
Sebuah botol kecil bertutup gabus cokelat telah tergenggam pada tangan kiri Sans, tempat untuk menyimpan air mata phoenix sebagai salah satu bahan dari penyakit langka sang ibu. Dia memperkirakan setetes air mata phoenix dapat memenuhi seperempat dari botol kecil tersebut.
Sans dan Yudai menunggu di hadapan pintu masuk asrama ketika langit mulai memancarkan warna jingga di balik warna hitam, fajar telah menyingsing. Wajar jika mereka berdua ingin meninggalkan kastil akademi sebelum atau saat fajar. Namun, waktu untuk menunggu Tay keluar dari kastil tersebut harus menunda waktu keberangkatan.
Kurang lebih setelah dua puluh menit, pintu masuk utama asrama terbuka, mengungkapkan Tay telah melewatinya dan membawa pedang pada selongsong terikat di punggungnya.
Sans dan Yudai menghela napas keterlambatan akan kedatangan Tay telah membunuh waktu keberangkatan. Terlebih, di sekitar mereka masih cukup sepi, wajar, baru saja fajar.
Tay menganggukkan kepala pada Sans dan Yudai. “Apa kalian yakin kalau kita keluar saat fajar, kita takkan melanggar aturan jam malam?”
Yudai menjawab santai, “Fajar sudah akhir dari jam malam kita. Berarti boleh. Dan sekarang kedai roti pasti baru buka.”
“Jelas sekali, kalian pasti ingin ke kedai roti dulu, kan?”
“Tentu saja! Harus mengisi perut pagi-pagi begini sebelum berangkat!”
“Ah, kenapa tidak di kantin saja sekalian? Kenapa tidak tunggu hingga matahari mulai naik ke langit?”
Yudai menggeleng. “Kami biasa sarapan di kedai roti. Menikmati roti di sana, apalagi langsung dari pemanggang, benar-benar nikmat di pagi hari.”
Sans mengangguk setuju. “Itu makanan favoritnya semenjak dia tiba di Aiswalt.”
Tay menggerutu mendahului Sans dan Yudai, “Baiklah, tapi cepatlah. Begitu kalian mendapat rotinya, kita berangkat dari kota ini.”
Tay mempercepat langkah mulai melewati jalan tanah landai di antara rerumputan dan aliran sungai. Yudai menggelengkan kepala sambil menghela napas, memang benar Tay bukanlah orang yang bisa diajak santai.
***
“Ah! Aku suka aroma roti yang baru saja dari pemanggang.” Yudai dapat menghirup aroma tiga buah baguette yang dia pegang dan masih benar-benar hangat begitu keluar dari kedai roti.
Berhubung fajar masih menyingsing, halaman depan kedai roti tersebut belum bertatakan meja dan kursi khusus di luar. Wajar jika baru saja buka, pegawai kedai roti tersebut belum meletakkan meja dan kursi sesuai pada tempatnya.
Sans dan Yudai juga tidak menatap Tay di sekitar halaman depan kedai roti tersebut. Hanya ada jalan setapak dan bangunan di hadapan mereka.
“Aneh. Bukannya Tay seharusnya tunggu di sini selagi kita beli roti?” ucap Sans heran.
“Jangan bilang dia langsung meninggalkan kita!” Yudai mulai panik. “Sial! Apa ini karena kita tidak dekat dengan Tay? Apa karena dia memusuhi kita sejak dulu?”
Sahutan Tay terdengar dari belakang mereka, yakni di sisi kiri kedai roti tersebut. “Tidak usah terlalu dramatik juga. Aku takkan meninggalkan kalian tahu!”
Tercengang akan sahutan tersebut, Sans dan Yudai berbalik. Pandangan mereka tertuju pada pedang pada genggaman tangan kanan Tay. Mata pedang berwarna perak, tidak seperti sebelumnya yang berwarna porselen bagai refleksi cermin.
“Aku baru saja membeli pedang. Kebetulan, toko senjatanya juga baru buka. Aku sudah menabung untuk ini,” Tay menjelaskan.
Yudai berdecak kagum, “Wow! Pedang itu cocok sekali bagimu!”
“Biasa saja.” Tay kembali mendahului Sans dan Yudai. “Kira-kira ke mana arah menuju gunung berapinya? Cepatlah.”
“Oh ya, ini baguette untukmu, ambil satu.” Yudai menawarkan baguette pada Tay. “Makan saja sambil berjalan.”
“Kita akan ke utara,” Sans menjawab pertanyaan Tay.
***
Melewati jalan yang sama persis seperti ke gua kelelawar api, berbagai pepohonan lebat dan rerumputan telah terlintas. Mereka bertiga juga kerap bersembunyi dari binatang buas, jika tertangkap, terpaksa senjata mereka gunakan untuk membunuh demi melindungi diri.
Begitu sebuah tebing hampiri, Sans berhenti sejenak menatapi sebuah gua. Gua letak kelelawar api berada, berbentuk lonjong cokelat bercampur merah jingga, merepresentasikan seperti di ambang api.
Tay berbalik menatap Sans dan Yudai berhenti di hadapan gua tersebut. Dia menghela napas, menggelengkan kepala, dan berkacak pinggang. Dia mengentakkan kaki kanan beberapa kali pada tanah, tidak ingin menunggu begitu lama hingga tiba di gunung berapi.
“Kita tidak punya waktu untuk ini!” ucap Tay.
Yudai menganggapi, “Santai. Kita cukup lelah. Bahkan, kamu sempat melambat ketika melihat pemandangan laut, kan?”
“A-apa? Ti-tidak. Aku hanya ingin kita cepat sampai,” Tay memalingkan wajah sambil membantah, “aku juga ingin melihat seperti apa phoenix itu. Cepatlah, kalian kan yang meminta untuk pergi ke gunung berapi di barat laut!”
“Oke. Tapi kita perlambat sedikit jalannya. Santai.”
“Terserah kalian.” Tay terlebih dulu melanjutkan langkah, meski sedikit lebih lambat agar Sans dan Yudai dapat menyusul.
Mengikuti langkah Tay, Sans menoleh kembali pada gua tersebut, warna merah jingga seakan mengilap seperti lampu kedap-kedip dari dalam. Suara nyanyian kelelawar juga seakan mengiringi harmoni cahaya tersebut.
Sans kembali menatap ke depan, fokus mengikuti Tay. Melihat dirinya dan Yudai bertualang bersama Tay sungguh berbeda jika dibandingkan dengan menjalani misi dari quest board bersama Beatrice dan Neu.
Pertama kali bertualang dengan Tay pasti sungguh canggung, apalagi mereka pernah berseteru saat hari pertama memasuki akademi. Terlebih, perseteruan antara Tay dan Neu juga turut mempengaruhi segalanya, ditambah lagi Tay belum punya teman dekat semenjak ditinggalkan oleh teman-teman setianya setelah aptitude test.
Tidak banyak hal yang dibicarakan semenjak mereka memasuki hutan di utara kota. Jika Sans dan Yudai berbicara pada Tay, pasti cukup canggung, mengingat merasa berat untuk berbicara pada salah satu murid paling dibenci di Akademi Lorelei, ingin rasanya menahan diri untuk melontar kata-kata agar tidak mencari masalah.
Yudai hanya mengikuti dan mematuhi, mengingat dirinya sedang tidak nyaman jika ingin bertemu Neu, apalagi bertualang bersamanya, demi membantu Sans mengambil air mata phoenix. Dia hanya menatap Sans dan Tay di hadapannya, entah senang atau tidak, lega dapat terasa di dalam hatinya, tanpa perlu banyak bertengkar.
Yudai sebenarnya cukup menikmati perjalanan menuju gunung berapi bersama Sans dan Tay. Benar, meski kebanyakan orang menganggap pergi bersama Tay akan berujung canggung dan pertengkaran hingga tidak dapat memuaskan. Terlebih, Tay dapat dianggap sebagai orang yang sulit diajak bekerja sama berdasarkan sikap dan perilaku.
Yudai melebarkan senyuman ketika terpikir kembali Tay mungkin orang yang menyebalkan di luar. Dia justru menyimpulkan Tay memiliki sifat dalam yang masih terpendam dan tidak diketahui banyak orang, sesuai dengan perkataan kakeknya agar tidak menilai orang dari luar terlebih dahulu sebelum mengenal lebih jauh.
Tanah berumput silih berganti menjadi tanah sedikit tandus semakin lama melangkah, ditambah, tanah tandus tersebut berupa tanjakan memutar seperti labirin kecil, berdinding tebing. Hawa panas juga mulai mengengat pada kulit, berarti mereka sudah tiba di area gunung berapi.
“Ini ya?” Tay berhenti sejenak ketika mendapati sebuah belokan menanjak. “Gunung berapi yang kalian maksud?”
“Tidak salah lagi,” Sans menyimpulkan, “Kita hanya harus mencari Phoenix di sekitar sini. Ambil air matanya.”
“Memangnya Phoenix seperti apa sifatnya?”
“Dia punya bulu merah berapi. Itu yang kuingat setelah membaca buku.”
Tay kembali berjalan terlebih dahulu, mendaki tanjakan memutar pada bagian awal tebing gunung berapi. Baru saja menambah beberapa langkah, butiran keringat semakin banyak bercucuran karena hawa panas menusuk kulit.
Yudai juga menambah semangatnya dari dalam hati ketika mengikuti langkah Tay mendaki tebing, tidak memedulikan hawa panas dan peluh. Begitu menoleh ke belakang, ditatapnya Sans mulai berjalan cukup lambat dengan napas sedikit terengah-engah.
“Sans?” panggil Yudai.
Sans terhenti sejenak, kakinya mulai terasa berat untuk kembali mendaki tanjakan, ditambah tenggorokannya semakin kering akibat panas kerap menusuk tubuhnya.
Sans hanya menggeleng. “Aku tidak apa-apa.”
Yudai memberi usul ketika kembali menoleh pada Tay. “Kita cari tempat istirahat dulu.”
“Apa? Apa kita mau buang-buang waktu?” Tay mencoba menolak usul Yudai.
“Kurasa Sans kelelahan berjalan. Kalau kita terus berjalan, bisa saja kondisi Sans semakin menurun, apalagi saat kita pulang dari gunung berapi.”
Tay terdiam sejenak, menggerutu dalam hati. Dia akhirnya mengungkapkan, “Ah! Baiklah!”
***
Pemandangan dari salah satu tebing di dekat gunung berapi terlihat bagaikan miniatur warna hijau dari daun pohon tinggi mendominasi bagian bawah. Pada ujung atas, berbagai bangunan dapat terlihat, termasuk kastil akademi dan kerajaan, menyimpulkan bahwa kota tersebut merupakan pusat kerajaan Anagarde.
Yudai cukup terpana sampai kagum, membuka mulut membentuk senyuman sempurna. Dia tidak menyangka dapat melihat kerajaan dari ketinggian tebing dekat gunung berapi.
Sans hanya duduk dan meminum air dari botolnya, cukup banyak untuk membasahi mulut dan tenggorokan cukup kering. Selama beristirahat, hawa panas yang menusuk kulit juga semakin berkurang.
Tay hanya terdiam ikut melihat hutan dan kerajaan dari ketinggian tebing dekat gunung berapi tersebut. Dia kembali menghela napas, menempatkan lengan kanan pada lutut, sama sekali tidak senang harus membuang waktu untuk beristirahat.
“Pasti indah sekali kan melihat pemandangan seperti ini, iya, kan, Tay?” Yudai membujuk.
“Memang kenapa? Apa aku harus kagum?” tanggap Tay. “Apa aku harus berteriak wow sambil berlebih-lebihan?”
“Kalau kamu senang melihat pemandangan seperti ini, kenapa tidak? Kalau kamu merasa senang, lebih baik tunjukkan saja.”
Tay kembali membuang muka pada Yudai, berharap agar dia segera diabaikan.
“Ah. Dulu, saat kamu punya teman, kamu juga senang kan? Bisa berkumpul bersama?” Yudai justru kembali bertanya.
“Kenapa kamu bertanya hal ini?” Tay kembali menoleh pada Yudai.
“Aku ingat, saat kamu menghajar diriku dan Sans sebelum upacara penerimaan murid dimulai, kamu punya teman yang selalu mengikutimu, kamu seperti pemimpin mereka. Waktu kamu masih berteman dengan mereka, pasti senang, kan?”
Tay sekali lagi membuang muka. “Teman? Mereka bukan lagi teman, semenjak aptitude test berakhir. Mereka justru mulai menyalahkanku setelah gagal dalam aptitude test bagian luar. Makanya, aku memutuskan untuk mengabaikan mereka saat aptitude test bagian dalam, itulah mengapa aku mengikuti kalian dan Neu waktu itu.
“Aku berteman dengan mereka sejak hari pertama pendaftaran, bukan sebelum tiba di akademi. Aku yang jadi pemimpin, mereka justru berpikir hanya kaum elit yang pantas masuk ke akademi, hal yang sama ketika kupikirkan. Jujur saja, karena mereka, aku berpikir kalian tidak pantas untuk masuk ke akademi karena bukan orang elit, itulah mengapa aku menghajar kalian, mereka yang memulai.
“Pada akhirnya, aku masuk ke akademi bukan untuk mencari teman, sama sekali tidak. Bagiku, membuat pertemanan itu tidak penting. Aku hanya ingin menjadi yang terbaik, menjadi royal guard. Dan pada akhirnya, seluruh ‘teman’-ku mengacaukan semuanya, aku putuskan untuk meninggalkan mereka dan fokus pada diriku sendiri. Aku tidak punya orang yang bisa dipercaya di akademi ini.”
Yudai bangkit dan mengungkapkan sisi positif dari perkataan Tay “Pada akhirnya, aku bisa melihat dari lubuk hatimu, kamu bukan orang yang seperti itu. Mungkin aku pernah bilang ini berkali-kali, bahkan pada Sans, Beatrice, dan Neu. Di dalam hatimu, kamu sebenarnya orang baik. Ya, setidaknya, kamu berpikir masih tidak membutuhkan teman, hanya ingin berkembang sendiri. Aku percaya, kalau kita punya teman, kekosongan akan saling terisi, lebih baik dari itu, kita juga akan saling berkembang bersama, untuk mencapai tujuan masing-masing. Kamu bisa menjadi swordsman yang kuat kalau kita sering berlatih bersama.”
Tay membuang napas kembali sambil berdiri. “Ayo, kita lanjutkan perjalanan.”
“Eh? Cepat sekali? Tapi kan—”
“Pada akhirnya, kamu tidak bisa membaca lubuk hati seseorang, kan, alis melengkung? Itu hanya intuisimu, bukan?”
Tay pun kembali melangkah, melanjutkan langkah untuk kembali mendaki. Baginya, begitu selesai mendapat air mata phoenix, dia tidak perlu berurusan lagi dengan Sans dan Yudai.
Yudai menggaruk kepalanya. “Apa dia tersinggung dengan perkataanku?”
Sans ikut bangkit menatap Tay seorang diri melanjutkan perjalanan. “Apa dia marah? Aku berpikir sifat orang tidak bisa berubah dalam sekejap.”
“Memang. Pelan saja, aku yakin Tay ingin berubah. Ayo.”
“Ah, i-iya.” Sans mengikuti langkah Yudai. “Tapi kenapa? Kenapa kamu percaya kalau dia orang baik? Kamu juga pernah bilang jangan menilai orang dari luarnya, begitu? Aku tidak melihat dirinya sebagai orang baik. Aku bahkan tidak tahu apalagi alasanmu mengapa kamu menanggap Tay sebagai orang baik.”
“Percaya saja, kalau kamu semakin mengenal orang, kamu akan menemukan sisi tersembunyi.”
“Kamu sudah berkata itu berkali-kali!”
***
Butuh setidaknya satu jam untuk tiba di dataran dekat puncak gunung berapi dengan mendaki tebing menanjak.Lantai pun seketika menjadi campuran antara tanah dan batu diiringi oleh beberapa pohon kecil. Asap dari kawah pun sudah mulai terlihat membentang mendekati langit pada pandangan.
Belum selesai memandang asap dari sebuah kawah, seekor burung berbulu merah berterbangan di sekitar langit, menemui Sans, Yudai, dan Tay sejenak. Sans mengingat karakteristik burung tersebut, berapi membara bagai membakar tubuh burung tersebut tanpa terluka.
“Itu phoenix!” tunjuk Sans mulai berlari mengejar burung tersebut.
“Sans!” Yudai mengikuti Sans.
“Hei!” jerit Tay.
Begitu mereka mengejar phoenix itu, tiga orang familier juga menempatkan kaki dari sisi kanan pandangan. Sans dan Yudai tercengang ketika melihat wajah ketiga orang itu, sama sekali tidak menyangka.
“Be-Beatrice?” panggil Sans tidak bisa menyembunyikan kaget ketika melihat perempuan ber-sun hat putih sedang bersama Neu dan Sierra, juga mengejar phoenix.
“S-Sans?” balas Beatrice.
“L-lho? Sans? Yudai? Lalu … Tay?” ucap Neu.