seperti tertimpa besi.
“Kalau kalian terus bertengkar, aku bersumpah aku akan menghajar kalian jika tidak di depan seluruh pengunjung!”
Tay dan Neu menoleh pada Sierra. Mendengar jeritan “ketua” kelompok justru semakin membebani kepala.
“Dengar, semuanya jadi kacau karena ulah kalian. Lihatlah!”
Tumpukan bahan makanan gosong dekat panggangan, meja stand yang terisi seperempatnya dengan produk jadi, tembok kain putih bagian belakang stand bernoda beberapa garis hitam dan pembeli satu per satu pergi setelah melihat seluruh drama keduanya. Itulah sebuah bencana yang dapat terjadi pada stand manapun.
“Lebih baik kalian kesampingkan permusuhan kalian seperti saat kita berkumpul dengan Beatrice, Sans, dan Yudai.”
Melihat Sierra mengutarakan nama Beatrice langsung memicu Neu untuk membeku sejenak dan membelalak.
“Ayo kita buat masakan yang akan membahagiakan pengunjung Festival Melzronta hari kelima daripada terus membuat drama di hadapan mereka.”
“Ba-baik.” Tay dan Neu menundukkan kepala.
Satu lagi masalah, pengunjung sudah menyaksikan drama pada kelompoknya. Sierra pun mendorong tubuh Tay dan Neu seakan membuka gerbang. Ia membusungkan badan dan mendekatkan tangan kiri pada perut.
“Mohon maaf atas ketidaknyamanan kalian. Saya harap kalian dapat menikmati makanan kami.”
Karena pertengkaran antara Tay dan Neu sudah mereda, mayoritas dari pengunjung mulai mengangkat kaki dari hadapan stand kelompok tersebut dan mulai mencari makanan yang setidaknya lebih menarik. Bahkan tidak satupun yang memperhatikan setidaknya lima piring produk makanan di meja stand itu.
Sierra menoleh kembali pada Tay dan Neu. “Cepat buat makanannya!!”
“Ba-baik!” Tay dan Neu berbalik pada dapur stand mereka dan mulai melakukan proses pembuatan produk.
***
Yudai masih menatapi beberapa porsi vyness caviar yang belum terjual di meja stand kelompoknya. Kedua tangan menyentuh di antara salah satu porsinya, menyadari bahwa terlambat sedikit saja dapat menumbangkan sang pesaing.
Vyness caviar milik kelompok Zerowolf telah memancing seluruh pembeli di pusat alun-alun. Wajar jika Sans dan Beatrice menyayangkan kesempatan ini telah berubah menjadi sia-sia, terlebih saat Zerowolf mencuri dengar percakapan mereka hari sebelumnya.
“Vyness caviar? Dua stand saling berhadapan?”
“Lebih baik beli di antreannya yang banyak! Pasti lebih enak!”
“Wah, ramainya.”
“Vyness caviar-ku kenapa terasa kurang kenyal daripada saat kumakan di Riswein? Lalu kukira akan begitu hangat seperti waktu itu.”
Komentar keempat pembeli memicu inspirasi bagi Sans. Ia menyimpulkan sesuatu.
Maka, ia berbalik pada dapur stand tersebut dan melihat setidaknya satu mangkuk besar adonan baru saja mengalami proses pendiaman. Di kolong meja, masih ada sekarung tepung terigu, beberapa butir telur, dan dua buah mangkuk ukuran besar yang belum terpakai.
“Yudai, Beatrice, aku punya ide!”
Yudai tersenyum hingga menggeretakkan giginya. Ia menghampiri meja dapur dan meraih mangkuk besar dari kolong.
“Baiklah! Kita lakukan!”
“E-e-eh!” jerit Beatrice ketika menyaksikan kedua rekannya mulai beraksi.
Yudai terlebih dahulu meletakkan mangkuk itu di sudut kiri meja dapur stand. Ia menuangkan kurang lebih 300 gram tepung terigu pada mangkuk tersebut hingga kurang lebih membentuk seperti sebuah gunung. Langkah selanjutnya, Ia memecahkan telur dan mengeluarkan isinya tepat di atas tumpukkan tepung.
Tidak ingin berlama-lama telur mentah mulai tenggelam di antara tepung, Yudai mulai mengaduknya hanya keduanya menggunakan tangan. Ia secara perlahan memutari dari bagian tengah campuran tepung dan telur tersebut dan secara progresif menambah kecepatannya.
Sans meletakkan mangkuk berisi adonan yang sudah didiamkan beberapa lama pada sudut tengah meja dapur. Terlebih dahulu, ia sebarkan sedikit tepung pada meja sebelum meletakkan adonan.
Ia mulai menekan adonan menjadi bentuk gundukan. Memang sulit bagi Sans untuk menyatukan adonan semenjak tangannya lengket ketika pertama kali memegang. Adonan itu kemudian ia bentuk menjadi bola. Kedua proses itu terulang hingga adonan tidak lengket.
Bagian bawah telapak tangan ia tekankan ke dalam adonan beberapa kali dengan mendorongkan tenaga. Adonan pun kemudian ia lipat menjadi dua. Mengulangi kedua proses itu secara berurutan membantu terbentuknya gluten.
Ia kemudian mengangkat adonan itu dan menariknya menggunakan dua tangan. Dua arah, adonan itu akhirnya melemar, sungguh elastis tanpa terpotong sama sekali, melainkan bagian tengahnya menurun ke atas permukaan meja.
Adonan pun telah siap. Ia melebarkan adonan dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Kira-kira bentuknya seperti roti hot dog masing-masing.
Giliran Beatrice yang meletakkan potongan adonan itu menggunakan spatula menuju panggangan satu per satu. Proses masak pun dimulai!
Hanya tinggal mencari pembeli, itu yang mereka pikirkan selama tujuh menit pertama proses masak,
“Ah! Minggir! Kami ingin vyness caviar juga!”
“Kenapa kita tidak cari yang lain saja? Masih ada banyak pilihan.”
“Ah! Pokoknya aku mau yang itu! Harus itu!”
Beatrice memperhatikan tiga orang anak di dekat stand mereka telah berdiri membelakangi dirinya, menunggu vyness caviar dari kelompok Zerowolf. Kesempatan emas yang tak boleh terlewatkan! Itu pikirnya.
“Anu—” Beatrice menyapa ketiga anak itu. “—kalian mau lihat vyness caviar langsung dari panggangan?
Anak perempuan dari kelompok tiga anak itu melongo ketika mendekati stand kelompok Yudai. Matanya berbinar-binar penuh keingintahuannya, mengundang komentar dari kedua temannya.
“Vyness caviar juga?”
“Tidak ramai, pasti rasanya tidak enak.”
Begitu permukaan atas adonan mulai mengembang merata, itulah titip matang terbaik vyness caviar. Beatrice mengeluarkannya satu per satu dari panggangan dan meletakkan pada piring kertas yang masih kosong di meja stand.
Ketiga anak itu berdecak kagum ketika menyaksikan vyness caviar mulai tersaji, apalagi setelah ia menaburkan caviar dan rumput laut. Satu sentuhan terakhir, siraman kecap asin.
“Jadi!”
Vyness caviar baru telah tersaji di meja stand kelompok Yudai, segar dari panggangan. Uap dari masing-masing hidangan terangkat ke udara menandakan masih hangat.
Anak perempuan itu terlebih dahulu mengambil seporsi vyness caviar. Kilau dari caviar pun menjadi tatapan pertama dalam sebuah estetika, seperti beberapa mutiara saling tertempel di sebuah cangkang.
Gigitan pertama. Kenyalnya adonan bercampur pecahnya caviar bak sebuah ledakan rasa. Ditambah lagi tendangan rasa gurih dari kecap asin dan rumput laut memicu aroma tidak tertahankan.
“Enak! Apalagi ini masih hangat!”
“Eh? Tidak mungkin!” seru kedua anak laki-laki secara bersamaan seraya merebut masing-masing satu porsi dari meja stand itu.
Campuran rasa dari vyness caviar hangat turut mencengangkan keduanya begitu mendarat di lidah, mematahkan sebuah ekspektasi.
“E-enak!”
“Ternyata … lezat.”
Begitu ketiga anak kecil itu mulai membayar, seorang perempuan kurus berambut pirang lurus panjang menghampiri stand tersebut.
“Menunggu antrean vyness caviar sungguh lama sekali di stand sebelah. Aku ingin satu.”
Menerima uang dari perempuan itu, Beatrice memberikan salah satu vyness caviar dari meja stand padanya. “Silakan.”
Perempuan itu menatap terlebih dahulu kilau dari caviar di di antara adonan roti hangat tersebut. Aroma dari roti terhirup hingga mengingkatkan produksi liur di mulut.
Gigitan pertama. Ia melengkungkan bibir menikmati kehangatan dari vyness caviar dan ledakan dari caviar.
Reaksi itu pun memicu ketertarikan dari setengah para calon pembeli vyness caviar kelompok Zerowolf. Begitu menoleh dan butuh pengalihan dari antrean cukup panjang, mereka satu per satu mulai mendekati meja stand kelompok Yudai. Bahkan pembeli yang baru saja memasuki area alun-alun kota juga ikut tertarik.
Sans dan Yudai merasakan euforia ketika menoleh menyaksikan pembeli telah menggapai perhatian mereka. Tentu bukan waktunya untuk berpuas diri, mempertahankan momen ini benar-benar penting. Langkah selanjutnya, tetap melakukan proses pembuatan adonan.
Beatrice juga membuka mulut lebar, menyambut para pembeli itu dengan senyuman, “Selamat datang!”
Melihat stand kelompok Yudai telah mendapat momentum hingga membuat pembeli beralih, kelompok Zerowolf pun tercengang. Terlebih, Zerowolf cukup tertegun saat menoleh dari perhatiannya dari pemanggang.
Ketika kelompok Yudai mulai mencuri pembeli, sisa porsi vyness caviar di meja stand kelompok Zerowolf hanya tinggal enam. Antrean yang panjang tetapi mayoritas porsi masih berada di pemanggang, alasan bagus untuk beralih.
Sandee mulai menegur, “Berapa lama lagi? Ini akibatnya kamu terlalu santai!”
“A-anu … kurang lebih lima menit.” Zerowolf mulai menggeretakkan gigi. “Sialan kamu, Yudai …. Tapi aku takkan kalah!”
***
“Ini adalah black pudding.”
Itulah pengenalan Sierra untuk para calon pembeli tentang produk makanan kelompoknya. Sebuah potongan daging berbentuk lingkaran dengan butiran oat tertempel di bagian tengah dalamnya menjadi menu kelompoknya.
“Wah, warnanya gelap juga.”
Sierra menganggapi komentar salah satu pembeli di barisan terdepan, “Benar. Itu karena black pudding terbuat dari campuran daging dan darah babai serta proporsi oat relatif tinggi.”
“Darah?”
“Tentu. Darah babi memberi cita rasa khas pada black pudding.”
“Aromanya sungguh harum,” satu per satu pembeli mulai ingin mencicipinya.
“Aku ingin satu!”
“Kelihatannya enak!”
Neu berkomentar begitu menoleh pada para pembeli selagi memanggang black pudding, “Setidaknya black pudding buatan kita jadi cukup populer di area dekat jalan masuk akademi.”
“Seharusnya ini berita baik,” tambah Tay.
Sierra menoleh bahwa matahari sudah mulai tergelincir dari puncak langit, hari kelima Festival Melzronta masih setengah jalan. Perjuangan kelompoknya masih cukup panjang hingga waktu mencapai senja.
“Aku senang kalian tidak bertengkar seperti ini,” tanggap Sierra, “seperti aku tidak mengenal kalian saja.”
Dibalik senyumannya, terutama terhadap Tay, Neu, dan seluruh pembeli di stand kelompoknya, ia tahu bahwa ia ke akademi sebagai seorang penyusup. Berakting sedikit lebih lama tidak akan mengekspos sebuah tujuan yang sebenarnya.
Manusia, sangat mudah termanipulasi oleh sebuah kebaikan, itu pikirnya.
***
Ketika langit berubah dari biru menjadi oranye, itulah pertanda senja akan tiba, berarti waktu untuk mengakhiri bazaar di Festival Melzronta sebentar lagi akan tiba. Mayoritas kelompok telah menghabiskan makanan dagangan masing-nasing dan memutuskan untuk menutup stand bazaar.
Keputusan untuk tidak lagi memasak mengingat waktu semakin sedikit merupakan keputusan bijak. Memang sayang beberapa bahan tidak terpakai bagi kelompok yang tidak terlalu laku dagangannya.
Lain halnya bagi kelompok Riri. Crepe jualan mereka menjadi begitu laris di area dekat monumen kota hingga mereka kehabisan bahan tepat sebelum senja menyingsing.
“Maaf ya, kami tutup lebih awal,” Lana turut pamit pada pembeli sambil membungkuk dan melebarkan senyuman.
“Kerja bagus, kalian berdua!” Riri menyambut kebahagiaan itu. “Bersiaplah untuk stage terakhir!”
Ruka hanya termenung, wajahnya pun cukup pucat. “Berapa lama lagi penderitaan ini akan berlanjut? Tersenyum itu menyakitkan … tanganku pegal semua.”
Lana mencoba mencerahkan suasana. “Yang penting kita berhasil melewati stage keempat bersama-sama, bukan?”
Jelang senja pun, setiap sudut kota mulai terasa sepi. Semakin sedikit pembeli yang bermunculan jelang tutupnya bazaar hari kelima. Hal itu tidak menyurutkan semangat kelompok Yudai dan kelompok Zerowolf untuk berjuang menjual beberapa porsi terakhir.
Zerowolf menyampaikan semangat pada Katherine dan Sandee, “Baiklah! Mari kita akhiri ini!”
Bagi Zerowolf, kecepatan untuk lebih dulu menghabiskan porsi jualannya tidak penting. Ia hanya ingin mendapat penghasilan lebih banyak daripada kelompok Yudai. Dengan begitu, pembalasan terhadap kekalahan berturut-turut akan terbalaskan.
“Kerja bagus, kalian berdua!” sahut Yudai pada Sans dan Beatrice begitu hanya tersisa satu porsi vyness caviar di meja stand kelompoknya.
“Ta-tadi itu—” Beatrice membungkuk cukup panik. “—maafkan aku sudah berbuat salah saat awal—”
Sans menepuk pundak Beatrice. “Tidak apa-apa. Yang penting kita membuat pembeli bahagia.”
“Anu ….”
Suara seorang anak laki-laki turut membuat ketiganya menoleh.
Menatap anak laki-laki itu, sebuah kilasan pikiran terpicu bagi Sans dan Yudai. Hanya melihat wajahnya, dapat mereka simpulkan bahwa ia adalah anak kecil yang menangis saat hari pertama di kota.
Yudai menyambut sambil tersenyum, “Selamat datang.”
“A-aku telah menunggu … antrean stand kalian panjang sekali dari siang. Aku ingin makan makanan kalian, tapi Ibu menarikku ke stand yang lain.”
Wanita berkacamata berambut pendek. Sosok itu ikut terlintas pada benak Sans dan Yudai.
Yudai membuat keputusan. “Baiklah, karena kamu sudah menunggu begitu lama dari siang, kamu tidak perlu bayar.”
“Eh?” ucap Beatrice.
“Yudai.” Sans terpana, tidak menyangka hatinya akan berdecak.
“Be-benarkah, Kak?”
“Tentu saja.”
Anak laki-laki itu mengambil seporsi terakhir vyness caviar dari meja stand. Penantian begitu lama untuk melihat adonan roti mengimpit kilauan butiran caviar beserta potongan rumput laut dan siraman kecap asin di atasnya.
Gigitan pertama, ia menutup mata dan membuka mulut lebar sebagai reaksi atas ledakan rasa asin dan gurih.
“Enak sekali. Terima kasih banyak, Kak!”
Ketika anak kecil itu berlalu, Sans mengangguk pada Yudai menandakan bahwa ia ingat.
“Tinggal stage terakhir,” ucap Sans.
Ketika langit mulai menghitam, stage keempat Festival Melzronta telah berakhir!