
Setelah mendapat informasi dari Duke tentang cara tepat untuk mendapat air mata phoenix, Sans dan Yudai tidak mungkin menunda-nunda lagi untuk melakukannya. Hanya tersisa dua hari bagi Beatrice untuk melaksanakan tugas untuk Oya, memberikan benda itu untuk menyembuhkan sang ayah.
Mereka sesegera mungkin mengajak Beatrice untuk kembali ke gunung berapi tempat tinggal phoenix. Berhubung pengetahuan yang mereka dapatkan itu masih segar di otak, keduanya pun memberitahu segala detail dari penjelasan Duke sebagai pengingat.
Begitu meninggalkan kastel akademi, belum siap untuk meninggalkan kota jika Beatrice tidak membeli roti segar, baguette atau croissant menjadi pilihan utamanya. Segar dari pemanggangan, tekstur luar renyah, tekstur dalam lembut, dan aroma mentega merupakan hal favorit baginya untuk menikmati roti yang masih hangat itu. Hangatnya roti sangat membantu menghadapi musim dingin jika ingin berpergian.
Termotivasi oleh perilaku Beatrice, Yudai juga dapat memahami semenjak roti dari kedai itu telah menjadi makanan favoritnya semenjak tiba di Aiswalt. Hampir saja dia melupakan hal itu ketika memperingatkan Beatrice bahwa tidak ada waktu untuk menunda-nunda lagi.
Selesai menikmati roti hangat selagi meninggalkan kota, mereka berfokus pada perjalanan. Hutan pun penuh dengan salju. Mayoritas dari pohon kini tanpa daun lebat. Setidaknya, beberapa pohon yang masih memiliki daun seakan terhiasi oleh salju di atasnya.
Berbagai binatang buas, termasuk monster, mereka hadapi saat perjalanan berlangsung. Hal ini juga bisa menjadi latihan bertarung secara nyata. Sans memperlihatkan keahliannya dalam menebas menggunakan belati sejauh ini, sementara Yudai melancarkan tembakan sesuai dengan akurasi.
Meski mereka membuat kesalahan sepele masing-masing, setiap kekurangan pun tertutupi, seperti saat Sans mendapati seekor binatang buas menyergapnya dari belakang sebelum Yudai menembak menyelamatkannya.
Yudai pun juga sesekali salah perhitungan saat menembak, tidak mempertimbangkan kecepatan beberapa hewan buas. Beruntung, Sans dengan sigap menebas menggunakan belati.
Jalan yang mereka ambil menuju gunung berapi sama persis seperti waktu itu, saat mereka secara terpisah sebagai dua kelompok pertama kali ke sana. Sekadar melintas di hadapan gua kelelawar api hingga akhirnya menuju tebing menanjak.
Perlahan, mereka mendaki tebing cukup bersalju. Tampaknya suhu sekitar gunung berapi telah berkurang semenjak musim dingin telah tiba. Tanjakan memutar seperti labirin kecil, berdinding tebing mereka lewati tanpa henti, mengingat matahari telah seakan mulai meluncur ke bawah.
Hanya butuh satu jam untuk tiba di dataran dekat puncak gunung berapi dengan mendaki tebing menanjak. Lantai pun seketika menjadi campuran antara tanah, batu, dan salju diiringi oleh beberapa pohon kecil. Tidak nampak adanya asap dari puncak gunung berapi.
Di sini lah mereka mulai mencari phoenix. Tidak seperti saat pertama kali berkunjung, sama sekali tidak ada satupun burung berterbangan di sekitar. Berbagai sudut telah mereka eksplorasi selama kurang lebih satu jam.
Berkeliling di sekitar beberapa kali, bahkan sampai berpencar menuju tebing, burung legendaris itu sama sekali tidak nampak. Memang benar bahwa peluang untuk menemukan phoenix cukup kecil. Mungkin hanya keberuntungan saat pertama kali melihatnya.
Beatrice tetap tidak ingin menyerah, masih menatap sekitar pepohonan di sekitar dataran itu. Sans dan Yudai memperhatikan langit mulai berubah warna.
“Anu, Beatrice,” panggil Sans mendekatinya, “sebaiknya kita segera kembali ke akademi. Sebentar lagi senja. Kita akan tiba malam hari kalau kita terus—”
Yudai menepuk bahu Sans. “Ingat, jam malam tidak berlaku saat liburan. Berarti kita bisa terus mencari hingga malam.”
“Ta-tapi, kan … kita tidak bawa perlengkapan untuk membuat kemah di sekitar sini.”
“Ah! Beatrice!”
Mendapati Beatrice kembali mendaki tebing ke atas, Yudai mempercepat langkah untuk mengikutinya. Sans merespon lambat ketika mengikuti mereka berdua.
“Ah!” Beatrice menginjakkan kaki di dataran satu lagi, di atas dataran sebelumnya. Dia mendapati sebuah semak tanpa daun menyisakan batang. Dan salah satu dari batang itu terinjak oleh makhluk yang paling mereka cari. “Teman-teman!”
Sans dan Yudai juga tercengang begitu menginjakkan kaki pada dataran itu. Semak tanpa daun di hadapan mereka itu mereka hampiri.
Senyuman lega Beatrice melebar sampai mulut terbuka. Matanya juga berbinar-binar, tidak bisa menahan haru.
“I-ini,” ucap Sans.
Seekor phoenix telah berada di hadapan mereka. Kakinya mengikat pada salah satu batang semak tanpa daun itu. Tidak seperti terakhir kali mereka menemukannya, bulu merah membara sangat kasar dan gelap, tidak sehalus sebelumnya; matanya memudar, dan suaranya seperti tercekik.
Phoenix itu membuka paruh emasnya sambil mengepakkan sayap, membuat raungan dengan suara seperti batuk. Perilakunya itu sontak membuat mereka bertiga mundur satu langkah saking kagetnya.
Burung itu melirik mereka beriga. Meski penglihatannya yang menurun, tatapannya tetap saja setajam mungkin. Terlebih dahulu, dia menatap dari kiri ke kanan, dari Yudai terlebih dahulu.
Pandangannya beralih pada Beatrice yang berada di posisi tengah sebelum berpaling pada Sans. Selesai melirik, dia mengepakkan sayapnya dan mulai mengangkat tubuh meninggalkan semak tanpa daun itu.
Burung itu menghampiri Beatrice.
“Eh?” Beatrice melongo ketika dirinya yang menjadi bahan tatapan bagi phoenix itu.
“Be-berarti … kamu yang menjadi pilihan phoenix,” ujar Sans, “berarti persis seperti kata Profesor Duke. Tidak perlu sampai melukai, apalagi membunuh. Phoenix akan memilih seseorang yang pantas mendapat air matanya dengan menilai masa lalu dan berbagai faktor lain. Dia ingin kamu mendapat air matanya, Beatrice.”
“Botolnya, cepat!” pinta Yudai.
“E-eh? Ba-baik!”
Beatrice mengeluarkan botol kecil bertutup gabus, sama persis seperti saat pertama kali mencari phoenix, dari kantong yang telah dia bawa di pinggang kiri.
Dibukanya tutup gabus itu secara perlahan terlebih dahulu. Dia mendekatkan mulut botol itu pada salah satu mata burung itu.
Phoenix mulai mengedipkan mata, menunduk pada mulut botol Beatrice. Hanya beberapa kali melakukannya, setetes air matanya akhirnya menetes.
Air mata itu akhirnya masuk ke dalam botol dalam genggaman Beatrice. Setetes air mata, hanya itu.
“Wow,” Sans dan Yudai terpana.
Pada saat yang sama, Sans kembali menundukkan kepala. Kenyataan pahit bahwa hal ini merupakan satu-satunya cara untuk mendapat air mata phoenix. Beatrice memiliki masa lalu dan faktor lain lebih bijak daripada dirinya.
Memperhatikan hal ini, Yudai menepuk pundaknya secara perlahan, hanya dapat isyarat untuk menenangkan. Ingin sekali sahabatnya itu berkata nanti giliranmu akan tiba, tetapi tidak ada pilihan selain menutup mulut demi sebuah kebaikan.
“Terima ka—”
Belum sempat Beatrice menyelesaikan ucapannya, phoenix mengangkat kepala dan meraung cukup keras. Tubuhnya juga mendadak penuh bara api menimbukan efek ledakan kecil.
Ketiganya memalingkan wajah dari hadapan phoenix seakan tengah terkena ledakan itu.
Api pun hanya membakar seluruh tubuh phoenix. Begitu cepatnya, tubuh itu sudah gugur menjadi butiran abu.
“Ti-tidak!” Beatrice berlutut meratapi kumpulan abu di atas tanah dataran bersalju itu.
Kumpulan abu itu menumpuk dalam bentuk seperti kerucut, setara dengan gunung dalam bentuk gambar anak kecil.
“A-apa ini?” Yudai masih tidak dapat percaya sampai menajamkan pandangan. “Di-dia mati terbakar?”
“Aku tidak tahu.”
“Ah!” Sans menatap puncak dari tumpukan abu seakan tumpah menimpa salju di sekitarnya. “Beatrice, Yudai! Lihatlah!”
Begitu Sans dan Yudai mulai berlutut, sebuah penampakan makhluk kecil keluar dari tumpukan abu tersebut, mengungkapkan kepala terlebih dahulu. Kulit merah muda seperti berlapis abu, paruh emas kecil, dan mata hitam.
Air mata Beatrice pun terhenti menatap bayi phoenix yang baru saja lahir dari abu itu, lebih tepatnya lahir kembali.
“A-apa?” Dia sangat terpana.
Sans menebak, “Ja-jadi … dia lahir kembali? Dia membakar dirinya untuk lahir kembali sebagai bayi burung? Begitu rupanya.”
Beatrice mulai perlahan menyingkirkan abu di sekitar bayi phoenix itu, tidak dapat menahan diri dari pesona keluguannya. Tangan kanannya ia dorong untuk mulai menyentuh kulit badan phoenix yang masih lembut dan rapuh itu.
“Ah, lugu sekali.” Beatrice mengangkat bayi phoenix itu agar menunjukkannya pada Sans dan Yudai. “A-aku jadi tidak tahan lagi dengan wajah imutnya.”
Sans mulai berdiri kembali sambil menghela napas. “Baik, sebentar lagi senja. Sebaiknya kita cepat kembali ke akademi.”
“Imut sekali. Aku jadi ingin membawanya pulang.”
Sans dan Yudai melongo atas keinginan Beatrice itu.
Sans membalas, “Eh? Ta-tapi kan … kalau kita sampai memeliharanya, akan ada masalah, bukan? Bagaimana kalau ketahuan profesor? Tentu mereka akan memarahi kita, bukan?”
Yudai membela keputusan Beatrice, “Aku mengerti, lagipula aku tidak pernah mendengar ada larangan membawa hewan peliharaan di akademi. Oke, aku mengerti tidak ada satupun murid yang membawa hewan peliharaan seperti phoenix ini. Um, bagaimana ya cara mengatakannya? Hmmm.”
“Kumohon, kita harus memeliharanya!” Beatrice tidak sabar dalam memelas pada Sans dan Yudai. “Dia lucu sekali. Aku ingin melihatnya dia dapat terbang lagi di langit.”
“Ah! Itu dia!” Yudai menjentikkan jari sambil berdiri. “Kamu bisa mengambil air matanya nanti! Itu jika kita berhasil membuat hubungan baik pada phoenix kelak! Setidaknya, hanya satu cara, bukan? Mungkin merawat phoenix dari bayi termasuk faktor lain yang membuat dia ingin mengeluarkan air matanya pada manusia.”
Sans tetap saja bimbang. Meski Yudai mencoba untuk mengandalkan kesempatan itu, ia tetap menolak.
“Tolonglah. Kamu juga masih butuh air mata phoenix, bukan?” Mata Beatrice kembali berbinar saat memelas.
Sans mempertimbangkan hal itu sejenak. Kepalan tangan kanan mendekati bibir sebagai gaya berpikir. Memelihara phoenix dapat bermanfaat, sangat bermanfaat untuk dirinya. Kelebihan itu adalah ketika dia sudah siap untuk menerima air mata phoenix bergantung hubungan emosional sebagai sebuah faktor.
Kekurangannya, dia takut akan ketahuan oleh siapapun di akademi, mulai dari murid lain hingga profesor seperti Alexandria. Meski bersembunyi-sembunyi dalam memelihara, lama-kelamaan kejujuran akan terungkap.
“Bagaimana?” Yudai meminta keputusan Sans.
“Baiklah.” Sans menghela napas. “Kita pelihara dia, sampai aku dapat air matanya.”
“Ya!!” seru Beatrice bangkit girang sambil secara hati-hati membawa bayi phoenix di telapak tangannya. “Kita akan bawa pulang bayi phoenix! Dia lucu sekali!”
***
Perjalanan pulang dari gunung berapi itu cukup lama, sama seperti saat pertama kali. Ketika mencapai hutan setelah melewati mulut gua kelelawar api, langit telah berubah menjadi hitam.
Beatrice menaruh sang bayi phoenix ke dalam kantungnya hanya untuk berjaga-jaga. Tentu bayi phoenix akan menjadi sasaran empuk bagi hewan buas jika terlihat secara fisik. Tentu ketika Sans dan Yudai bertarung menghadapi hewan buas saat malam hari, nyawa bayi phoenix akan aman jika tersembunyi.
Beruntung, mereka hanya dua kali mendapati hewan buas, termasuk monster, selama perjalanan kembali menuju akademi. Sans dan Yudai dapat dengan mudah menyerang menggunakan senjata masing-masing cukup lancar.
Ketika mereka mencapai salah satu jalan masuk kota, lentera bercahayakan api turut menyambut. Jalan penuh salju pun menjadi hal pertama yang nampak memasuki kota. Cahaya dari setiap lentera di berbagai sudut kota memerah merana mendominasi kegelapan dalam kota.
Setelah melewati jalan dan pemandangan kota, jembatan antara kota dan akademi turut mereka hampiri. Aliran sungai di bawah jembatan itu seakan melambat berkat terjadinya musim dingin.
Hampir tidak ada ragam warna pada taman halaman akademi. Warna putih pada salju di tanah seakan menutupi rumput dan bunga, warna cokelat layu pada batang pohon tak berdaun, dan air hampir membeku.
“Tunggu dulu.” Sans menghentikan langkahnya ketika mereka tiba di hadapan pintu masuk utama kastel. “Bayi phoenix-nya, kita tidak bisa merawatnya di kamar.”
“Eh?” Beatrice kembali melongo ketika mengoleh padanya. “Ke-kenapa?”
“Begini saja,” Yudai memberi usul, “kita simpan dia di lemari. Selagi waktu luang, kita urus dia.”
“Ta-tapi kan … bagaimana kalau ketahuan yang lain? Bagaimana kalau phoenix saat dewasa terbang di setiap ruangan gedung asrama?” Sans mengingatkan.
“Begitu rupanya. Kita harus bagaimana? Kita biarkan bayi phoenix ini tinggal di taman akademi? Tapi di mana?” Beatrice menoleh pada pemandangan taman halaman depan akademi.
***
Berkeliling mengitari taman kastel justru tidak membuat mereka lebih lelah meski telah menghadapi perjalanan pulang dari gunung berapi. Mereka melirik-lirik memastikan ada celah tersembunyi dan hampir tidak kasat mata bagi murid lain yang melintas.
Pada akhirnya, sebuah pohon di sudut timur laut pagar pembatas kastel menjadi pilihan semenjak jarang ada orang satu pun yang melintas. Sebuah kolong di bawah badan pohon pun menjadi tempat tersembunyi bagi bayi phoenix. Terlebih lubang kolong di antara kumpulan akar itu setara dengan kepalan tangan.
Tepat sebelum menaruh bayi phoenix itu tepat di dalam tempat tinggal baru itu, mereka bertiga mengumpulkan berbagai ranting yang telah terjatuh atau tergeletak di sekitar tanah bersalju itu.
Mereka memotong kumpulan ranting itu menjadi potongan kecil dan menumpuknya di kolong bawah pohon sebagai alas bagi bayi phoenix, atau lebih tepatnya sarang. Dengan begitu, bayi phoenix dapat tinggal cukup aman dan nyaman.
Beatrice meletakkan bayi phoenix yang telah terlelap itu di atas tumpukan ranting secara perlahan. Dorongan lembut dari tangan kirinya sama sekali tidak menganggu lelap.
“Ah, dia lucu saat sedang tidur,” ucap Beatrice.
Sans bernapas lega. “Yang penting, untuk sementara, bayi phoenix aman.”
Yudai mulai menguap. Kelelahan pada seluruh tubuh dapat ia rasakan sehabis melakukan perjalanan selama sehari penuh.
“Setidaknya tidak ada yang akan tahu,” tambah Beatrice, “kita akan merawatnya sampai kita dapat setetes air mata untukmu, Sans.”