
“Lho?” Neu melirik saat mereka mendapati pertigaan di hadapan mereka.
Sans, Beatrice, dan Yudai melirik setiap detail lorong tersebut, terutama sebuah garis bekas tebasan pedang pada dinding putih perak di sebelah kiri. Beatrice pun menyadarinya.
“Bukannya kita sudah pernah lewat sini?” ucap Beatrice, “a-a-a-apa … kita … tersesat?” Ia menampar kedua sisi keningnya, terpicu oleh kepanikan mulai menggerogoti otaknya.
Duke mengingatkan, “Sebaiknya kita tidak panik saat tersesat. Tadi kita belok kiri kan?” Ia menunjuk sebuah pertigaan kurang lebih 100 meter di hadapan mereka. “Kita belok kanan saja kalau begitu.”
“Sungguh, ini seperti labirin saja,” sindir Tay, “kamu pasti tersesat saat dikejar-kejar pasukan Royal Table.”
Neu menganggapi saat mereka kembali melangkah, mendengus mendapati Tay dapat menebak hampir tepat, “Kamu ternyata tahu. Tapi saat itu aku sedang tidak dikejar-kejar. Begitu aku menemukan sebuah tangga, itulah di mana aku menemukan Sierra di sebuah perpu—”
“Teman-teman,” Sans memotong menoleh ke kiri saat berjalan, lagi-lagi sebuah belokan, kali ini merujuk pada dua buah pintu di fasad ruangan, persis seperti gerbang menuju aula akademi, berbentuk persegi panjang, berwarna hitam, dan berkenop keemasan.
“Ini bukan jalan menuju perpustakaan?” tanya Tay.
“Sudah kubilang, perpustakaan berada di lantai bawahnya lagi, jika menuruni sebuah tangga di sekitar sini,” jawab Neu.
Duke menyentuh salah satu dari dua kenop pintu itu, genggaman eratnya tidak sabar untuk mendorongnya ke bawah.
Sans menelan ludah, sampai-sampai ia menghunuskan belatinya sebagai ancang-ancang. Ia mengembuskan napas untuk memicu tubuhnya lebih tenang dan kecepatan detak jantungnya sedikit melamban.
Duke mendorong kenop tersebut ke bawah, memicu pintu terdorong ke dalam. Keenamnya pun menapakkan kaki ke dalam.
Sebuah ruangan lebih luas langsung memicu kekaguman pada pandangan, terutama kaca mosaik berwarna menggambarkan seorang pria bertudung cokelat muda dengan tangannya menghadap ke sebuah permukaan dan sebongkah cahaya seakan menyilaukan di bawahnya. Ruangan itu seperti sebuah gereja tanpa tempat duduk dan sebuah podium pidato.
Tidak hanya itu, suara alunan musik dramatis mendebarkan hati menyelaras pada situasi tersebut. Setelah terdistraksi oleh kaca mosaik itu, seorang gadis bergaun hitam tanpa lengan dan ber-rok pendek hingga lutut tengah menekan tombol-tombol sebuah organ pipa besar di sudut kiri dekat sebuah pintu.
Saat mereka mendekati gadis itu, menyitari ruangan berpanjang tiga meter, rambut hitam bergelombang memicu ingatan mereka. Sungguh tidak asing sampai Tay ikut menghunuskan pedangnya, Neu mengangkat tongkat sihirnya, dan Yudai mengambil panah dari quiver-nya.
“Sudah kuduga kalian akan datang juga—” Sierra menyudahi permainan organnya. Ia berbalik dan bangkit menyambut kelima “mantan” temannya itu. “—tanpa tertangkap. Aku kagum pada kalian.”
“Kamu juga seharusnya kagum aku lolos dari markas ini. Lihat, aku kembali bersama teman-teman yang lain,” Neu menyindir, “atau setidaknya kami bukan temanmu lagi.”
“Oh. Kamu berani sekali kembali ke sini, Neu. Meski kamu bukan apa-apa dalam menghadapi diriku, apalagi si familiar-mu yang tidak berguna itu. Apa ya kekuatannya.” Sierra menatap langit-langit terlebih dahulu. “Mematungkan orang-orang selama beberapa saat. TIdak heran aku bisa menangkisnya.”
Neu mendengus. “Kamu … beraninya menculikku saat bootcamp!”
“Lho?” Sierra tercengang mendapati Duke berada di hadapannya juga, tepatnya di antara Sans dan Yudai. “Kalian membawa Profesor Duke juga? Ah! Memang kalian tidak percaya diri sampai repot-repotnya mengajak seorang profesor dari akademi ke sini.”
Tay dan Neu menggeretakkan gigi, merasa tersindir oleh omongan omong kosong Sierra, sampai mengeratkan genggaman pada senjata mereka. Tidak dapat menerima perkataan Sierra bahwa mereka lemah, bahkan sebagai grup.
Giliran Beatrice bersuara. “Kenapa? Kenapa?” Air matanya ikut tumpah, apalagi meratapi Sierra sudah berada di hadapannya sebagai seorang musuh. “Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu mengkhianati kami semua? Kenapa kamu mengkhianati Akademi Lorelei!!”
Bahkan dengan menatap air mata menetes di wajah Beatrice, ia mengabaikannya. Meski bayangan dirinya bersama Beatrice sebagai teman dalam beberapa kejadian, termasuk menghiburnya kala sedang kesulitan. Ia mendengus menyangkalnya.
“Itu bukan urusan kalian, dan aku tidak akan sudi menjawabnya.”
“Ta-tapi … ka-kamu membuat pingsan Tay waktu itu. Setelah menyel—"
Sierra menegaskan, sampai memotong kalimat Beatrice, “Mau apa kalian kemari sekarang? Menangkapku? Membunuhku?”
Sans menyadari terdapat berbagai perbedaan pada Sierra dibanding sebelumnya. Sierra yang ia kenal selama berada di akademi biasanya tidak banyak berkomentar, selalu anggun dalam bersikap, dan setia pada temannya meski tingkah laku Yudai, Tay, Neu, dan dirinya yang terkadang tidak lebih berbudi. Sierra di hadapannya seperti orang berbeda.
Sans berpikir Sierra yang selama ini ia kenal adalah sebuah sosok palsu, seperti sebuah bayangan melindungi sifat asli sebagai sebuah kedok. Ia merasakan hawa Sierra sungguh berbeda daripada masa lalu.
“Sierra,” seorang pria memanggil. Suaranya muncul bersamaan ketika ia melewati pintu di belakang mereka, memicu semuanya menoleh.
Seorang pria berambut hitam panjang dan berbando tipis, berpakaian serba hitam, dari jubah hingga celana panjang. Melihat sosok itu terutama pada wajah, Sans tertegun. Ia ingat betul pria itu.
“Ka-ka-kau!!” tunjuk Sans.
“Ke-kenapa?” Beatrice juga teringat menatap sosok pria itu.
“Lagi-lagi kamu rupanya!” sahut Duke menghunuskan belati dan mengangkatnya mengarah pada pria itu. “Spinarcia!”
Yudai, Neu, dan Tay menoleh pada Sans, Beatrice, dan Duke, tercengang mengetahui ketiganya telah mengenal Spinarcia sudah lama. Sampai-sampai mereka heran mengapa Spinarcia pernah bertemu Sans, Beatrice, dan Duke.
“Kamu benar, Beatrice,” ucap Neu, “selama ini kamu benar. Ada yang mengikuti kita.”
Saking tercengangnya, Sans dan kelima temannya membiarkan Spinarcia melewati begitu saja dan menghampiri Sierra di dekat organ. Lagi-lagi, mereka menangkat alis saat pria itu membelai rambut Sierra di depan.
“Kerja bagus, apprentice-ku.”
Apprentice. Kata yang meluncur dari mulut Spinarcia itu seperti badai menghantam otak Sans dan teman-temannya.
“Si-Si-Sierra?” Beatrice menutup wajahnya menahan tangisan, tidak dapat menerima kenyataan tersebut.
Ingatannya muncul kembali. Ia mengingat dirinya dan Sans pernah berhadapan dengan Spinarcia di labirin Oslork. Sierra berada di pihak Sans dan Beatrice, bahkan mereka sampai menjadi korban verbal sebelum bertarung. Ia sama sekali tidak dapat menerimanya, Sierra selama ini bekerja sama dengan Spinarcia. Meski begitu, ia tidak mengingat satu pun indikasi bahwa terdapat hubungan antara Sierra dan Spinarcia.
“Ki-kita bertarung dengannya, Sierra!”
“Sierra! Jadi selama ini kamu bersengkokol dengannya!” Giliran Neu menjerit geram. “Jangan bercanda!”
Spinarcia menyeringai menatap reaksi keenamnya terhadap hubungan Sierra dengannya. Air mata, bara api emosi, dan kilatan tertegun, semuanya cukup untuk ia jadikan bahan untuk kebahagiaan baginya.
“Sayang sekali ….” Spinarcia menjulurkan lidah sembari mengangkat jempolnya mengarah pada lantai.
Neu sampai mengangkat kaki kirinya ke belakang, menatapi Spinarcia mengungkapkan identitas Sierra sebenarnya. Lagi-lagi ia menggeretakkan giginya saking terpicu sebuah ingatan.
“A-Anda … Black Jack,” Neu mengungkapkan nama samaran Spinarcia, “aku tidak salah, bukan? Anda Black Jack, salah satu anggota inti dari Royal Table!”
Ingin sekali menggigit lidah untuk menahan gelak tawa, Spinarcia pun akhirnya lepas kendali mengangkat kepalanya pada langit-langit. Tawanya sangat lantang dan cukup lama.
“Selamat.” Spinarcia menepuk tangan, terutama ketika tatapannya terfokus pada Neu. “Kamu jeli juga ternyata. Bahkan Sierra tidak memberitahumu saat kamu terperangkap di sini seorang diri dari akademi.”
Sans dan Duke membuka mulut lebar bereaksi menghela napas, mendapati selama ini Spinarcia adalah seorang mentor bagi Sierra di Royal Table.
“Dan masih belum selesai.” Spinarcia menjentikkan jarinya.
Sebuah langkah kaki kembali terdengar di belakang Sans dan teman-temannya. Menoleh ke belakang, termasuk Beatrice yang membuka wajahnya untuk melihat, sosok familier lagi-lagi memasuki ruangan tersebut. Menatap wajah sosok itu, Sans, Tay, dan Neu kembali membuka mulut, seperti kembali tersambar sebuah kilat.
“E-E-Eldia?” Yudai membiarkan diri roboh ke lantai dalam posisi berlutut. “Ke-kenapa? Se-sejak kapan?”
“A-apa? Ja-jadi Eldia … selama ini kamu bekerja untuk Royal Table??” jerit Duke geram. “Apa yang kamu lakukan pada yang lainnya!”
“Tunjukkan, Spade’s apprentice,” suruh Spinarcia ketika Eldia telah berdiri di antara Sierra dan dirinya.
Eldia mengacungkan jarinya ke atas, menggerakkannya menggambar bentuk oval, seperti sebuah cermin. Ia juga merapalkan mantranya sebelum bentuk oval itu seakan membentuk sebuah lubang.
Lubang itu memunculkan sebuah ruangan serba putih, di dalamnya, terdapat seorang royal guard yang tidak sadarkan diri di tempat tidur. Setiap lima detik, gambar tersebut berubah, menunjukkan setiap royal guard yang berbeda.
“A-apa?” ucap Sans.
Berganti pemandangan melalui lubang seperti cermin itu, salah satu dari royal guard yang Eldia tunjukkan termasuk Tatro dan Irons, lagi-lagi mematahkan hati semuanya.
“Ti-tidak mungkin! Tatro? Irons juga?” ucap Beatrice.
Terakhir, Riri, Zerowolf, Katherine, Ruka, Lana, dan Sandee terbaring tergeletak begitu saja di lantai tanpa ada satupun yang terletak di atas tempat tidur. Neu membelalak pada Eldia yang menghentikan mantranya.
“A-apa … apa yang telah kamu lakukan, Eldia!!”
“Spade ….” Tay mengingat nama itu sambil menunjuk Eldia. “Spade’s apprentice. Spade, dia yang menghadang kita waktu bootcamp di Silvarion!”
Yudai membelalak seakan langit yang tergambar di otaknya hancur berkeping-keping seperti kaca. Ia menyimpulkan selama ini Eldia bekerja sama dengan Spade. Pertemuan pertama dengan gadis itu bukan sekadar kebetulan, saat ia menyelinap seorang diri tengah malam.
Neu menunjuk Eldia, memberi kesimpulan, “Ka-kamu … anak buahnya Spade! Kamu waktu di Silvarion membantunya? Pantas saja, kamu bertemu Yudai waktu itu! Apa aku benar?”
Eldia menyeringai, menatap lantai terlebih dahulu. Ia mengangkat kepalanya, menjawab semuanya seakan itu sebagai sambutan.
“Benar sekali, aku adalah anak buah Spade, dan anggota dari Royal Table, sama seperti Sierra.”
Duke menggeretakkan giginya. “Begitu rupanya. Selama ini kamu yang menuntun royal guard kemari sebelum mengurung mereka semua.”
“Ah, lagi-lagi benar, kalian memang cerdik, sangat cerdik.” Eldia mengangkat kepalanya ke langit-langit. “Aku juga yang mengantar teman-teman kalian yang lain ke kurungan hanya untuk menyaksikan penderitaan royal guard.”
“Selama ini tebakan mereka benar semua, semuanya.” Spinarcia bertepuk tangan sekali lagi. Ia kembali meledakkan gelak tawanya. Menatapnya, ingin sekali Tay, Neu, dan Duke menyumpal mulutnya menggunakan senjata dan sihir.
Sans menggertetakkan giginya lagi, meratapi Eldia dan Sierra berdiri di samping Spinarcia. Situasi ini mengingatkannya ketika Sierra melarikan diri berkhianat. Kali ini, Eldia juga berkhianat, dengan Spinarcia sebagai atasan mereka.
“Oke, sepertinya kita terlalu banyak bercakap-cakap.” Spinarcia kembali menjentikkan jarinya.
Segerombolan pasukan berzirah baja merah berombong-rombong memasuki ruangan luas tersebut. Setidaknya kurang lebih lima belas pasukan Royal Table sudah menghalangi pintu keluar dalam tiga barisan.
“Se-sejak kapan?” ucap Sans.
Tay berkomentar, “Bagaimana jadinya kalau mereka ikut Eldia masuk saat si pria rambut panjang itu menjentikkan jarinya?”
“Tangkap mereka! Mereka juga menyusup!” perintah Spinarcia. “Bunuh kalau perlu!”
Gerombolan pasukan itu mengangkat pedangnya sambil menyahut, berlari terbirit-birit mengunci Sans dan teman-temannya sebagai target.
“Cherie!” sahut Neu merentangkan tangannya ke depan, membangunkan familiar-nya sambil memberi perintah.
Sierra ikut merentangkan tangannya dan membentuk sebuah lingkaran transmutasi hanya menggunakan tangan dan mana. Dari belakang, ia mengunci Cherie, memicu sebuah garis hijau pekat keluar dari lingkaran dan meluncur di udara.
Terpicu oleh serangan Sierra terhadap Cherie, Yudai dengan cepat memasangkan panah pada tali busur dan meluncurkan tembakkannya, mengarah tepat pada tangan.
Panah tersebut mencapai pergelangan tangan Sierra, menghentikan serangannya. Panah hijau pun menghilang seketika ketika mencapai leher belakang Cherie.
Cherie meledakkan jeritannya dan memancarkan cahaya tanduk, memicu pelangi menyelimuti seluruh pasukan Royal Table.
Sans dan Beatrice sudah memalingkan pandangan mendapati barisan pasukan Royal Table sudah dekat kurang lebih hanya tiga langkah. Berkat kekuatan Cherie, mereka menghentikan langkah seakan mereka menjadi patung.
Neu menebaskan tongkat sihirnya. “Falshen siqlo, rinreah le ca apelle!”
Sambaran petir melesat dari tongkat sihir Neu, memanggang seluruh pasukan Royal Table di hadapan mereka hingga satu per satu bertumbangan di lantai.
Spinarcia mengempaskan tubuhnya dan seperti muncul begitu saja, ia sudah berada di hadapan Yudai tanpa membiarkannya berkutik. Yudai tertegun belum sempat mengambil panah dari quiver-nya, apalagi masih dalam posisi berlutut.
Dari samping kiri, Duke memunculkan kobaran api kecil dari jentikan jarinya, memicu Spinarcia menoleh dan menangkis menggunakan tangan ber-gauntlet-nya. Bola api tersebut mencapai dinding.
“Cepat,” ucap Spinarcia.
“Bukan hanya cepat,” tanggap Duke mulai mengambil belatinya dan mengayunkannya, menargetkan tulang selangka Spinarcia.
Refleks Spinarcia seperti kilat. Ia menghunuskan belatinya dan menangkis serangan tersebut, memicu bunyi keras.
Yudai bangkit dan menghampiri Sans dan yang lain. “Bagaimana ini!” Ia juga menatap Sierra dan Eldia mengambil posisi kuda-kuda sambil merentangkan tangan ke depan.
Neu memberi usul, “Aku dan Tay akan menyelamatkan yang lain. Kalian bertiga bantu Profesor Duke! Kalahkan juga Sierra dan Eldia, dua ***** pengkhianat itu. Ayo, Tay!”
Menatap Neu berlari duluan, Tay mendesah, “Kenapa aku harus mengikuti si mata empat. Pokoknya, kalian jangan sampai mati. Tangkap Sierra.”
Eldia berkomentar menatap Tay dan Neu mengangkat kaki dari ruangan itu melewati pintu, “Biarkan saja mereka.”
“Tapi—” ucap Sierra.
“Kita fokus hadapi mereka.”