Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 78



Salju telah turun menuju tanah menjadi tumpukan, seakan mengikis warna pada tumbuhan di sekitar kota dan taman kastel akademi. Setiap lantai yang menjadi pijakan kaki pun telah terbungkus oleh butiran uap air bagai kapas beku.


Dingin, seperti menembus kulit membuat bulu kuduk terangkat. Tidak heran masyarakat kota sudah mulai mengenakan pakaian hangat, termasuk beberapa dari murid yang mulai meninggalkan akademi saat dimulainya libur akhir semester menuju kampung halaman masing-masing.


Kedai roti menjadi tempat cukup ramai di kota, dengan secangkir teh panas menjadi lebih populer ketika musim dingin tiba. Antrean pelanggan cukup padat, benar-benar padat hingga sampai meluas pada jalan, menunggu minuman hangat ditemani oleh roti segar pilihan. Kedai itu juga menjadi tempat terakhir yang dikunjungi sebelum menikmati liburan di kampung halaman.


Beberapa murid justru memutuskan untuk tinggal di akademi, terutama Sans, Beatrice, dan Yudai. Ketiganya tengah berada di lounge room, duduk menghadap perapian, hanya bersantai.


Neu yang menuruni tangga, bersiap untuk kembali ke kampung halamannya, membawa ransel berisi perlengkapannya. Dia berhenti sejenak mendapati ketiga temannya itu hanya bermalas-malasan meski hari pertama libur tersebut baru saja berjalan.


“Kalian belum berusaha untuk mengerjakan tugas akhir semester?”


Yudai menjawab polos menggesekkan kedua telapak tangan, “Habisnya dingin sekali. Libur akhir semester juga cukup lama, kan?”


“Ha-hangatnya ….” Beatrice mengangkat kedua tangan menghadap perapian.


Neu menghela napas. “Di perpustakaan ada banyak referensi tentang Pulau Familiar Izaria, terutama makhluk Familiar. Sering-seringlah ke sana mumpung masih cukup lama liburnya.”


“Lalu bagaimana denganmu? Kalau perpustakaan ada banyak referensi tentang itu, kenapa harus pulang segala?” tanya Yudai.


“Rencanaku, cari ilmu sebanyak-banyaknya, meski harus rela berjauh-jauh pergi. Semua dimulai dari sekitar rumahku. Aku akan cari informasi dari situ dulu. Libur itu singkat sekali, terlena dengan waktu, sadar juga sebentar dan berujung penyesalan.”


“Kami akan kembali berlatih dan mengambil misi sebanyak-banyaknya untuk mengembangkan diri, dan juga mendapat uang. Dan juga, aku selesai menulis surat untuk kakekku.”


“Biar kuantar suratnya biar sekalian aku pulang.”


“Tidak perlu. Aku bisa mengantarnya sendiri.”


“Cukup adil. Sebaiknya kalian jangan terlalu bersantai saat menunggu liburan berakhir,” Neu pamit, “selamat berlibur.”


Baru saja Neu telah melewati pintu keluar gedung asrama, Duke pun tiba mengetuk pintu. Sans pun langsung menoleh ketika mendengar ketukan pertama.


“Pr-Profesor Duke?” sapa Beatrice.


“Oh, kalian juga tidak kembali ke rumah rupanya, Beatrice dan Yudai?” Duke menapakkan kaki pada lounge room gedung asrama itu.


Yudai menjawab, “Kami tetap ingin berlatih di sini dan menyelesaikan misi bersama-sama. Setidaknya, kami bisa berkembang dengan cara ini.”


“Begitu rupanya. Kalian rupanya tidak memilih untuk beristirahat di kampung halaman. Omong-omong, Sans, bisa kamu ikut ke ruangan saya?”


Beatrice melongo mendengar permintaan Duke. “E-eh?”


Sans bangkit dari duduknya. “Baik, Profesor.”


Tanpa perlu berdiskusi lebih lama lagi, Beatrice dan Yudai menyaksikan Sans mulai meninggalkan gedung asrama. Beatrice pun melongo bertanya dalam hati mengapa Duke memanggil Sans ke ruang salah satu profesor, saat libur berlangsung.


Yudai mengungkapkan alasan tersebut, meski harus berbohong sedikit, “Um, sebenarnya Profesor Duke ingin melatih Sans. Jadi … dia itu … memandang potensi Sans, meski hanya sebagai murid bermantel putih. Makanya, Sans sering berguru dengannya.”


Beatrice melirik Yudai, secara polos memperhatikan cara dia berbicara.


“Oh begitu. Pantas saja Profesor Dolce meluluskannya meski dia kalah.” Beatrice lagi-lagi secara polos mengungkapkan reaksinya, “jadi dia memang lebih kuat berkat Profesor Duke ya? Haha. Pantas saja semuanya terkejut.”


“Baiklah!” Yudai bangkit dari duduknya. “Kalau Sans berlatih bersama Duke, kita juga tidak boleh kalah! Beatrice, nyanyikanlah Give Our Strength untukku. Kita akan latihan di luar.”


“E-eh? Latihan sekarang? Ta-tapi dingin sekali di luar.”


“Nanti sepulang dari latihan, kita ke kedai roti, kita minum teh hangat dan baguette yang segar dari pemanggangan di kedai roti bersama-sama, untuk menghangatkan diri. Ayo!” Yudai secara girang mulai mendekati pintu keluar gedung.


“Whoa, whoa! Tu-tunggu!” Beatrice mulai menyusul.


Begitu Beatrice dan Yudai telah meninggalkan gedung asrama, di tangga, Katherine hanya berdiam diri menyaksikan kosongnya lounge room sepeninggal ketiga teman karib itu. Pipi gadis itu memerah ketika membayangkan sosok Yudai tengah beristirahat dengan kedua teman karibnya.


Dia menghela napas, ingin sekali meyapa Yudai secara langsung. Pada akhirnya tegang pun menyelimuti tubuhnya, ragu untuk menuruni tangga lebih jauh hanya untuk menyapa.


“Kenapa malu-malu begitu?” Suara seorang laki-laki sontak mengagetkannya. “Kalau mau ke luar, ke luar saja.”


“A-ah!” Katherine mendesah mendapati Riri telah mendatanginya dari belakang.


“Whoa, maafkan aku,” ucap Riri yang memakai baju abu-abu tanpa lengan dan celana pendek cokelat. “Aku mengagetkanmu?”


“A-anu, tidak apa-apa.”


“Mau temani aku latihan?”


“Di-di cuaca dingin seperti ini?”


“Tidak apa-apa,” Riri memastikan, “semakin banyak bergerak, hawa dingin yang masuk di tubuh semakin berkurang. Nah, kita pergi sekarang.”


***


“Baik, Sans. Sekarang kamu harus tahu apa barang yang ingin kamu buat.”


Sans melongo ketika telah mendengar pernyataan dari Duke yang telah berdiri di hadapannya di dekat sebuah meja alchemist. Selama ini dia hanya membuat barang sesuai dengan permintaan tanpa mengetahui bentuk asli.


“Sebelumnya, kamu sama sekali tidak mengetahui bagaimana wujud barang yang kamu buat sesuai dengan perintah saya. Karena barang-barang tersebut relatif mudah dibuat oleh alchemist, cukup mudah. Kamu akan membuat barang yang relatif lebih sulit daripada sebelumnya.


“Oleh karena itu, sebelum kamu membuat barang yang lebih sulit daripada sebelumnya, imajinasimu harus menjadi lebih kuat dulu. Pikirkanlah bentuk warna yang ingin kamu buat, setiap detailnya, bentuk dan warna. Gambarkan benda itu dalam pikiranmu.”


“Ba-baik. Tapi … Anda ingin saya membuat benda macam apa?” tanggap Sans.


“Benda yang cukup familier bagimu. Tunggu sebentar. Kamu duduk saja dulu di hadapan meja.”


Keempat benda tersebut terlebih dahulu dia letakkan pada meja di hadapan Sans sebagai bahan inti. Dia juga beralih ke kamar mandi setelah mengambil sebuah botol kecil bertutup gabus. Begitu keluar, dia sudah mengisinya dengan air.


Terakhir, sebuah botol labu kosong. Dia meletakkannya di meja di hadapan Sans, melengkapi alat dan bahan untuk membuat sebuah benda.


“Ini dia.” Duke memperlihatkan botol labu berisi cairan merah.


Benar-benar tidak asing bagi Sans. Ramuan merah itu memicu ingatannya. Ramuan tersebut merupakan ramuan yang sama persis seperti saat menyembuhkan korban perompak di kapal.


Memang, dia sering melihat ramuan tersebut beberapa kali ketika memasuki kantor pribadi Duke untuk mempelajari alchemist. Kali ini dia harus membuatnya, itu yang dia simpulkan.


Ucapan Duke mengonfirmasi tebakannya. “Saya ingin kamu membuat ini. Ramuan untuk menyembuhkan luka. Lihat baik-baik terlebih dahulu sebelum saya mengembalikannya ke tempat semula. Lalu kamu bayangkan terlebih dahulu sebelum membuatnya. Konsentrasi dan berhati-hatilah.”


“Akan kucoba,” ucap Sans.


“Oh, benar, saya lupa.”


Duke meraih sebuah bungkus dan membukanya seakan membelah menjadi dua. Sesuai dugaan Sans, bubuk merah menjadi isi dari bungkus tersebut.


Dia juga menyerahkan kapur putih pada meja tersebut sebelum mengangguk sambil mundur mengenggam botol ramuan merahnya, mempersilakan Sans untuk memulai.


Sans terlebih dahulu menatap setiap bahan dari kiri ke kanan, yakni bubuk, sebuah herb merah pekatsebuah jamur putih, sebotol minyak tebal, dan sebotol kecil air. Setiap bahan tersebut merupakan bahan untuk ramuan penyembuh luka.


Sans pun teringat. Sebelum memulai proses transmutasi, dia menggambar lingkaran besar pada meja kayu tersebut, disusul oleh sebuah bujursangkar di dalamnya, diikuti oleh lingkaran dan belah ketupat. Tiga bentuk terakhir tersebut seakan berada di dalam lingkaran besar pada meja kayu.


Giliran untuk meletakkan setiap barang. Bahan tersebut lebih banyak dibandingkan benda-benda sebelumnya. Dia berpikir keras untuk meletakkan setiap barang di antara lingkaran besar tesebut. Tentu terpikir pula keputusannya akan krusial pada hasil akhir.


Terlebih dahulu, karena botol labu merupakan wadah untuk meletakkan ramuan berupa cairan merah, dia meletakkannya pada bagian tengah lingkaran tersebut sebagai pusat. Kini, giliran bahan lain.


Sans berpikir akan lebih masuk akal jika memasukkan semua bahan ke dalam botol labu. Terlebih dahulu, dia membuka tutup gabus botol kecil dan menuangkan air ke dalam botol labu. Lalu dia menuangkan minyak tebal.


Herb merah dia masukkan terlebih dahulu sebelum mengambil bubuk charcoal meah ke dalam botol labu. Dengan begitu, semua bahan telah berkumpul di dalamnya.


Dia mendekatkan telapak tangan kanan pada mulut botol labu tersebut. mengerahkan tenaga dan pikiran demi memfokuskan untuk membuat ramuan. Wujud ramuan merah untuk menyembuhkan luka juga dia gambarkan dalam pikiran.


Konsentrasi dalam membayangkan ramuan tersebut menambah kurasan tenaga dalam melakukan proses transmutasi setiap bahan di dalam botol labu. Sebuah cahaya bagai kilat berwarna putih kebiruan muncul dari tangan kanan seakan menyambar garis lingkaran tersebut beserta botol labu.


Sans sebaik mungkin berkonsentrasi hingga cahaya bagai kilat tersebut menyambar garis lingkaran berserta ketiga bahan hingga seakan menjadi ledakan kecil menyilaukan. Akan tetapi, tidak seperti sebelumnya, ledakan tersebut semakin lama membesar hingga mengagetkannya. Ledakan tersebut membuatnya mundur tercengang.


Duke yang menyaksikan proses transmutasi itu mendatangi Sans kembali, melihat botol labu tersebut telah pecah akibat ledakan. Pembuatan ramuan telah gagal.


Sans sama sekali tidak percaya, upaya transmutasi pembuatan ramuan pertamanya berujung botol pecah. Seluruh bahan pun telah berserakan dari meja menuju lantai di dekatnya


Duke menjelaskan penyebab kegagalan tersebut, “Kurasa konsentrasimu pecah saat membayangkan wujud ramuan yang ingin kamu buat dan mengerahkan tenaga untuk proses transmutasi.”


“Ta-tadi itu ….”


“Sebenarnya, kamu tidak perlu memasukkan semua bahannya ke dalam botol. Kamu hanya perlu letakkan semuaya di dalam lingkaran transmutasi.” Duke beralih mengambil satu botol labu kembali dan meletakkannya di bagian tengah lingkaran. “Nah, dengan proses transmutasi, setiap bahan akan didekonstruksi dan akan masuk ke dalam botol saling bercampur. Sederhana.


“Tetaplah konsentrasi selagi kamu melakukan dua hal berbeda.” Duke meletakkan setiap bahan kembali pada meja, kecuali bungkus berisi bubuk charcoal merah yang terbaring tanpa tumpah. Kali ini, setiap bahan terletak pada setiap sudut lingkaran, terutama pada ruang di antara setiap garis. “Cobalah sekali lagi.”


Sans kembali menatap setiap barang tersebut. Dia kembali menghadapkan telapak tangan kanan pada botol labu sebagai pusat. Terlebih dahulu dia menutup kedua mata dan menarik napas perlahan.


Begitu membuka mata, dia mengerahkan kembali tenaganya untuk melakukan proses transmutasi. Memang tidak mudah untuk melakukan dua hal sekaligus sesuai perintah Duke. Sama seperti sebelumnya, ledakan kecil dalam proses transmutasi itu berujung menjadi besar, lagi-lagi gagal.


Sans berkali-kali gagal dalam transmutasi, bahkan salah satu ledakan mengenai wajah. Tetapi, luka pada wajah tidak membuatnya menyerah dalam melakukan proses transmutasi setiap bahan menjadi ramuan.


Tidak terasa, total kegagalan sama sekali tidak mereka hitung, hingga mereka menyadari langit telah menjadi gelap. Sans ingin tetap melakukan transmutasi hingga akhirnya berhasil berkonsentrasi melakukan dua hal berbeda, membayangkan wujud ramuan merah dan mengerahkan tenaga untuk melakukan transmutasi.


“HAAAAAA!!” jerit Sans mengerahkan sisa tenaganya dalam melakukan transmutasi sebelum membentuk sebuah ledakan kecil.


Ledakan kecil tersebut memancarkan cahaya menyilaukan mata, menyambar garis lingkaran berserta setiap bahan. Ledakan bagai kilat tersebut mengangkat dan medenkonstruksi setiap bahan menuju dalam botol labu di pusat lingkaran.


Ketika ledakan bagai kilat itu menghilang, semua bahan telah menjadi dalam bentuk cairan merah di dalam sebuah botol labu. Sans benar-benar berhasil melakukan transmutasi. Dia akhirnya dapat bernapas lega.


Sans menggenggam leher botol tersebut, mengamati warna cairan tersebut, memastikan sama persis seperti yang dia bayangkan.


“Ini baru menjadi awal dari hal yang mulai cukup sulit. Sebaiknya kamu tetap berkonsentrasi dalam transmutasi. Ada peluang kamu akan gagal melakukannya jika konsentrasi buyar. Kamu harus mampu melakukan dua hal bersamaan.”


“Ja-jadi … aku masih harus berlatih?” tanya Sans.


“Berdasarkan perjuanganmu tadi, tepat. Kamu harus tetap berlatih transmutasi barang yang lebih sulit daripada sebelumnya. Ramuan penyembuh luka dapat menjadi dasar dari tantangan berikutnya sebagai seorang alchemist dalam melakukan transmutasi.


“Satu lagi, tujuan dalam membayangkan benda untuk memastikan akurasi wujud, warna, dan fungsinya. Jika tidak sesuai, fungsi hasil benda itu akan berbeda, sangat berbeda. Bahkan dapat berbahaya. Karena itu, hati-hati dalam berkonsentrasi dan membayangkan setiap benda yang kamu buat.


“Lusa, kembalilah ke sini, sambil kamu berlatih transmutasi seperti tadi, akan saya beritahu hal penting lagi. Sekarang dan besok, istirahatlah.”


***


Baguette menjadi penangkal lapar dari siang hari setelah berlatih melakukan transmutasi. Dengan lahapnya, Sans menikmati setiap gigitan roti berukuran panjang tersebut sambil duduk di tempat tidurnya.


Yudai hanya memperhatikannya sambil bertanya, “Alchemist lagi?”


“Tepat.”


“Beruntung aku bilang pada Beatrice kalau kamu mendapat latihan khusus, sebenarnya tidak salah sama sekali.” Yudai mulai menyeringai.


“Profesor Duke benar-benar membuatku lelah … berkonsentrasi dalam melakukan dua hal sekaligus benar-benar membuatku—” Sans membuka lebar mulutnya tanpa kemauan sendiri.


Lama kelamaan, Sans mulai menutup mata hingga mulai terbaring di tempat tidur, bahkan tanpa menghabiskan baguette di genggamannya. Pandangannya menghitam ketika mulai terlelap.