
Selama Sans dan teman-temannya dalam misi dari Hunt untuk memastikan Beatrice baik-baik saja dan menjemputnya, sudah satu minggu telah berlalu. Kegiatan belajar-mengajar di akademi tetap berjalan seperti biasa. Lalu-lalang antara seluruh murid di lingkungan kastel akademi, penyelidikan masih saja dilakukan, dan jam malam masih berlaku.
Seluruh profesor dan staf belum menemukan titik terang dari investigasi adanya mata-mata di antara mereka dan para murid. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari mencurigai beberapa murid yang berkeliaran di sekitar tepat sebelum jam malam, mengikuti diam-diam, dan memperkecil daftar tersangka.
Seperti tanpa tujuan, seluruh profesor, bahkan Arsius sekalipun, menyimpulkan penyelidikan mereka masih terlalu luas. Bahkan terdapat berbagai protes dari murid akademi bukan hanya soal konfrontasi oleh pihak profesor, tetapi juga seluruh kebjiakan baru yang mulai berlaku. Seluruh murid menganggap kebijakan baru tersebut terlalu mengekang, apalagi surat izin untuk keluar akademi sudah habis.
Sungguh frustrasi, dalam rapat, hampir semuanya sepakat penyelidikan sudah mencapai jalan buntu, bahkan dalam penyelidikan mandiri juga. Masih tidak ada kemajuan dalam seminggu terakhir. Meski terjadi adu argumen dalam ruangan bermeja bundar, Arsius tetap menghela napas dan menunggu agar adu mulut terhenti.
Ia menutup mata. “Kalau begini terus, bisa-bisa Royal Table sudah mengambil satu langkah lebih cepat untuk menghancurkan kita semua. Reputasi akademi ini sungguh terancam. Pokoknya, kita harus ada kemajuan dalam penyelidikan ini. Saya tidak ingin masa depan akademi ini sampai dipertaruhkan.”
Arsius kemudian membubarkan seluruh profesor di sekitar meja bundar. Satu per satu profesor mulai keluar dari ruangan rapat, terutama dari kalangan profesor laki-laki. Akan tetapi, Alexandria membujuk Snowdon, Clancy, dan seluruh profesor perempuan lainnya yang menjadi minoritas untuk tetap berada di ruangan.
Salah satu profesor perempuan menutup pintu setelah seluruh profesor laki-laki telah meninggalkan ruangan. Alexandria langsung menempatkan kedua tangan pada meja di posisi tengah meja, posisi di mana biasanya Arsius berada.
“Kalian tahu kenapa penyelidikan ini tidak berjalan cepat?” tanya Alexandria. “Terlalu banyak menyimpulkan sendiri. Setiap kali kita bersuara, langsung saja profesor laki-laki, terutama Baron, Dolce, Hunt, dan Danson bertubi-tubi meminta Arsius untuk mendengarkan mereka, alih-alih mendengarkan kita juga!”
Snowdon mulai berbicara, “Mau bagaimana lagi? Wajar kalau laki-laki lebih berkuasa pada kita. Misalnya saja, awalnya Akademi Lorelei tidak menerima murid perempuan, ataupun profesor perempuan. Pada akhirnya, butuh sepuluh tahun untuk meyakinkan Akademi Lorelei untuk menerima kita, murid dan profesor perempuan.”
Clancy membalas, “Kurasa alasanmu ada validnya juga, Snowdon. Sudah bertahun-tahun perempuan sudah diterima di akademi, murid dan profesor, tapi hal seperti ini masih saja terjadi di kalangan profesor seperti kita. Dan aku setuju pada Alexandria waktu itu, berkali-kali kamu mencoba untuk berpendapat, kamu terus ditolak oleh pihak profesor karena tidak ada kaitan dengan topik, meskipun bisa dibilang valid.”
“Clancy, dia kan berbicara tentang alchemist. Mana mungkin ini berkaitan dengan masalah Royal Table?”
Alexandria menepuk mejanya lagi. “Kalau mereka ingin membungkam kita, kita harus curigai mereka sebagai salah satu mata-mata Royal Table.”
Profesor perempuan lainnya tertegun. Pasalnya laki-laki memiliki kuasa yang terhormat, terutama Dolce sebagai salah satu alumni terbaik sepanjang masa yang mereka kagum-kagumi selama itu.
“Ta-tapi kenapa? Kita bahkan tidak punya bukti,” sahut salah satu profesor perempuan.
“Itu dia.” Alexandria mencoba memastikan. “Kita cari bukti dulu. Lalu kita simpulkan bahwa salah satu dari empat tersangka ini, Dolce, Baron, Hunt, dan Danson, adalah pelakunya. Tidak berarti menutup kemungkinan bahwa profesor lainnya, atau murid-murid, atau salah satu kita adalah pelakunya.”
Clancy mengangkat tangan. “Aku sangat mengapresiasi kesimpulanmu. Tapi kenapa mereka? Kenapa mereka yang menjadi tersangka menurutmu?”
Alexandria bercerita, “Seperti yang kalian bisa lihat, Dolce sering sekali absen saat rapat, katanya ada urusan di luar kota. Kita bahkan tidak tahu apakah itu benar atau bohong. Meski dia adalah alumni terbaik sepanjang masa di akademi ini, bukan berarti dia bebas melakukan apa saja dengan status itu. Saya justru curiga apa dia menyalahgunakan absen itu untuk melakukan hal yang tidak-tidak.
“Kedua, Baron. Sering sekali Baron menginterupsi saya saat rapat penyelidikan berlangsung, bahkan dia sering sekali menyatakan alchemist tidak ada hubungannya dengan Royal Table.”
Clancy berkacak pinggang dan menatap ke arah lantai. “Sebenarnya ada benarnya juga Baron. Alchemist mungkin tidak berkaitan langsung dengan Royal Table. Kita bahkan tidak tahu apa hubungannya.”
Alexandria melanjutkan, “Ketiga, Danson. Kalian bisa lihat sendiri, Danson sering sekali dapat pujian atau pembelaan dari Arsius, dan juga beberapa profesor laki-laki lainnya. Seakan-akan dia sudah tahu bagaimana situasi kita. Sama seperti Baron, dia bahkan memfitnah kita tidak melakukan apa-apa, hanya menambah hal-hal yang tidak perlu dalam rapat! Dan terakhir—”
Tak disangka, pintu pun terbuka, menginterupsi perkataan Alexandria. Begitu seluruh profesor perempuan menoleh, ternyata Hunt lah yang membuka pintu.
“Apa-apaan kalian ini masih berada di sini larut malam? Tidakkah kalian tahu? Kalian juga harus berada di kantor masing-masing. Apa kalian juga jangan-jangan mau dicurigai?”
“T-t-tidak,” jawab salah satu profesor perempuan.
Alexandria memalingkan wajah, menggeretakkan gigi sekali lagi. Masih saja tidak terima perlakuan profesor laki-laki memperlakukan pihak perempuan seperti itu, menginterupsi rapat, menambah sesuatu yang tidak penting, dan bahkan mencoba memfitnah.
Bagi Alexandria, budaya seperti ini sudah tidak patut diterima lagi oleh semuanya. Belum berubah semenjak perempuan diterima menjadi profesor, staf, dan murid akademi.
***
Alexandria tidak dapat terlelap setelah terlalu banyak memikirkan apa saja yang telah terjadi di Akademi Lorelei akhir-akhir ini. Memejamkan mata atau menatap langit-langit saja langsung terlintas kilas balik. Sosok bertopeng bersama pasukannya tiba-tiba menghampiri murid-murid Akademi Lorelei waktu bootcamp di Silvarion tidak dapat ia lupakan.
Marah, kemarahan telah menyelimuti sekujup tubuhnya sampai sakit kepala. Segala penyelidikan telah mencapai jalan buntu, apalagi upaya profesor laki-laki yang menginterupsinya berkali-kali setiap rapat. Ia merasa sebagai profesor perempuan tidak dapat mengutarakan pendapatnya lebih banyak lagi, apalagi Arsius, selaku kepala akademi, hanya mengiyakan.
Tidak dapat lagi menunggu untuk terlelap, Alexandria bangkit dari tempat tidur dan mendekati pintu. Baginya, mungkin udara malam akan sedikit menjernihkan pikirannya sebelum tidur. Ia tahu, keluar kastel akademi merupakan salah satu pelanggaran jam malam bagi semua pihak di akademi. Akan tetapi, jika rapat profesor untuk membahas penyelidikan bisa diadakan malam hari, bukan tidak mungkin ia bisa keluar dari kastel hanya untuk menenangkan diri.
Keluar dari kantor sekaligus kamarnya, ia menutup pintu. Ia melewati lorong, jalannya pun seperti biasa saat ia melakukan kegiatannya, dari bersiap mengajar hingga bangun pagi.
Ia tertegun menatap sesosok profesor laki-laki tampak menyeberangi pintu lorong kantor profesor menuju selasar. Ia langsung berbalik dan menyandar pada sudut dinding.
“Duke? Apa yang dia lakukan?” gumamnya.
Tiba-tiba terlintas sebuah kilas balik, lagi-lagi kilas balik, saat rapat, Duke tidak banyak bicara dibandingkan profesor laki-laki lain. Profesor laki-laki itu hanya menyaksikan perdebatan penyelidikan tersebut, tidak memberikan komentar apapun kecuali jika seseorang menanyai.
Dari situlah, terlintas, ia lupa menambah Duke sebagai salah satu tersangka. Maka, ia mulai membuntutinya. Pertama, ia melewati pintu menuju selasar dan memegang dinding setiap kali melangkah. Ia juga bersembunyi dan menyintai dari balik dinding ketika Duke berbelok.
Apalagi saat melintasi tangga, Alexandria memastikan ia harus berhati-hati melintasinya selagi mengikuti Duke. Setelah melihat Duke berbelok, ia mulai melangkahi setiap anak tangga perlahan, memastikan ia masih dapat mengikuti Duke.
Alexandria tertegun saat Duke memasuki sebuah tempat yang ia tidak duga sama sekali.
“Gedung perpustakaan? Apa yang dia lakukan malam-malam begini?”
Ia lagi-lagi membuka mulut selagi melirik dari balik dinding. Duke terlihat sedang memutar kunci pada pintu masuk gedung perpustakaan.
“A-apa? Darimana dia mendapat kunci itu? Padahal seharusnya hanya staf perpustakaan yang memilikinya.”
Duke pun masuk gedung tersebut dan menutup pintu rapat-rapat. Alexandria cepat-cepat melangkah saat bunyi kunci pada pintu itu sudah terdengar.
Ia menyentuh pintu itu, terbuat dari kayu dan lebar. Ia sama sekali tidak dapat masuk dan mengikuti Duke lebih jauh lagi malam itu.
Ia tahu ada sesuatu yang janggal. Duke memiliki kunci menuju gedung perpustakaan merupakan hal tidak masuk akal. Tidak ada satupun profesor yang memiliki kunci selain untuk membuka kantor dan kamar pribadi.
***
Tidak biasa, itulah sesuatu yang tengah petugas gedung perpustakaan di lantai pertama pikirkan saat Alexandria menghampiri mejanya, apalagi membawa tumpukan buku begitu banyak.
“A-apa Anda yakin bisa membaca semuanya dalam satu minggu?”
Alexandria membelai rambut bagian belakangnya. “Karena saya butuh pengalihan akhir-akhir ini. Apalagi saya cukup tertekan setelah dimulainya penyelidikan untuk mencari mata-mata dari Royal Table.”
“Ba-baik. Semuanya … tujuh buku. Apa Anda yakin?” Petugas itu menghitung tumpukan buku itu menggunakan telunjuk.
“Tentu saja. Saya akan coba baca buku yang halamannya banyak.”
‘Ba-baik.”
Selagi petugas itu mulai mengambil satu per satu buku dan mencatat setiap judul, Alexandria memperhatikan kalung petugas terdapat banyak kunci tergantung, seakan-akan memperlakukannya sebagai perhiasan.
“Omong-omong, apakah ada yang sampai menyeldiki di perpustakaan? Seorang profesor mungkin?” Alexandria mengajukan pertanyaan.
“Ah. Kemarin, Profesor Hunt bertanya padaku jika ada seseorang yang masuk lorong terlarang tanpa izin akhir-akhir ini. Maksud saya, tanpa akses masuk, atau bahkan mencari informasi tentang Akademi Lorelei. Jujur saja, Royal Table membuat saya khawatir. Apalagi perpustakaan seperti ini adalah gudang informasi, mungkin saja mata-mata di antara kita sedang mencari informasi itu.”
Terbayang kembali saat Duke diam-diam memasuki perpustakaan pada malam hari. Ia tidak salah memilih Duke sebagai tersangka. Akan tetapi, ia belum tahu tujuan Duke sebenarnya menyelinap perpustakaan larut malam. Sebenarnya, ia belum mengatakannya pada profesor perempuan yang lain, termasuk Clancy dan Snowdon.
“Sebenarnya—” Alexandria sedikit ragu, tetapi ia mengedepankan percaya dirinya. “—saya ditugaskan untuk menyelidiki perpustakaan nanti malam. Untuk … um … memastikan apakah seseorang menyelinap ke sini larut malam, saat semuanya sudah tidur. Jadi—”
“Oh. Baiklah.” Petugas itu melepas kalung terbuat dari kawat dan telah bertumpuk kunci. Ia mendorong keluar salah satu kunci dan menyerahkannya pada Alexandria. “Hanya malam ini, Profesor Alexandria. Sebaiknya ini jadi petunjuk bagi Profesor Hunt.”
Profesor Alexandria mengangguk dan mengambil kunci tersebut. Ia langsung meninggalkan gedung perpustakaan itu dan menapakkan kaki pada selasar setelah berbelok.
“Sudahkah kamu dengar beritanya?”
“Berita apa?”
“Earth ditangkap lho. Aku tidak percaya murid knight yang selama ini aku kira baik dan lebih berwibawa ternyata terlibat penculikan. Aku lebih tidak percaya kalau murid song mage tahun pertama adalah korbannya.”
“Hah? Benarkah?”
“Iya, katanya Earth akan disidang empat hari lagi.”
Percakapan itu terdengar jelas bagi Alexandria dari hadapannya. Ia melirik pada dua orang murid perempuan itu tengah berbelok menuju gedung perpustakaan.
Jadi itulah kenapa Beatrice menghilang setelah bootcamp di Vaniar.
“Astaga! Itu Profesor Alexandria.” Salah satu murid dari kelompok berisi lima orang yang berpapasan langsung takluk dan menundukkan kepala.
Empat orang lainnya langsung menundukkan kepala seraya hormat. Ketakutan melihat raut wajah tegas dari Alexandria sebagai profesor yang paling dibenci dan ditakuti di akademi.
Bagi Alexandria, ia harus tetap fokus membuntuti Duke di perpustakaan. Masalah Earth dan Beatrice bukanlah urusannya saat itu.
***
Duke kembali membuka kunci pintu gedung perpustakaan, cukup pelan sampai ia percaya diri semuanya telah terlelap. Tapi satu hal ia tidak tahu, Alexandria telah bersembunyi mengintai dirinya.
Begitu ia menutup pintu rapat, Alexandria melangkah perlahan mendekati pintu tersebut dan menunggu sejenak memastikan Duke tidak tahu, telah jauh dari pengintaiannya.
Ia mengambil kunci di saku mantelnya dan memasangkannya pada lubang kunci di pintu. Gemetar, genggaman pada kunci itu menandakan ia merinding, pasalnya, ia telah berbohong pada petugas gedung perpustakaan tentang perintah Hunt padanya. Ia tidak punya izin sama sekali untuk melakukan penyelidikan di perpustakaan larut malam.
Ia memutar kunci itu perlahan dan menghela napas. Ia kemudian dapat membuka pintu tersebut.
Melirik memastikan tidak ada siapapun di dalam perpustakaan. Gelap, sangat gelap, tapi ia dapat melihat deretan rak buku bersama meja dan kursi di balik kegelapan, seperti sebuah siluet.
Ia sudah kehilangan jejak Duke, maka ia harus menyelusuri lantai pertama terlebih dahulu, cara kuno dalam menyelidiki dan mengintai. Wajar, tidak ada siapapun sama sekali pada malam hari.
Selanjutnya, ia menyusuri lantai kedua. Masih secara sembunyi-sembunyi, setiap kali merasa merinding dan bulu kuduknya naik pasti ia melirik ke sekitar, memastikan tidak ada siapapun yang membuntuti atau melihatnya. Jantungnya juga berdegup kencang merespon ketegangan pada malam hari dan penekanan rasa lelah yang seharusnya ia rasakan.
Beralih ke lantai ketiga, semuanya juga sama. Begitu ia tengah mendekati tangga spiral pada dinding menuju lantai empat, suara langkah kaki menderu-deru menuju telinganya. Ia tahu Duke tengah menuruni tangga, maka ia kembali bersembunyi dan bersandar pada salah satu deretan rak buku. Ia juga menutup hidung dan mulut agar napasnya tak terdengar sama sekali.
Saat langkah kaki itu sudah seakan menghilang dari pendengarannya, ia menyimpulkan Duke memang melakukan kegiatannya di lantai atas. Ia memutuskan untuk melewati lantai empat dan lima serta langsung menuju lantai enam, lantai teratas gedung perpustakaan.
Saat ia mengangkat kaki dari anak tangga terakhir, sebuah pintu bergembok sudah berada di depan mata. Ia langsung tertegun mendapati pintu menuju lorong terlarang tersebut. Satu lagi pertanyaan berada di benaknya, apakah Duke juga memiliki kunci menuju lorong terlarang?
Alexandria tahu, seluruh profesor pasti memiliki akses menuju lorong terlarang, begitu pula dengan murid-murid tertentu yang memiliki akses, termasuk pemenang kategori individu Festival Melzronta. Hanya petugas lorong terlaranglah yang memiliki kunci gembok pintu tersebut.
Ia menyimpulkan lorong terlarang merupakan jawaban terakhir bagi mata-mata untuk mengumpulkan rahasia dari kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei. Ia menilai buku-buku terlarang, liar, dan dianggap rahasia berada di lorong tersebut.
Jika Duke juga memiliki kunci masuk menuju lorong terlarang, ia pasti dapat mengaksesnya pada malam hari. Saat ini, Alexandria sama sekali tidak memiliki petunjuk lain untuk membuktikan apakah Duke memang masuk ke lorong tersebut.
Ia kemudian beralih dari pintu dan berjalan menuju sudut lantai enam, berpikir dan merenung. Duke dapat ia jadikan tersangka mata-mata Royal Table. Akan tetapi, ia juga harus menyelidiki Dolce, Baron, Hunt, dan Danson.
Tangan kirinya sampai menyentuh dinding. Tanpa sengaja, bagian batu-bata longgar pada dinding ia tekan ke dalam. Sentuhan pada batu bat aitu membuatnya tersentak dan menoleh, apalagi saat dinding tersebut mulai terbelah menjadi dua.
Ia terbelalak menatap dinding itu mengungkapkan isinya.