
Begitu salah satu kelas umum telah berakhir, alih-alih ke kantin akademi, Beatrice justru menginginkan roti segar dari kedai roti. Dia menikmati satu gigitan baguette renyah ditemani oleh secangkir teh melati.
Bagi Beatrice, secangkir teh dapat menenangkan pikiran sehabis memikirkan masalah kelompok temannya. Kandungan antioksidan bukan hanya menyegarkan tubuh, tetapi juga mengusir segala beban stres yang telah terkumpul cukup banyak, termasuk saat Oya meminta air mata phoenix.
Sebelum meneguk kembali secangkir teh, terkilas kembali permintaan dan ancaman Oya. Sama sekali belum terpenuhi. Napas dia keluarkan membantu menghilangkan sedikit stress saat menghadapi kenyataan Oya akan kembali untuk menjemputnya.
Ketika berpaling pandangan dari baguette dan secangkir teh di hadapannya, Tay telah memasuki kedai roti. Sebelum dia menghampiri meja sang penjual, Beatrice menjadi fokus tatapan di hadapan dirinya. Meja yang tengah ditempati Beatrice cukup dekat dengan meja sang penjual.
“Tay?”
“Ternyata kamu,” balas Tay pada Beatrice.
Tay beralih pada sang penjual dan mengutarakan pesanannya, “Aku ingin croissant dan secangkir susu.”
“A-anu, Tay,” Beatrice menyapa lagi.
Tay menoleh kembali pada Beatrice tanpa menghapus tatapan sinis, tepat setelah dia membayar pesanannya.
“Ka-kamu bisa duduk di depanku,” Beatrice mempersilakan, “aku ingin berbicara padamu.”
‘Kenapa kamu masih begitu baik padaku? Aku ini sudah dicap orang buruk bagi kebanyakan orang, terutama di akademi.” Tay menghampiri Beatrice, masih dengan tatapan sinis dan ekspresi masam.
“A-anu, sebenarnya aku sudah mendengar tentangmu dari Sans.”
Tay masih saja berdiri di hadapan Beatrice, masih tidak ingin berurusan dengan siapapun. Padahal dia hanya berencana untuk menikmati croissant dan secangkir susu seorang diri dengan cepat. Waktu pun terbuang ketika dia tidak bisa langsung kembali ke akademi atau mengambil misi dari quest board.
“Maafkan aku telah mengungkap hal yang mungkin tidak mau kamu ingat, Tay. Aku tahu kamu ditinggalkan oleh teman-teman dekatmu, mereka yang dekat denganmu saat hari-hari pertama di akademi. Setelah aptitude test berakhir, kamu dikeluarkan dari kelompok mereka.”
“Lalu kamu harus simpati padaku? Sama seperti si mantel putih dan si alis melengkung itu?”
“Ti-tidak, tidak. Aku ingin bertanya, bagaimana rasanya kamu kembali mendapat teman seperti mereka? Sans, Yudai, Sierra, dan aku. A-anu, kamu mungkin masih bertengkar dengan Neu, tapi setidaknya aku dapat melihat hubunganmu dengannya telah berkembang.”
Tay memalingkan wajah, menatap ke arah lantai kayu. “Tidak ada. Aku tidak merasakan apapun. Jauh berbeda daripada teman-teman lamaku.”
“Croissant dan secangkir susu.” Seorang pelayan perempuan menghampiri meja Beatrice dan menaruh pesanan Tay.
Tay kembali berbicara setelah pelayan tersebut pergi. “Dengar, sejak awal, aku tidak bertujuan untuk mencari teman di akademi ini, aku hanya ingin menjadi lebih kuat seorang diri. Aku tidak butuh belas kasihan sama sekali setelah dibenci banyak orang di akademi, seperti saat kamu dan si alis melengkung mengajakku—”
“Kami tidak memberi belas kasihan. Kami justru mengajakmu untuk berteman. Kamu tidak enak sendirian terus, menerima omongan orang padamu. Tay, aku tahu kamu sering bertengkar dengan Neu, terutama tadi malam. Kami ingin membantumu lebih kuat, jauh lebih kuat dibandingkan hanya seorang diri. Kamu juga merasakannya, kan?
“Aku dulu tidak boleh bertemu teman-temanku sebelum kemari. Ibuku yang melarang. Dulu, aku dapat merasakan ada yang kurang kalau aku tidak bertemu teman-temanku, semuanya laki-laki. Aku justru hanya disuruh untuk mengikuti tradisi keluarga. Setelah kuputuskan untuk kemari, aku bisa kembali berteman sesukaku.”
Tay kini duduk di hadapan Beatrice, menoleh pada sepiring croissant dan segelas susu murni segar. Diambilnya croissant tersebut dan mulai menikmati satu gigitan. Tekstur garing di luar dan lembut di dalam seakan melumer di lidah.
“Itulah mengapa teman adalah hal penting dalam kehidupan, terutama saat kita bertualang nanti.”
“Kamu sebenarnya bisa merangkai kata lebih baik daripada itu. Kamu ini orang bangsawan, itu yang kudengar dari si alis melengkung.”
***
Neu melipat kedua tangan pada dadanya, menunggu Beatrice selesai makan siang di kedai roti dapat menghabiskan waktu cukup lama. Dia hanya berdiri di samping papan quest board di alun-alun kota bersama Sans dan Yudai.
Yudai berfokus pada setiap lembaran misi terpampang pada quest board, imbalan uang menggiurkan di balik tingkat kesulitannya cukup menggoda, sayangnya mendominasi. Beruntung, mereka sama sekali tidak akan mengambil misi semenjak tidak ada satu misi yang dapat dikerjakan.
“Semuanya!” Panggilan Beatrice membuat Sans, Yudai, dan Neu menoleh.
Neu menggelengkan kepala ketika menoleh pada Beatrice, menyaksikan Tay mengikuti tepat di belakangnya. Hal yang paling tidak diinginkannya, bertemu kembali dengan Tay setelah semalam berkelahi di asrama.
Beatrice menghentikan langkah ketika mendekati Sans dan Yudai. “Kebetulan, kami bertemu di kedai roti. Jadi aku mengajaknya untuk ikut mencari Sierra bersama-sama.”
Hening sejenak, tidak tahu ingin berkata-kata untuk merespon keputusan Beatrice. Perkelahian antara Tay dan Neu telah membuat tensi di antara mereka, cukup tidak nyaman bagi Sans dan Yudai.
Yudai melebarkan bibir saat membuka suara, cukup tercerahkan ketika Tay memutuskan untuk ikut. “Oh. Bagus.”
“Bagus.” Sans ikut menyetujui.
“A-anu, sebaiknya kita mulai dari mana? Di sekitar kota ini?” Beatrice menatap setiap sudut alun-alun, cukup ramai dengan pengunjung.
“Tu-tunggu dulu.” Sans mengangkat tangan kanan. “Neu, Yudai, apa kalian yakin kita akan sampai melanggar jam malam?”
Tay mengambil alih untuk menjawab, “Tidak masalah. Kalian ingin mencari Sierra sampai ketemu, kan? Aku rela mengambil risiko itu.”
Yudai menyeringai. “Kamu berani juga. Bagaimana kalau kita mulai saja dari sekitar kota ini, bisa menjadi awal dari pencarian. Lalu kita pergi ke hutan, dan mungkin kita akan menemukan kampung halaman Sierra.”
Sans menyetujui, “Ya, ide bagus, Yudai. Kita juga tidak tahu kampung halaman Sierra. Sierra hanya bilang dia berasal dari Aiswalt.”
“Kalau begitu, ayo mulai! Kita cari bersama-sama!” Beatrice mengayunkan tangan kanannya.
Sans, Beatrice, dan Yudai berbalik seraya memulai pencarian Sierra, melihat setiap sudut untuk mengidentifikasi setiap orang dari wajah, perawakan, dan penampilan.
Neu memberikan tatapan kosong pada Tay, tanpa perkataaan apapun. Memang diam lebih baik daripada berbicara berujung adu mulut dan perkelahian.
Tay menggeretakkan gigi menyaksikan Neu mengikuti langkah Sans, Beatrice, dan Yudai. Masih tidak tahan jjika harus bertemu Neu secara langsung, apalagi bekerja sama dengannya.
Karena Beatrice telah menjelaskan segalanya, mau tidak mau Tay masih harus terjebak, terjebak dalam kelompok pertemanan konyol baginya. Dia mulai ikut menyusul demi menemukan Sierra.
Mereka bukan hanya menggunakan cara observasi, tetapi juga dengan cara berbicara pada setiap orang, dimulai dari alun-alun dan pertokoan. Setiap orang, mulai dari rakyat jelata hingga penjaga toko, mereka tanyakan apakah pernah melihat seorang perempuan yang sering berpakaian elegan, berambut hitam panjang bergelombang. Ciri khas tersebut satu-satunya hal yang bisa memberi karakteristik pada Sierra.
Nihil, tidak tahu, atau tidak menjawab. Jawaban tersebut kerap mereka dapatkan.
Begitu bertanya pada warga kota tidak dapat diharapkan lagi, mereka memutuskan untuk pergi ke hutan untuk melanjutkan pencarian. Memang tidak terasa, cukup lama mereka mencari Sierra tanpa membuahkan hasil, langit biru cerah pun berubah dari biru menjadi oranye.
***
Seorang lelaki berambut kribo dan berkulit hitam pekat melangkah menemui seseorang di hadapannya, ketika langit sudah mulai menghitam di antara pepohonan cukup lebat. Orang yang membelakangi di hadapannya tersebut seakan sebuah siluet berkat malam semakin larut,
“Black Jack’s apprentice. Kita beruntung kamu memutuskan untuk mencari rahasia tergelap dari Akademi Lorelei dan mengeksposnya. Dengan begitu, kepercayaan dunia terhadap kerajaan akan sirna.
“Kamu sudah membuat pengorbanan yang cukup berisiko. Setidaknya, kamu sudah membuktikan pada Black Jack bahwa kamu bersungguh-sungguh. Satu kesalahan, kamu tahu akibatnya. Jangan sampai kedokmu terbongkar.
“Kamu tahu apa yang harus dilakukan.”
Orang itu menganggapi lelaki berambut kribo di belakangnya, “Aku tahu. Ketika tidak ada siapapun pada jam malam, aku akan mencari tahu rahasia itu.”
“Bagus. Pastikan kamu mencarinya tanpa ketahuan, Black Jack’s apprentice.”
Orang itu berbalik mengungkapkan dirinya pada sang lawan bicara.
“Atau nama aslimu, Sierra. Seorang mata-mata yang berperan sebagai murid priest di akademi.”
Sierra membelai rambutnya setelah diingatkan akan misinya sebagai seorang mata-mata. Tampaknya, tidak ada yang menduga hal ini akan terjadi, bahkan kelima teman dekatnya.