Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 130



Beralih saat pelatihan di Vaniar, yakni bootcamp untuk job tipe sihir.


Jalan baru pebble menjadi hal paling umum di kota yang terkenal sebagai perkumpulan job bertipe sihir. Juga, setiap bangunan tidak seperti kebanyakan kota di kerajaan Anagarde. Tidak banyak bangunan kayu dan batu bata, bangunan yang terbuat dari lumpur dan kristal menjadi hal yang paling umum ditemui.


Pagi hari, sering sekali kabut berdatangan menyelimuti seluruh kota. Namun, hal itu tidak menjadi alasan bagi penduduk kota untuk memulai aktivitas seperti berlatih sihir, membuka toko dan berdagang, berburu, dan bahkan menyelesaikan misi.


Pemandangan puncak gunung bersalju dapat terlihat dari segala penjuru kota jika kabut sudah berpergian pada siang hari. Banyak pula pohon bertebaran baik di seluruh kota dan perbatasannya. Juga terdapat jembatan di timur kota yang akan menuntun menuju sebuah air terjun.


Berbicara tentang lokasi bootcamp, menara berbentuk kerucut seperti topi penyihir berwarna hitam menjadi tempat pelatihan bagi seluruh kelompok. Menara tersebut terdiri dari tiga lantai, semakin ke atas, semakin sempit pula ruangannya.


Setiap ruangan berdinding dan berlantai campuran batu-bata dan kaca porselen berselang-seling menunjukkan keindahan interior menara ketika setiap murid memasukinya. Bahkan tangga menuju dua lantai teratas juga terbuat dari campuran batu dan kaca.


Lantai dasar ditempati oleh kelompok A. Setiap murid dapat sangat leluasa menjaga jarak aman agar mengurangi peluang saling kena sihir nyasar.


Pelatihan khusus murid ber-job tipe sihir meliputi latihan sihir dasar dipandu oleh profesor pengampu dan asistennya. Pelajaran pada hari pertama yaitu mempraktikkan beberapa mantra sihir dasar.


Untuk kelompok A, Snowdon dan Danson berperan sebagai profesor pengampu bersama asistennya yang ber-job mage tipe defender. Beliau menyuruh setiap murid untuk melancarkan sebuah mantra sihir dasar.


Terlebih dahulu, mereka mengangkat masing-masing tongkat, kecuali Beatrice yang memegang song sphere, menggerakkannya serta melafalkan mantra tersebut. Mereka mengeluarkan energi mana dari tubuh dan membuat senjata mereka bercahaya. Cahaya dari masing-masing merupakan representasi dari mana mereka.


Beatrice, Neu, dan Sierra menjadi salah satu dari murid yang pertama yang berhasil membuat tongkat mereka bersinar terang dan memunculkan cahaya berbentuk lingkaran cukup besar. Snowdon sampai memuji bahwa mereka memiliki mana yang cukup besar.


Tidak sedikit pula yang sampai lepas kendali sihirnya menyebabkan sesama murid menjadi target salah tembak tanpa disengaja. Sungguh beruntung, tidak ada yang terluka secara signifikan, tetapi hal itu akan berpengaruh dalam penilaian.


Di lantai kedua, yakni ruangan berukuran tiga per empat dari ruangan di lantai pertama, kelompok B juga melakukan hal yang sama, dengan panduan dari Hunt dan Berry. Lebih banyak murid yang menjadi korban salah tembak tanpa disengaja. Bahkan, Katherine juga menjadi salah satu dari mereka.


Katherine sampai gugup dan ragu menatap situasi parah tersebut. Ia sampai ketakutan untuk mengeluarkan mana, takut, sangat takut sihirnya akan mengenai seseorang, mengingat dirinya adalah seorang priest.


Beralih ke lantai ketiga, Woodyatt mengampu murid kelompok C. Seluruh murid tersebut sangat tidak leluasa dalam mempraktikkan sihir dasar itu, Bukan hanya penjelasan profesor pengampu mereka hampir membuat mengantuk, tetapi juga ukuran ruangan setara dengan seperempat ruangan lantai pertama.


Peluang untuk menjadi target sihir salah tembak sangat tinggi, tidak heran banyak yang sampai gagal dalam menyeimbangkan mana dan membuat tongkat mereka menyala. Meski begitu, mereka tetap berusaha sekuat tenaga.


Beda ceritanya bagi beberapa murid kelompok C, terutama seluruh murid bermantel putih. Pada awal pelatihan dimulai, mereka sampai kesulitan mengeluarkan mana. Butuh waktu cukup lama untuk akhirnya dapat menyalakan tongkat masing-masing.


Bagi semua murid bermantel putih yang ikut, terutama Sans, mengeluarkan mana saja sudah sulit sambil memfokuskan diri pada tongkat masing-masing. Kurang lebih tiga puluh menit pertama pelatihan berselang, mereka masih tidak mampu membuat senjata masing-masing bersinar penuh mana.


Pada akhirnya, seluruh murid bermantel putih dan tanpa job sama sekali menjadi bahan tertawaan. Olok-olok menjadi hal yang paling terdengar bagi mereka.


“Apa itu?”


“Konyol sekali?”


“Mereka masih berani ikut bootcamp? Setelah gagal placement test?”


“Sulit dipercaya!”


“Calon murid yang akan dikeluarkan!”


“Tidak, mereka pasti akan dikeluarkan!”


Olok-olokan itu sama seperti saat Sans terima setelah placement test berakhir. Tentu saja, hal itu memicu pemikirannya ketika ia menjalankan placement test di hadapan kelima profesor pengampu bootcamp.


Ia sama sekali tidak dapat menggunakan mantra khusus alchemist, bahkan tidak sempat pula belajar mantra lain untuk mage atau priest. Alhasil, selama menit pertama, ia tidak mampu melakukan apapun.


Detik-detik terakhir, ia mengangkat belati sambil menekan tubuhnya berharap akan keajaiban. Akhirnya, suara kentutlah yang keluar alih-alih sihir. Hal itu membuatnya menjadi target utama bahan olok-olok, apalagi saat ia harus masuk kelompok C.


Tentu saja Beatrice, Neu, Sierra, dan Katherine kecewa akan keputusannya untuk memasuki bootcamp khusus job tipe sihir. Menjadi penyihir dengan senjata belati sangat tidak masuk akal.


Sans pun harus menahan penderitaan sebagai murid bermantel putih, terutama pada hari ketiga pelatihan berlangsung, yakni melatih sedikit fisik.


Secara berurutan, lunges, berjinjit, menendang ke depan, push-up, memukul menggunakan telapak tangan, sit-up, dan Russian twist (duduk sambil menekuk lutut dan pinggul 90 derajat serta telapak kaki rata di lantai sambil menggerakkan kedua kepalan tangan di depan dada).


Kerap sekali, Sans, sama seperti murid bermantel putih lainnya, mendapat sabotase dari murid di belakangnya berupa serangan sihir, menyebabkan tubuhnya tidak seimbang saat melakukan setiap work out dan terjatuh. Kerap sekali ia kesulitan untuk menyelesaikan work out mengikuti irama kelompok.


Woodyatt, selaku profesor pengampu kelompok, tetap tidak peduli akan kesalahan, bahkan setelah salah satu murid bermantel putih mengajukan keluhan bahwa seseorang telah menyerangnya saat pelatihan berlangsung. Pelatihan pun berlanjut seakan tidak ada yang terjadi.


Seluruh murid bermantel putih, terutama Sans, benar-benar mengalami kerugian selama tiga hari pertama bootcamp berlangsung. Tidak heran mereka hanya bisa menunggu pengumuman akhir semester setelah mendapat nilai buruk.


***


Lokasi penginapan bagi murid kelompok A terletak di pusat kota. Semua sudut, lantai, dinding, pilar, dan pagar terbuat dari kayu kokoh nan kualitas tinggi, bahkan kalau dipukul atau ditendang sekalipun, tidak akan patah. Terdapat pula jubah, lukisan, dan peta di setiap sudut dinding, mengundang perhatian seluruh murid. Orb-orb yang turut menjadi penerangan juga membuat setiap sudut ruang depan penginapan lebih nikmat.


Di ruang depan, juga terdapat berbagai meja dan bar. Berbagai minuman juga tersaji dan sama sekali tidak tersedia di akademi, begitu nikmat bagi seluruh murid untuk mencicipinya. Ibaratnya, mereka menggunakan menu makanan dan minuman sebagai perayaan telah memasuki kelompok A dan dipastikan lulus bootcamp.


Beberapa murid laki-laki menghampiri Beatrice untuk mengajaknya makan dan minum atau sekadar bersenang-senang. Ia akhirnya menolak seluruh tawaran tersebut dan berlalu begitu saja.


Menatap Neu yang tengah berdiri di halaman depan penginapan, Beatrice menghentikan langkah, masih membiarkan keraguan menggerogoti dirinya. Insiden saat pesta dansa hari terakhir Festival Melzronta terkilas kembali, apalagi saat Earth, “tunangan”-nya, memukul Neu tepat di wajah.


Ia menggelengkan kepala mencoba menyapu pikiran tersebut. Perlahan, ia kembali berjalan sampai berada di samping kiri Neu.


Neu mencuri kesempatan Beatrice untuk memulai percakapan, “Bintangnya indah, bukan? Kalau dari sini?”


“Katanya Vaniar jadi tempat terbaik untuk melihat bintang-bintang. Benar, kerlipan cahaya lebih terang kalau dari sini.”


“Uh, iya.” Beatrice menyaksikan Cherie, familiar peri bertanduk seperti unicorn milik Neu, masih tertidur pulas di bahu, layaknya bayi naga. “Kamu sudah tahu kemampuannya?”


“Sama sekali belum. Familiar-ku sampai-sampai jadi bahan olokan murid yang punya familiar lainnya gara-gara itu. Kalau saja familiar-ku ini bisa mengeluarkan kekuatannya, mungkin aku takkan di posisi seperti ini.”


“Mungkin saat pelatihan familiar nanti, Cherie akan menunjukkan kemampuannya.”


“Semoga saja. Kupikir dia tidak akan melakukannya.” Neu akhirnya menoleh pada Beatrice. “Uh.”


“Anu, Neu,” tanggap Beatrice, “soal pesta dansa waktu itu … anu … aku—”


“Maaf, aku sudah memicu masalah waktu itu. A-aku … seharusnya aku tidak mengajakmu jadi pasangan pesta dansa. Aku sudah memicu keributan, lalu … kamu melarikan diri dan menangis karena itu. Esoknya … kamu tidak ingin berbicara denganku.”


Beatrice justru menganggapi spontan, “I-itu tidak benar. Ku-kupikir kamu tidak ingin berbicara denganku.”


“A-apa, tentu tidak. A-aku … bagaimana kumengatakannya …. Earth tidak pantas memilikimu. Kalian tidak cocok.”


“Ya, kamu benar.” Beatrice menundukkan kepalanya. “Aku tidak ingin terjebak dalam pernikahan dengan pria brengsek itu. A-aku … ingin terbebas dari tradisi perempuan bangsawan, seperti terjebak di sebuah sangkar. Setiap hari, aku terus merenung ….


“Kamu sudah tahu dari kita kecil, pergi ke dunia luar selalu menjadi mimpiku, aku … ingin pergi bersama semua teman-teman kita waktu itu.”


Neu melanjutkan, “Sayang sekali, hanya kita yang sedang mewujudkan mimpi itu. Beberapa teman kita justru memilih jalan yang berbeda, terutama saat dirimu tidak ada, masih harus menjalani kebiasaan bangsawan.”


“Benar. Padahal aku ingin melihat dunia luar bersama yang lain, teman-teman kita.”


Neu kembali menatap kerlipan bintang di langit. “Suatu saat, kita akan bisa bertemu teman-teman kita setelah ini dan bertualang bersama. Terlihat mustahil ya?”


Beatrice menutup mata dan mendekatkan tangan pada mulut, menahan cekikikannya. “Ayahku bilang kalau ada bintang jatuh, permohonan kita akan terkabul suatu saat.”


Mengingat perkataan ayahnya mengubah suasana hati Beatrice, dan perasaan cerah menuju kegalauan. Tatapannya sayu ketika mengingat kembali perkataan Teruna saat pertama kali menemuinya semenjak kabur dari rumah.


Neu perlahan menggerakkan tangan kirinya. Tanpa menoleh dan tetap terfokus pada bintang-bintang, ia mengunci tangan kanan Beatrice ketika terasa sentuhannya.


Genggaman tangan Neu padanya turut menghentikan lamunan Beatrice. Menoleh pada kedua tangan yang terkunci pada genggaman, ia memalingkan wajah, ingin sekali berbicara, akan tetapi, pipinya memerah merasa tidak enak.


Ia baru saja berbicara kembali pada Neu untuk pertama kalinya semenjak insiden pesta dansa. Ia sangat tidak mengharapkan hubungan pertemanan mereka akan berkembang sangat pesat, di luar pikirannya.


“Oh. Maafkan aku.” Neu melepas genggamannya saat menoleh Beatrice tersipu.


“A-anu … tidak apa-apa.”


Neu terbata-bata dalam memulai kembali percakapan. “U-um … kurasa … teman-teman kita yang lain sejak kecil … sedang sangat sibuk dalam urusan masing-masing, membantu usaha keluarga dalam berdagang, atau menggapai mimpi masing-masing. Setelah lulus dari akademi, kita pasti akan bertemu mereka, meski hanya sebentar.”


Beatrice mengangguk. “Kalau ada bintang jatuh di sini, pasti akan indah, apalagi saat permintaan kita terkabul.”


“Aku harap familiar-ku setidaknya berguna. Aku tahu kekuatannya. Kalau tidak … setidaknya aku butuh familiar lain selain dia.”


“Jangan menyerah, Neu.”


***


“Apa dalam keadaan seperti ini, kamu tidak akan ketahuan, Black Jack’s apprentice?”


Seorang lelaki berambut kribo dan berkulit hitam pekat menghadapi Sierra ketika mereka menjauhi daerah kota. Hanya rerumputan dan semak belukar yang turut mendampingi. Sangat jauh hingga penerangan orb di perbatasan kota tidak mencapai mereka.


“Setiap murid kelompokku sedang semacam berpesta. Aku hanya malas bergabung dengan mereka. Lebih baik kamu yang kutemui. Jadi, bagaimana?”


“Kelihatannya kita tidak usah terburu-buru. Meski profesor pengampu bootcamp-mu tidak kelihatan, mereka bisa berada di mana saja. Apa kita sabotase saja bootcamp ini?”


“Tidak perlu. Kamu tunggu saja waktu yang tepat. Lalu seluruh rencana akan kita jalankan seperti biasa. Untuk sekarang, kalau ada bahaya dari murid, singkirkan dia. Singkirkan, singkirkan mereka semua.”


***


Kondisi “penginapan” untuk murid kelompok C di Vaniar setidaknya masih lebih baik daripada di Silvarion. Jenis gedung tersebut tidak jauh berbeda, hanya memiliki satu ruangan, lantai jerami, dan dinding kayu lapuk berlubang. Untungnya, masing-masing murid diberi alas tidur tanpa selimut.


Sans terjaga dari mimpinya. Mengalihkan posisi dari berbaring menjadi duduk, deretan murid lain yang masih terlelap di atas masing-masing alas tidur menjadi hal pertama dalam pandangan. Hampir tidak ada celah pada deretan alas tidur yang berdekatan. Bahkan banyak yang menjadi korban tendangan tidak disengaja, apalagi mengenai tepat pada kepala.


Ia bangkit dari alas tidurnya saat mendapat rangsangan di bagian bawah perutnya, rangsangan sedikit menusuk. Ia secara berhati-hati melewati deretan murid lain yang tengah tertidur, memastikan tidak menginjak bagian tubuh agar tidak ikut terbangun.


Ia perlahan membuka pintu dan mulai berlari menuju deretan semak-semak di hadapannya. Padang rumput di hadapan silaunya penerangan barat kota menjadi satu-satunya saksi atas aksinya. Lokasi “penginapan” di mana ia dan murid kelompok C lainnya singgah berada tidak jauh dari arah barat Vaniar.


Sambil melihat pemandangan barat kota, sungguh melegakan ia telah menyelesaikan sebuah panggilan alam. Ketika ia ingin berbelok, sebuah refleks memperingatkannya akan sesuatu.


Sebuah sentuhan menghentikan refleks Sans untuk berbalik. Tubuhnya telah terikat kencang oleh lengan seseorang. Bagian bawah wajahnya juga telah tertutup oleh sebuah sentuhan beraroma mengengat, sangat mengengat hingga lama-kelamaan pandangan Sans berputar-putar.


Karena hal tersebut, semua pandangan menghitam.