Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 120



“Bagaimana tidurmu, Sans?” Lontaran kalimat Duke menjadi hal pertama yang terdengar ketika Sans kembali mendapatkan kesadaran.


Sans menyentuh jidatnya sendiri meresapi rasa sakit seperti bantingan palu di kepalanya. Dalam benaknya, kepingan memori seperti terpisah hingga samar-samar ketika mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya.


“A-aku … ketiduran?”


Berdasarkan cahaya mentari pagi dari jendela, ia menyadari bahwa ia tertidur begitu lama semenjak luka pada bahu kiri Duke sembuh.


“Langsung saja pada intinya kalau kamu siap.”


“A-apa saya bisa membuat gauntlet alchemist sekarang juga?”


Daun ars, benang laba-laba es, dan kristal variant dalam bentuk bubuk, ketiga bahan itu telah ia dapatkan untuk membuat gauntlet alchemist. Pada akhirnya, sebuah langkah besar akan ia capai.


“Kamu benar-benar menantikannya, ya?” terka Duke.


“Y-ya.”


“Baik, sebelum itu. Ada dua hal yang ingin saya katakan,” Duke mulai memaparkan, “pertama, saya akan menjelaskan jenis-jenis alchemist. Hal itu tentunya sudah pernah kamu baca di Buku Dasar Alchemist. Kedua, kamu harus menjalankan misi sebagai persiapan untuk membuat gauntlet alchemist.”


“Ya, jenis-jenis alchemist. Saya pernah membacanya. Tapi … saya ingin mendengar penjelasan Anda, Profesor.”


“Baiklah,” Duke mulai menjelaskan, “sebenarnya ada berbagai tipe alchemist berdasarkan kegunaan dan kemampuan. Akan tetapi, dalam sejarah, tercatat ada dua tipe yang paling umum untuk mengategorikan alchemist. 


“Pertama, alchemist tipe homunculus. Alchemist tipe ini dapat memanipulasi bahan untuk membentuk sebuah makhluk bernama homunculi. Makhluk tersebut dapat menjadi replikasi model tubuh yang berskala kurang dari satu banding satu atau lebih kecil dari makhluk tersebut. Sebenarnya, homunculi banyak yang merupakan manusia buatan.


“Kedua, alchemist tipe ramuan. Alchemist tipe ini sangat mahir dalam melakukan proses transmutasi bahan-bahan tertentu menjadi ramuan. Ia dapat membuat berbagai ramuan dengan kemampuan dan kekuatannya. Alchemist tipe ramuan ini menjadi tipe terbanyak karena pada dasarnya alchemy merupakan ilmu yang dapat memanipulasi bahan.


Sans sedikit demi sedikit mengerti, terlihat dari dirinya yang mengangguk-angguk.


“Umumnya, alchemist harus memiliki senjata demi melindungi diri dari marabahaya dalam pertempuran. Kebanyakan alchemist menggunakan tongkat pemukul tumpul terbuat dari kayu atau logam yang dinamakan mace. Mace sendiri merupakan senjata yang cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri dari pihak musuh.


“Beberapa alchemist juga ada yang menggunakan kapak. Ada juga yang menggunakan pedang, dan juga belati. Belati yang seperti kamu gunakan merupakan senjata yang bisa digunakan oleh alchemist demi melindungi diri dari musuh. Nah, tentu kamu sudah tahu mau jadi alchemist tipe apa berdasarkan tujuanmu.”


Sans mengangguk. “Tentu saja. Saya ke Akademi Lorelei memiliki tujuan. Saya ingin menyembuhkan penyakit ibu saya. Seperti yang Anda katakan, saya ingin mencari ketiga bahan untuk membuat obat untuk ibu saya. Memang, saya membutuhkan lebih banyak latihan dan kemampuan tinggi untuk membuatnya, tapi saya akan melakukannya.”


“Baiklah.” Duke melebarkan senyuman. “Tidak salah lagi, kamu akan menjadi alchemist tipe ramuan. Dan … apa kamu akan memilih senjata belati? Atau kamu akan memilih senjata lain yang digunakan alchemist pada umumnya.”


Sans menatap belati hitam di pinggangnya. Ia mengingat kembali bahwa belati hitam itu merupakan senjata pertamanya. Sebuah kilas balik terlintas di benaknya bahwa belati hitam merupakan senjata yang cocok bagi seorang pemula. Sejak saat itu, belati hitam itu menjadi melekat pada dirinya.


Ia menegakkan kepalanya. “Saya sudah tahu senjata yang akan saya pilih.”


Berdasarkan reaksi Sans, Duke menyimpulkan dalam hati dan sedikit terentak. Ia akhirnya mengangguk setuju.


“Baiklah. Kamu akan menjadi alchemist tipe ramuan. Sekarang, saatnya untuk memberitahu tentang misi untuk persiapan pembuatan gauntlet. Di sekitar sini, terdapat spesies kelinci hitam. Sebenarnya, kelinci hitam juga dapat ditemukan di Grindelr, sementara di Aiswalt, cukup jarang. Kamu cukup beruntung sudah kemari, bukan? Untuk berburu kristal Variant lalu membuat gauntlet alchemist.


“Saya ingin kamu berburu setidaknya tiga ekor kelinci hitam. Tetapi, kamu hanya harus menggunakan kekuatan alchemist.”


Kekuatan alchemist. Kedua kata itu seakan menggema di pendengaran Sans hingga ke ubun-ubun.


“E-eeeeeh!!” jerit Sans bungkam dari sikap membekunya. “Ke-kekuatan alchemist?”


“Benar sekali.”


Sans menepuk kedua sisi pipinya. “Ta-tapi … sa-saya belum menguasai kemampuan khusus alchemist sama sekali! Ba-bahkan saya hanya pernah menggunakan—”


“Saya rasa ini saatnya kamu belajar mempraktikkannya. Saya ingin kamu kuasai salah satu kemampuan penyerangan alchemist dari Buku Dasar Alchemist. Esoknya, kamu harus sudah bisa menangkap tiga kelinci hitam itu.


“Sans, saya tidak bisa selalu mendampingi dirimu dalam proses pembuatan gauntlet alchemist. Mulai sekarang, kamu akan belajar salah satu kemampuan penyerangan alchemist dan membuat gauntlet di bangunan terpisah. Ini saatnya kamu belajar semakin mandiri.


“Satu hal lagi, ini adalah tahap pertama dalam pembuatan gauntlet alchemist. Carilah pengrajin di sekitar desa ini, berikan dia benang laba-laba es yang kamu dapatkan dan minta dia buatkan sarung tangan itu. Buat juga sarung tangan dummy untuk uji coba.”


Sans cukup terkejut ketika Duke tidak dapat mendampinginya dalam proses pembuatan gauntlet alchemist. Memang benar, saatnya bagi Sans untuk melakukan pekerjaannya seorang diri, benar-benar seorang diri. Tidak seperti saat ia menjalankan misi bersama teman-temannya, ia harus menunjukkan bahwa ia mampu menyelesaikan tugas ini secara mandiri.


Meski keraguan menghantui dirinya, tekad Sans mendorong dirinya untuk melakukan yang terbaik, melakukan apa yang ia bisa.


***


Dalam hati, akhirnya Sans begitu bersemangat ketika akhirnya langkah berikutnya untuk lebih dekat menuju tujuannya mulai ia lakukan. Saking semangatnya, ia sampai melangkah cukup cepat di sekitar desa.


Dapat ia lihat beberapa penduduk desa mulai melanjutkan rekonstruksi desa. Mereka berbondong-bondong membawa bahan berupa batu-bata, kayu, dan batu untuk membangun rangka setiap bangunan.


Sans mengingat kembali saat Riri menolak hadiah misi kelas A setelah mengalahkan basilik bersama Beatrice, Yudai, dan Katherine. Ia menduga hadiah misi itu telah digunakan untuk membangun kembali desa. Juga, kerajaan memberikan bantuan tambahan demi mewujudkannya setelah basilisk membumihanguskan seluruh wilayah desa.


Ketika ia menatap monumen berbentuk ular yang menjadi sambutan selamat datang, sang kepala desa tengah berdiri menatap hutan perbatasan sambil melipat tangan pada dada, tidak melakukan apapun.


Sans menghentikan langkah, keraguan melanda saat ia memalingkan wajah. Tetapi, ia memberanikan diri dalam melangkah, beberapa misi harus ia lakukan demi membuat gauntlet alchemist.


“Permisi, Yang Mulia.”


Cukup canggung, Sans sangat tidak enak telah menganggu sang kepala desa.


“Oh, kamu yang waktu tadi malam? Dan … juga waktu itu menyelamatkan kami dari basilisk.”


“A-anu—”


Sang kepala desa menatap raut wajah kaku Sans. “Ada apa? Apa kondisi temanmu semakin—”


“Bukan,” Sans spontan menjawab meski ragu, “um, sebenarnya … dia baik-baik saja.”


“Uh, kondisinya semakin membaik.”


“Itu berita bagus, sangat bagus. Syukurlah.”


“A-anu … a-apa saya boleh bertanya? Sebelumnya, maaf telah menganggu Anda.”


Sang kepala desa menggeleng. “Tidak, tidak, saya dengan senang hati akan membantu dirimu.”


“Apa … di sini ada seorang pengrajin? Saya ingin membuat sarung tangan menggunakan ini.”


Sans mengeluarkan benang laba-laba es dari kantong dan menunjukkannya pada sang kepala desa.  


“Oh. Tentu saja, kami punya seorang pengrajin yang cukup andal. Nanti serahkan pada dia.”


“Lalu … mungkin ini permintaan yang cukup aneh, tapi … apa ada bangunan yang tidak terpakai? Untuk sementara waktu, bolehkah saya meminjamnya?”


***


Beberapa langkah pertama untuk menjalankan berbagai misi dari Duke mulai tercapai. Setelah ia meminjam sebuah rumah yang baru saja selesai dibangun di sekitar reruntuhan pilar, tepat dekat menuju jalan tenda pengungsian, sang kepala desa mempertemukannya dengan seorang pengrajin.


Kesan pertama Sans untuk sang pengrajin itu. Rambut cokelat diikat di belakang, berkacamata, dan berbaju kain biru bercampur ungu. Dari penampilannya itu, ia dapat menyimpulkan pengrajin itu sangat andal dan esentrik.


Sangat bersemangat setelah mendapat kesan pertama, sang pengrajin langsung meminta permintaan meskipun aneh-aneh. Sans hanya berkata ia ingin membuat sarung tangan, kira-kira tiga buah.


Sang pengrajin mengepalkan tangannya ke atas, sangat bersemangat dan tidak sabar ingin segera mengerjakan permintaan Sans. Ia lalu mengambil laba-laba es yang Sans serahkan sebagai bahan inti dari sarung tangan itu.


Begitu sang pengrajin itu telah berlalu, Sans kembali memasuki rumah yang ia pinjam. Sama seperti rumah di mana Duke berada, belum ada apapun kecuali dinding hitam dan lantai batu, apalagi meja dan kursi.


Tidak ada pilihan lain selain membaca Buku Dasar Alchemist sambil duduk di lantai. Maka, ia melakukannya. Ia meletakkan buku itu di lantai dan membuka halaman sambil sedikit membungkukkan badan dan menundukkan kepala.


Dibukanya bab “Kemampuan Menyerang Alchemist”. Terlebih dahulu bagian paragraf pengenalan menyambutnya. Seperti yang sudah Duke jelaskan, Alchemist wajib menggunakan senjata demi melindungi diri, mayoritas senjata adalah mace.


Bagian itu cukup panjang hingga Sans lelah dalam memindainya. Lima halaman panjang itu akhirnya mengantarnya menuju kumpulan kemampuan penyerangan alchemist. Tentunya, lagi-lagi penjelasan tentang senjata seperti mace, belati, dan pedang.


Setidaknya bagian itu membutuhkan sepuluh halaman sebelum akhirnya merujuk pada kemampuan penyerangan murni bersumber dari alchemist. Terlebih dahulu, ia membaca penjelasan pembuka. Pada dasarnya kekuatan alchemy bersifat memanipulasi hal-hal disekitar dalam kehidupan sehari-hari dan dapat dijadikan sebagai sumber penyerangan.


Ia lalu beralih pada berbagai kemampuan penyerangan alchemist, membaca setiap penjelasannya sudah membuatnya berputar-putar. Cukup bingung untuk memahaminya, apalagi menerapkannya secara langsung.


Sans secar perlahan memindai setiap paragraf, setiap kata, dan meresapinya agar dapat ia mengerti sedikit demi sedikit. Pada akhirnya, ia harus memutuskan kemampuan penyerangan manakah yang lebih mudah dan akan ia pelajari terlebih dahulu.


Satu jam untuk membuat sebuah keputusan, keputusan yang cukup sulit. Ia akhirnya memilih kemampuan penyerangan alchemist yang akan pelajari. Kemampuan penyerangan alchemist pertamanya jika ia berhasil, dan akan ia gunakan untuk berburu kelinci hutan.


Sans juga memperhatikan kemampuan dasar alchemist tersebut tidak seperti saat Duke menggunakan Eraser sebagai layaknya mantra sihir, dengan melafalkan mantra. Beberapa kemampuan dasar alchemist mengharuskan penggunanya membaca mantra terlebih dahulu, bahkan tidak sedikit yang sama sekali tidak membutuhkannya dan langsung menerapkannya dengan mengempaskan tenaga dan melakukan gerakan.


Ia membaca kembali bagian serangan yang ia putuskan untuk lebih memahaminya kembali. Setelah beberapa kali ia memindai teks tersebut, ia bangkit dari duduk dan mengambil Buku Dasar Alchemist begitu menutupnya.


***


Alih-alih belajar untuk mempraktikkannya terlebih dahulu, Sans memutuskan untuk langsung menerapkannya dalam berburu kelinci hutan di dekat monumen selamat datang desa Salazar.


Ia melangkah perlahan melirik dan mencari kelinci hutan. Tiga ekor, jumlah kelinci yang harus ia buru hanya menggunakan kekuatan alchemist.


Ia cukup tertekan karena ini kali pertamanya berburu tidak menggunakan belati, melainkan kekuatan alchemist, murni dari tenaganya, seakan menggunakan sihir seperti mage atau priest.


Mengingat Neu atau Sierra sering melafalkan mantra atau menggunakan scroll untuk melakukan sihir, Sans juga memikiran skill penyerangan khusus alchemist pertamanya juga memerlukan sebuah pelafalan mantra, lalu mengempaskan tenaga sama seperti ia melakukan transmutasi.


Ia menutup mata dan memusatkan tenaga. Ia menarik napas dalam-dalam demi menenangkan  diri, sama seperti saat ia akan melakukan transmutasi untuk membuat ramuan.


Ia mengacungkan telunjuk kanan mengarah pada salah satu pohon, seakan seperti mengarahkan panah. 


Telunjuknya kemudian ia tekankan pada jempol menggunakan tenaga sebelum ia melafalkan mantra dan mengempaskannya.


Ia melafalkan mantra dengan cara berbisik sambil menjentikkan telunjuk. Meski ia sudah berkonsentrasi penuh, sama sekali tidak ada yang terjadi. Tidak ada yang keluar dari jentikan telunjuk dan jempol.


Sans tidak berhenti sampai di situ. Ia kembali mengulang hal yang sama. Meski usaha terbaiknya, proses dalam belajar menerapkan mantra itu berjalan cukup panjang hingga tanpa terasa, ia menatap langit mulai berwarna oranye kehitaman.


Ia sungguh tertekan dalam frustrasi, ia belum berhasil menerapkan mantra tersebut, kemampuan penyerangan alchemist pertamanya. Sungguh panik, sangat panik. Ia ingin menguasainya sebelum esok hari, saat ia mulai berburu kelinci hutan.


Peluh bercucuran pada kulit menuju leher. Napasnya mulai melambat seiring jarak pandang seakan menipis.


Sangat tertekan, ia ingin gauntlet alchemist-nya segera selesai. Ia ingin langsung berhasil melalui langkah pertama dalam proses pembuatan gauntlet alchemist, yaitu mendapat buruan tiga kelinci hutan.


Tenaganya mulai menipis saat ia melanjutkan pembelajarannya sambil melampiaskan frustrasinya. Tanpa ia sadari, begitu ia menatap langit, wanra hitam sudah menjadi dominan. Hutan pun mulai gelap seakan memudar warnanya.


Sans berlutut kelelahan, menarik napas cepat-cepat sambil merenungi segala hal yang telah terjadi. Ia berpikir, jika ia tetap tidak berhasil menggunakan mantra itu, proses pembuatan gauntlet akan terhambat, terlebih, ia mungkin akan kembali ke akademi dengan tangan hampa. Ia sudah rela berbohong dalam mengisi surat izin demi menempuh langkah selanjutnya demi mencapai sebuah tujuan utama.


Ia berhenti sejenak dan menutup mata. Napas ia tarik perlahan, mencoba untuk menenangkan diri. Ia pun sadar setelah mengingat kembali saat pertama kali belajar transmutasi di ruang pribadi Duke.


Mengambil jeda sekitar dua menit, ia membuka mata kembali pada kenyataan. Pikirannya kini kosong kecuali ingatan mantra. Telunjuknya ia arahkan kembali sambil menekan jempol, menargetkan sebuah pohon di hadapannya.


Sebenarnya dapat ia bayangkan Yudai di sampingnya mencoba untuk memanah target yang sama, seakan sahabatnya itu menjadi sebuah penyemangat. Akan tetapi, ia tetap berfokus pada target dan menambah daya konsentrasinya.


Ia melafalkan mantra perlahan dan menjentikkan telunjuk dan jempol, mengempaskan konsentrasi dan tenaga pada tekanan jentikkannya itu. Berkat usahanya tersebut, sebuah cahaya putih kecil hampir tak berbentuk nan tajam meluncur melalui udara mengarah lurus. Serangan tersebut menubruk pada badan pohon.


Sans sampai terdiam, melotot dan hampir kehilangan napas. Kaget bahwa ia berhasil menggunakan skill penyerangan alchemist pertamanya, benar-benar berhasil.


Lega dan puas sesaat, ia mengingat nasihat Duke agar tidak terlalu puas dengan hasil. Ia harus melalui proses untuk menguasai skill tersebut. Sekali lagi, Sans memutuskan untuk berlatih meski malam mulai larut.