
Baru saja membaca buku dasar bahasa Conlang sebanyak sepuluh halaman selama kurang lebih 15 menit, mata Katherine langsung seperti berputar-putar. Penjelasan dasar-dasar seperti tata bahasa dan pengartiannya saja sudah memicu sinyal di dalam otaknya tidak mengalir lancar.
Terlalu banyak keheningan di perpustakaan, terutama di lantai ketiga gedung tersebut. Seluruh murid tengah sibuk berfokus dalam membaca materi dari buku-buku pilihan demi ujian akhir semester masing-masing. Tumpukan buku di setiap meja beserta kepanikan batin setiap orang harus mempelajari sebanyak mungkin materi.
Hanya harus membuat skill original, apalagi khusus mage dan priest mereka ibaratnya dapat tugas tambahan, memahami bahasa Conlang. Terlihat sederhana, tetapi dalam pengerjaannya cukup rumit.
Katherine melirik Neu di hadapannya, masih terfokus belajar bahasa tersebut. Cukup cepat, ia pandang salah satu murid terpintar itu memindai setiap kata dan mencatatnya di sebuah buku menggunakan selembar kertas dan bulu burung yang ia celupkan ke dalam botol tinta. Ia sama sekali tidak terpikir untuk melakukan hal itu dari awal.
“Kenapa?” Neu meliriknya.
Katherine menahan napas, wajahnya cukup pucat ingin menahan diri dalam menjawab.
“Ya, belajar bahasa seperti ini cukup sulit sebenarnya,” ucap Neu, “aku mengerti perasaanmu. Mau bagaimana lagi, kita sebagai job tipe sihir juga patut tahu dasar-dasar bahasa mantra yang akan kita gunakan nanti. Lalu mana kita juga, harus kita kerahkan sekuat tenaga sambil membayangkan sihir yang kita ingin keluarkan nanti. Itu proses pembuatan mantranya.”
Katherine cukup memahami perkataan Neu. Membayangkan untuk melakukannya saja memang tidak semudah itu. Ia masih tidak memiliki bayangan mantra apa yang akan ia buat.
“Oh. Di sini kamu rupanya.” Beatrice menghampiri keduanya. “Wah, ada Katherine juga.”
“Bukannya kamu harusnya sedang menulis lagu?”
“Aku sudah selesai dalam semalam. Aku ingin sekali mendengar bagaimana pendapat kalian.”
Beatrice menutup mata dan menarik napas. Saat ia membuka mulut, Neu bangkit dari duduknya dan mengangkat tangan kiri.
“Tu-tunggu. Ini perpustakaan, Beatrice. Jelas-jelas kamu tidak bisa bernyanyi di sini.”
Neu memalingkan wajah begitu menoleh murid-murid lain di sekitar mulai memperhatikan mereka. Malu, sangat malu. Ia buru-buru mengangkat beberapa buku beserta catatannya.
“Katherine, kita pinjam buku-buku ini saja. Kita belajar di kamar masing-masing saja.”
***
Tay hanya berdiri tegak di hadapan gerbang pembatas barat antara halaman dan hutan pembatas, hanya mengedepankan pedangnya yang berwarna perak. Seperti sedang beradu tatap tanpa mengedip sama sekali, mata pedang yang ia lihat seakan ingin mengiris bola mata.
“Berapa lama kamu akan berdiri terus di situ?” sahutan Ruka mematahkan konsentrasinya.
Tay menoleh setelah mengedip. “Oh, ternyata kamu. Apa?”
Ruka membuang muka tanpa acuh, mendahuluinya. “Bukan apa-apa. Hanya ingin mencari inspirasi dengan berburu.”
“Skill original itu?”
Tay perlahan mengikuti langkah Ruka, mulai memasuki daerah pohon beringin itu. Ditambah, sinar mentari sudah memenuhi setiap jalan pada hutan itu, menghasilkan udara lebih terik alih-alih sejuk seperti biasa. Ia menyimpulkan situasi itu sudah menuju masa transisi musim.
Sebuah semak di kiri depan mereka bergetar, Ruka langsung merespon dengan mengambil pedang dari selongsong. Ia berlari cukup kencang menghampiri semak bergerak tersebut, sedikit membuat Tay membuka bibir dan membentuknya seperti manyun.
Ruka melompati semak itu dan langsung menamparkan pedangnya. Suara raungan meledak tanpa ampun. Serta sedikit cipratan darah meluncur ke atas.
Tay mendekati semak belukar tersebut, entah mengapa sinyal otaknya menyuruh untuk mempercepat langkah. Rasa penasaran sedikit mengisi otaknya. Hingga pada akhirnya ia menatap Ruka di balik semak itu telah berhasil menebaskan pedangnya.
“Ba-bi,” Ruka mengungkapkan makhluk di balik semak belukar itu.
Seekor babi hutan hitam telah menjadi bangkai segar. Pedang Ruka juga sedikit ternoda oleh darah segar dari atas.
“Ah, kalau saja pedangku bisa menebas dari jarak jauh tanpa harus berlari, pasti babi ini akan tersembelih lebih cepat.” Ruka mengusap halus sisi mata pedangnya, tanpa membiarkan melewati kulit jari. “Kalau saja aku bisa membuat skill seperti itu …. Tapi skill itu tampaknya tidak akan masuk akal."
Tay justru tidak menganggapi perkataan Ruka. Ia terfokus pada bangkai babi hutan itu. Darah segar sudah mengalir dari kepala babi menuju rumput menjadi genangan. Genangan darah menjadi perhatiannya.
Terpicu! Sebuah kilatan seakan menyambar otaknya, memaksanya untuk mengingat sebuah kejadian. Terlintas segerombolan laki-laki berkumpul, hanya bagian kepala tertutupi oleh siluet hitam secara harfiah.
Di balik siluet hitam itu, Tay dapat membayangkan senyuman dan perkataan dari kelompok tersebut.
Ini menyenangkan kan, Tay?
Tidak ingin melanjutkan kilasan itu. Tay mengcengkeram keningnya menggunakan tangan kiri. Ingin sekali menghalangi kenangan itu terulang kembali di dalam benaknya. Ia mengencangkan jari jemari pada keningnya itu.
"Kamu kenapa?"
Tay memalingkan wajahnya lagi, mendesis. Ia menolak kenangan itu memicu kesedihannya kembali.
“Tidak apa.” Ia menjauhkan tangan kiri dari keningnya.
Tay mulai melangkah ke depan, tanpa melihat ke belakang, seakan ingin mengabaikan Ruka. Genggaman pedangnya yang semula gemetar ia hentikan, ia angkat menghadap badannya. Nafsu untuk berburu mendadak seperti cepatnya darah mengalir sampai mendidih.
“Dasar. Lebih baik kamu jujur saja.” Ruka mengikuti langkahnya.
***
Beatrice menarik napas sambil menatap Neu dan Katherine yang sedang duduk di kasur Ruka di hadapannya. Ia menutup mata demi membayangkan situasi bertarung, seakan sedang bermeditasi.
“Um, Beatrice?”
Beatrice mengangkat telunjuk pada Neu agar tidak menginterupsi pemanasannya. Ia menggerakkan kepala ke kanan, mengarah pada pintu keluar saat membuka mata kembali. Ia mulai menyanyi saat melirik Katherine dan Neu sebagai penonton.
Dear happiness
And the power of love
Let your powers heal you
Heal our hope together
Get it of our despair
But it doesn’t even matter
I got this power
To heal our health and happiness
Our health and happiness
Spread the magic together
Spread the joy of the batt—
“Tu-tunggu dulu.” Neu mengangkat tangannya, menginterupsi nyanyian Beatrice. “A-apa ini tentang harapan agar terus bahagia?”
Beatrice mengangguk polos.
“Lalu apa fungsi lagu ini sebagai mantra? Sebagai skill song mage?”
“Uh—” Beatrice seperti mengacak-acak otaknya demi menemukan jawaban tepat. “—untuk menyembuhkan luka selama bertarung dan memicu kebahagiaan lebih?”
Neu menepuk keningnya, sama sekali tidak memahami maksud dan tujuan skill original yang akan dibuat Beatrice, apalagi liriknya. Katherine tetap melongo setelah mendengar lagu itu, tidak seperti lagu-lagu song mage lainnya.
“Ya, secara liriknya, kurang dalam dan emosional sih. Lagipula, aku tidak pernah mendengar sihir membuat bahagia.”
“A-anu … sebenarnya ada. Sihir pembuat tertawa terbahak-bahak, Trigger Laugh,” jawab Katherine.
“Itu untuk tertawa terbahak-bahak.” Neu menggeleng. “Beatrice, kamu harus benar-benar membuat lagu sesuai ciri khasmu, dan juga tujuanmu untuk menggunakan.”
Beatrice mendesah sejenak, mendengar lagunya tidak cukup untuk dijadikan sebuah skill original. Terlebih lagi, ia juga harus membuat kegunaan lebih dari menyembuhkan dan memicu rekannya lebih bahagia.
“Aku harus menulis lagi!” tekadnya.
***
Semenjak sidang berakhir dan pertemuan dengan Arsius, kepala akademi, Sans belum pernah menemui Duke lagi. Akhir-akhir ini, ia tidak mendapat panggilan dari Duke untuk kembali “mendatangi kelas khusus” sama sekali. Setiap kali ia pergi ke ruangannya, pintu tetap tertutup rapat, tidak ada jawaban.
Kasus terbongkarnya identitasnya dan Duke sebagai alchemist mungkin memicu pertemuan mereka berdua belum pernah terjadi, itu pikir Sans. Selagi ia sedang jeda dari kelas khusus dan kelas umum, sering sekali ia mendatangi ruang pribadi Duke hanya untuk mempelajari alchemist. Sayang sekali, ia tidak pernah jadi belajar alchemist dan menemui Duke, entah karena profesor lain memberitahu bahwa profesor pengampunya sedang sibuk atau memang sedang pergi ke luar kota.
Ia tidak tahu lagi mengapa Duke cenderung menghindarinya. Ia membayangkan Duke juga sama sepertinya, menjadi sasaran empuk perundungan karena memang bersalah menjadi alchemist dan tidak mendapat hukuman sama sekali. Terlebih, kasus Royal Table juga cenderung menambah tekanan.
“Kembali ke sini lagi, Sans?”
Sans langsung berbalik, sampai mundur tercengang mendengar suara di tak jauh di sampingnya. Ia menatap Hunt ikut menghampiri pintu ruang pribadi Duke.
“Mungkin kamu belum mendengarnya, akhir-akhir ini … Profesor Duke ditugaskan untuk membantu penyelidikan langsung oleh Profesor Arsius dan kerajaan.”
Hunt menghela napas, berat untuk mengatakan pada Sans. Ia tahu ia adalah wali kelas Sans, otomatis ia harus menghormati Sans sebagai anak didiknya secara langsung, tanpa menyinggung hal-hal sensitif sama sekali..
Ia juga mengingat saat menginterograsi Neu beberapa hari yang lalu. Neu juga merupakan anak didiknya secara langsung. Waktu itu, ia hanya ingin tahu kesaksian Neu tentang Sierra agar membantu investigasi tetap berjalan.
Mengetahui tidak heran Duke membantu Sans untuk berkembang, sebagai kedok untuk menyembunyikan fakta bahwa sedang ada kelas pribadi khusus alchemist, ia memutuskan untuk melanjutkan berkata.
“Duke, maksud saya Profesor Duke, sedang berada di luar kota.” Sans sudah menduga Hunt akan berkata seperti itu. “Profesor Arsius memintanya untuk membantu sebagai balas budi untuk menyelamatkan kalian dari hukuman.
“Saya sudah dengar semuanya. Kamu adalah alchemist. Jujur saja.” Hunt hampir bersandar di dinding dekat pintu itu. “Dari awal semester ini, saya sudah menduganya. Pantas saja Duke tertarik denganmu, meski kamu menjadi murid tanpa job, bermantel putih, dan sering sekali diremehkan. Tapi saat Duke memberi permintaan sebelum bootcamp, dari situlah, saya sudah tahu.”
“Bahkan sebelum Anda mengetahuinya?” Sans menebak.
“Profesor Duke tidak pernah memberitahu saya, sama sekali tidak pernah,” Duke membantah. “Saya tidak tahu mengapa Profesor Duke memilihmu dari kalangan murid-murid tanpa job. Saya pikir beliau … menganggapmu paling berpotensi. Kamu paling bekerja keras daripada murid-murid tanpa job lain.”
Mengamati murid-murid tanpa job lain, Sans sama sekali tidak pernah berbaur dengan mereka. Ia hanya bersama teman-temannya seperti biasa yang mendukungnya. Penderitaan, pesimisme, dan berbagai stereotipe melekat pada murid-murid bermantel putih mungkin tidak akan membantunya. Ia benar-benar beruntung masih punya teman seperti Yudai dan Beatrice.
“Se-sebenarnya … aku ingin bertanya pada Profesor Duke, tapi—”
“Tanya saja pada saya,” potong Hunt, “tidak usah ragu begitu.”
Sans membuang napas. Seharusnya ia mengajukan pertanyaan yang terpendam pada Duke, sebagai profesor pengampu alchemist dan seorang mentor setelah sekian lama. Keraguan yang ia miliki seperti air memenuhi sebuah bak hingga mau penuh. Sangat enggan untuk melakukannya.
Sans mengangkat kepalanya, menatap Hunt tepat pada mata. “Saya bingung apakah saya harus membuat skill original sebagai murid tanpa job … atau alchemist. Ya, kalau sebagai alchemist, saya sudah tahu, pasti ada citra buruk. Kalau saya membuat skill yang terkait dengan alchemist, saya tidak akan terkejut setiap profesor yang menyaksikannya akan mengurangi nilai.
“Saya … masih ingin berada di sini. Masih ingin bersama teman-teman. Masih ingin bertualang bersama. Bahkan, saya ingin selangkah lebih dekat sebagai alchemist. Saya akan malu kalau keluar dari sini tanpa mendapat apa-apa.”
Hunt terdiam, memahami setiap kalimat Sans. Mungkin bagi orang lain, terutama murid-murid lain, cerita Sans seperti itu sangat bertele-tele dan membuat mendesah serta bosan.
“Saya tidak bisa menjaminnya,” Hunt menjawab keluh-kesah Sans, “sebaiknya kamu buat saja skill original yang menggambarkan ciri khasmu. Apakah kamu mau menghubungkannya sebagai murid tanpa job atau alchemist, itu pilihan kamu.
“Sebaiknya kamu buat dari sekarang.”
***
Memikirkan jawaban Hunt, sungguh tidak pasti. Ia terus merenungkannya saat ia menyelusuri selasar kastel kembali menuju gedung asrama. Lantai kayu yang ditata seperti batu bata terus ia tatap.
Sedikit melirik ke depan, dapat ia lihat lima orang murid tengah berjalan melewatinya sambil berdiskusi. Ia mencuri dengar topik skill original murid tahun pertama, Cukup santai tanpa memedulikan sekitar sama sekali.
Begitu ia berbelok dan menghampiri pintu masuk gedung asrama, ia menghentikan langkah. Sebuah gagasan seperti masuk ke dalam otaknya. Berkat itu, ia berinisiatif.
“Sudah kuputuskan!”
Tidak boleh bergantung pada orang lain lagi, itu pikirnya lagi. Saatnya untuk menyelesaikan tugas ujian akhir semester secara mandiri.