
Sierra, setelah menjadi salah satu dari kerumunan penonton, ikut menghampiri Sans, tanpa komentar apapun.
“Si-Sierra!” sapa Yudai.
“Sans, jangan bergerak dulu.” Sierra berlutut dan menggapai bahu kanan dan lengan kiri Sans. “Refra eht bruzzar, hela morf eht weib siqlo.”
Kedua tangan Sierra mengeluarkan cahaya putih. Berkat hal tersebut, luka gores pada bahu kanan dan lengan kiri Sans berhenti mengucurkan darah dan juga menutup sendiri.
“Sans!” panggil Beatrice ketika dirinya, Neu, Tay, dan Zerowolf ikut menginjakkan kaki pada lantai ring.
“Sial. Padahal kamu sudah berjuang sekuat tenaga Sans,” komentar Neu.
“Benar, kan? Dia kalah lagi.”
“Dia tidak lulus berarti.”
“Tamatlah riwayatnya. Masa depannya sebagai murid akademi ini benar-benar suram.”
“Lebih baik setelah ini dia keluar saja.”
Mendengar omongan mayoritas dari penonton telah membuat Sans kembali menghadapi kenyataan pahit. Dia menggeretakkan gigi, frustrasi, air matanya kembali tumpah. Dia sekali lagi gagal melawan Dolce. Dia gagal, benar-benar gagal dalam duel tersebut.
“Ah! Kurang ajar mereka!” gumam Yudai frustrasi mendengar banyak hinaan dari beberapa murid yang menjadi kerumunan penonton.
Sebagian dari murid juga mulai kagum, menyaksikan perkembangan Sans semenjak kegagalan saat aptitude test bagian akhir. Dia telah bertahan cukup lama, lebih lama daripada pertarungan sebelumnya. Hal tersebut melebihi ekspektasi mereka terhadap murid bermantel putih.
Zerowolf memberi komentar ketika Sierra selesai menyembuhkan Sans, “Aku sama sekali tidak menyangka, murid bermantel putih seperti dia dapat bertahan tanpa menyatakan menyerah selama delapan menit. Kebanyakan orang bilang mereka hanya dapat bertahan kurang lebih dua sampai empat menit.”
“Sans.” Dolce mengulurkan tangan setelah menaruh belatinya. “Berdirilah.”
Sans menggapai tangan Dolce sebelum berdiri. Menatap dia, apalagi seluruh teman-temannya dan seluruh murid yang menonton, dia sudah tidak punya muka, malu, sangat malu telah kalah dua kali hingga tidak lulus ujian.
“Kita semua tahu kamu pingsan saat melawan saya pertama kali di aptitude test. Saya ingin kamu tahu kalau kamu semakin kuat, kamu benar-benar berkembang dari pertarungan sebelumnya. Kegigihanmu dalam bertarung terlihat. Kamu juga punya teman-teman yang selalu berada di sisimu, apapun yang terjadi.
“Kamu telah kalah lagi melawan saya. Tetapi, saya melihat sebuah potensi, meski kamu hanyalah murid bermantel putih, meski kamu sama sekali tidak mendapat job. Kamu sudah menjadi lebih kuat.
“Sans, kamu lulus ujian duel ini.”
Kalimat terakhir Dolce pada Sans mengagetkan semua orang, termasuk Beatrice, Yudai, Neu, Tay, dan Zerowolf. Bahkan Sierra juga ikut kaget baru saja tiba di dekat ring.
“A-apa!” jerit sebagian besar penonton.
“Sa-Sans lulus? Meski dia kalah?” ulang Yudai.
“A-apa itu benar-benar diizinkan?” lanjut Zerowolf.
“Apa yang sebenarnya terjadi!” jerit salah satu dari murid yang protes.
Gelombang protes mulai meledak, tidak menerima hasil kelulusan Sans sama sekali meski kalah.
“Profesor macam apa Anda!”
“Anda Profesor Dolce palsu!”
“Kenapa Anda meloloskan dia begitu saja meski kalah!”
“Harap tenang!” Dolce memecah ledakan protes tersebut.
Seluruh amarah murid pun terhenti seketika.
Dolce akhirnya menjelaskan, “Akhirnya saya membocorkan rahasia ujian ini lebih awal, ya? Karena tidak tahan lagi setelah melihat kemampuan Sans. Saya percaya ini pertama kalinya rahasia terbongkar begitu saja. Maafkan saya, seluruh profesor di akademi ini. Saya akan mengungkapkannya sekarang juga.
“Murid tahun pertama, kalian berpikir bahwa kalian lulus ujian hanya dengan memenangkan duel ini, bukan? Hanya dengan mengalahkan lawan kalian, yaitu seorang profesor, kalian berpikir kalian lulus? Sebenarnya, masing-masing dari kami selama menjadi lawan telah menilai segalanya. Perkembangan kalian, kemampuan dalam menyerang, bertahan, dan berpikir selama duel.
“Kami menilai berdasarkan hal tersebut. Seperti yang tadi kalian saksikan, jika kalian kalah tapi dapat memuaskan kami, kalian lulus ujian duel ini. Hal yang sama juga berlaku bagi yang menang. Meski kalian menang, tapi kami tidak puas, kalian tidak lulus. Kalian hanya harus menunggu pengumuman saat seluruh putaran ujian duel berakhir.”
“A-apa?” ucap sebagian penonton kaget.
“Ja-jadi hanya dengan menang kita belum tentu lulus?” jerit Beatrice panik.
“Satu lagi, saya juga bertanya pada lawan dari teman-teman Sans tentang penilaian selama duel. Jadi, Beatrice, Neu, Tay, dan Yudai, kalian tidak perlu menunggu hingga seluruh duel berakhir, kalian lulus, kalian semua.
“Semuanya, harap kalian kembali membuat barisan. Duel putaran kedelapan akan segera diumumkan. Cepatlah!”
Keluh-kesah pun berdatangan saat hampir seluruh murid yang berkumpul di dekat ring sudut kiri barisan belakang, tidak lain adalah perasaan mereka sudah menang tetapi harus menunggu hasil sesungguhnya.
Beatrice, Yudai, Neu, dan Tay mematung, memproses kata-kata Dolce.
Air mata Beatrice, Yudai, dan Neu pun meledak setelah memastikan mereka benar-benar lulus tanpa menunggu hasilnya setelah seluruh duel berakhir seperti yang lain. Hal tersebut mengagetkan Sans, Tay, Sierra, dan Zerowolf.
“Ki-kita … benar-benar lulus!!” jerit Yudai menempelkan mata pada lengan kanan seraya menahan tangisan.
“A-apa ini mimpi? Kita lulus, Neu?” ungkap Beatrice.
“I-iya, kita tidak salah dengar.” Neu mengangguk.
Tay mengepalkan tangannya dan memukul udara di atas. “Aku lulus. Aku berhasil.”
Zerowolf justru protes. “Ke-kenapa kalian mencuri start mendengarkan pengumuman itu! Licik sekali!”
“Zerowolf.” Sebuah sentuhan tangan pada bahu bersama dengan suara familiar membuat dia berbalik.
“Pr-Profesor Baron?” Zerowolf menyapa.
“Kamu tidak sabar untuk mendengar hasilnya, kan? Baik, setelah mempertimbangkan semuanya, bahkan kamu sampai membuat saya menyerah, kamu lulus. Bahkan, seharusnya saya bilang itu begitu pertarungan berakhir.”
Senyuman Zerowolf melebar. “Te-terima kasih, Profesor Baron!”
“Tidak masalah, itu karena rahasianya telah terbongkar oleh Dolce. Dia itu selalu membuat hal yang tidak terduga. Sebaiknya kalian kembali ke barisan sekarang juga, duel putaran kedelapan akan segera diumumkan.”
“Ba-baik!” ucap Yudai dan Zerowolf secara bersamaan.
Sierra hanya terdiam dan bisa menunggu hasil ujiannya begitu selesai. Tugasnya sebagai murid priest untuk menyembuhkan murid terluka selama setiap duel masih belum selesai.
Alexandria berkomentar pada Dolce setelah kembali menghadap barisan murid, “Kamu terlalu gegabah untuk memutuskan.”
“Saya tahu.”
“Tapi kamu akhirnya membuat seluruh murid ini sadar bahwa ujian ini bukan main-main. Ini bukan tentang mendapat kemenangan, ini tentang pencapaian dari masing-masing. Sebagai penguji, kita ingin melihat bagaimana perkembangan setiap murid sejauh ini setelah aptitude test dan semua pengajaran kita semua.”
***
Menunggu setiap putaran ujian duel setelah lebih awal mendengar pengumuman kelulusan, mereka benar-benar tidak tahu lagi selain hanya menyaksikan berbagai pertarungan atau berdiam diri di tempat barisan.
“Oh ya, Neu. Ada satu lagi yang belum kuketahui,” Yudai mulai mengutarakan rasa penasarannya.
“Kenapa?” tanya Neu.
“Aku penasaran dengan monk. Kita sering melihat job tipe defender bertarung menggunakan pedang, royal guard dan knight. Tapi kurasa aku belum tahu bagaimana monk bertarung.”
“Kamu ingin lihat mereka bertarung?”
“Eh?” ucap Sans penasaran.
“Tentu saja! Aku ingin melihat cara mereka bertarung menggunakan tangan kosong, seperti yang kita semua lakukan saat aptitude test bagian akhir!” seru Yudai menganggapi perkataan Neu.
“Aku juga,” Beatrice juga setuju.
“Baik, aku melihat duel murid monk putaran ini sedang diadakan di barisan tengah sebelah kiri. Jadi kita ke sana saja,” ajak Neu.
Sans, Beatrice, Yudai, Neu pun mulai menuju lokasi ring pertarungan monk. Tay pun hanya ikut tanpa berkomentar apapun, tidak punya lagi pilihan selain hanya berdiam diri.
“Wow!” seru Yudai ketika pertarungan tersebut sudah berada di depan mata.
Seorang lelaki bermantel kuning oranye, berambut hitam pendek tipis, dan beralis tebal merupakan seorang murid monk yang tengah berduel melawan seorang profesor pengampunya. Pukulan demi pukulan dia kerahkan sekuat tenaga, apalagi kedua tangannya terselimuti oleh knuckles.
Melihat knuckles tersebut, Sans kembali teringat. Kilas balik saat pertama kali memilih senjata, knuckles yang sama, yaitu knuckles terbuat dari perak berkualitas tinggi menurut seorang penjaga toko senjata, juga terpakai oleh murid monk tersebut.
“HAAAA!!” jerit murid monk itu berhasil memukul dagu profesornya.
“Wo-wow, hebat,” ucap Sans.
“Jadi itu cara monk bertarung, ya?” komentar Yudai.
“Monk mengandalkan tenaga dalam khusus yang dapat disebut sebagai chakra untuk menyerang menggunakan pukulan. Mereka tidak sekadar asal pukul, mereka harus mengumpulkan chakra demi membuat serangan fisik yang kuat,” jelas Neu.
“Chakra?” Beatrice mengulang.
“Aku tidak mengerti, apa itu sama halnya dengan sihir? Atau tenaga yang biasanya kita gunakan—" Yudai juga tidak mengerti.
“Kalian lupa penjelasan tentang monk saat pelajaran Profesor Hunt, ya? Monk biasanya melakukan meditasi terlebih dahulu untuk mengumpulkan chakra, atau ibaratnya energi untuk menyerang dan bertahan selama pertarungan. Sebagai job tipe defender, chakra menjadi ciri khas monk dan alasan pertahanan mereka cukup tinggi. Chakra juga dapat menyembuhkan tubuh setiap monk itu sendiri tanpa sihir sama sekali.”
“Begitu ya.” Sans mengangguk. “Ternyata monk juga menarik.”
“Kalau begitu aku ingin melakukan meditasi biar chakraku keluar! Demi menambah—” Yudai secara polos mengutarakan keinginannya.
“Kamu tidak bisa melakukannya. Butuh waktu cukup lama bagi monk untuk menguasai cara mendapatkan chakra. Lagipula, chakra merupakan hal yang khusus bagi monk, benar-benar eksklusif.”
Sang murid monk itu akhirnya menjatuhkan profesornya ke lantai. Serangannya membuat sang profesor takluk dan menyatakan bahwa dia menang.
Dia menghela napas mengetahui menang belum menjamin kelulusan dari ujian duel. Ketegangan pun mulai menyelimuti ketika menghela napas.
Begitu menoleh, pandangannya tertuju pada Sans. Baru saja melihatnya kekaguman terhadap pertarungan antara Dolce dan murid mantel putih itu kembali memicu benaknya.
“Sans?”
“Eh?” Sans tercengang ketika mendapati murid monk itu. “A-anu—”
“Kamu Sans yang berjuang keras melawan Dolce, kan? Kamu yang dinyatakan lulus olehnya? Meski kamu adalah murid bermantel putih tanpa job?”
“A-anu, benar.”
“Kamu benar-benar hebat, sudah berjuang begitu keras pantang menyerah. Aku belum pernah mendengar hal itu dari murid bermantel putih manapun. Kamu sangat gigih. Oh aku lupa memperkenalkan diri, namaku Riri.”
“Ri-Riri?”
Riri melirik teman-teman Sans. “Lalu kalian? Kalian pasti teman-temannya?”
“Ya!” Yudai menjawab penuh semangat. “Aku Yudai, dan perempuan ber-sun hat ini Beatrice.”
“Aku Neu,” Neu ikut memperkenalkan diri.
Tay tetap sederhana dalam mengenalkan diri, “Tay.”
Yudai mulai mengutarakan pujian “Tadi itu hebat sekali, Riri! Kamu mengalahkan profesormu. Kamu kuat sekali!”
“Tidak juga.” Riri hanya tersenyum.
“Sebenarnya mereka hanya penasaran dengan job monk,” ungkap Neu.
“Ah, aku juga bukan murid monk terbaik, setidaknya aku sudah melakukan sebaik mungkin. Aku senang kalian melihatku bertarung, apalagi Sans.”
“A-aku?” Sans menunjuk dirinya.
“Melihatmu menonton pertarunganku membuat jadi menyenangkan.”
“Akhirnya ketemu juga!” Suara seorang gadis terdengar lantang dari samping kiri.
Sumber suara tersebut akhirnya mendekati Sans. Gadis itu melebarkan senyuman begitu menyentuh kedua tangan Sans yang telah menoleh.
Sans tercengang menatap gadis berambut hitam panjang dan ber-headband merah itu telah berdiri di hadapannya sambil menggenggam kedua telapak tangan. Pipinya mulai memerah, seakan malu.
“E-eh?”
“Perkenalkan, namaku Lana! Akhirnya bisa bertemu dengan murid bermantel putih yang dinyatakan lulus oleh Profesor Dolce! Kamu benar-benar hebat sudah gigih berjuang!”
Yudai berupaya untuk menginterupsi, “A-anu, kamu menonton juga?”
“Tentu saja!” Lana mengungkapkan, “Awalnya aku diajak temanku untuk menonton pertarungan antara Sans dan Dolce, berpikir bahwa murid bermantel seperti Sans tidak akan menang apalagi lulus. Tapi setelah melihat si mantel putih ini berhasil memecahkan pikiran semua orang, aku ingin sekali menjadi temannya.”
“A-anu—” Beatrice menatap pedang di punggung Lana. “Kamu swordsman?”
“Aku tidak pernah melihat gadis seperti dia di kelas swordsman,” tanggap Tay.
“Tentu saja bukan, song mage,” jawab Lana, “aku memilih knight. Sebenarnya aku ingin memilih swordsman, tapi sayangnya aku justru mendapat air mata Selene alih-alih menang duel melawan Dolce.” Dia mulai cekikikan.
Neu melongo. “Ja-jadi dia juga melawan Dolce saat aptitude test bagian akhir.”
“Oleh karena itu—” Lana mempererat genggamannya pada kedua telapak tangan Sans. “—sebagai ucapan selamat atas perkembanganmu melawan Dolce, aku rela mengajarimu tentang pertarungan.”
“Oh, sebenarnya, Yudai dan Beatrice—” Sans mencoba untuk memotong.
“Tidak usah sungkan, kalian juga bisa mengajakku untuk berlatih bersama, kalau aku ada waktu luang.”
Riri juga menambah, “Benar juga! Kalian juga bisa mengajakku. Aku ingin tahu setiap job dalam pertarungan!”
Tay berkomentar, “Ah, mungkin bertambah lagi.”
“Satu lagi, Sans. Khusus untuk Sans.” Lana sangat girang. “Izinkanlah aku memanggilmu kakak.”
Sans mematung sejenak, memproses kalimat terakhir dari Lana. Pipinya pun semakin memerah.
“EEEEEEH!!” jerit Sans malu.
“Ah! Aku sebaiknya kembali menemui teman-teman knight-ku!” Lana melepas genggamannya pada Sans. “Semester depan nanti kita berlatih bersama ya! Dah!”
Neu berbalik menatap Lana berlari kembali menuju barisan. “A-apa-apaan dia.”
Riri tertawa. “Tidak usah risih tentang Lana. Teman sekelasku di kelas umum cukup onar.”
“Di-dia teman sekelasmu?” Yudai melongo.
“Oh, aku harus kembali menemui teman-temanku. Semester depan, aku harapkan juga kita dapat berlatih bersama! Sampai jumpa!” Riri juga pamit.
Sans menepuk pipinya keras dan menjerit panik. “Ja-jadi si knight perempuan itu menganggapku sebagai kakak! Dan aku bahkan masih bukan apa-apa sebagai murid bermantel putih!!”