Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 191



Zerowolf langsung membuka mulut lebar. Eldia telah berada di hadapannya menghampiri Yudai. Tampaknya yang ia ingat hanyalah pakaian bikini gadis itu pada hari pertama musim panas.


Ia langsung kecewa meratapi Eldia berpakaian kemeja cokelat abu beserta kaus tanpa kerah hitam. Celana hijau panjang juga menutupi lekuk tubuh gadis itu.


“Ke-kenapa kamu tidak berpakaian seperti saat kita bertemu?” Zerowolf langsung menunjuk Eldia.


“Udaranya dingin kalau malam hari ternyata,” jawab Eldia sederhana.


“A-apa yang kamu lakukan di sini?” Giliran Beatrice yang bertanya.


“Apa yang aku lakukan di sini? Sudah kubilang, aku sedang menyelidiki Royal Table,” Eldia mengingatkan.


“Seorang diri?” Neu mengangkat alisnya.


Eldia tidak menjawab. Justru ia mendekati Yudai, Sans, dan Riri di hadapan pintu masuk. Ia merentangkan tangannya ke depan memasuki ruangan tersebut, menggerakkannya secara vertikal, seakan mengusir angin.


“Jadi, sekali lagi … apa yang membawamu kemari?” Pertanyaan yang persis sama, Yudai mengajukannya.


“Aku melihat para royal guard menyerbu kemarin malam. Sejak saat itu, tadi siang, tavern ini beroperasi seperti biasa seakan tidak ada yang terjadi.”


Sans menyimpulkan di dalam hatinya. Memang masyarakat ibu kota belum tahu tavern di hadapan mereka dicurigai sebagai markas Royal Table. Ironisnya, tavern yang berbentuk log cabin itu hanya memiliki dua lantai, lantai pertama berupa bar, lantai kedua berupa kamar-kamar penginapan.


Perkataan Duke benar adanya. Beberapa royal guard sudah memasuki tavern tersebut sambil mencurigainya sebagai sebuah markas besar. Ironisnya, hal yang janggal hanyalah seakan tidak terjadi apapun pada siang lalu.


“Pasti ada pintu rahasia, aku yakin,” ucap Riri.


“Neu, coba ceritakan, di mana kamu dapat keluar dari markas Royal Table—” Tay menyuruh, “—lalu kamu tiba-tiba berada di tavern ini.”


“A-aku … dalam mimpiku, aku hanya ingat melewati pintu dapur itu.” Neu menunjuk sebuah pintu di dekat meja bar, sebelah kanan ruangan utama.


“Berarti ini mudah!” sahut Zerowolf. “Para royal guard pasti ke sana!”


Zerowolf menyerobos masuk tavern tersebut, menyenggol bahu Yudai dan Riri secara bersamaan. Buru-buru ia mendatangi pintu dapur dan menerobos masuk begitu saja, kenop pintu dapat ia tekan dengan mudah, tidak terkunci sama sekali.


“Zerowolf!!” Tingkah Zerowolf membuat Riri mengikuti langkahnya.


Yudai melongo menatapi Zerowolf dan Riri memasuki dapur tanpa apapun yang terjadi di sekitar mereka. Ia membayangkan jika dirinya memasuki dapur tersebut selagi tavern tersebut buka pada siang hari, bartender berambut plontos pasti akan memelototinya, apalagi melarang secara lantang.


“Hei, tidak ada perangkap!” tunjuk Yudai.


Sans dan yang lainnya satu per satu menyerbu masuk ke dalam tavern tersebut, mengikuti Riri dan Zerowolf berbelok kanan menuju dapur.


Akan tetapi, begitu mereka memasuki ruangan tersebut, seluruh dinding di setiap sisinya terisi oleh kabinet dapur, tempat cuci, alat masak, lemari penyimpanan bahan makanan, dan lemari minuman beralkohol. Di bagian tengah dapur itu, terdapat pula sebuah meja berbentuk bujursangkar. Celah antara meja di tengah dapur dengan berbagai properti di sisi dinding hanya berukuran satu meter, cukup sempit, apalagi Sans dan teman-temannya tidak semuanya dapat masuk ke dalam ruangan itu.


“Apa kamu serius?” ucap Ruka.


“Tidak ada! Tidak ada celah untuk pintu rahasia!” ucap Zerowolf. “AAAAAH!!”


Tay langsung menoleh pada Neu, mengembuskan napas kencang. “Bullshit. Katamu pintu rahasianya ada di dapur. Dan sekarang tidak ada apa-apa. Memang sempit!”


“Sudah kubilang—” Neu menghela napas sambil menjelaskan, tidak ingin melawan amarah Tay “—aku hanya ingat dalam mimpiku. Kalau dalam kenyataan, aku langsung pingsan tanpa tahu—”


“Jangan bercanda!” Tay menarik kerah baju Neu. “Aku sudah muak dengan segala ingatanmu waktu kamu menghilang! Kamu mencoba untuk membohongi kami ya?”


“Tu-tunggu, padahal sudah kubilang di mimpiku aku keluar dari dapur ini. Pada kenyataannya, aku … sama sekali tidak ingat. Aku tiba-tiba berada di salah satu kamar tavern ini.”


“Kalian berdua, sudah. Hentikan,” bujuk Beatrice menengahi keduanya, “ini bukan waktunya untuk bertengkar.”


Ruka menyetujui, menempatkan kedua tangan pada kepala, “ya, teman sekamarku ini benar juga. Kalau terus menerus bertengkar tanpa henti, yang ada kita saling terpecah seperti botol alkohol di lantai. Sungguh ironis.”


Yudai menginjak-injak setiap lantai di antara celah meja dan seluruh meja di setiap sisi dinding dapur. Lantai tersebut terbuat dari keramik tanpa ada satupun celah longgar. Seluruh keramik lantai itu tidak kendur meski terinjak berkali-kali.


“Tidak, tidak ada apapun di sini.”


“Begitu rupanya,” ucap Duke sebelum beralih pada Eldia, “berarti ada di suatu tempat, pintu rahasia.”


“Aku benaran melihat mereka, royal guard masuk ke tavern ini pada malam hari. Setelah satu jam, mereka tidak kembali sama sekali,” Eldia membela pernyataannya.


“Cukup adil.” Duke menepuk tangannya dua kali. “Kita berpencar saja. Sebagian dari kalian cari di lantai ini, sebagian lagi cari di lantai atas.”


Zerowolf mengacungkan tangannya lagi. “Kami berempat akan terus mencari di dapur, memastikan jika ada sesuatu.”


Duke mengangguk menyetujui dan berbalik membelakangi pintu dapur tersebut, menghitung murid-murid lain dan juga Eldia serta membagi menjadi dua kelompok sesuai posisi masing-masing di hadapannya.


Neu, Beatrice, Ruka, dan Katherine memisahkan diri menuju tangga, merekalah yang akan mencari pintu rahasia di lantai dua. Duke, Eldia, Tay, Sandee, dan Lana tetap berada di lantai berada, di bar tavern.


***


Tiga buah pintu pada masing-masing sisi kiri dan kanan ruangan, dengan berjarak pada masing-masing pintu di setiap sisi kurang lebih dua meter. Itulah pintu menuju masing-masing kamar. Sama seperti lantai pertama, tidak ada satupun lentera yang menyala, masing-masing di dekat pintu.


Neu, Beatrice, Ruka, dan Katherine melangkah secara berhati-hati, jika perlu sambil menyentuh dinding. Begitu Beatrice mencapai salah satu pintu, ia tanpa sadar menekan kenop pintu.


Beatrice tercengang ketika mendengar bunyi kenop pintu tertekan hingga pintu terbuka, sampai-sampai ia tersandung masuk seperti jatuh ke dalam sebuah lubang.


“Beatrice!” sahut Neu bergegas dari posisi terbelakang, buru-buru berjalan secara lateral, sampai menyentuh punggung Ruka dan Katherine.


“A-aku … tidak apa-apa.” Beatrice perlahan bangkit kembali, menempatkan tangan pada lantai kayu sebagai tumpuan. Halus bercampur kasar, itulah rabaannya terhadap lantai tersebut.


Begitu ia bangkit, ia melongo melihat seisi kamar tersebut. Masih utuh, sangat utuh. Seakan tergambar oleh beberapa siluet atau garis bayangan di balik kegelapan. Ia dapat merasakannya.


Neu berbalik memperhatikan pintu kamar tersebut, bahkan sampai mendorong dan menarik kenopnya. Ia juga menyentuh bagian badan kunci pintu tersebut, meraba-raba badan kunci di bagian tengah.


“Tidak terkunci, pantas saja.” Ia melirik pintu-pintu lainnya di lantai dua. “Kalau semua pintu tidak terkunci seperti ini, pasti tidak ada yang menginap. Cukup janggal tidak ada yang ingin menginap di sini meski siang hari ramai.”


Ruka memberi asumsinya secara angkuh, “Itu karena penginapan di pusat kota lebih aman daripada di sini. Lagipula, lebih baik menginap di dalam kota saja jika ingin lebih nyaman.”


“Mungkin … kita pakai cara lama saja. Cari di setiap ruangan, pastikan ada pintu rahasia.”


***


Kurang lebih 30 menit telah berlalu, pencarian pintu rahasia belum membuahkan hasil, dari hanya menyentuh lantai, memindah-mindahkan meja dan kursi, menyentuh lemari botol, hingga masuk ke kolong meja. Duke, Eldia, Tay, Sandee, dan Lana menggunakan cara-cara tersebut untuk menyelusuri lantai pertama tavern.


Tay berlutut di balik meja bar, menyentuh berbagai hal di badan meja tersebut, mulai dari gelas hingga piring. Ia juga meraba-raba dinding mencari adanya tombol rahasia di baliknya.


“Tidak ada,” jawab Tay, “di balik meja bar tidak ada sama sekali.”


Eldia sedikit mengangkat secara diagonal salah satu lukisan di dinding dekat sebuah lemari, menyentuh dinding di baliknya. Saat tidak ada yang terjadi, ia meletakkan kembali lukisan tersebut seperti semula.


“Tidak ada juga,” ucap Eldia pada Duke di tengah-tengah ruangan.


Sandee menggerutu ketika ia menyentuh dinding hampir mendekati tangga, “Zerowolf bodoh! Padahal aku tidak sudi ikut hal seperti ini!”


Lana menganggapi, masih memasang wajah polosnya, “Lihatlah sisi baiknya, kita juga akan menangkap Sierra. Kamu juga akan bertemu kembali dengannya lho.”


“Bukan begitu. Aku lelah jika harus berurusan dengan Zerowolf, apalagi terjebak di dalam masalah seperti ini. Dari Sierra berkhianat, hingga kakak-mu sendiri, kakak-mu sendiri itu alchemist. Entah mengapa dia lolos dari hukuman. Bagus kalau dia lulus ujian akhir semester, tidak diragukan lagi, dia hebat sebagai murid tanpa job, sangat hebat.”


Lana mendengar kalimat terlontar dari mulut Sandee sangat cepat, seperti orang berkumur-kumur. Suara Sandee cukup lantang baginya, akan tetapi sebagian besar kata dan frasa seperti kocokan pasir dan suara gelembung air.


“Ka-kamu tidak dengar ya?”


“Ah, mungkin kamu hanya sedang resah, rindu dengan Zerowolf.”


“Enak saja! Mana mungkin aku sampai merindukannya segala!” jerit Sandee.


Saking ledakan emosinya menjadi-jadi, apalagi membayangkan wajah Zerowolf, bagian gagang halberd-nya terdorong pada dinding di hadapan tangga. Ia tertegun dinding yang tersentuh halberd-nya mengendur ke dalam.


“A-apa yang kamu lakukan?” sahut Lana.


“A-aku tidak melakukan apapun!”


“WHOAAAA!!” Jeritan Yudai meledak dari dapur, memicu semuanya menoleh pada pintu dapur di dekat meja bar.


Duke terlebih dahulu berlari terbirit-birit, memasuki dapur. Ia melongo terdapat sesuatu yang terjadi di dapur. Tay, Lana, Sandee, dan Eldia juga ikut tertegun tidak percaya.


Meja yang berada di pusat dapur tersebut terdorong ke bawah secara diagonal dan perlahan mengungkapkan sebuah tangga. Sans, Yudai, Riri, dan Zerowolf terdiam bersandar di meja dapur menyaksikan perubahan itu di hadapan mereka, merasakan getaran di lantai sekitar ruangan itu.


“Ja-jadi … si mata empat itu benar selama ini?” ungkap Tay.


Riri berinisiatif memberi perintah, “Lana, panggil yang lain di lantai atas!”


Tanpa menjawab perintah Riri, Lana berbalik meninggalkan pintu dapur tersebut, terbirit-birit tidak sabar.


“A-apa yang terjadi?” sahut Sandee histeris.


Sans mengenggam erat bagian ujung dari meja, memastikan dirinya tidak terpeleset atau tersandung akibat getaran di lantai.


Saat meja itu sudah “menghilang” seutuhnya, getaran pun terhenti. Yudai dan Zerowolf terlebih dahulu mendekati tangga tersebut.


“Sebuah tangga rahasia,” ucap Yudai.


Duke, Tay, Sandee, dan Eldia menerobos masuk ke dalam dapur, mendapati meja tersebut seakan berubah menjadi lubang besar, hanya ada sebuah tangga. Mereka berhati-hati melangkah secara lateral sambil menyentuh meja di sekitar sisi dinding.


“Jadi ini—” Eldia menundukkan kepala seakan mendekatkan dirinya dengan lubang tanpa pembatas tersebut. “—ini jalan rahasia yang selama ini dilewati para royal guard. Tidak heran mereka tidak kembali sebelum aku pergi dari pantai waktu itu.”


Suara langkah kaki menghentikan Duke ketika ia mengacungkan tangan dan membuka mulut. Lana sudah tiba kembali bersama Beatrice, Neu, Ruka, dan Katherine. Keempatnya sampai tergopoh-gopoh tidak percaya menatap tangga rahasia tersebut.


Sandee membuka suara, “Aku tanpa sengaja mendorong halberd-ku ke dinding dekat tangga. Jadi … ya, ada tangga rahasia di dapur selama ini.”


Ruka membuang napas kencang, menyindir, “Benar-benar tidak praktis. Kenapa tidak di dapur saja? Lebih mudah, bukan? Kenapa mereka harus repot-repot jauh meletakkan semacam tombol di ruangan berbeda.”


“I-ini … ini persis seperti di mimpiku,” Neu berkomentar tidak percaya, apalagi menatap tangga tersebut.


Duke pun melompat ke dalam lubang tersebut, tanpa melintasi beberapa anak tangga pertama. Seluruh muridnya dan Eldia tertegun panik, sampai-sampai Beatrice dan Katherine mundur satu langkah saking kagetnya.


“Pro-Profesor Duke!!” sahut Riri, terpicu untuk mengambil langkah pertama menuruni tangga.


Semuanya juga mengambil langkah cepat di dapur. Adrenalin seakan meningkat menjalar di seluruh pembuluh darah. Bulu kuduk juga menegang, napas cepat terbirit-birit, panik.


“Semuanya aman. Hanya sebuah tangga menuju lantai bawah tanah!” Duke memastikan, memicu semua orang menghela napas lega.


Riri menuturkan pada semua orang di dapur, “Ayo, sebaiknya kita bergegas ke bawah sekarang juga.”


Sembari semuanya satu per satu melintasi dapur dan mulai menuruni tangga, termasuk Eldia dan Ruka yang melompat ke bawah dari pintu dapur menuju bawah tangga, Beatrice dan Neu tetap di posisi terbelakang.


Beatrice membuka mulutnya lebar, menatap Neu di samping kanannya ketika mulai menuruni tangga. Lagi-lagi, sesuatu yang janggal terlintas di bayangannya, terlebih saat mereka telah menemukan sebuah rahasia di balik tavern itu.


“Neu, kalau tangganya tidak muncul, bagaimana caranya kamu bisa lolos dari markas Royal Table?”


Neu menjawab, “Aku tidak ingat. Aku hanya ingat, aku sedang dikejar-kejar oleh pasukan Royal Table. Begitu aku lolos, aku … mendadak tidak sadarkan diri dan tiba-tiba aku sudah di tavern ini.”


“Begitu rupanya,” bujuk Beatrice, “Neu, kita akan tangkap Sierra. Aku semakin ingin tahu kenapa dia melakukan ini.”


“Itu dia. Aku juga ingin tahu.”


Saat Beatrice dan Neu mempercepat langkah mengikuti yang lain, mulai terdapat sebuah titik terang di sisi kiri dan kanan, cahaya putih dari kumpulan orbdi dinding seperti menuntun mereka.


“Benar, ini seperti waktu itu. Orb seperti ini juga menjadi cahaya di markas Royal Table.”