Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 121



“Bolt, ecm morf ah kopn!”


Jentikan jempol dan telunjuk Sans memicu luncurnya percikan cahaya putih kecil hampir tak berbentuk nan tajam di udara. Seekor kelinci cokelat langsung terbaring di tanah ketika lehernya terkena serangan tersebut.


Itu menjadi buruan ketiga dan terakhir yang berhasil Sans dapatkan. Tidak mudah dalam menjalani proses berburu hanya menggunakan kekuatan alchemist.


Awalnya, penggunaan skill penyerangan pertamanya tidak berjalan mulus seperti diinginkannya. Begitu berupaya untuk menggunakannya setelah menemukan kelinci pertama, kekuatannya tidak berubah menjadi serangan sama sekali hingga hewan itu kabur. Jerih payahnya dalam menguasai skill tersebut akhirnya terbayarkan saat ia berhasil menggunakannya pada kelinci buruan pertamanya pada siang hari.


Skill penyerangan khusus alchemist itu adalah Bolt Snap. Sans memutuskan untuk memilih belajar skill itu karena ia merasa sudah cukup mudah dibanding seluruh skill yang tertulis di Buku Dasar Alchemist.


Begitu ia mengambil kelinci buruan ketiganya, ia menaruhnya di dalam kantong. Tidak perlu khawatir bahwa kelinci itu mati tanpa mengeluarkan darah, maka isinya dari kantong itu tidak perlu ternodai oleh darah.


Ia akhirnya kembali memasuki desa, sampai berlari menandakan kegirangan misi pertamanya berhasil. Dengan begitu, ia siap untuk melewati langkah berikutnya untuk membuat gauntlet.


Berpikir tentang proses pembuatan sarung tangan yang akan menjadi gauntlet alchemist, ia ingat sang pengrajin akan selesai membuat sarung tangan dalam tiga hari. Tiga hari. Berarti, hari saat ia berburu kelinci merupakan hari kedua.


Rencana berikutnya ia mulai ketika tiba kembali di sebuah bangunan di mana ia akan melakukan proses pembuatan gauntlet alchemist. Entah kebetulan atau tidak, dua orang penduduk telah menempatkan sebuah meja dan kursi di sudut dekat pintu.


Salah satu dari mereka menyapa, “Kepala desa melihatmu membaca buku di lantai. Kami berpikir kamu membutuhkan ini.”


Sans cukup tertegun sambil meyaksikan kedua penduduk itu keluar dari bangunan. “Oh. Te-terima kasih banyak.”


Sebenarnya, ia merasa tidak enak pada penduduk tersebut yang harus repot-repot melayani tamu setelah beberapa bulan mengalami insiden basilisk yang menghancurkan seluruh desa, apalagi sedang dalam proses rekonstruksi. Kabar baiknya, adanya meja dapat memudahkannya melalui proses berikutnya dalam pembuatan gauntlet.


Pertama, ia keluarkan tiga bangkai kelinci buruan dari kantongnya dan meletakkannya di meja. Bangkai tanpa mengeluarkan darah sama sekali, itulah hasil dari buruan hanya menggunakan kekuatan alchemist. Ia lega isi kantongnya hampir tidak tercemar.


Langkah berikutnya, ia dekatkan tangan kanannya pada satu per satu bangkai kelinci di meja. Kemudian, ia menarik napas, mempersiapkan tenaga untuk melakukan penyaluran kekuatan alchemist-nya, sama seperti saat ia membuat ramuan.


Kali ini, ia akan mendekonstruksi bangkai kelinci itu dan mengambil salah satu bagiannya sebagai bahan untuk gauntlet alchemist. Ia membayangkan hasil bahan tersebut sambil memunculkan cahaya putih pada tangannya. Proses dekonstruksi pun dimulai.


Cahaya putih tersebut memisahkan bagian-bagian mayat kelinci tersebut, mulai dari bulu, kulit, tulang, hingga organ tubuh. Perlahan bangkai kelinci itu mulai terpisah seperti sedang mengalami operasi.


Selanjutnya, Sans melakukan hal yang sama pada dua bangkai kelinci tersebut. Proses dekonstruksi menggunakan kekuatan alchemist tersebut tidak menguras cukup banyak tenaga dibanding saat ia melakukan proses transmutasi dalam pembuatan ramuan.


Lalu ia memisahkan bulu dan kulit dari ketiga bangkai kelinci dari tulang dan organ tubuh. Keduanya ia kembali hadapkan pada tangan kanannya. Kali ini, ia merekonstruksi kedua bagian tersebut untuk melakukan transmutasi.


Sans menggeretakkan gigi dan menyipitkan mata, berfokus untuk membayangkan bentuk dari hasil transmutasi tersebut. Ia mengerahkan tenaganya pada cahaya di tangan kanannya untuk memperlancar proses rekonstruksi bulu dan kulit kelinci.


Kurang lebih tiga menit, kedua benda itu akhirnya menyatu menjadi bentuk serat-serat lurus panjang seperti benang kasar atau kayu tipis. Hasilnya adalah sebuah serabut inti untuk gauntlet alchemist.


Ia berdecak kagum dan bangga akan hasilnya. Belum ingin berpuas diri, ia mempersiapkan langkah selanjutnya.


Dikeluarkannya tiga lembar catatan dari kantongya, terdapat penjelasan cukup rinci dan agak berantakan secara sistem penulisannya. Banyak baris tulisan yang seakan bergabung dalam bagian penjelasan, jika orang lain yang membacanya, kebingungan hingga memutar otak akan menjadi reaksi tersebut.


Sambil memindai catatannya, Sans mengingat kembali ketika ia berada di perpustakaan untuk menghasilkannya.


***


Sungguh sulit untuk mencari referensi yang tepat di perpustakaan jika hanya menilai dari judul. Beberapa hari saat liburan musim dingin berlangsung, saat ia tidak menjalankan misi atau berlatih bersama Beatrice dan Yudai, ataupun berlatih dan mendapat pelajaran alchemist dengan Duke, ia mengunjungi perpustakaan akademi.


Selama waktu jeda, termasuk saat Duke tengah berhalangan hadir untuk ke luar kota, ia ditugaskan untuk melakukan riset cara pembuatan kristal kondensasi transparan. Benda itu akan menjadi salah satu bahan untuk pembuatan gauntlet alchemist.


Cukup sulit untuk menemukan buku yang kurang lebih membahas hal tersebut. Butuh berhari-hari ia mencari buku dengan topik tersebut, mulai dari lantai pertama. Keberuntungan Sans tidak berjalan sangat mulus, sering sekali ia menemukan buku yang tampaknya membahas hal itu, tetapi Ia tidak menemukan topik yang bersangkutan. Terkadang, ia mendapat kata kunci “kristal kondensasi” dan “sihir imbuhan”, tetapi tidak menemukan cara pembuatannya.


Hal tersebut Sans manfaatkan untuk menjadikan materi-materi tersebut sebagai catatan mentah hanya untuk berjaga-jaga. Butuh berlembar-lembar ia mencatat inti sari topik tersebut dari setiap buku yang ia temukan,


Pada akhirnya, ia menemukan sebuah buku di lantai kelima perpustakaan. Begitu melihat daftar isinya saat duduk di depan meja, ia menemukan apa yang ia cari, penerapan sihir imbuhan dan praktikal tentang penerapan kristal mana. Kedua materi itu sangat penting dalam pembuatan kristal kondensasi, apalagi dalam pembuatan gauntlet alchemist.


Terlebih dahulu ia membaca paragraf pendahuluan ketika membuka bab tersebut. Ia membaca cukup cepat hingga harus kebingungan dan ingin menyerah setelah mendapati penjelasan berbelit-belit, sama seperti saat ia membaca buku-buku sebelumnya.


Menghela napas sejenak setelah merenungi kemalasannya selama kurang lebih dua jam. Ia akhirnya kembali membaca dengan cermat bagian tersebut, terutama bagian penerapan sihir imbuhan. Setiap hal-hal penting ia catat sebisanya, yang penting sepemahamannya. Ada pula bagian yang tidak ia mengerti, tetapi tetap ia catat semenjak hal tersebut ia anggap penting.


Cukup panjang dan seperti berputar-putar penjelasannya, ia membutuhkan waktu tiga hari untuk menghabiskan bab dalam buku tersebut. Ia kembali mencatat agar memastikan intisari dari bab itu masuk ke dalam pemahamannya.


Terakhir, ia kumpulkan berbagai catatan dari bacaan-bacaan sebelumnya. Ia membaca setiap catatan tersebut untuk kembali merekap apa yang sudah ia dapatkan setelah membaca. 


Belum selesai membaca, ia akhirnya mengakhiri risetnya di perpustakaan pada hari itu. Ia belum sempat mencatat intisari dari catatan-catatan mentahnya hingga sore hari.


Setelah ia mengikuti misi menumpas basilisk di desa Salazar bersama Beatrice, Yudai, Riri, dan Katherine, catatan itu sama sekali belum tersentuh, bahkan saat Beatrice mendapat peringatan dari Oya yang memaksa mereka untuk kembali mencari air mata phoenix.


Tepat sehari sebelum libur musim dingin berakhir, ia menyelesaikan catatan sebanyak tiga halaman, catatan berisi intisari dari catatan mentah hasil risetnya di perpustakaan. Kelak, ia ingin memahami catatan tersebut saat pembuatan gauntlet alchemist berlangsung.


Ia memahami bahwa pembuatan kristal akan menghasilkan bahan tambahan pada bahan inti pembuatan gauntlet alchemist. Bukan hanya itu, kristal itu menjadi bahan penting pada proses tersebut.


***


Meski catatannya telah ia ringkas secara rinci, materi-materi tersebut kembali membuatnya berputar-putar. Ingin sekali segera mengerti dan menerapkannya, tetapi ia tahu dengan pembahasan yang sudah telanjur sangat kompleks tidak akan memudahkannya.


Ia membaca catatan itu berulang kali. Hal yang pertama ia mengerti adalah penerapan kristal mana terhadap kekebalan unsur za yang saling mendominasi, yaitu api dan air. Ia cukup kebingungan membaca cara menyeimbangkannya tanpa memecah atau menghancurkan unsur utamanya.


Keesokan harinya, hari ketiga dalam pembuatan gauntlet alchemist, sebelum melanjutkan membaca catatan tersebut, sang pengrajin mengabarkan bahwa sebuah sarung tangan telah selesai ia buat. Sarung tangan itu akan menjadi gauntlet dummy pertama.


Pengrajin itu mengangguk saat mengabarkan ia akan membuat sarung tangan lagi dalam kurang lebih tiga hari. Sans juga meminta sebuah gelas untuk bahan uji coba dummy tersebut.


Sang pengrajin itu mengangguk dan mengambil gelas kosong dari rumahnya. Gelas berdiameter kurang lebih 10 centimeter, cukup pas untuk ukuran sarung tangan tersebut.


Begitu kembali ke bangunan di mana ia melakukan proses pembuatan gauntlet alchemist, Sans pun berpikir untuk membuat ramuan mana, yaitu ramuan untuk membangkitkan tenaga sihir dalam tubuh dan memaksimalkannya. Ia mengingat ramuan itu berupa cairan berwarna biru tua, cairan yang sama seperti saat Duke meminumnya untuk memulihkan mana.


Sans terlebih dahulu keluar dari bangunan semenjak ia tidak memiliki bahan inti dari ramuan mana. Ia mengingat bahan-bahannya dengan betul dari penjelasan Duke dan pemahamannya di Buku Dasar Alchemist.


Bahan-bahannya adalah ramuan penyembuh luka, jamur bercahaya, dan kristal apapun – termasuk kristal Variant tidak murni yang dapat ditemukan di sekitar pintu masuk tambang kristal Munich.


Ia membagi jadwal pada hari ketiga proses pembuatan gauntlet alchemist. Ia melanjutkan membaca dan memahami catatan materi penerapan kristal kondensasi pada sore hari setelah ia memetik sebanyak tiga kristal. Malamnya, ia akan mencari jamur bercahaya gemerlap di sekitar hutan dekat desa Salazar.


Langkah pertama pada hari ketiga tersebut ia mulai. Ia meninggalkan desa untuk menyelusuri hutan bertanah tandus. Jembatan yang merupakan jalan utama ia lewati, begitu pula dengan kumpulan rawa.


Tentu saja, berbagai monster seperti slime, kadal bersisik hijau, alligator bergerigi tajam, ular, dan makhluk bertubuh tumbuhan merambat harus ia hadapi. Seorang diri, ia menebas berbagai monster tersebut dengan kemampuan menggunakan belatinya.


Mulai dari membelah tubuh slime menjadi dua, menghantam bagian atas kepala alligator dan kadal, serta memotong bagian titik vital makhluk bertubuh tumbuhan merambat. Pertarungan-pertarungan tersebut tidak berjalan semulus seperti Sans harapkan, luka-luka akibat gigitan, cakar, dan rambatan duri ia alami.


Selesai melewati rawa, ia meminum sebotol ramuan penyembuh luka sebelum melewati tanjakan menuju lokasi tujuan. Untungnya, tanjakan itu tidak terlalu menanjak hingga ia akhirnya berhasil tiba di pintu masuk tambang kristal Munich.


Matahari pun memancarkan teriknya membuat peluh Sans menetes semakin banyak. Tengah hari, ia salah memperhitungkan perkiraan waktu perjalanannya untuk mengambil kristal di pintu masuk tambang.


Tidak seperti saat malam hari, kristal dan rumput yang mengelilingi pintu masuk tambang tidak begitu berkilau, seakan seperti kristal dan rumput biasa, kecuali berwarna ungu.


Sans pun berlutut melirik-lirik kumpulan kristal tersebut dan mulai menyentuhnya. Keras seperti tertanam di tanah, kesan pertamanya saat menyentuh. Akan tetapi, begitu ia dorong ke luar, kristal itu berhasil ia petik. Memang tidak terlalu keras, ia dapat mengumpulkan tiga buah kristal cukup mudah.


***


Hanya satu jam Sans membaca kembali catatannya ketika tiba kembali, langit pun mulai gelap, berarti saatnya bagi Sans untuk berburu jamur bercahaya di sebuah hutan tandus di sekitar desa.


Sans tidak membiarkan lelah mengusiknya, apalagi ia hanya sebentar beristirahat pada sore hari. Maka, ia harus menjalankan misi demi melewati salah satu langkah berikutnya.


Tidak mudah baginya untuk mencari jamur bercahaya, ia menyelusuri hutan gersang tersebut lebih dalam. Akan tetapi, begitu ia melihat rawa, hal itu menjadi batas pencariannya.


Tentu saja, sering sekali ia mendapati monster siap untuk memangsanya. Mulai dari monster jamur biasa, tikus humanoid, lebah bertangan duri, dan slime ungu. Di antara monster-monster tersebut, jamur bercahaya sungguh langka.


Saat menebas kumpulan monster jamur, Sans menyimpulkan jamur bercahaya berwujud sebuah monster. Cukup lelah dengan pencarian tersebut, apalagi menebas para monster.


Ia rela mendapati dirinya luka-luka saat ramuan penyembuh lukanya hanya tersisa empat botol. Tiga botol tersebut akan ia jadikan bahan untuk masing-masing satu ramuan penambah mana.


Kurang lebih satu setengah jam telah berlalu, ia memutuskan untuk kembali ke desa untuk beristirahat. Namun, dalam perjalanan pulang, kumpulan jamur pun kembali menyerbu, salah satu di antaranya adalah jamur bercahaya biru yang telah ia cari selama ini.


Ia akhirnya menggunakan belatinya untuk membasmi jamur-jamur tersebut. Ayunan belatinya ia kendalikan untuk menebas bagian atas yang melengkung dan bagian tengah sebagai titik lemah.


Serangan jamur-jamur itu berupa gigitan dan sundulan tajam, jika terkena, efeknya cukup menyakitkan dan memicu luka. Sans menyingkir dan bergerak secara leluasa dengan berputar serta mengayunkan belatinya.


Cukup banyak jamur tumbang satu per satu, Sans pun menghela napas ketika dirinya berhasil mengalahkan mereka seorang diri, termasuk satu jamur bercahaya warna biru berkilauan.


Ia mengangkat jamur tersebut dan membawanya ke desa. Jamur tersebut tetap bercahaya di tangan meski telah menjadi bangkai. Cukup cepat ia membawanya ke bangunan yang dipinjamnya.


Begitu menaruh jamur bercahaya itu di meja, tiga bahan untuk membuat sebotol ramuan penambah mana sudah lengkap.


Setiap hari di desa Salazar selama ia membuat gauntlet alchemist akan berjalan sangat panjang. Ia harus membaca catatan, membuat kristal kondensasi, dan menguji coba setiap sarung tangan dummy pada siang hari. Malamnya, ia akan kembali berburu jamur bercahaya untuk membuat ramuan penambah mana.