
Tidak peduli Tay berlari menuju tujuan, amukan massa semakin meledak. Kejaran massa masih terjadi bahkan ketika ia melewati perbatasan hutan antara kota dan Akademi Lorelei. Lebih buruk lagi, jumlah massa yang mengejar ikut bertambah dan semakin meledakkan emosi, entah karena mendapat informasi atau sekadar menumpang ikut.
“Tahan! Tahan! Tahan!” jerit sebagian besar massa ketika memasuki gerbang masuk halaman akademi, masih mengejar Tay.
Panik, masih saja panik, itulah yang dipikirkan Tay. Menghadapi massa sebanyak itu sudah tidak mungkin ia lakukan seorang diri, apalagi ledakan emosi semakin menjadi-jadi. Tidak ada pilihan lain selain kabur kembali ke akademi. Namun, hal itu tidak memadamkan aura massa yang membara.
Meski sudah memasuki kastil akademi, pintu yang masih terbuka lebar pun membiarkan massa juga ikut, mencengangkan seluruh murid yang tengah beraktivitas di sana untuk mengalihkan perhatian.
Panik, sungguh panik hingga akhirnya seluruh murid memiliki dua pilihan. Menyaksikan amukan massa yang telah memasuki daerah kastel akademi sambil berbincang atau berpaling meninggalkannya. Kebanyakan justru menaiki tangga untuk melakukan aktivitas lebih bermanfaat, masih menganggap Tay sebagai salah satu murid paling dibenci di akademi.
Keramaian itu justru menarik perhatian bagi Neu. Ia baru saja turun dari tangga dan ikut tertegun menyaksikan massa tengah di ambang emosi, terutama Tay menjadi target utamanya. Tidak ada pilihan lain begitu melihat murid-murid lain ketakutan dan hanya berdiam diri menyaksikan, ia memutuskan untuk turun tangan.
Neu melangkah menghampiri massa tersebut, berdiri di samping Tay. “Whoa, whoa, whoa, ini ada apa? Kenapa ribut-ribut begini?”
Tay tidak menyangka, benar-benar tidak mengharapkan hal itu. Neu ikut menghadapi masalahnya menghadapi amukan massa. Sebetulnya, ia terpikir bahwa teman sekamar sekaligus musuh bebuyutannya itu akan membiarkan masalah tersebut semakin menjadi-jadi begitu saja.
Salah satu dari kalangan massa tersebut mengacungkan telunjuk pada Tay, “Ini! Orang ini! Dia sudah menghancurkan monumen penting bagi kota ini! Ia harus mengganti rugi semuanya! Harus bertanggung!”
“Benar! Dia harus ganti rugi!” mayoritas dari massa juga berpendapat demikian sambil meluapkan emosi.
“Whoa! Whoa! Tidakkah kalian tahu? Kalian telah berdiri di dalam kastil akademi, Akademi Lorelei, sebagai rakyat jelata,” Neu mulai membela Tay, “kalian bukan murid Akademi Lorelei, begitu juga dengan profesor dan staf. Kalian juga tahu bahwa rakyat jelata yang bukan murid, profesor, atau staf dilarang menginjakkan kaki di sini, bahkan di halaman depan kastil sekalipun, kecuali jika ada izin kunjungan terlebih dahulu pada salah satu profesor.
“Dengan sikap seperti ini, kalian sudah tidak sopan terhadap akademi ini, apalagi terhadap murid.”
“Memangnya kamu siapa!” jerit salah satu dari massa tetap tidak puas.
“Mau saya panggil kepala akademi? Atau sekalian saja saya suruh mereka untuk memanggil raja? Raja Kerajaan Anagarde? Hah?” Neu tanpa ragu mengancam.
Mendengar ancaman terlontar dari Neu, seluruh amukan massa terhenti. Mereka tidak dapat membalas apapun lagi selain hanya gemetaran ketika sang raja harus terlibat dengan masalah seperti ini. Terlebih, Akademi Lorelei merupakan buatan Kerajaan Anagarde secara langsung, mau tidak mau mereka harus tunduk pada raja, apalagi tidak boleh menginjakkan kaki di akademi sama sekali kecuali sebagai murid, professor, dan staf.
“Ayo kita pulang,” bujuk salah satu dari massa di barisan depan.
Menyaksikan massa mulai meninggalkan ruang depan kastil akademi, murid-murid lain dapat bernapas lega sambil berdiskusi tentang apa yang terjadi. Lagi-lagi, Tay menjadi topik utama semenjak ia yang menjadi biang kerok masalah tersebut.
Tay sedikit bernapas lega ketika masalah telah berakhir. Yang menjadi masalah baginya saat itu adalah Neu rela turun tangan meski ia anggap sebagai musuh bebuyutan.
Neu membuka suara, “Dengar ya. Aku sebenarnya tidak sudi membantumu sama sekali. Mereka melanggar aturan, menginjakkan kaki di akademi sebagai rakyat jelata, bukan sebagai murid, profesor, atau staf.”
Tay mengerti alasan Neu mau membantunya meski tidak berniat tulus. Diingatnya kembali seorang murid yang telah melapor dirinya pada salah satu professor, termasuk Alexandria sebagai kemungkinan.
Neu menggeleng. “Tentu tidak. Mengapa aku harus melaporkanmu? Aku tidak akan melakukan hal picik seperti itu untuk menjatuhkanmu, apalagi menyeretmu ke dalam masalah tadi.”
Neu bukan pelakunya. Setidaknya Tay tidak perlu menghantamnya itu tepat pada wajah, apalagi menggunakan pedang.
Neu menambah, “Aku jadi ingat sikap Yudai padamu saat tugas di Labirin Oslork, meski aku yang menyelamatkan dirimu dari ranting hidup, kamu juga ingin menyelesaikan tugas sendiri. Aku ini masih teman sekamarmu, kalau ada masalah, setidaknya aku bisa sedikit membantumu, meski sungkan.
“Lebih baik kamu bercerita apa yang terjadi sebelum sekelompok massa itu kemari?”
“Memang ini urusanmu juga?” Nada bicara Tay meninggi.
“Sebagai teman sekamar, aku berhak tahu apa yang terjadi padamu? Apa saat kamu menjalani hukuman setelah dilaporkan?”
“Uh!” Tay menggerutu tidak dapat menyembunyikan kejujuran kembali. Ia menghadap Neu. “Baik, kamu yang meminta. Aku disuruh Professor Alexandria untuk pergi ke blacksmith, kamu tahu, meminta mengganti emblem. Aku membayar dengan uangku sendiri, semua uang yang kupunya.
“Begitu aku keluar dari blacksmith, lima orang bandit menghampiriku, tanpa alasan yang jelas, kecuali mereka menghinaku sebagai murid Akademi Lorelei. Salah satu dari mereka mengambil pedangku. Mereka menghajarku. Tak ragu lagi, aku membalas serangan mereka karena mereka yang memulai. Begitu aku mendapat pedangku kembali, kucoba tebas mereka, tapi malah menghancurkan tugu monumen penting kota tanpa sengaja.
“Para bandit sialan itu melarikan diri tepat sebelum masyarakat kota menyalahkanku telah menghancurkan tugu monumen yang penting bagi mereka. Sampai sini, mereka masih mengejarku. Lalu sisanya, kamu tahu, aku selamat.”
Neu menawar, “Baik. Cukup adil. Kalau soal uang, aku bisa membantumu—"
“Tidak usah. Bukan urusanmu.”
Tay melangkah menuju tangga sambil menggeleng, tetap saja kesal setelah hari sialnya.
“Hei!” Neu berbalik menghadap Tay. “Kita teman sekamar, aku serius ingin memberimu uang karena kamu akan kesulitan nanti.”
Tay kembali menoleh pada Neu. “Kamu beruntung bukan kamu yang melaporkanku pada seorang profesor. Kamu beruntung tidak membuatku terjebak dalam masalah tadi. Kalau kamu memberiku uang, kamu akan melibatkanku dalam masalah lagi.”
“Setiap kali aku mendekatimu untuk menolong, kamu justru tidak tahu berterima kasih seperti tadi. Kamu juga menuduhku sebagai biang masalah.”
“Benar.”
Tay mengeraskan langkah kaki pada setiap anak tangga. Begitu berbelok, dibelalaknya seluruh murid di ruang depan kastil akademi tersebut, terutama Neu.
Neu membalas tatapan tajam Tay. Memang susah jika harus berurusan dengan murid menyebalkan itu, apalagi sebagai teman sekamar.