Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 58



“Akhirnya!” seru Beatrice ketika tiba di kantin, menatap antrean cukup ramai di hadapan meja buffet makanan. “Kita bisa makan siang bersama lagi!”


Neu hanya melebarkan senyuman, Sans dan Yudai dapat berada di samping dirinya dan Beatrice lagi sebagai teman akrab, terutama saat makan siang di kantin.


“Oh!” Beatrice menoleh ke sebelah kanan.


Sierra juga baru saja menapakkan kaki pada lantai kantin yang berupa kayu cokelat tersebut, tanpa ditemani oleh siapapun, termasuk teman dekat dari kelas atau job yang sama.


“Sierra!” Beatrice melambaikan tangan, menarik perhatian Sierra. “Makan siang bareng yuk!”


“Oh!” Yudai menoleh ke belakang, memperhatikan Tay juga baru saja tiba seorang diri. “Tay, mau makan siang bareng?”


Sans dan Neu tercengang dan melongo atas keputusan Yudai untuk mengajak Tay. Mereka benar-benar tidak bisa menyangka, apalagi Neu. Terlebih, hubungan Tay dan Neu sudah retak dari awal, apalagi sebagai teman sekamar.


“Ke-kenapa kamu malah mengajaknya?” protes Sans.


“Kasihan dia selalu makan siang sendiri,” jawab Yudai.


Begitu mendengar jawaban Yudai terhadap pertanyaan Sans, Tay langsung menyusul dan menjawab, “Tidak perlu. Aku sudah terbiasa makan sendiri. Aku tidak keberatan kalau kalian menjauhiku, apalagi yang lainnya.”


“Beatrice?” panggil Sierra menghampiri. “Kamu yakin? Apalagi bersama ketiga teman akrabmu itu?”


Beatrice mengangguk. “Akan lebih menyenangkan daripada kamu makan sendiri.” Dia juga menoleh pada Tay. “Kamu juga. Lebih baik kamu makan bersama kami saja.”


“Oi, apa ini tidak terlalu berlebihan?” Neu menganggapi keputusan Beatrice dan Yudai. “Kita sudah kebetulan bertemu di gunung berapi dengan tujuan yang sama persis, lalu kalian berdua mengajak Sierra dan Tay untuk makan siang bersama?”


“Lebih baik kalian juga berteman dengan Sierra, sama sepertiku.” Beatrice menjulurkan senyuman, memastikan bahwa Sierra adalah orang baik.


“Aku mungkin sudah memberitahu kalian berkali-kali, makin lama makin kita akrab, pasti sifat terdalam akan keluar. Aku percaya Tay bukan orang jahat,” Yudai menambah.


“Ah!” Beatrice mengutarakan akalnya. “Karena kemarin kita saling bertemu, lalu kita kembali bersama sekarang, mulai hari ini, kita kedatangan dua orang lagi dalam pertemanan kita!”


Neu kembali membuka mulut begitu lebar, mengetahui mulai hari itu, dia harus bertatap muka dengan musuh bebuyutannya itu lebih lama, selain sebagai sekadar “teman” sekamar.


“Ayo kita makan! Sebagai perayaan pertemanan kita!” seru Yudai melangkah lebih dulu mulai mengantre.


***


Hening, canggung, dan hanya terfokus memakan makan siang masing-masing. Tidak ada satupun yang berbicara, apalagi menghibur agar menambah semangat. Terutama bagi kedua musuh bebuyutan, Tay dan Neu, kini harus saling berhadapan ketika makan siang.


Tekanan dari keduanya dapat terlihat jelas ketika seseorang menyaksikan kejadian tersebut, mudah tertebak dari kecepatan makan masing-masing, seperti kucing kelaparan yang baru saja mendapat ikan.


Sierra hanya menggeleng menatap kedua musuh bebuyutan tersebut. Lebih baik makan dengan table manner layaknya orang bangsawan daripada mengotori gaun merah yang sedang dia kenakan.


Serba salah untuk memulai percakapan selagi tensi di antara mereka berenam masih cukup tinggi, apalagi Tay dan Neu. Satu langkah salah untuk memulai pembicaraan akan berujung canggung, apalagi untuk saling mengenal anggota pertemanan baru.


Beatrice secara berani memulai percakapan setelah menyelesaikan makan siangnya. “Begini lebih baik, makan bersama memang lebih baik daripada makan sendiri.”


Yudai mencoba untuk menambah suasana. “Ah, benar. Lebih menyenangkan jika kita bersama untuk saling mengenal.”


“Bukannya sudah kubilang berkali-kali, Tay. Kamu bisa berteman denganku, apalagi dengan kita semua. Kita juga sudah mengajakmu untuk berburu air mata phoenix, jadi aku tertarik untuk mengajakmu ikut mengambil misi di quest board.”


“Aku bisa melakukannya sendiri. Aku tidak tidak membutuhkan pertemananmu, sama seperti keempat temanku yang dulu.”


Neu memotong percakapan antara Yudai dan Tay, “Habiskan makan siangmu saja. Aku sebenarnya tidak sudi melihat dirimu diajak Yudai untuk makan siang bersama kami. Anggap saja kamu beruntung aku tidak menghajar wajahmu menggunakan sihir atau pukulan.”


“Lalu kamu bisa menggangguku sebagai teman sekamar. Jujur saja, aku lebih suka makan siang sendiri, melakukan apapun sendiri, termasuk menjalankan misi dari quest board. Kamu tidak usah pura-pura peduli padaku seperti waktu itu.”


“Kamu masih saja begitu, sikapmu, pantas saja tidak ada yang mau berteman denganmu. Anggap saja dirimu beruntung masih ada orang seperti Yudai yang berminat berteman denganmu.”


Yudai mencoba menenangkan ketegangan tersebut. “A-anu, hentikan, sebaiknya kalian habiskan saja makannya.”


“Oh! Kamu yang waktu itu menantang Profesor Dolce?” seorang murid laki-laki menghampiri Yudai dari samping kanan.


Yudai menoleh pada sumber suara tersebut. Seorang murid berseragam mantel dark blue, sama seperti dirinya, Neu, dan Tay; serta bertopi biru itu merupakan orang yang menemuinya.


Yudai mengingat murid tersebut sebagai salah satu murid job archer. Meski belum sempat bertemu secara langsung, baik di dalam kelas atau di luar, bahkan bukan teman sekelas ketika kelas umum, dia sering melihatnya beberapa kali.


“Ma-maaf, tapi kamu siapa?” Neu bertanya pada murid tersebut.


“Oh. Sama seperti Yudai, aku juga murid job archer. Aku Zerowolf.”


Sans menjawab, “Oh. Zerowolf. Senang berkenalan denganmu.”


“Uh. Tunggu dulu, darimana kamu tahu hal itu? Tentang diriku dan Profesor Dolce? Padahal aku hanya bercerita pada Sans, Beatrice, dan Neu.” Yudai pun berkesimpulan salah satu dari ketiganya telah bercerita pada orang lain.


Bahkan sebelum Yudai melongo, Neu menjawab, “Kami tidak pernah bercerita pada siapapun.”


Zerowolf membela, “Tentu tidak. Ada seorang murid yang menyaksikan dirimu menantang Profesor Dolce setelah kelas berakhir, Yudai. Lalu dia menceritakan pada beberapa orang, dan akhirnya menjadi rumor. Aku hanya ingin tahu, apa itu benar? Kamu menantang Profesor Dolce, salah satu alumni Akademi Lorelei terbaik sepanjang masa?”


Hening sejenak ketika mendengar kalimat alumni Akademi Lorelei terbaik sepanjang masa, begitu terserap, Sans, Beatrice, dan Yudai secara bersamaan tercengang hingga menjerit. “EEEEEEH!!”


“Hah? Kalian baru tahu?” Neu menganggapi.


“I-iya,” Beatrice mengangguk.


“Aku bahkan tidak mengetahui segalanya sebelum memasuki akademi ini,” tambah Sans.


Neu menggeleng. “Aku tidak percaya ini. Sebagai murid Akademi Lorelei, kalian tidak tahu Profesor Dolce itu salah satu alumni terbaik sepanjang masa. Bahkan sebagai seorang archer, kekuatannya menandingi alumni song mage dan high mage. Keterampilan dalam bertarung, menembak, membidik, menghindar, hingga bertahan, tidak dapat diragukan lagi.”


Zerowolf menambah, “Dia benar. Dia dianggap sebagai professor yang paling digemari dan disegani oleh murid Akademi Lorelei. Kalian juga sudah lihat banyak murid yang takut berhadapan melawannya saat aptitude test bagian akhir. Siapapun yang melawan Dolce dapat dibilang sebagai murid paling tidak beruntung.”


Sans mengingat dirinya ketika melawan Dolce saat aptitude test bagian akhir berlangsung. Tidak heran, siapapun yang melawan Dolce waktu itu kalah dan tidak lolos.


“Omong-omong, Yudai. Aku kemari untuk menantangmu dalam mock battle!” Zerowolf mengungkapkan niat untuk menemui Yudai.