
“Kalian akan dibagi dalam kelompok masing-masing beranggotakan dua orang!”
Seluruh murid tahun pertama berdiri membentuk setidaknya tiga barisan memanjang hingga seperti tidak beraturan menuju setiap celah kosong pada kolom kosong antara bangku dan meja. Hunt telah berdiri di hadapan podium memperhatikan mereka untuk memberikan pengumuman itu.
Hanya Hunt yang menjadi suara dominan di antara para murid, bahkan setelah mereka mulai bereaksi. “Tadi malam kami telah berdiskusi dan mengundi setiap murid untuk menjadi pasangan masing-masing untuk stage ketiga ini. Saya langsung sebutkan masing-masing kelompok untuk besok.
“Ringo dan Bronson, Hiro dan Ando, Stella dan Flo, Sierra dan Lana—”
Lana mengeluh, “Aaaaah … padahal aku ingin dengan Kakak ….”
Seperti biasa, kelompok Sans dan kelima teman terdekatnya saling berdekatan kembali, meski harus terpisah saat dua stage pertama.
Dapat mereka dengar satu per satu kelompok yang telah diumumkan mengundang reaksi beragam. Kegembiraan karena dapat teman terdekat sebagai rekan atau keluhan karena dapat musuh bebuyutan sebagai rekan. Satu-satunya kabar baik setiap rekan saling mengenal.
Neu berkomentar pada Yudai, “Untung kamu menjadi nomor satu bersama Zerowolf. Lebih baik daripada saat kalian nekad di stage pertama.”
Yudai sedikit terbahak sembari menggosok belakang kepalanya. “He he, mungkin karena semangatku dalam bersaing.”
“Boleh juga.” Sierra bereaksi.
“Apa?” Yudai menoleh pada Sierra. “Ka-kamu terkesan dengan diriku? Ah, tidak juga—”
“Lana teman sekelompokku,” Sierra mengungkapkan maksud pembicaraannya, “kalau tidak salah, dia pernah kutemui saat menuju Pulau Familiar Izaria.”
Yudai menundukkan kepala, kecewa telah salah paham.
“Ah!” Beatrice membalas ucapan Sierra, “Dia menganggap Sans sebagai kakak semenjak ujian akhir semester. Dia—”
Sierra menggulung kedua tangannya sambil menutup mata, menghayati kilas balik tersebut. “Aku ingat yang itu. Betapa manis sekali, tapi aneh juga pada saat yang sama.”
Beatrice tersenyum polos. “Ya, habisnya dia kagum sekali meski Sans hanya bermantel putih tapi bisa berkembang.”
Hunt mengumumkan kelompok lain, “Beatrice dan Sans, Katherine dan Riri, Pico dan—”
Riri bernapas lega. “Ki-kita satu kelompok, Katherine!”
“E-e-eh?” ucap Katherine melongo.
“Sans! Syukurlah!” seru Beatrice.
Sans tersenyum menatap Beatrice sekali lagi.
“Tay dan Neu, Yudai dan Zerowolf.”
Kedua pasang rival bebuyutan membeku mendengar nama mereka terpanggil. Justru, kenyataan bahwa mereka harus rela bekerja sama memicu kilat menuju benak.
Zerowolf terlebih dahulu mengungkapkan reaksinya, “A-aku harus sekelompok dengan Yudai? Ri-rivalku sendiri?”
Riri dan Katherine menatap kesuraman pada wajah Zerowolf dan Lana. Riri sedikit tertawa sambil menutup mulut menggunakan telapak tangan kanan sebagai reaksi balasan pada Zerowolf.
“Pastikan kalian telah mendengar dengan baik kelompok kalian ya!” Hunt kembali menjelaskan, “kalian semua akan ke bazaar di kota untuk berjalan-jalan.”
Hampir seluruh murid tahun pertama bersorak menyatakan kelegaan. Selama Festival Melzronta berlangsung, mereka hanya berkompetisi tanpa sempat berjalan-jalan mengelilingi kota demi melepas rasa penat di bazaar.
“Harap tenang!” Hunt menenangkan mereka hingga terdiam. “Tentu saja, kalian masih harus bersaing dalam stage ketiga ini.sambil bersenang-senang di bazaar. Tugas kalian, temukan tiga profesor yang tengah menyamar di tengah-tengah bazaar. Mereka akan melihat-lihat setiap stand yang tersebar di sekitar kota ini.
“Setelah kalian menemukannya, temui saya di alun-alun yang menjadi pusat dari bazaar untuk menyebutkan nama profesor tersebut dan apa yang mereka kenakan. Batas waktu kalian sampai senja. Begitu saja. Bubar!”
“Hah!” jerit Tay dan Neu bersamaan ketika mayoritas dari murid tahun pertama mulai membubarkan diri.
“A-aku harus ke bazaar bersama si Mata Empat katanya?” reaksi Tay berlanjut.
Begitu juga dengan Neu. “Se-setelah kita gagal menangkap para waria itu?”
“AAAAAAAARRRGH!!”
Tay dan Neu berlutut menyentuh kepala, sangat pusing akan kenyataan tersebut. Tidak mengejutkan bagi Sans, Beatrice, Yudai, dan Sierra. Sebagai teman sekamar saja tidak akur, apalagi saat bercengkerama bersama. Menaruh hanya mereka berdua dalam satu pasangan sudah pasti menjadi bencana dalam mengerjakan tugas.
“Ya mau bagaimana lagi,” Yudai memberi komentar, “aku tidak sabar melihat kalian bekerja sama, sama seperti saat tugas di Labirin Oslork bersamaku. Ya, melihat kalian seperti ini—”
“Mana sudi aku bekerja sama dengan si Mata Empat ini!” balas Tay menunjuk Neu.
Neu menghadapi Tay dalam meluapkan apinya. “Aku harapkan kamu tidak mengacaukannya lagi saat tadi.”
“Oh! Itu yang ingin kukatakan, Mata Empat!”
“Oh ya, kalau saja kamu tidak ceroboh saat menghadapi para waria itu, kita pasti akan selamat dan membawa mereka kembali ke akademi!”
Sierra menghela napas. “Ini dia. Yang ditunggu-tunggu.”
***
“Sans.”
Neu menepuk bahu Sans seraya menghentikannya tepat di selasar, membiarkan Beatrice, Yudai, Tay, dan Sierra menyusul terlebih dahulu saat di selasar menuju asrama mengikuti deretan murid lain.
Berpasangan dengan Tay belum cukup untuk menumpuk penat di dalam otaknya. Terpicunya ingatan pertemuan dengan Earth tepat setelah stage pertama Festival Melzronta berakhir membuat dirinya semakin sakit kepala.
“Kamu menghadapi Earth setelah aku dan Tay ditangkap kan?”
“Eh? Ke-kenapa kamu bertanya begitu?”
“Ingat kan saat Sierra bilang Earth sering menguntit Beatrice?”
“Uh.” Sans mengangguk. “Tadi aku melihatnya setelah kami bertiga melarikan diri dari pada crossdresser itu. Dia bersembunyi, dan tidak kusangka dia serius.”
“Sans.” Neu menepuk kedua pundaknya. “Besok, kamu bersamanya saat stage ketiga di bazaar. Aku ingin kamu tetap siaga dekat Beatrice, lindungi dia dari Earth. Earth adalah orang lebih brengsek daripada Tay menurutku.”
“Ta-tapi aku—”
“Apapun yang terjadi kamu harus tetap bersamanya. Demi aku juga. Aku mohon, Sans. Dia malapetaka untuk Beatrice.”
“I-iya.”
Sans merenungi kembali Earth merupakan salah satu alasan mengapa Beatrice kabur dari rumah. Tidak heran, ia sering melihat Beatrice lebih bahagia ketika menghadapi urusan di Akademi Lorelei, terutama tentang song mage.
Kembali menatap Neu, Sans hanya mengangguk seraya menyetujui perintah Neu.
***
Riri cukup kewalahan menghadapi kemuraman Zerowolf dan Lana. Padahal sudah mendapat kesempatan untuk bersantai dan duduk di hadapan perapian di lounge room asrama.
Katherine terdiam menatap lututnya tidak tahu ingin berkata apa. Pola pikirannya sedang bercamuk bahwa membantu Riri untuk menenangkan Zerowolf dan Lana akan membuat semuanya lebih tegang dan canggung. Kedua tangannya kini terbungkus sambil gemetar.
Ruka cukup abai menghadapi keempat teman di dekatnya itu. Ia menjadi satu-satunya yang tengah menikmati secangkir teh, diam menikmati sebuah masalah.
“Ah, lebih baik kamu pikirkan sisi positifnya, Zerowolf. Kamu satu kelompok dengan Yudai besok adalah kesempatan untuk mengenalnya lebih baik—”
Zerowolf mengangkat kepala saat menatap salah satu perempuan tidak asing dari deretan murid yang telah tiba dari tangga. Ia mengangkat tangan memasang wajah tidak bersalah.
“—lagi. Aku juga sudah mengenalnya—"
Zerowolf menyapa perempuan tersebut yang tidak lain adalah Sandee. “Oi! Royal guard ber-halberd dan berambut cokelat pirang panjang!”
“De-dengarkan aku dulu dong!”
Sandee terhenti saat menoleh menyaksikan Zerowolf melambaikan tangan menyapanya. Mulutnya terbuka lebar, pipinya memerah, dan tubuhnya membeku sejenak.
Perempuan berambut putih di sebelah Sandee tergelitik menatap kontak tersebut. “Ah, ternyata ada yang suka nih denganmu!”
“Di-diamlah!” tolak Sandee, “cepat kembali ke kamarmu sana!”
“Royal guard?” Ruka menepatkan kedua tangan pada dada. “Itukan job yang akan berkaitan langsung dengan kerajaan. Membosankan.”
Zerowolf mengoreksi, “Ya, banyak orang yang mengincar job royal guard begitu masuk ke Akademi Lorelei. Ya, sayang sekali, mereka tidak lolos waktu aptitude test bagian dalam, tepat di patung Selene begitu, jadinya berakhir menjadi attacker atau mantel putih. Pantas royal guard masuk—”
“Jadi kamu mau apa?” jerit Sandee, memicu perhatian hampir seluruh murid yang tengah bersantai atau baru tiba di lounge room untuk menuju kamar masing-masing.
“Ah, jangan marah-marah begitu dong, royal guard, katanya mau melayani langsung kerajaan begitu lulus dari akademi.”
“Ka-kamu mengenal dia?” tebak Riri.
Zerowolf secara gamblang bercerita, “Tepat sekali. Kami berdua kebetulan bertemu kemarin—”
“Jangan cerita selagi seluruh murid memperhatikan kita!” Wajah Sandee memerah.
“Oh, tentu saja publik, termasuk teman-temanku di sini, ingin tahu sensasi dari cerita pertemuan kita berdua.” Zerowolf menyeringai.
Ruka menempatkan tangan kirinya pada dagu, merespon datar, “Ya, Pasti semua orang tertarik untuk mendengarkan sensasi dari kilas balik masa lalumu itu.”
“Ke kamar masing-masing, kalian semua!” Sandee mengacungkan telunjuk merujuk pada dua tangga menuju deretan kamar murid, menyahut geram tidak ingin seluruh murid menjadi saksi.
Sandee mengepalkan kedua tangan, melampiaskan amarah menjadi energi dalam melangkah cepat menghampiri Zerowolf di lounge room. Kening dan alisnya mengerut ke atas. Mulutnya mengecut dan pipinya semakin memerah.
“Aduh, jangan marah dong, calon pengawal kerajaan.” Sindiran Zerowolf semakin memicu kemarahan Sandee. “Nanti semakin tua dong.”
“Diam! Diam! Diam! Diam!” jerit Sandee membantah.
Giliran Riri yang bangkit dan memukul kepala Zerowolf. “Jangan tambah memprovokasi dia, dasar bodoh!”
Ruka kembali merespon dingin, “Dia memang seperti itu orangnya.”
Sandee membuang muka saat berbalik. “Saat kita bertemu lagi, akan kubuat mulutmu diam.”
“Hiii!!!” jerit Katherine ngeri.
Melihat Sandee berbelok meninggalkan lounge room mengikuti deretan murid lain, Riri menghela napas kini kehebohan itu sudah sirna untuk sementara. Ia kembali menempatkan diri di salah satu satu sofa, menghadap keempat temannya.
“Oh ya, aku jadi ingin tahu bagaimana kamu bertemu dengannya?” Lana yang bersemangat mencuri kesempatan Riri untuk mulai bersuara.
“La-Lana, sejak kapan?” Riri dan Katherine tercengang bersamaan.
Zerowolf menepuk tangannya. “Baiklah, karena kalian penasaran bagaimana aku bertemu si royal guard pemarah itu akan kuceritakan!”
***
Memasuki daerah kota, seluruh murid memasuki fase euforia ketika menatap deretan stand telah berdiri di setiap sudut jalan, beberapa meter di depan setiap gedung yang ada. Bagi murid tahun pertama dan kedua, baru kali ini mereka menatap keramaian bazaar Festival Melzronta di kalangan masyarakat kota.
Sahutan penawaran dari penjaga stand dan kunjungan dari pengunjung yang ingin membeli produk pun memicu keramaian di hadapan mereka. Aktivitas jual beli tersebut bahkan lebih meriah daripada saat hari-hari biasa, apalagi saat Festival Malam Walpurgis.
Wajar jika persimpangan di depan hutan perbatasan antara kota mulai ramai. Jalan itu menjadi garis awal bagi murid Akademi Lorelei ketika matahari telah berada di tengah langit, tepat saat mulainya aktivitas Festival Melzronta di kota.
Bukan hanya sekadar menikmati keramaian kota ketika Festival Melzronta berlangsung, tugas stage ketiga harus juga mereka jalani. Mengidentifikasi ketiga profesor yang tengah menyamar di bazaar tersebut, itulah tugas para murid. Selesai menemukan ketiganya, mereka harus menemui salah satu dari empat profesor (yang semula mereka temui saat perkumpulan masing-masing tingkat semalam) untuk menebak. Pasangan yang berhasil akan dibebastugaskan dan dapat menikmati bazaar.
Kebanyakan stand di bazaar tersebut menjual produk makanan, terutama hasil olahan, kebanyakan menggunakan hasil panen musim semi. Jadi tidak heran banyak murid, mengikuti anggota masyarakat kota lainnya, mulai mengantre ingin membeli dan mencicipi berbagai produk. Banyak dari mereka yang akhirnya mengabaikan tugas stage ketiga, entah lupa atau tidak ketika baru saja memasuki area kota.
“Katherine, sebaiknya kita fokus saja mencari ketiga profesor itu,” pinta Riri saat menyaksikan setiap murid berbondong-bondong memasuki area bazaar hanya untuk terdistraksi oleh berbagai stand, “setelah itu … baru kita kunjungi beberapa stand dan nikmati makanan sepuasnya!”
Katherine hanya menoleh pada Yudai yang tengah mendengar celoteh Zerowolf. Fokusnya hanya pada punggung Yudai hingga tubuhnya menguap seraya menahan malu.
“Katherine, kamu dengar aku?” ucap Riri.
“I-iya! Ka-kamu mau berbicara denganku!” Katherine spontan membalas.
“A-apa?”
“E-eh!” Katherine sadar bahwa ia langsung berkata tanpa berpikir, begitu berbalik menatap Riri, ia kewalahan, sungguh kewalahan. “A-anu, a-aku … harap … kita … akan … be-ker-ja … sa-ma. Ki-kita ca-cari ketiga profesor yang—”
Riri menepuk bahu Katherine. “Te-tenanglah, Katherine. Aku di sini.”
Dari kejauhan, Zerowolf mengalihkan pandangan pada Riri dan Katherine. “Kenapa si Katherine itu? Dia tidak pernah berubah.”
“Zerowolf,” panggil Yudai.
“AH! Sampai mana tadi?” Panggilan Yudai memicu Zerowolf mengacungkan telunjuknya.
“Uh, Zerowolf, berhubung kita satu kelompok dalam stage ketiga, mari kita lupakan persaingan dulu, kita cari tiga profesor itu bersama-sama, demi menyelesaikan tugas.”
“Eh? Bersamamu?” Zerowolf memalingkan wajah. “Ya … baiklah.”
“Ya, kita cari mereka lalu lapor pada Profesor Hunt di alun-alun secepat mungkin. Setelah itu—” Yudai menyeringai penuh harap. “—kita serbu setiap stand dan makan makanan sepuasnya!”
Mendengar optimisme terpancar dari wajah Yudai, Zerowolf ikut bersemangat. “Baiklah! Mari kita berdua cari ketiga profesor itu dulu!”
Tanpa peringatan apapun lagi, Yudai mengambil jalan kiri dari perempatan antara perbatasan kota dan hutan menuju akademi, mencengangkan Zerowolf.
“Yu-Yudai, tu-tunggu, kenapa tidak lurus atau kanan dulu!”