
Sebuah topik pembicaraan telah menjadi satu-satunya hal paling diminati para murid, terutama ketika topik tersebut merupakan sebuah rumor. Tanpa henti, mulai dari duduk di ruang depan gedung asrama, berjalan menuju kelas hingga saat makan di kantin, topik tersebut selalu menjadi pembicaraan hangat di setiap angkatan.
Berkat sebuah surat kabar yang telah tersebar di sebuah kota, rumor tersebut menjadi sensasi dan mengundang penasaran semua orang, terutama murid di Akademi Lorelei. Tak heran banyak di antara mereka yang ingin membuktikan rumor tersebut apakah benar atau tidak.
Salah satu dari perbincangan rumor tersebut terdengar nyaring di kantin—mulai dari antrean kantin, meja makan, hingga pada beberapa murid yang sengaja membawa surat kabar untuk mendiskusikannya.
Masih mengantre, Neu memperhatikan topik pembicaraan setiap murid kurang lebih sama, yaitu rumor yang telah menarik perhatian. Dia menggeleng karena beberapa dari mereka percaya rumor tersebut mentah-mentah tanpa mempertimbangkan pembuktian secara ilmiah.
Yudai berkomentar ketika dirinya mulai mengambil makanan di nampan, “Kalau saja kita ada waktu luang dan setidaknya boleh keluar malam-malam, mungkin kita bisa membuktikan rumor itu.”
“Rumor apa? Oh! Jadi itu yang mereka bicarakan selama ini? Tapi, apa itu benar?” ucap Beatrice ketika selesai mengambil makanan.
“Itu hanya rumor,” tegas Neu saat dirinya dan Sans telah selesai mengambil makanan, “aku tidak percaya pada rumor sama sekali. Lebih baik menerima sebuah kenyataan yang telah terbukti. Menerima rumor yang belum tentu terbukti secara mentah-mentah sama saja dengan menjual diri pada kebohongan.”
Sans mengulang rumor tersebut ketika mereka berlalu dari barisan, “Makhluk legendaris, ya? Kalau benar-benar ada, aku ingin melihatnya. Dunia ini memang luas.”
Neu menegur, “Sudah kubilang, jangan percaya rumor dulu sebelum terbukti jadi kenyataan. Memang seharusnya punya bukti dulu sebelum menulis sebuah artikel, hanya mengikuti kata orang belum tentu mencapai kebenaran.”
“Kata orang juga makhluk legenda itu terlihat di benua Aiswalt, di sebuah hutan, tidak cukup jauh dari Kerajaan Anagarde. Itu yang kukorek dari teman-teman sekelas,” tambah Yudai.
Begitu menemukan meja kosong berkapasitas empat orang, keempatnya menaruh nampan berisi makan siang di atas meja. Tidak sabar untuk mengisi perut keroncongan, Yudai juga mulai duduk dan langsung menggapai roti dan mencelupkan pada semangkuk sup.
Tepat sebelum menempatkan diri pada kursi di hadapan meja, Neu terhenti ketika sebuah lemparan telah mendarat tepat pada bagian belakang kepalanya. Saking tercengang, ia kembali bangkit dan meraba-raba belakang kepalanya.
Ketika melihat jari-jemarinya lagi, sebuah sari pati cairan merah berbongkah telah seperti meleleh. Neu langsung tahu cairan itu berasal dari lemparan sebuah tomat dari belakang.
Neu berbalik dan mendapati meja di belakangnya. Terlihat seseorang yang cukup familier telah berdiri seorang diri. Siapa lagi jika bukan orang yang tidak ia sukai, yaitu Tay.
Sans serta Beatrice yang juga duduk di hadapan Neu dan Yudai juga menghentikan makan dan bangkit dari duduk, menatap Tay menjulurkan lidah sedikit.
“Kamu,” Neu mulai mengonfrontasi, “bisa tidak kamu sopan makannya!”
Meningginya nada dan suara bicara Neu pada Tay sontak menghentikan perbincangan murid-murid lain tentang rumor makhluk legenda. Sebuah calon pertengkaran sekali lagi menjadi keramaian di kantin. Semua orang menatap pada Neu dan Tay.
Beatrice secara terbata-bata tidak ingin Neu menjadi pusat perhatian di kantin. “Uh, Neu, sebaiknya biarkan saja dia. Kamu tidak mau ini jadi—”
“Memang kenapa!” bantah Neu. “Dia yang mulai duluan!”
“Protes? Kamu keberatan?” Giliran Tay yang membentak Neu. “Syukurlah kalau semuanya memperhatikan!”
Memang benar semua murid di kantin mengalihkan perhatian dari pembicaraan buah bibir tentang makhluk legendaris menuju pertengkaran Tay dan Neu. Semuanya bertanya-tanya apakah ada masalah di antara mereka.
Mencuri dengar dari beberapa siswa lain, Tay mengungkapkan, “Kalian semua ingin tahu, kan? Kalian semua ingin tahu kenapa aku melempar tomat pada si mata empat ini? Kalian harus dengarkan karena orang brengsek seperti dirinya tampak seperti orang pintar, tapi sebenarnya tidak! Kamu selalu berlagak tahu segalanya agar kamu dapat pujian dari tiap profesor! Padahal sebenarnya kamu telah menggagalkan diriku saat aptitude test bagian dalam! Kamu menyabotase segalanya! Kamu mencuri kesempatan setiap murid!”
Ungkapan Tay pada Neu membuat sebuah buah bibir baru yang patut dibicarakan oleh para murid di kantin. Mereka bahkan harus memilih pihak mana yang harus diberi simpati.
Neu membalas, “Kamu masih memikirkan hasil aptitude test? Hah? Bersyukurlah kamu sudah dapat job attacker, kamu juga memilih job swordsman, aku sudah tahu itu!”
“Kamu tidak tahu!” Tay menubrukkan kedua tangan pada nampan. “Seharusnya aku bisa menjadi royal guard, tapi kamu, kamu menghancurkan segalanya!”
“Memangnya kamu masih tidak tahu! Kamu sendiri yang menghampiriku waktu itu! Kamu meninggalkan teman setiamu sendiri. Tak heran, kamu sendirian di meja itu! Sikapmu seperti itu memang pantas tidak setia memiliki teman.”
“Kamu tidak tahu diriku. Aku tidak ingin wajahmu berada di akademi ini, dasar mata empat *****!”
Terpicu oleh sebuah ejekan, Neu mulai naik darah dan mengambil genggaman sup dari mangkuk di nampannya serta melempar menuju tepat pada wajah Tay. Lemparan gumpalan sup itu akhirnya menghantam Tay begitu keras.
Semua tertegun ketika menatap balasan Neu terhadap ejekan Tay. Alih-alih menggunakan kata, tidak ada yang menyangka makanan seperti gumpalan sup menjadi senjata untuk membela diri.
Tay pun geram ketika membuka mata, mendapati wajahnya telah basah oleh lemparan gumpalan sup. Ia mengambil gumpalan sup dari mangkuk di nampan, lalu melemparnya sebagai serangan balasan.
Kepala Neu dengan cepat bergeser menghindari lemparan Tay. Sans dan Beatrice juga ikut berlutut dan menundukkan kepala demi menghindari lemparan balasan itu.
Lemparan Tay pun mengenai tepat pada wajah salah satu murid yang asyik melihat pertengkaran itu. Alih-alih geram, dia mengubah suasana begitu cepat dan mendeklarasikan, “PERANG MAKANAN!”
Semuanya berdiri dan mulai melemparkan makanan dari nampan mereka masing-masing demi mengalihkan ketegangan antara Tay dan Neu sebagai alat untuk senang-senang. Perang makanan antar murid pun dimulai.
Ketegangan dan jeritan ketika pelemparan makanan pada lawan menjadi keramaian di kantin Akademi Lorelei. Perang makanan sontak menjadi pengalih kepenatan menuju kesenangan tersendiri bagi para murid.
Menyaksikan perang makanan tengah terjadi di kantin, Yudai mengangkat kepala dan protes. “Hei, tenanglah, jangan buang-buang maka—” Perkataannya terpotong ketika wajahnya juga menjadi korban pelemparan makanan. “—nan.”
Sans dan Beatrice menempatkan genggaman tangan pada meja, tidak berani berdiri demi menghindari lemparan makanan dari sesama murid. Mereka masih menatap Tay dan Neu tetap saling melempar makanan dari nampan masing-masing.
Mendapati makanan dari nampan telah habis tak bersisa, Tay melangkahi bangku dan tanpa ragu memukul pipi Neu. Perang makanan pun berubah menjadi perang fisik bagi keduanya.
Neu membalas menggunakan pukulan menuju perut Tay. Tay pun menggenggam bahu Neu menggunakan tangan kiri dan menggunakan tangan kanan untuk memukul pipi berkali-kali.
“A-a-a, hentikan, kalian berdua,” ucap Beatrice.
Terlarut keasyikan dalam perang makanan di kantin, seluruh murid justru mengabaikan perkelahian fisik antara Tay dan Neu. Mereka tetap melempar makanan pada masing-masing target sampai menjerit mengekspresikan kebahagiaan.
Tidak dapat menggerakkan tangan sama sekali, Neu menggunakan tenaga pada kaki untuk mendorong Tay menuju meja. Dia menubrukkan kepala Tay pada nampan begitu membebaskan diri dari cengkeraman.
“Ha!” jerit Neu mengangkat telunjuk, ingin mengucapkan mantra untuk membalas menggunakan sihir.
“Hentikan, Neu!” jerit Sans bangkit dari tempat duduk dan mendatangi perkelahian itu.
Seluruh murid sontak menghentikan aktivitas pelemparan makanan begitu Alexandria telah menyaksikan semuanya di kantin. Profesor perempuan berambut pirang kecokelatan pendek itu mulai geram atas tindakan dan sikap seluruh murid di kantin saat makan siang.
“Apa yang sedang terjadi di sini? Buang-buang makan siang kalian? Melemparnya menuju badan kalian?” Alexandria meminta penjelasan.
Tidak ada satupun murid yang mampu menjawab sama sekali, ketakutan atas profesor terkenal judes itu mendominasi pikiran, ancaman menanti jika salah dalam merangkai kata. Tak heran, melihat Alexandria saja sudah membuat hampir seluruh murid merinding.
Alexandria menoleh pada perkelahian fisik Tay dan Neu di balik berhentinya keramaian perang makanan. Seluruh murid pun juga tercengang mereka berdua belum berhenti berperang sama sekali.
Sans dan Yudai mencengkeram bahu Neu dari dua arah. Neu pun tak pelak tetap di dalam gejolak emosi menghadapi Tay.
Tanpa perlu aba-aba lagi, Alexandria tidak tinggal diam, bergerak melewati setiap meja dan murid di hadapannya untuk mendekati pertengkaran tersebut.
“Cukup!” bentak Alexandria menghentikan Tay dan Neu hanya menggunakan suara.
Tay dan Neu menoleh pada Alexandria, tercengang bahwa salah satu professor terkenal di kalangan murid itu telah berada di samping. Sans, Beatrice, dan Yudai juga tidak kalah tertegun ketika bertatap muka secara langsung pada Alexandria.
“Bisa tidak salah satu dari kalian berkata apa yang terjadi di sini?” Alexandria meminta.
Tay menunjuk Neu, “Si mata empat ini meyabotase diriku saat aptitude test bagian dalam!”
Neu membantah, “Dia yang mendatangi kami saat itu! Dia memang tukang pencari masalah! Tidak heran dia ditinggalkan teman setianya!”
“Tarik ucapanmu, dasar mata empat!” jerit Tay kembali mendekati Neu.
“Aku mengatakan yang sebenarnya pada semua orang! Agar tahu sifat asli dirimu!” bentak Neu kembali mendorong bahu Tay.
“Cukup!” jerit Alexandria menahan keduanya. “Saya tidak peduli lagi apa alasan kalian. Kalian berdua, ikut saya ke ruang profesor. Cepat!”
Dengan muka penuh amarah, Tay dan Neu tidak berkata apapun untuk membela diri. Mereka berdua mengikuti langkah Alexandria untuk meninggalkan kantin dan menuju ruang profesor.
Seluruh murid di kantin terdiam akibat kedatangan Alexandria. Mereka tentu tidak menyangka terjadi perkelahian fisik dibalik keseruan perang makanan yang untungnya terhenti tepat setelah itu.
Ketika melihat seluruh kantin, meja, kursi, lantai, dan dinding sudah tercemar oleh berbagai makanan yang telah terbuang sia-sia. Ulah mereka telah mengotori setiap sudut kantin alih-alih menikmati dari memasukkan makanan ke mulut sebelum tercerna ke perut.
Beberapa murid juga membicarakan akibat dari pertengkaran fisik antara Tay dan Neu. Terlebih, hukuman dari Alexandria juga dapat dikatakan cukup berat, mengingat perlakuannya pada setiap murid.
***
“Kalian sudah bertemu dengan Neu?” tanya Beatrice begitu khawatir pada Sans dan Yudai.
Kembali memasuki gedung asrama saat matahari mulai terbenam mengikuti beberapa murid lain, mereka bertiga menghela napas khawatir pada Neu.
Yudai menjawab, “Tay dan Neu harus membersihkan kantin akibat perang makanan. Lalu mereka juga harus membersihkan semua kamar mandi di akademi.”
“Semuanya? Termasuk di asrama?” ulang Beatrice ketika mereka menuruni tangga menuju ruang depan gedung asrama, yaitu lounge room.
“Baik, murid tahun pertama yang baru datang, silakan duduk,” sapa salah satu murid di asrama.
Seluruh murid tahun pertama telah menempati posisi duduk di karpet dan di sofa menghadap salah satu murid tingkat atas. Sans, Yudai, dan Beatrice melihat seluruh murid tahun pertama yang tersisa, tidak dapat disangkal lagi jumlahnya berkurang.
“Seperti yang sudah kalian lihat, cukup banyak murid bermantel putih memutuskan untuk meninggalkan akademi. Sebagian dari kalian kehilangan teman sekamar, bukan? Oleh karena itu, khusus teman yang kehilangan teman sekamar, kita akan mengadakan kembali pembagian asrama.”
Pengumuman murid tersebut terinterupsi ketika semua menoleh pada Tay dan Neu yang baru saja tiba menuruni tangga. Keduanya sama sekali tidak terkejut semenjak menjadi pusat perhatian saat di kantin.
“Baiklah. Tay, Neu, kalian tiba juga. Profesor Alexandria baru saja menyampaikan kabar padaku. Kalian akan menjadi teman sekamar mulai malam ini.”
Tay tercengang mendengar pengumuman tersebut. Dengan cepat, dia melayangkan protes, “Kenapa? Kenapa tiba-tiba saja aku harus sekamar dengan si mata empat ini?”
“Itu salah satu hukuman dari para profesor, terutama Profesor Arsius. Ditambah, kalian duluan yang berulah waktu makan siang di kantin, bukan?”
Neu menganggapi komentar murid tersebut sambil menatap Tay, “Memang benar.”
“Kalian akan menjadi teman sekamar sepanjang tahun ajaran berlangsung. Profesor Arsius meminta kalian untuk meredakan segalanya, tidak peduli berapa lama dan bagaimana caranya. Sudahlah. Duduk.”
Setiap murid tahun pertama masih menoleh pada Tay dan Neu yang bergabung pada posisi duduk murid tahun pertama di karpet. Beberapa dari mereka masih berbisik-bisik hal buruk tentang keduanya, terutama sikap.
Sang murid tingkat atas mengambil beberapa lembar gulungan kertas kecil menggunakan genggaman. Dia memanggil satu per satu murid yang telah kehilangan teman sekamar untuk mengambil satu gulungan.
Dibukanya gulungan tersebut, mereka mendapat nomor kamar dan teman sekamar baru masing-masing. Beberapa dari mereka tidak sabar ingin bertemu teman sekamar baru mereka, baik teman sekelas atau yang belum dikenal sebelumnya.
“Baik, begitu saja hari ini. Yang telah mendapat kamar baru, harap ambil barang kalian dan pindah. Selamat malam.” Murid tingkat atas tersebut terlebih dahulu menaiki tangga menuju kamar.
Mengikuti gerak seluruh murid tahun pertama untuk berdiri dan berbaris menuju tangga, Tay menoleh pada Neu, menunjukkan muka masam.
“Kamu lihat kan akibatnya?” sindir Neu.
“Aku memang tidak ingin sekamar denganmu sama sekali,” balas Tay, “begitu juga dengan dirimu.”
“Baik.”
Tay mengikuti setiap murid tahun pertama untuk menaiki tangga menuju kamar. Dia menghela napas tidak memiliki niat untuk menjalani hukuman dari para profesor.
“Dasar,” gumam Neu.