
Sekali lagi, seperti dugaan, waktu menunggu Duke terbuang sia-sia, apalagi setelah mendengar semburan kata dari mulut Sans pada hari sebelumnya. Menunggu, hanya duduk di kursi di ruangan pribadinya, tidak melakukan apapun, demi kedatangan Sans, sangat berharap agar murid bermantel putih itu berubah pikiran.
Sekitar dua jam telah berlalu tanpa melakukan sesuatu yang berarti, Duke akhirnya berhenti berharap akan kedatangan Sans. Ia bangkit dari duduknya ketika berpikir Sans memang harus ia bujuk agar ingin menemuinya untuk melanjutkan pembelajaran menjadi alchemist. Langkah pertama, keluar dari ruangan pribadinya.
Ketika melewati berbagai pintu ruangan pribadi setiap profesor, terlintas sebuah sosok teman dekat Sans. Alis melengkung ke bawah, mata agak sipit, dan rambut hitam pendek tegak, ciri khas lelaki itu terpicu pada benaknya. Yudai, teman dekat Sans, harus segera ia temui.
Ditinggalkannya halaman depan ruang pribadi professor menuju tangga, ia mempercepat langkah ketika mengingat bahwa Yudai adalah murid ber-job archer. Jadi, ia tahu bahwa kelas khusus murid job archer tahun pertama yang diampu Dolce sedang berlangsung saat itu.
Ketika mencapai lantai kedua kastel akademi, ia mempercepat langkah. Cukup banyak murid yang baru saja keluar dari kelas masing-masing, namun bukan kelas yang diampu Dolce.
Murid-murid bercengkerama bersama sambil berlalu-lalang di sekitar selasar, itulah momen yang ia rindukan saat menatap Sans selalu bersama Beatrice, Yudai, dan Neu. Sayang sekali, pikirnya, sudah satu minggu lebih hal tidak lagi sama.
Ia pun beralih menuju salah satu pintu yang masih tertutup rapat. Kepalan tangan ia ayunkan pada pintu sebelum membukanya. Memasuki ruang kelas archer, dapat terlihat seluruh murid job archer tahun pertama masih berlatih menembak diikuti oleh jeritan Dolce sebagai penyemangat dan motivasi.
Duke pun menyapa Dolce ketika mulai mendekati barisan murid yang tengah memanah, “Permisi.”
Beberapa murid, terutama Yudai, menghentikan aktivitas menembak panah dan melirik pada Duke. Dolce pun juga menoleh pada profesor berkulit hitam tersebut, ingin tahu mengapa dia masuk.
“Bisakah saya bicara pada Yudai di luar?”
Dolce yang tidak bisa berpaling dari kejutan itu hanya menjawab, “Oh, tentu saja.”
Yudai sebenarnya sudah menduga penyebab Duke ingin menemuinya. Ia mengikuti langkahnya ke luar kelas masih menggenggam busur dan membawa quiver di punggungnya.
Duke mulai bertutur, “Maafkan saya telah menganggumu, Yudai. Saya ingin menemuimu karena—”
“Tentang Sans, aku mengerti. Sans sering ke ruangan pribadi Anda untuk berlatih menjadi alchemist—”
“Jangan keras-keras!” Duke berbisik. “Dia sama sekali tidak datang ke ruangan saya. Sepertinya dia masih marah pada saya karena omongan Profesor Alexandria pada pertemuan sebelumnya. Saya melihatnya dia membuat bahan menggunakan cara alchemist, dia menggunakan tenaganya, dia punya potensi. Saya tidak ingin dia membuang potensinya begitu saja, apalagi demi tujuan utamanya, menyembuhkan ibunya.”
“Sans tadi pagi masih tidak ingin berbicara padaku, dia langsung pergi begitu saja, entahlah, mungkin dia sedang menjalankan misi dari quest board atau berlatih menggunakan belatinya lagi. Lagipula, saya juga mendengar omongannya pada Anda kemarin, dia masih marah, serius. Anda sudah menjahilinya agar dia tertarik belajar alchemist, maksudku, lebih lanjut.
“Padahal dia sudah dapat Buku Dasar Alchemist, dia juga sudah mulai mempelajarinya. Hanya saja, sayang sekali kalau dia harus mengabaikan semua itu hanya karena larangan akademi untuk mempelajari alchemist. Kalau aku ada di posisinya, mungkin aku akan melakukan apapun untuk tetap bertahan di akademi dan menjalankan tujuannya.”
“Yudai.”
“Professor Duke, mungkin setelah kelas ini selesai, kita tunggu Sans di gerbang depan kastel akademi. Kita akan bicaranya dengannya. Anda juga ingin mengajarinya, kan? Untuk menjadi alchemist?”
Duke menghela napas lagi dan menundukkan kepala. “Saya hanya ingin membantu Sans untuk mencapai tujuannya, tujuan yang dia tulis saat pendaftaran. Setiap guru ingin muridnya berhasil, bahkan melampaui muridnya, itu akan menjadi kebanggaan terbesar.”
“Tu-tunggu dulu,” Yudai mencoba mengoreksi, “bukannya guru justru tidak ingin muridnya melampaui kemampuan masing-masing? Katanya setiap guru merasa sang murid sudah cukup belajar jika dia mendapat terlalu banyak—”
“Sebenarnya, misi utama murid adalah cari ilmu sebanyak mungkin, bahkan sampai yang tidak diketahui sang guru sekalipun. Jujur saja, beberapa guru akan iri ketika muridnya melakukan hal seperti itu, jadi mereka ingin tahu bagaimana bisa ia melakukannya, bisa menjadi pembelajaran tersendiri.”
“A-anu, sebaiknya aku kembali berlatih.”
***
Yudai terpikir bahwa jika Sans langsung menemui Duke bersamanya, pasti akan terlalu langsung pada inti utamanya. Jadi dia memutuskan agar Duke menunggu ketika mereka berdua tiba di gedung asrama.
Duke mengangguk setuju dengan usulan Yudai dan segera berlalu menuju tangga, meski mengetahui keberadaannya di depan gedung asrama akan menonjol sebagai profesor.
Yudai hanya berdiri terdiam menatap sekitar ruang depan, beberapa murid lain berlalu-lalang di sekitar, ada yang kembali masuk setelah mengerjakan misi atau bercengkerama di kota, terutama di kedai roti, ada pula yang terburu-buru keluar melakukan hal yang sama.
Yudai hanya menatap pintu yang terbuka lebar menjadi saksi lalu lintas antar murid. Taman halaman depan kastil akademi masih seakan berwarna berkat kilauan mentari, menjadi pemandangan yang terasa nyaman di mata.
Yudai berhenti teralihkan oleh indahnya halaman depan kastil akademi ketika Sans telah melangkah mendekati pintu utama, melewati jalan tanah sama seperti beberapa siswa lain.
Dengan sigap, ia seakan menghalangi Sans yang tengah melewati pintu utama kastil akademi. “Sans! Hai!”
Sans terdiam, tercengang ketika dirinya telah disambut Yudai. Ia langsung tahu bahwa Yudai akan mengajak untuk makan siang bersama, padahal sedang tidak bernafsu.
Ia justru melewati Yudai begitu saja tanpa berbicara.
“Sans!” Yudai menyusul dan sekali lagi menghalangi. “Kamu jarang berbicara akhir-akhir ini. Lebih baik, kita ke asrama bersama-sama saja.”
“Yudai, minggir,” Sans membuka suara, “aku ingin sendiri.”
“Sans, ayolah. Aku ingin berbicara denganmu,” bujuk Yudai.
“Pasti tentang hal yang dikatakan Professor Alexandria, bukan?” Ucapan Sans membungkam Yudai sejenak.
Menatap Yudai sudah tidak bisa berkata-kata lagi, Sans melewatinya begitu saja menuju tangga. Langkahnya saat melewati setiap anak tangga dia percepat.
“Sans! Kamu ke asrama, kan? Ayolah, kenapa tidak bersama saja?” Yudai mengikuti Sans.
***
“Sans,” sapa Duke yang telah menunggu di depan pintu masuk gedung asrama.
Sans terhenti dan menoleh pada Yudai ketika menatap Duke telah berada di hadapannya. Lagi-lagi, kecemasannya meningkat hingga ingin naik darah.
Sans menyimpulkan, “Benar, kan? Kamu ingin membicarakan hal itu? Tentang alchemist?”
Duke memperingatkan meski tidak ada siapapun selain mereka di sekitar, “Pelankan suaramu.”
“Kubilang benar kan!” jerit Sans meminta sebuah kebenaran.