
Lelaki berkacamata, bertopi hitam polkadot, dan berambut cokelat muda. Itulah ciri khas Oya yang tampak berdasarkan pandangan Sans dan Yudai. Raut wajahnya mengerut, jelas-jelas setelah beberapa lama semenjak pertemuan terakhir dengan Beatrice di Silvarion.
“Be-Beatrice, di-dia … pelayanmu, O-Oya?” tanggap Yudai.
Oya melirik pada Sans dan Yudai. Dari penampilan mereka, dia sudah bisa menilai sendiri.
“K-k-kenapa … kenapa Anda kemari?” Beatrice masih terkejut akan kedatangan Oya.
“Nyonya Muda, ternyata Anda lupa apa yang saya inginkan saat kita di Silvarion,” Oya mengingatkan.
“Benar. Di-dia pelayan yang pernah diceritakan oleh Beatrice waktu itu,” Sans menyimpulkan.
“Tampaknya kamu berteman dengan dua laki-laki ini secara bebas. Padahal ibumu melarang saat kamu di rumah. Tidak heran kamu tidak bersungguh-sungguh dalam latihan menjadi istri yang baik,” sindir Oya, “mari kita tidak berbasa-basi. Urusan kita, air mata phoenix. Seperti yang kuminta waktu itu.”
Air mata phoenix. Benda itu. Ketiga kata itu mampu menusuk batin Sans, Beatrice, dan Yudai.
Terakhir kali mereka berusaha mengambil air mata phoenix ketika bersama Tay, Neu, dan Sierra. Itu pun dalam dua kubu terpisah dan berakhir menjadi perkelahian, menyebabkan phoenix lolos dari pengejaran.
Cara untuk mengambil air mata phoenix mereka saja tidak tahu, apalagi tanpa melukai burung legendaris itu. Beatrice sungguh tidak ingin menceritakan kegagalan tersebut. Dia sama sekali belum menemukan cara yang tepat untuk mewujudkan permintaan Oya dan Teruna, yaitu menyembuhkan sang ayah.
“A-a-a-a—” Beatrice tetap ragu hingga tubuhnya gemetar. “—aku tidak berhasil mendapatkannya.”
“Pantas saja saya tunggu begitu lama, belum ada kabar. Tunggu, kamu tidak ingin pulang ke rumah, bukan? Kamu juga tidak mungkin mau mengirim surat pada keluargamu sendiri. Apalagi setelah ayahmu terkena penyakit, sesuai yang dikatakan Teruna, pelayan pribadimu.
“Karena kamu tidak patuh pada saya, tidak pilihan lain.”
Oya menarik pergelangan tangan kiri Beatrice. Genggaman pun berubah menjadi cengkeraman agresif menggunakan lebih banyak tenaga.
“O-Oya, sa-sakit!” Beatrice menarik jempol dan telunjuk Oya dari tangannya.
“Kamu meminta saya untuk melakukan ini. Saatnya untuk pulang.”
“Le-lepaskan!”
Menyaksikan keadaan seperti itu, secara refleks, Yudai mencengkeram bahu kanan Oya, tidak kalah kuat sampai menembus tulang. Tatapannya seperti seekor elang yang telah berhasil menangkap mangsa.
“Ah!” Oya tertegun mendapati Yudai telah berani menyentuhnya.
Situasi genting itu juga turut menarik perhatian penduduk yang tengah bercengkerama di alun-alun. Mereka menghampiri quest board menyaksikan sebuah konflik antara tiga orang pemuda dan orang bertingkat lebih tinggi dalam kelas, lebih tepatnya kelas bangsawan berdasarkan penampilan.
“Yu-Yudai!” Giliran Sans yang tubuhnya gemetar ketakutan.
“Apa ini caramu untuk memperlakukan seorang perempuan muda seperti dia?”
Seakan tidak mempedulikan batasan dalam panggilan kepada orang lebih terhormat atau lebih tua, alih-alih memanggil “Anda” pada Oya, Yudai berani menyorot tajam pada perilaku itu.
“Yu-Yudai? Ka-kamu—” ucap Beatrice.
“Dia sudah berkata tidak ingin pulang, berarti dia tidak ingin mengikutimu kembali ke kampung halaman, maksudku, rumah tuanmu sendiri. Kami sudah mendengar cerita dari Beatrice, semuanya. Wajar dia tidak menginginkan hal ini, sebagai perempuan bangsawan. Dia adalah teman berharga kami, sejak kami masuk Akademi Lorelei. Dia punya kemampuan lebih sebagai song mage, sebuah job langka. Dia bukan sekadar perempuan asal keluarga bangsawan.”
Sans sampai menghela napas, harus ikut membela Beatrice. “Be-benar! Beatrice selama ini merupakan teman yang hebat. Di-dia juga murid akademi yang hebat, benar-benar hebat! Kami bahkan tidak menyangka dia bisa menjadi song mage dengan lulus dua bagian aptitude test. Nyanyiannya membantu kami dalam berlatih, bertarung, dan menyelesaikan misi!”
Perkataan Sans memicu berbagai ingatan bagi Beatrice. Mulai dari ketika aptitude test, yaitu saat dia lulus dengan “kebetulan” atau “keajaiban”, hingga menguasai sebuah lagu mantra untuk menambah kekuatan teman-temannya saat bertarung.
Jika pulang ke kampung halaman, terutama rumahnya sendiri, dia tidak akan mendapat kebebasan dari perlakuan sang ibu. Segala pelajaran selama di Akademi Lorelei, termasuk dirinya sebagai song mage akan berujung sia-sia. Tentu dia tidak ingin hal itu terjadi. Dia tidak ingin berakhir menjadi istri bangsawan yang berperilaku terbatas.
Kehabisan kata-kata dalam menghadapi kedua murid Akademi Lorelei di dekatnya, Oya melepas cengkeraman pada tangan kiri Beatrice.
“Beatrice!” Sans menoleh.
Oya meludah pada lantai batu-bata sebelum memberi sebuah ultimatum. “Saya beri kamu waktu tiga hari untuk mengambil air mata phoenix. Tiga hari. Saya akan kembali ke sini dan datang ke Akademi Lorelei. Kita kembali bertemu, kamu berikan air mata phoenix itu.”
“La-lalu—"Beatrice begitu ragu. “—ba-bagaimana kalau aku tidak mampu?”
“Kamu sudah tahu hal yang tadi saya lakukan padamu. Kamu memilih untuk meninggalkan akademi untuk selamanya. Kamu akan mengucapkan selamat tinggal pada teman-temanmu. Kamu akan kembali ke rumah, menerima takdirmu.”
Ancaman yang nyata, benar-benar nyata. Tiga hari bukanlah waktu yang banyak, apalagi ketika berusaha keras untuk mencari cara mengambil air mata phoenix tanpa melukainya sama sekali.
Otaknya sempat seperti tertekan oleh awan kelabu dan badai, tetapi Beatrice mengangkat kepala tegak menghadap Oya. Pesimisme berangsur berubah menjadi optimisme berkat keinginan kuat untuk tetap tinggal di akademi.
“Baiklah. Aku terima. Akan kubuktikan betapa aku ingin tinggal di akademi lebih daripada di rumahku sendiri. Ma-maksudku, Akademi Lorelei sudah bisa kuanggap rumahku sendiri.”
Sans dan Yudai secara tegar sedikit melebarkan bibir menganggapi sikap Beatrice.
Oya pun mulai berpaling. “Baik. Tiga hari. Jika gagal, pulang.”
Mereka terdiam menyaksikan Oya pergi begitu saja, berbelok menuju salah satu jalan keluar dari alun-alun. Publik yang menatap masalah itu justru membubarkan diri dan kembali melakukan kegiatan masing-masing.
Beatrice membuang napas. “Ta-tadi itu … tidak dapat kusangka. A-aku hanya ingat kalau ayahku … sedang sakit akhir-akhir ini. A-aku tanpa sadar, selama berlatih dan menyelesaikan misi bersama kalian, melupakan tentang mengambil air mata phoenix.
“Maafkan aku. Maafkan aku telah membuat repot kalian tadi. A-aku … tidak ingin kembali ke kampung halamanku.”
Yudai menganggapi, “Tidak, tidak usah minta maaf, Beatrice. Kita akan mencari caranya, cara untuk mendapat air mata phoenix, tanpa melukainya sama sekali. Kita akan coba lagi ke sana.”
Sans mengangguk. “Ya, kita bersama akan mencari caranya. Kita akan lakukan sesuatu mulai sekarang.”
***
Memang wajar saat libur tidak ada satu pun orang, terutama murid, yang berlalu-lalang menikmati kesibukan harus berkeliling menuju kelas masing-masing. Seperti sebuah kepingan hilang, mereka belum terbiasa dengan keadaan seperti itu.
Yudai membuka suara, “Kenapa tidak kita ajak Beatrice sekalian ke perpustakaan?”
“Um, sudah kubilang, sebaiknya Beatrice beristirahat dulu semenjak pertemuan dengan Oya kemarin.” Sans menjawab ketika berbelok. “Begitu kita menemukan cara untuk mengambil air mata phoenix, kita ajak dia saat kembali ke gunung berapi itu.”
“Ah! Kita tanya saja pada Profesor Duke saja. Itu lebih baik daripada kita repot-repot mencari buku di perpustakaan.”
Terpicu! Mendengar Yudai menyebut profesor sekaligus alchemist itu, Sans menghentikan langkah. Dia sama sekali tidak berharap bahwa profesor sekaligus mentornya itu mengetahui kegagalan dalam mendapatkan air mata phoenix menjelang akhir semester lalu.
Memang sudah cukup lama semenjak dirinya pergi ke gunung berapi demi mencari phoenix. Pencarian itu berakhir dengan perkelahian antara Tay dan Neu yang menyebabkan phoenix meloloskan diri.
Pasti Sans akan ragu dan ketakutan jika Duke mengetahui sebuah kenyataan itu, kenyataan bahwa dia belum mendapat air mata phoenix setelah sekian lama. Menunda-nunda demi berhasil dalam ujian akhir semester, berlatih dan mengambil misi selama liburan, penyebab hal ini menjadi masalah, masalah cukup besar, terutama ketika Oya tiba menagih janji pada Beatrice.
“Sans?” panggil Yudai menoleh padanya sambil menghentikan langkah.
“Uh, Yudai. Tidak mungkin aku mengatakan hal yang sebenarnya pada Profesor Duke. Di-dia pasti akan kecewa ketika mendengar kita gagal lalu menunda-nunda mendapat air mata phoenix.”
“Dengar, Sans. Justru itu, lebih baik kita bicara jujur, lalu bertanya padanya bagaimana caranya mendapat air mata phoenix, setidaknya tanpa melukainya seperti waktu itu. Ya, kita juga belum mendapat cara yang tepat, benar-benar tepat untuk mendapatkannya.”
“Mendapatkan apa?” Suara dari belakang sontak memicu mereka berdua untuk berbalik.
Sans dan Yudai terdiam menyaksikan sumber suara itu. Duke telah berhenti untuk mendengar percakapan mereka berdua. Kerasnya volume suara Yudai menarik profesor itu untuk berhenti dan menyapa.
“Pro-Profesor Duke?” Yudai membalas sapa.
“Sepertinya kalian sedang kesulitan untuk menemukan sesuatu, sungguh menarik. Oh, apa saya menganggu kalian. Maaf telah mencuri dengar begitu saya mendekati kalian.”
Sans menganggapi, “Uh, sebenarnya, bukan apa-apa. Ka-kami hanya ingin menyelesaikan masalah dengan cara kami sendiri. Sebenarnya, teman kami—”
“Profesor Duke,” Yudai memotong perkataan Sans, “apa Anda tahu cara mendapat air mata phoenix tanpa—”
“Yu-Yudai!” Sans tertegun atas kejujuran dan kepolosan Yudai.
Terdiam sejenak, sama sekali tidak menyangka setelah cukup lama Sans dan Yudai belum mendapat air mata phoenix. Sigap sekali, dia tidak punya pilihan lain.
“Sebaiknya kita bicarakan ini di kantor pribadi saya.”
***
Sans tidak mengharapkan hal ini. Ini tidak sesuai keinginannya. Duke sudah mengetahui kenyataan bahwa dia belum mendapat air mata phoenix sama sekali. Dia merasa tidak enak jika kenyataan seperti ini telah terungkap.
Sans dan Yudai menempati tempat duduk di dekat pintu keluar, menghadapi meja kecil layaknya di ruang tamu. Mereka menghadapi Duke yang mulai duduk di hadapan mereka. Kedua tempat duduk itu berwarna cokelat dan berlapis cukup tebal hingga terasa pada kulit lengan ketika bersentuhan dan bersandar.
“Apa yang terjadi?” Duke meminta penjelasan.
Tidak ingin menunggu Sans keluar dari keraguan, Yudai terlebih dahulu memulai membuat sebuah jawaban. Dia bercerita saat mereka mulai pergi ke gunung berapi bersama Tay. Begitu tiba dan melihat satu ekor Phoenix, secara kebetulan mereka bertemu Beatrice, Neu, dan Sierra yang memiliki tujuan sama persis.
Sans pun mengambil alih untuk menjelaskan bahwa Tay dan Neu bertengkar dan memulai perkelahian akibat dari kebetulan itu, terutama kesalahpahaman antara mereka berdua. Hal itu menyebabkan phoenix meloloskan diri. Meski Yudai sudah berusaha keras untuk mendapat phoenix dan mengambil air matanya, usahanya gagal ketika Neu berupaya untuk menyerang menggunakan sihir.
Akhirnya, keduanya mengungkapkan tujuan Beatrice untuk mendapat air mata phoenix. Tuntutan kedua pelayan keluarga gadis song mage itu, Oya dan Teruna, untuk menyembuhkan sang ayah menjadi tugas jika ingin tinggal di akademi.
“Jadi begitu ceritanya,” tanggap Duke, “dari penampilannya, sudah bisa saya tebak kalau Beatrice memang dari keluarga bangsawan. Biasanya perempuan dari kalangan itu tidak belajar di Akademi Lorelei, apalagi menjadi seorang petualang. Apa dia memberitahu kalian penyakit yang diderita ayahnya?”
“Ka-kami sama sekali tidak tahu,” jawab Sans.
“Begitu. Kalau begitu, ada kemungkinan ayahnya menderita penyakit yang sama seperti ibumu, Sans.”
“E-eh?”
“Tapi kita tidak tahu apa keluarga Beatrice juga sudah mendapat bahan lain untuk obat itu, obat untuk penyakit ibumu, yaitu sisik kraken dan batang pohon kehidupan. Ada kemungkinan mereka membutuhkan dua benda agar dapat membuat obat untuk menyembuhkan ayahnya.
“Sans, Yudai, saya juga ingin tahu apakah Beatrice punya masalah dengan keluarganya? Dari yang saya dengan dari kalian, dia hanya ingin tinggal di akademi, bukan?”
Sans dan Yudai juga menjelaskan Beatrice telah melarikan diri dari rumah karena perlakuan sang ibu yang terlalu menuntut. Gadis song mage itu memiliki tujuan untuk melihat dan berkeliling dunia luar alih-alih hanya menjadi perempuan bangsawan.
“Begitu rupanya. Pantas dia tidak ingin pulang ke kampung halamannya.”
Yudai membuka suara kembali, “Ja-jadi kita harus bagaimana? Sans dan Beatrice sama-sama membutuhkan air mata phoenix untuk menyembuhkan penyakit itu. Be-berarti kita membutuhkan dua air mata phoenix, tapi kalau dibagi dua—”
“Phoenix hanya akan memberi kalian setetes air mata phoenix,” potong Duke.
“Se-setetes? Me-memberi?” ulang Sans.
“Memang benar kalau harus memancing phoenix untuk mendatangi kalian tanpa melukainya sama sekali. Setetes air mata phoenix dibutuhkan, tidak kurang dan tidak lebih, untuk membuat obat itu. Apalagi, kalian tahu phoenix adalah salah satu makhluk legendaris, sangat langka.
“Sangat jarang bagi manusia untuk melihat dua ekor phoenix berdatangan secara bersamaan di gunung berapi itu. Peluangnya kecil sekali, atau hampir mustahil. Kalian hanya akan mendatangi satu ekor phoenix.
“Dengar baik-baik, kalian berdua. Mungkin kalian tidak akan suka karena ada setidaknya dua orang yang membutuhkan air mata phoenix secara bersamaan, tapi ini penting. Hal yang akan saya katakan berupa satu-satunya cara untuk mendapatkannya.”