Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 90



Embusan angin kencang beserta hujan salju cukup lebat di kota, menyebabkan aktivitas malam hari terhenti. Setiap penduduk kota tetap di dalam rumah untuk berjaga-jaga agar tetap aman sehingga sengaja tidak menyalakan lampu di penjuru kota. Hanya lampu di dalam hampir setiap bangunan, terutama rumah, yang menyala.


Hampir seluruh lembaran misi di papan quest board tidak nampak karena mayoritas dari penduduk mencabutnya untuk sementara waktu. Lantai pada taman alun-alun lebih bersalju tebal daripada sebelumnya.


Kastil Akademi Lorelei juga bukan pengecualian terhadap hal itu. Halaman depan istana mulai bersalju cukup tebal akibat angin kencang. Lampu pada setiap jendela ruangan dalam menyala cukup terang. Aktivitas murid dan staf yang tetap berada di akademi selama libur musim dingin pada malam hari tetap berjalan tenang, yakni beristirahat.


Tidak seperti murid lain di asrama yang memilih untuk tidur lebih awal menunggu angin kencang bersalju di luar segera berakhir, Sans lebih memilih untuk membaca kembali Buku Dasar Alchemist. Memanfaatkan waktu luang dan atas suruhan Duke, bab kombinasi bahan untuk transmutasi ia pelajari.


Subbab pertama adalah berbagai ramuan. Seperti bab-bab sebelumnya, penjelasan berupa pendapat ahli mengungkapkan sejarah di balik setiap pembuatan ramuan dan fungsinya. Penjelasan itu membuat Sans sampai membaca dua kali untuk memahami makna dan intisari dari setiap kalimat.


Bukan sekadar hanya menampung alat, bahan, dan cara membuat pada penjelasan ramuan, melainkan penjelasan dan fungsi ketiganya juga terpampang pada teks itu. Cukup rumit untuk diserap sebelum dipraktikkan.


Sans membuka mulut lebar ketika rahang dengan sendirinya berkontraksi. Entah karena mengantuk akibat kelelahan atau merasa bosan dengan penjelasan teori, ia dapat merasa penat, terutama ketika otaknya sudah seakan mau meledak.


“Belum bosan membaca itu, Sans?” Ucapan Yudai membuyarkan kantuknya.


Sans berbalik menatap Yudai yang sudah berbaring di tempat tidur. “Aku sama sekali belum mengerti dengan bab transmutasi kombinasi bahan. Aku tidak akan merasa enak pada Profesor Duke jika aku sama sekali belum mengerti saat pertemuan berikutnya.”


“Mungkin otakmu lelah. Apalagi sekarang lebih enak tidur lebih awal saat badai salju begini. Jika aku ini dirimu, aku akan membaca buku itu besok pagi, lebih baik kamu beristirahat saja dulu setelah—”


Ketukan pintu menghentikan ucapan Yudai, bersama dengan sahutan Beatrice. “Sans, Yudai! Gawat! Gawat!”


Yudai sampai melompat dari tempat tidur, daratan kaki pada lantai menimbulkan suara tidak kalah nyaring dengan sahutan Beatrice. “Eh?”


“Ini gawat sekali!”


Sans juga ikut berdiri dari kursi dan meletakkan Buku Dasar Alchemist di meja, menatap Yudai membukakan pintu kamar untuk Beatrice.


“Ini gawat! Gawat sekali!” Beatrice menapakkan kaki pada lantai kamar Sans dan Yudai.


“Ke-kenapa?” Yudai mengangkat kedua tangan untuk menenangkan Beatrice. “Ada apa?”


“Bayi phoenix! Aku lupa membawa bayi phoenix. Bayi phoenix masih ada di luar, masih ada di sarang di tengah-tengah badai. Kita harus membawanya ke dalam! Ke dalam!”


“Tu-tunggu, Beatrice,” Sans menghampiri, “kalau kita membawanya ke dalam, bagaimana kalau yang lain keluar dari kamar dan melihatnya? Bagaimana kalau ada profesor yang bertugas mengawasi—”


“Jam malam tidak berlaku selama liburan, ingat?” Yudai mengingatkan.


“Aku tahu itu, Yudai,” tanggap Sans, “i-ini terlalu berisiko.”


“Tapi kan, Sans, Yudai.” Mata Beatrice mulai berkaca-kaca. “Aku benar-benar takut dengan keadaannya sekarang, di tengah-tengah badai salju begini! Aku takut kalau dia mati kedinginan atau terbawa angin kencang. Kita benar-benar harus membawanya ke dalam asrama! Kumohon!”


“Baiklah.” Yudai mengangguk setuju. “Tidak ada pilihan lain.”


“E-eh? Kamu serius?” Sans tercengang akan keputusan Yudai.


“Habisnya, kita bertiga yang bertanggung jawab untuk merawatnya. Kalau kita tidak melakukan apapun saat badai ini, kamu takkan mendapat air mata phoenix, kan?”


“I-iya.” Sans benci mengakuinya, tetapi pada akhirnya menyetujui untuk mengambil risiko.


***


Begitu pintu keluar utama kastel mereka buka, angin berserta butiran salju berembus hingga terasa pada tubuh. Suhu dingin langsung menusuk pakaian hangat hingga kulit seketika.


“Ayo!” Yudai keluar terlebih dahulu tidak mempedulikan hawa dingin menghentikannya.


Sans dan Beatrice turut menyusul melewati pintu sebelum menutupnya. Hawa dingin dari campuran angin kencang dan salju semakin menusuk.


Langkah mereka cukup lambat demi menahan hawa dingin bersama dengan embusan angin bersalju untuk menyusuri halaman akademi. Butuh kurang lebih empat menit untuk mencapai di sudut timur laut halaman akademi.


Beatrice terlebih dahulu berjongkok perlahan menatap di balik kolong akar pohon dekat sudut pagar timur laut itu. Bisa ia lihat phoenix tengah merunduk melindungi diri agar tidak keluar.


“Hei. Tidak apa-apa, bayi phoenix,” sapa Beatrice, “kamu pasti kedinginan, ya? Maaf ya.”


Yudai mengeluarkan selembar kain dari saku pakaian hangatnya. “Ini. Sekarang kita bawa dia ke dalam.”


Beatrice meraih selembar kain dari tangan Yudai. Ia menggunakan tangan kiri untuk mendorong bayi phoenix pada kain itu. Dibungkusnya tubuh bayi phoenix pada kain demi melindungi dari udara dingin.


Beatrice perlahan bangkit membawa bayi phoenix yang telah sedikit mendapat kehangatan dari bungkus kain itu.


“Mulai sekarang, kita berhati-hati dalam melangkah,” pesan Sans.


Mereka berbalik dan kembali melangkah secara hati-hati. Bagi Beatrice, genggaman pada bayi phoenix harus lebih erat tanpa harus mencekik atau menyiksanya.


Angin pun berembus semakin kencang ketika hampir mencapai pintu masuk utama kastel. Penantian mereka telah berakhir. Tidak tahan lagi dengan udara dingin dari embusan salju bercampur angin kencang yang semakin menusuk tubuh, Yudai menarik salah satu sisi dari pintu gerbang itu.


Kembali memasuki ruang depan kastel, kelegaan mulai menghangatkan tubuh, tetapi mereka masih gemetar kedinginan akibat melewati badai salju itu. Tanpa perlu berbicara lagi apalagi memastikan ada seseorang di sekitar ruang itu, tangga menuju lantai atas mereka lewati perlahan.


Ketika melangkah di selasar menuju gedung asrama, tidak ada siapapun juga di sekitar mereka. Aman, benar-benar aman untuk mengantar bayi phoenix memasuki gedung asrama. Berbagai tangga juga mereka lewati secara perlahan.


Memasuki gedung asrama, terlebih dahulu tangga menuju lounge room mereka lewati. Beruntung, tidak ada satupun yang tengah bersantai di hadapan perapian. Seluruh pintu kamar di setiap lantai tertutup rapat, dan tidak ada satupun yang mondar-mandir di tangga dua arah.


Menatap perapian di lounge room itu telah mati, Sans mengambil kotak korek api dari meja di antara beberapa sofa merah secepat mungkin, mengingat dirinya semakin menggigil. Begitu membuka kotak itu, salah satu korek api ia ambil.


Korek api itu ia gesekkan pada sisi kiri kotak hingga api mulai menyala. Ia lembar korek yang mulai terbakar itu pada kayu di perapian.


Perapian itu mulai menyala dengan bara api membakar seluruh bagian kayu hingga memiliki ujung seakan seperti bentuk lancip menghadap cerobong asap. Atmosfer di lounge room itu lama-kelamaan mulai menghangat.


Mereka bertiga mulai duduk di hadapan perapian, menghangatkan diri dengan mengangkat tangan menghadap api. Yudai juga menepuk dan menggesekkan kedua tangan untuk menambah kehangatan pada tubuhnya.


“Syukurlah.” Beatrice membuka bungkus kain dan memastikan bayi phoenix tetap utuh tidak terluka secara dalam dan luar. “Kamu sudah aman sekarang.


“Ah, dia lugu sekali,” ucap Yudai, “dia pasti sudah menunggu lama, lama sekali dalam menghadapi badai salju tadi.”


“Makanya, aku jadi takut kalau bayi phoenix ini benar-benar kedinginan sampai mati. Aku tidak tega melihat bayi selucu ini menderita, bahkan sampai mati menjadi abu, seperti saat kita lihat waktu di gunung berapi.”


Sans mengingat kerap sekali murid lain bersantai di lounge room dalam jangka waktu lama setiap kali memasuki gedung asrama dan menaiki tangga menuju kamar, bercengkerama sambil santai minum teh. Sekal lagi, ia bersama Yudai dan Beatrice dapat menikmati hal itu, apalagi saat malam hari dan libur musim dingin.


“Sering sekali terpikirkan sebelum libur, saat kita ingin berdiskusi bersama, terutama bersama Tay, Neu, dan Sierra, di sini sebelum tidur, sering sekali lounge room ini ramai dengan murid lain. Baru kali ini kita dapat duduk di sofa yang setara nyamannya dengan tempat tidur kamar. Ini seperti saat di rumah.”


“Rumah.” Beatrice terdiam, mengingat keadaan ruang perapian di rumahnya. 


Hangat, setara hangatnya seperti di lounge room. Lounge room di rumah Beatrice pasti lebih banyak properti daripada di gedung asrama Akademi Lorelei. Ia juga mengingat warna dinding lebih elegan dan terkesan mewah.


Bayi phoenix membuka paruh bersuara, seakan ingin berbicara. Tubuhnya masih sangat sensitif, hampir tidak memiliki bulu. 


Beatrice menganggapi sambil mengelus perlahan kepala bayi phoenix, “Masih kedinginan, ya? Baiklah, aku akan bernyanyi untukmu, ini lagu yang baru saja kupelajari bersama Profesor Danson.”


Sans dan Yudai melirik saat Beatrice mengungkap keinginan untuk meninabobokan si bayi phoenix menggunakan salah satu lagu song mage. Mereka hanya diam sebelum mulai menikmati suaranya dalam lagu baru.


Beatrice perlahan mulai mengicaukan irama dan lirik lagu pada si bayi phoenix.


Let me make this art


Let me make this art


Let it protect you


Let it spread around you


Let it become the barrier


Let it stand by you


Increase our breavery


Facing our enemies


Let it remind you


We're not alone


Let's face it together


In our great battle


Whoa oh, whoa oh


Protect us


Protect us


Build the barrier around us


Dear my lovely voice


To face the threats and attacks around us now


Let it remind you


We're not alone


Let's face it together


In our great battle


Sans dan Yudai tersenyum lebar setelah mendengar lagu Art of Protection yang didendangkan oleh Beatrice hingga akhir.


Sang bayi phoenix pun seakan mulai memeluk kain pada tangan Beatrice dan menutup kedua mata. Art of Protection sebagai lagu nina bobo berhasil membuatnya lebih nyaman dan hangat.


Beatrice menempatkan bayi phoenix itu di meja antara perapian dan sofa merah, membiarkannya tidur dengan nyaman dan aman.


Sans berbisik, “lagu yang indah.”


Beatrice menunjukkan giginya saat ikut tersenyum lebar.


“Apa sebaiknya kamu bawa dia ke kamarmu begitu bayi phoenix sudah cukup lelap?”


Beatrice menggeleng. “Kita tidur di sini saja, menemani bayi phoenix.”


“Ti-tidur di sini?” ulang Sans dan Yudai heran bersamaan.


“Kita yang merawatnya, kan? Akan lebih baik kita tidur sambil menemaninya. Kita juga akan menambah faktor lain dengan menemaninya, membangun hubungan. Dengan begitu, peluang kita untuk mendapat air mata phoenix semakin besar.”


“Baiklah kalau begitu,” Yudai menyetujui ketika bangkit dari sofa. “Sebaiknya aku dan Sans tidur di lantai, di hadapan perapian.”


“E-eh? Ti-tidak usah, aku justru akan lebih nyaman tidur di lantai, lagipula masih ada sofa, kan?


“Tidak apa-apa. Perempuan harus lebih diutamakan kalau soal kenyamanan. Aku dan Sans rela tidur lantai daripada di sofa. Iya, kan, Sans?”


Sans terbata-bata dalam menjawab, “Uh, i-iya. A-aku juga sering tidur di lantai untuk menemani ibuku—” Suaranya merendah memikirkan kondisi sang ibu di air kehidupan. “—a-aku jadi merindukannya.”


“Sans.” Yudai menghampirinya. “Kita berusaha sebaik mungkin merawat bayi phoenix ini. Secepat mungkin, kamu akan dapat air mata phoenix untuk obat ibumu.”


“Aku juga yakin, ibumu pasti akan baik-baik saja, sama seperti—” Nada suara Beatrice ikut merendah. “—ayahku. A-aku … sama sekali belum pernah mendengar kabar dari Oya atau Teruna lagi tentangnya. Apakah … air mata phoenix yang kuberikan pada Oya … benar-benar menyadarkan ayahku?”


“Pasti, ayah Beatrice dan ibu Sans akan baik-baik saja,” komentar Yudai seraya menyemangati, “begitu juga dengan kedua orangtuaku yang sama sekali tidak memberi kabar. Pasti, pasti, kita bisa bertemu kembali dengan orang yang kita sayangi setelah lulus dari akademi.”


Beatrice melirik kembali pada bayi phoenix. “Kalau bayi phoenix ini berada di posisi kita, pasti dia akan merasa sedih begitu kita membebaskannya kembali ke gunung berapi, tempat seharusnya dia tinggal.”


Yudai memastikan, “Jangan khawatir tentang ayahmu lagi, anggap Oya sudah melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan ayahmu. Lagipula, kamu memberinya air mata phoenix yang telah kamu dapatkan. Itu berkat perjuangan kita juga.”


Sans menambah, “Aku rela ayahmu lebih dulu sembuh dari penyakitnya.”


“Sans, Yudai,” gumam Beatrice berlinang air mata.


“Oke, sudah cukup.” Yudai mulai berbaring di lantai berkarpet di hadapan perapian. “Tidurlah. Besok kita kembalikan bayi phoenix ke tempatnya begitu kita bangun, bahkan sebelum murid yang lainnya menyaksikan.”


Beatrice mengusap pipinya sebelum kembali bangkit. Ia mulai optimis membayangkan bisa bertemu dengan ayahnya kembali begitu lulus dari akademi dan juga dapat membuktikan pada sang ibu bahwa ia bukan sekadar gadis dari keluarga bangsawan.


Gadis itu mulai berbaring pada sofa ketika melihat Sans ikut berbaring di dekat Yudai, mulai menutup mata.


“Selamat tidur.”


***


“Ada orang di ‘rumah’?”


Suara seorang lelaki dari pintu keluar gedung asrama menjadi hal pertama terdengar. Sontak menginterupsi mimpi di dalam lelap sebagai eskapisme dari dunia nyata, Sans, Beatrice, dan Yudai seketika melongo alarm tanda bahaya telah berbunyi.


Yudai menebak asal suara itu, “Ze-Zerowolf?”


“Hi-hiiii!” desis Sans dan Beatrice bersamaan sambil bangkit dari berbaring.


Mereka bertiga menatap pada tangga menuju pintu keluar gedung asrama. Ternyata benar tebakan Yudai. Zerowolf bersemangat menuruni tangga menuju lounge room.