
Memasuki pertengahan hari ke-13 kegiatan bootcamp, seluruh murid tahun pertama memiliki sisa waktu tidak banyak dalam menjalankan tugas akhir. Seluruh murid ber-job striker tengah berjuang menghasilkan uang dari misi untuk membeli barang penting yang diperlukan bagi masing-masing job di Silvarion.
Beda ceritanya bagi seluruh murid ber-job penyihir di Vaniar, alih-alih menjalankan misi, mereka mendapat tugas yang berbeda pula untuk mendapat sebuah barang penting, bisa dikatakan semacam ujian.
Untuk mage, mereka harus mendapat sebuah tongkat sihir baru, tongkat sihir yang setidaknya mewakili intensitas mana. Kebanyakan dari mereka, termasuk Neu, sudah terlebih dahulu membeli tongkat mulai dari sebelum memasuki akademi hingga saat pertengahan semester kedua. Akan tetapi, seluruh profesor pengampu, terutama Hunt, tetap menyuruh mereka untuk mengerjakan tugas akhir tersebut.
Hari pertama, mereka melakukan tes kepribadian terlebih dahulu secara tertulis. Hal ini menjadi salah satu standar dalam intensitas mana di dalam tubuh mereka.
Hari kedua, mereka melewati tes kemampuan menyihir untuk menguji intensitas mana dalam penyerangan, pertahanan, dan penyembuhan. Pada hari ketiga, mereka akan tahu melalui pengumuman apakah mereka dapat tongkat baru secara gratis atau tidak. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, beberapa penyihir tetap memiliki tongkat yang sama seperti sebelumnya berdasarkan hasil tes. Neu menjadi salah satu dari sedikitnya penyihir yang boleh tidak mengganti tongkatnya, dengan syarat, orb birunya harus dimutakhirkan.
Lagi-lagi Neu menjadi pusat perhatian beberapa murid ber-*job*mage, apapun tipenya, intensitas mananya cukup tinggi, kemampuannya dalam melapalkan mantra dan mengempaskan sihirnya sungguh intens, memukau semuanya. Akan tetapi, tidak sedikit yang menyebarkan kabar bahwa ia payah dalam mengendalikan familiarnya, memang tidak ada kaitannya dengan kemampuan menyihirnya.
Sementara untuk priest, mereka harus mendapat sebuah cincin khusus, cincin yang berfungsi untuk simbol komitmen untuk seluruh gereja di kerajaan dan menambah kekuatan magis suci untuk penyembuhan. Untuk mendapatkannya, mereka harus menjalani sebuah tes.
Tes tersebut diadakan di sebuah gereja di pusat kota, hanya beberapa langkah dari lokasi penginapan murid kelompok A; tepatnya di lantai bawah tanah. Setiap murid ber-*job*priest mendapat tiga kesempatan untuk menjalankannya.
Tahap pertama dalam tes tersebut, exorcism. Mereka harus menenangkan roh jahat hanya menggunakan sihir penyembuhan dan sihir suci. Jika mereka berhasil dalam kurang lebih satu jam, mereka berhak mengikuti tahap kedua.
Tahap kedua, mereka harus melintasi sebuah jalan lurus. Akan tetapi, setiap 150 meter, terdapat seorang penjaga berkostum yang meminta mereka untuk kembali dan menyuap mereka dengan uang atau kekuatan. Godaan tersebut sangat meyakinkan dari nada bicara dan intonasi dari keempat penjaga itu. Jika mereka gagal melewati salah satu godaan, mereka otomatis gagal dan harus kembali ke lantai dasar serta mengulangi tes esok hari.
Tahap terakhir, yakni di ruangan pengakuan dosa, yang juga menjadi akses menuju lantai dasar gereja. Di sana, seorang kepala pendeta mengajukan beberapa pertanyaan. Setiap murid wajib menjawabnya secara jujur dan pada saat yang sama juga mewakilkan kesucian. Jika mereka berhasil, pendeta tersebut akan memberikan cincin khusus priest.
Dalam mengerjakan tes tersebut, Sierra dapat melewati ketiga tahap tes itu sangat mudah, bahkan dalam kesempatan pertamanya, yang mana mayoritas murid lain tidak mampu melakukannya, entah itu karena kesulitan menyucikan roh jahat, tergoda oleh buaian salah satu dari empat penjaga, dan berbohong saat menjawab pertanyaan.
Katherine tidak mampu mengalahkan roh jahat saat dua kesempatan pertama. Akan tetapi, saat kesempatan ketiga, ia berhasil melewati tahap pertama. Ia sendiri juga tidak percaya sebagai murid kelompok C. Ketegangan sempat menggerogoti hatinya saat melewati tahap kedua dan ketiga. Setidaknya, ia dapat melewati keduanya dan lulus tes. Ia juga mendapat cincin khusus priest!
Untuk song mage, Beatrice, Danson membawanya ke suatu tempat, memisahkan diri dari murid-murid penyihir lain. Tugasnya kurang lebih sama seperti murid-murid royal guard yang berada di Silvarion saat itu. Ia hanya harus melatih kemampuan menyanyi dan intensitas mananya.
Selama tiga hari terakhir, Beatrice menunjukkan perkembangan yang dapat memukau Danson. Sebagai wujud keberhasilannya, ia berhak mendapat sebuah gelang khusus song mage dari profesornya itu.
Satu langkah lagi menuju keberhasilan melewati tahun pertama. Hanya tinggal ujian akhir semester yang harus mereka lewati. Bootcamp menjadi kegiatan amat menantang dalam seluruh kegiatan akademi.
***
“Itu kan tongkat yang sama.”
Beatrice sampai tertegun melihat Neu memegang tongkatnya. Ia sampai menyentuh dan melihatnya. Dari rabaan yang keras tapi konsisten halus pada lapisan luar, orb biru yang sama persis, dan ukurannya setinggi lengannya, sungguh sama persis.
“Katanya intensitas manaku tinggi. Aku sampai tidak menyangka sama sekali.” Neu pun beralih pandangan pada gelang milik Beatrice. “Itu gelang yang cukup anggun. Kamu cocok menggunakannya.”
Gelang tersebut berlapiskan timah perunggu dan terdapat garis melodi termasuk kunci G dan tanda paranada. Seluruh unsur tersebut seakan membentuk sebuah not lagu.
“Aku sampai tidak percaya, kita berhasil sampai sejauh ini.”
“Kita akan lebih senang kalau berhasil ujian akhir semester ini, dan juga, dalam tiga tahun kita akan lulus dari akademi ini dan menjadi petualang.”
“Impian kita akan benar-benar terwujud, berkeliling dunia bersama.”
Neu melirik pada pintu keluar penginapan. Saat yang lain tengah bercengkerama membahas hasil masing-masing dalam tugas akhir bootcamp, baik duduk di depan meja atau hanya berdiri di dekat tangga; Sierra cukup tenang seakan tidak sedang menyelinap keluar dari penginapan itu seorang diri.
Neu terhenti saat menatap Sierra saat semuanya di penginapan terfokus dalam percakapan masing-masing. Ia bangkit dari duduknya.
“Kamu tahu. A-aku … ingin keluar dulu. A-aku ingin menghirup udara sore hari.”
“Ka-kalau begitu, aku ikut.”
“Ti-tidak perlu, aku … ingin sendiri dulu.”
“Tapi kamu bersama Cherie.” Beatrice menunjuk familiar milik Neu di bahu.
Neu pun menyadari mata Beatrice yang sayu, terlintaslah ingatan saat mereka tidak berbicara semenjak insiden di pesta dansa Festival Melzronta. Ia tidak ingin sampai lagi-lagi Beatrice tak berbicara padanya. Merasa iba.
“Na-nanti kita bicara lagi, oke?”
“Iya.” Beatrice menangguk, memasang sebuah janji pada Neu dalam hatinya.
Menyaksikan Neu meninggalkan penginapan itu, Beatrice ikut bangkit. Ia merasa ingin keluar sejenak, berkeliling kota. Selama bootcamp, ia belum sempat melihat-lihat setiap sudut di Vaniar karena sibuk sekali, kecuali beberapa tempat yang menjadi lokasi pelatihan bootcamp.
***
Selesai melihat-lihat persiapan penduduk Vaniar untuk menghiasi penjuru kota menggunakan orb sebagai penerangan, Beatrice mengakhiri tur kota sendirian di sisi barat. Dapat ia lihat berbagai murid kelompok C mulai berlarian kembali menuju “penginapan”, pertanda ia harus segera kembali.
Ketika berbalik, sebuah sosok telah berdiri, menunggu di belakangnya.
“Beatrice.”
Seorang perempuan, benar, tidak salah lagi, membentur hatinya sampai menghentikan langkah. Ia ingat betul, perempuan itu menjadi salah satu yang tidak ingin ia lihat dan dengar, apalagi jika menatap rambut brunette diikat seakan terbagi dua, terbentuk seperti sarang lebah; dan gaun putih bermotif mawar. Sering sekali Beatrice melihat perempuan itu memakai gaun yang sama.
“I-I-I-Ibu?”
Bearice menggelengkan kepala dan menarik kaki kirinya ke belakang. Ia tidak pernah mengharapkan sang ibu menghampiri secara langsung ketika sedang mengikuti kegiatan di luar akademi. Ia bisa jauh lebih tenang jika pelayannya, terutama Teruna, berada di hadapan dirinya.
“Sayang, akhirnya. Ibu bisa bertemu kembali denganmu, Nak.”
“A-apa yang Ibu lakukan di sini?”
“Sungguh kebetulan, Nak.” Sang ibu mulai melangkah. “Ibu bisa menemuimu di sini. Ibu sedang ada urusan di sini, Nak. Tak disangka sama sekali.”
“Bu, ti-tidak.”
“Ayo pulang, Beatrice. Ibu rindu denganmu, Nak. Ibu ingin kamu menjadi perempuan bangsawan yang layak.”
“B-Bu, a-a-aku … aku sudah menjadi murid di Akademi Lorelei. A-aku tidak mungkin kembali ke Beltopia.”
“Ibu tahu kamu akan berkata begitu. Ibu yakin, kamu akan mendapat kehidupan lebih layak di rumah. Akademi Lorelei bukan tempat yang cocok untuk gadis bangsawan sepertimu. Kamu lebih pantas menjadi gadis bangsawan, menikah dengan pria yang mapan. Ibu yakin kamu rindu rumah.”
Beatrice terus mundur selagi ibunya mengambil langkah besar dalam melaju mendekatinya. Sama sekali tidak mau kembali ke rumahnya yang penuh dengan penderitaan itu, ia sudah lebih bahagia bersama teman-temannya. Baginya, Sans, Yudai, Neu, Tay, Sierra, dan teman dekat lainnya merupakan orang-orang yang dapat membuatnya tersenyum kembali, tidak peduli sedang berkegiatan di kelas, menyelesaikan misi bersama, dan bercengkerama. Lebih banyak memori terindah yang terukir di benaknya sebagai murid ber-*job song*mage di Akademi Lorelei.
“Semuanya, bahkan pelayanmu sendiri, Teruna, merindukanmu. Dia ingin kamu kembali ke rumah.”
“Beatrice?” Hunt akhirnya tiba dari jalan di sebelah kiri. “Sebentar lagi matahari terbenam, bukankah kamu seharusnya kembali ke penginapan?”
“Oh. Anda pasti profesornya,” sapa sang ibu, “perkenalkan, saya ibu dari Beatrice.”
Hunt langsung menatap ekspresi Beatrice terhadap sang ibu, gemetar, napas hampir cepat, dan terdiam tanpa kata. Ia menyimpulkan sendiri dan langsung menegur.
“Mohon maaf, saya tahu Beatrice adalah putri Anda, tapi tidak sepatutnya Anda menemuinya selagi dia sedang melakukan kegiatan akademi.”
“Masa? Setahu saya tidak ada aturan seperti itu.”
“Beatrice harus kembali ke penginapan saat ini juga. Dia harus bersiap ke akademi besok pagi. Saya tahu Anda merindukannya, tapi ini bukan waktu yang tepat.”
“Ah, Maafkan saya. Saya hanya ingin memberitahunya kalau dia harus pulang, tapi dia malah menolak. Beatrice, putri tersayangku, memang susah sekali diatur.”
“Sekali lagi, kami tidak punya waktu—"
“Ini benar-benar penting. Saya hanya ingin berkata kalau ayahnya sudah sadar.”
Ayahnya sudah sadar. Beatrice sampai tertegun mendengarnya, sangat tertegun sampai reaksinya berubah menjadi takut hingga tersusupi rasa penasaran. Ayahnya memang terkena sebuah penyakit langka hingga menyebabkan koma.
Air mata phoenix memang manjur menyembuhkan penyakit itu. Oya, kepala pelayan keluarganya, pasti memberikan sebotol kecil air mata phoenix pada sang ayah.
“Pasti Beatrice sangat merindukan ayahnya. Makanya, saya ingin mengabarinya dan memintanya untuk pulang.”
Beatrice akhirnya mengambil satu langkah ke depan, kali ini ia mengangkat kepala dan menatap wajah sang ibu secara langsung.
“Se-sejak kapan Ayah sadar?”
“Dua minggu yang lalu. Sebenarnya cukup lama semenjak air mata phoenix itu dipakai untuk menyembuhkan penyakit ayahmu, tidak disangka-sangka prosesnya panjang. Tapi … sekarang, Ayah ingin menemuimu. Dia sangat merindukanmu.”
Mendengar kabar sang ayah sudah baik-baik saja, sembuh dari penyakitnya, sudah menjadi kelegaan bagi Beatrice. Ia ingin bertemu kembali dengan sang ayah, benar-benar rindu, sangat rindu.
“Ayahmu ingin berterima kasih padamu secara langsung karena sudah mendapat air mata phoenix. Kamu tentu tidak ingin membiarkannya begitu saja, menunjukkan kalau kamu masih sayang padanya?”
Beatrice menoleh pada Hunt. Ia tahu, ia masih memiliki kewajiban untuk kembali ke akademi esok hari dan mulai menghadiri kelas lagi secepat mungkin. Pada saat yang sama, melihat keadaan ayahnya menjadi hal mendesak.
Beatrice menghela napas. “Profesor Hunt, maafkan aku. A-a-aku … tidak bisa kembali ke akademi bersama teman-teman yang lain. A-a-aku harus pulang ke Beltopia sekarang juga. Aku ingin bertemu dengan ayahku.”
“Beatrice, tapi—”
“Tolong, anggap saja saya telah membuat surat izin. Saya akan kembali secepatnya.”
Kali ini, langkah Beatrice cukup cepat untuk menemui sang ibu. Sang ibu kini memeluknya di hadapan Hunt.
“Begitu, anak pintar.” Sang ibu menyentuh belakang kepala Beatrice, membelai rambutnya. “Sudah seharusnya kamu sayang pada ayahmu, Nak.”
Hunt tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya pasrah menyaksikan Beatrice dan sang ibu berbalik dan meninggalkan dirinya. Merasa tidak enak menyaksikan salah satu murid tahun pertama harus izin meninggalkan kegiatan akademi, tepat hanya sehari sebelum bootcamp berakhir.
***
Perlahan tapi pasti, Neu sebaik mungkin menjaga jarak tanpa kehilangan jejak Sierra di depannya. Selama bisa membuntuti Sierra, ia bertekad mencari kebenaran terhadap kecurigaannya. Sierra adalah mata-mata yang ingin menghancurkan reputasi Akademi Lorelei.
Lokasi yang sama persis, gerbang timur kota. Ia bersembunyi di balik pagar terlebih dahulu, membiarkan Sierra melangkah lebih jauh memasuki pepohonan sejenak agar tidak ketahuan.
Ia kemudian keluar dari persembunyiannya. Sekali lagi, perlahan, ia melewati gerbang timur, sekali lagi membuntuti Sierra dari kejauhan.
Begitu memasuki pepohonan itu, mendadak, sebuah cahaya membutakannya. Seluruh tubuhnya mendadak terhantam sangat keras hingga kehilangan kendali, gendang telinga seperti meledak, dan jantung terasa terkejut hingga seperti memukul keluar tubuh.
Tubuhnya roboh ke rerumputan tanpa sempat bereaksi terhadap nyeri hebat menjulur tubuhnya. Pandangannya kini berubah menjadi buram.
Sosok lelaki berambut kribo berkulit hitam, rekan Sierra, menatap dirinya. Tak lama, pandangannya pun menghitam.
***
Dua buah kereta kencana beserta sekelompok penjaga dan pelayan sudah menanti di depan gerbang utama kota Vaniar. Mereka berlutut menyabut kedatangan Beatrice dan sang ibu.
“Berdiri.”
Beatrice menoleh memperhatikan intonasi perintah ibunya berubah dari lembut menjadi keras.
Sang ibu mendorong bahunya cukup keras. Lagi-lagi Beatrice tertegun. Ia tidak menyangka akan tindakan ibunya, sama sekali tidak pernah dialaminya.
Oya menangkap Beatrice dan membalikkannya, mengikat kedua tangan cukup dengan cengkeraman satu tangan kuat.
Beatrice mengguncangkan tubuh sebagai upaya untuk meloloskan diri, tidak ingin sama sekali pulang dengan cara seperti ini, cara licik dan manipulatif. Oya dengan sigap mengikat tubuhnya agar tidak bisa bergerak secara leluasa.
“AH! Lepaskan! Lepaskan!!”
“Bawa dia masuk!”
Dua orang penjaga membukakan pintu kereta kencana. Oya pun mendorong Beatrice masuk ke dalam dan menghalanginya keluar sambil ikut. Gerakan Beatrice sebelum masuk memicu topinya jatuh ke tanah.
“Tidak! Tidak!!” jerit Beatrice berupa untuk keluar, akan tetapi dua penjaga merentangkan tangan membatasi jarak terhadap pintu dan kembali mendorongnya. Cukup cepat, salah satu dari mereka menutup pintu.
Tetapi, tidak sebelum topi putih milik Beatrice terjatuh dari kepalanya. Bahkan sang ibu dan para penjaga yang lain sudah naik ke kereta kencana lain di depan, sama sekali tidak memperhatikannya.
Tanpa aba-aba lagi, kedua kereta kencana itu meninggalkan daerah Vaniar begitu memasuki malam hari.
Hati Beatrice kembali bergejolak, lebih dahsyat daripada sebelumnya. Badai dalam benaknya memicu mengalirnya air mata dan menggeretakkan gigi. Ia telah menyesal telah terbuai oleh sebuah rayuan untuk menemui sang ayah.
Mimpi buruknya baru saja dimulai.