
Akhir-akhir ini saat berkumpul untuk makan siang terasa berbeda, sangat berbeda. Jika biasanya Beatrice menyebarkan keceriaan, Neu beradu argumen dengan Tay, dan Yudai sampai heboh, setelah bootcamp berakhir, ketiga sosok itu telah absen. Sans, Tay, dan Sierra lah yang tetap berkumpul seperti biasa di satu meja kantin.
Hening, hanya suara garpu dan pisau mengiris makanan serta sampai membentur piring bergema pada pendengaran. Sama sekali tidak ada komunikasi kecuali saling menatap sambil menikmati makan siang. Sierra cukup tenang dalam menikmati makan siang, caranya memegang garpu dan pisau dalam memotong makanan bisa dikatakan sangat elegan, tanpa adanya suara dari benturan pada piring. Sampai-sampai caranya memasukkan potongan makanan menuju mulut sangat pelan sampai membuat orang berpikir ia menikmati menu itu.
Berbanding terbalik, Tay cukup cekatan dalam menikmati makanan itu, terburu-buru sampai tidak peduli mulutnya sampai penuh, apalagi makanan yang masuk ke tenggorokan belum terkunyah sempurna menjadi bentuk bubur atau cairan. Seakan mengatakan ia tidak ingin berada di antara kerumunan orang di kantin.
Sangat canggung, Sans terdiam menyaksikan kedua orang di hadapannya itu hanya makan tanpa bicara. Ia sangat ingin memulai percakapan, sudah terpikirkan sebuah topik yang ingin dibicarakan, yaitu tugas filsafat dari Alexandria.
Berniat membuka mulut, pikirannya lagi-lagi menentangnya. Seperti garis-garis tak beraturan hingga menumpuk membentuk gelombang, kata-kata sama sekali belum terpikirkan untuk berbicara. Ia menahan napas, kewalahan.
“Oh, Kakak!” Tentu saja ia mengenali suara itu dari Lana dari samping belakangnya.
Tay dan Sierra juga ikut menoleh, Lana sudah menghampiri meja mereka bersama Riri, Zerowolf, dan Katherine yang masing-masing membawa sebaki makan siang.
“Masih kosong kan?” sapa Riri.
“Tentu saja!” sahut Zerowolf. “Apa kamu buta, Riri? Beatrice dan Neu sama sekali belum kembali, entah ke mana. Lalu kenapa Yudai malah tidak ada juga? Apa dia jadi pengecut? Tidak seperti biasanya.”
“Oke, kami ikut makan siang di sini ya. Ayo, Katherine.” Lana menempatkan baki makan siangnya dan mulai menempatkan diri di dekat Sans. “Makan siang bersama Kakak! Akhirnya!”
“A-anu … maaf.” Katherine malu-malu saat duduk di sebelah kiri Sans.
Tay menjawab, “Yudai sedang di perpustakaan, katanya ingin mencari sesuatu di lorong terlarang.”
“Ah! Lorong terlarang!” Riri menyenggol pinggang Zerowolf. “Bukannya kamu juga punya akses ke sana? Kamu kan menang posisi teratas kategori individu.”
“Membosankan kalau ke perpustakaan. Lebih baik berlatih langsung saja,” tanggap Zerowolf, “omong-omong, kalian pasti mengkhawatirkan Beatrice dan Neu. Kasihan sekali mereka tidak kembali ke akademi. Sangat sayang sekali, Ruka saja sudah kesepian tanpa ditemani Beatrice di kamar. Apalagi Tay, pasti kesepian tanpa ditemani Neu. Kalian kan sering bertengkar, pasti sangat merindukan momen—"
“Kamu jangan bilang sembarangan, dasar sinting!” Tay membanting tangannya pada baki makanan yang telah kosong, memicu perhatian seluruh murid yang tengah makan siang di kantin.
Emosinya memuncak memandang wajah tidak bersalah dan polos Zerowolf, Tay bangkit dan terbirit-birit meninggalkan kantin.
“Tay!” sahut Sierra memecah ketenangannya.
Riri menghela napas. “Dasar! Kamu bicara sembarangan!”
***
“Jadi bagaimana dengan lorong terlarang?”
Sans mengayunkan belatinya seakan sedang menyerang seseorang menghadap gerbang keluar utara kastel, tebasannya pada udara semakin kencang menggunakan tenaga pada tangan kanan ber-gauntlet-nya.
Cukup lama Sans tidak berlatih bersama kelima teman dekatnya semenjak dirinya pergi ke tambang kristal Munich setelah Festival Melzronta berakhir, dan juga bootcamp turut memisahkan sesuai tipe job masing-masing. Hari pertama berlatih bersama kembali, hanya ia dan Yudai yang hadir seperti biasa. Tay memang sedang ada kelas khusus swordsman, sedangkan Sierra berada di perpustakaan untuk mencari informasi demi mengerjakan tugas filsafat dari Alexandria, ia hanya ingin menyendiri agar tenang setelah Beatrice dan Neu menghilang.
“Aku tidak mengerti apa yang telah kubaca. Aku langsung mengantuk saat pertama kali membaca buku saat hari pertama. Tapi kemarin aku mulai bisa sedikit lebih paham, ya meski aku masih tidak mengerti.”
Yudai kembali menempatkan kaki kiri di depannya membentuk posisi kuda-kuda, menarik tali busur dan ekor panah secara bersamaan sambil membidik bagian tengah salah satu pohon di dekat pagar.
“Omong-omong, apa yang kamu cari? Katanya kamu ingin cari sesuatu, bukan?”
Yudai melepas tali busur dan panah secara bersamaan, menyaksikan panah itu melesat hingga tertancap pada badan pohon. “Jujur, setelah aku menyaksikan seseorang dari Royal Table memprovokasi para profesor dan royal guard waktu di Silvarion, aku telah berpikir saat perjalanan pulang.
“Kupikir ada alasan kenapa insiden alchemist terjadi bertahun-tahun yang lalu, pasti ada sesuatu yang kita sama sekali tidak tahu dari Sejarah Kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei. Juga, saat kita melihat memory shard waktu misi pembasmian hantu di sebuah penginapan mewah, ada seorang alchemist yang terbunuh dan kenapa hantu itu bisa menghantui dan membunuh setiap pemilik tanah itu.
“Aku ingin tahu kenapa hal itu bisa terjadi. Tapi sayangnya, informasi yang kutemukan tentang alchemist di sana baru sebatas insiden alchemist, dan itu hampir sama dengan apa yang sudah kita bahas. Padahal, kukira buku yang kubaca itu membahas sejarah tak terungkap.”
Sans menatap kumpulan awan semakin menonjolkan warna kelabu, menghalangi warna cerah dari langit. Ia pun mendesah, menyimpan belatinya di sisi kanan celananya.
“Banyak juga masalah yang terjadi. Alchemist jadi job terlarang, dan satu-satunya hal yang kita tahu karena insiden alchemist. Lalu sekarang, ini terjadi, Royal Table muncul dan akademi serta kerajaan jadi terancam. Beatrice pulang ke rumahnya, lalu Neu menghilang.”
“Jujur saja, aku bahkan lebih penasaran tentang Beatrice dan Neu,” ungkap Sans. “Kita harus membawa mereka kembali. Dimulai dari Beatrice, semenjak kita tahu dia berada di Beltopia.”
Baru saja Yudai ingin menganggapi, ia beralih pandangan ke langit saat rintik hujan mulai mendarat di tanah berumput halaman belakang akademi. Dari hanya rintikan menjadi deras, banyaknya tetesan air yang mencapai tanah beserta angin dingin sampai menusuk atmosfer.
***
“Lembar surat izinnya habis?” Yudai sampai mengeraskan suaranya sampai tidak sadar ia tengah berbicara dengan seorang sekretaris di hadapannya. Memang benar, ia hampir tidak bisa membaca situasi, apalagi ia dan Sans sedang berada di ruang kantor pribadi Arsius, kepala akademi.
Arsius memang sedang berhalangan hadir, sering sekali karena sedang ada urusan entah di luar kota atau di dalam kerajaan. Sebagai gantinya, seorang sekretaris sekaligus pengawal, yakni seorang royal guard, yang berjaga di ruang depan, duduk di depan meja layaknya sedang bekerja.
Kantor pribadi Arsius memang terbagi menjadi tiga bagian, ruang terdepan meliputi ruang sekretaris sekaligus ruang tunggu, di mana sudah tersedia tempat duduk menghadap meja sekretaris. Bagian tengah merupakan ruang kerja Arsius, hanya melewati pintu di hadapan jalan keluar, juga ruangan tersebut memiliki akses menuju area kastel kerajaan. Ruangan terakhir merupakan kamar pribadi Arsius, satu-satunya ruangan yang terlarang siapapun kecuali beliau untuk masuk. Kantor pribadi yang terdiri dari tiga ruangan itu secara estetika berbeda daripada ruang profesor yang lain, penerangan berupa lentera lebih banyak di dinding, jendela lebih lebar dan berbentuk persegi panjang, tidak seperti kebanyakan kantor sekaligus kamar pribadi yang lain memiliki jendela berbentuk persegi; dan terdapat beberapa emblem emas hingga platina berjajar di dinding.
Tidak ingin berlama-lama memandangi kemegahan kantor pribadi Arsius tanpa berhasil mencapai sebuah tujuan, Sans dan Yudai berbalik dan bergegas keluar dari ruangan tiu. Ruang pribadi milik Arsius memang sengaja terletak di paling ujung antara deretan kantor pribadi milik profesor lainnya.
“Aaaah … bagaimana ini? Kita tidak bisa keluar akademi selama libur pertengahan musim semi!” Yudai langsung mengutarakan ketidakpuasannya begitu melewati selasar penuh pintu menuju masing-masing ruangan pribadi profesor.
Begitu mereka melalui pintu terbuka menuju selasar dan berbelok, Sans menghela napas. “Apa jangan-jangan Beatrice berubah pikiran? Tidak, kita tahu Beatrice bukan orang yang mudah begitu. Pasti ada sesuatu yang bukan-bukan sampai dia ingin pulang.”
“Kalau kita tidak punya surat izin, kita tidak bisa ke Beltopia! Kita tidak bisa tahu apa yang terjadi!”
Suara keras Yudai dalam berbicara memicu Hunt yang berada di hadapan mereka berhenti dan menoleh. Keduanya juga tertegun menatap profesor tersebut terlebih dahulu.
“Pro-Profesor Hunt?” sapa Sans cukup kaget.
“Kalian ingin ke Beltopia?” Itulah reaksi Hunt setelah mencuri dengar ucapan Yudai. “Kalian … ingin bertemu Beatrice?”
Sans melirik tajam Yudai yang lagi-lagi tidak tahu situasi. Ia juga merasa ini kesalahannya karena tidak memperingatkan sahabat terdekat sekaligus teman sekamarnya itu untuk menurunkan volume suara.
“Uh, kami ingin tahu mengapa Beatrice tiba-tiba ingin pulang saat hari terakhir bootcamp. Tapi … kami tidak dapat surat izin untuk keluar dari akademi libur nanti.”
“Sebenarnya, ada yang ingin saya bicarakan tentang Beatrice,” tanggap Hunt.
***
Hunt meletakkan sebuah topi putih berpita cokelat di meja depan ruangan pribadinya. Sans dan Yudai yang menempati tempat duduk di hadapan meja itu langsung mengenali topi itu milik Beatrice.
“Sebenarnya, saat hari terakhir bootcamp, saya merasa ada yang janggal dengan penjemputan Beatrice. Hari sebelumnya, saya menyaksikan ibunya memaksa untuk pulang, saya sudah mencoba untuk melerai dan meyakinkan Beatrice untuk tinggal. Tapi … begitu beliau bilang ayahnya sudah sadar,”
Memang benar, Beatrice ingin mendapat air mata phoenix demi menyembuhkan penyakit ayahnya. Sans dan Yudai menjadi saksi saat ia memberi Oya, pelayan utama keluarganya, sebotol kecil setetes air mata phoenix. Semenjak saat itu, belum ada kabar dari ayahnya.
Sangat tertegun, alasan utama Beatrice kembali ke Beltopia adalah hanya untuk menjenguk ayahnya, bukan untuk keluar dari Akademi Lorelei secara tiba-tiba. Mereka jauh lebih heran menyaksikan topi milik Beatrice tertinggal.
“Pantas saja,” ucap Yudai.
“Tapi … ada yang aneh. Saya menemukan topinya tergeletak begitu saja esok hari. Ini dia hal yang janggal. Pertanyaannya, apakah Beatrice sempat membuang topinya setelah ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya? Apakah ibunya sudah mempersiapkan kalau ayahnya sudah sadar agar Beatrice bisa terayu bujukannya?”
Sans menganggapi, “Ayahnya … memang sakit parah. Itulah kenapa dia butuh air mata phoenix. Tapi kalau begini jadinya, aku semakin ingin membawa Beatrice kembali ke sini.”
“Sama denganku. Begitu juga dengan Neu, tapi kita tidak tahu Neu di mana.” Yudai sepakat.
“Topinya.” Sans mulai menyentuh topi milik Beatrice. “Topinya masih akan terpakai kalau Beatrice secara baik-baik patuh pada ibunya.”
“Saya lega kalian juga sepemikiran dengan saya.” Hunt mulai bangkit dan berlalu menuju sebuah laci di belakangnya. “Saya khawatir ibunya memaksa secara halus dengan menjadikan ayahnya sebagai alasan, sebagai tameng. Saya juga melihat sendiri Beatrice langsung berubah pikiran. Apa jadinya jika Beatrice tidak kembali lagi ke sini.”
Yudai mengepalkan kedua tangannya pada lutut. “Itulah kenapa kami ingin menjemput Beatrice ke sini lagi. Kami tahu Beatrice tidak pernah ingin kembali ke rumahnya di Beltopia, kembali menjadi gadis bangsawan alih-alih melihat dunia luar.”
Hunt meletakkan setidaknya sepuluh lembar surat izin di meja, sepuluh lembar. Seluruh kolom telah terisi tulisan pada masing-masing lembar. Sans dan Yudai melihat nama mereka telah tertulis, bukan hanya mereka, tetapi juga delapan nama, nama-nama itu tidak lain adalah teman dekat mereka.
“Saya ingin kalian bersama teman-teman, yang dekat dengan Beatrice dan kalian, pergi ke Beltopia selama libur pertengahan musim semi.”