Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 139



“Sudah sadar ya?”


Langit biru berawan kelabu menjadi hal yang pertama terlintas saat Sans kembali mendapat kesadaran. Melihat sekelilingnya, ia telah berbaring di genangan air berwarna aquamarine dikelilingi oleh beberapa stupa berlumut. Hawa hangat terhantarkan seakan sebuah energi kembali masuk ke dalam tubuh.


Melirik pada Duke, hal yang pertama ia lihat adalah kulit hitam, dada bidang, juga perut kotak-kotaknya, sangat atletis. Pakaian Duke terlihat seakan terbaring di samping lengan yang bersandar pada lantai berwarna krem. Melihat bagian bawah seakan tertutupi oleh air kolam sampai membuat wajahnya memerah tidak dapat menahan malu.


“Pr-Profesor!!” Cukup tertegun, Sans langsung terjatuh dari posisi berbaring mengambang. Bokongnya pun mengenai dasar dari kolam itu. Cukup dangkal, setidaknya hanya setinggi satu kaki.


“Saya mengagetkanmu?” tanya Duke polos.


Sans pun dengan cepat berdiri mendapati seluruh pakaiannya telah basah. Bokongnya juga terasa terbanting akibat bertubrukan dengan dasar kolam. “Membuat kaget saja. Omong-omong … ja-jangan bilang Anda melakukannya sama seperti waktu di Vaniar.”


“Omong kosong,” Duke membantahnya, “kamu semalam pingsan setelah menyelesaikan tugasmu.”


“Tugasku?”


“Ya. Kamu berhasil membuat ramuan middle-grade. Kamu lulus tugas bootcamp-mu. Sebenarnya, kamu juga membuat negative potion, bukan? Padahal sebenarnya itu tidak perlu.”


“Ta-tapi—”


“Bercanda.” Duke sampai tertawa terbahak-bahak. “Kamu mendapat nilai tambahan.”


Sans terdiam sejenak mendengar pernyataan dari profesornya itu. Ia pun bereaksi, matanya sedikit melotot, senyumnya juga merekah, perasaan bermekaran seakan menembus tubuh hingga menembus hatinya.


“Te-terima kasih.”


Sans melihat sekeliling sekali lagi. Delapan pilar setinggi satu setengah meter yang terbuat dari berbagai reruntuhan kayu dan batu mengelilingi sebuah jalan keluar yang menanjak dari kejauhan. Begitu indahnya landskap tersebut.


“Tempat apa ini?”


“Ini adalah kuil Aresmos, sebuah kuil khusus alchemist. Kuil ini menjadi satu-satunya tempat yang bertahan semenjak peristiwa pembantaian kota Arcanium. Konon, belum ada siapapun kecuali alchemist yang pernah menginjak tempat ini. Itulah kenapa kuil ini bertahan sampai sekarang.


“Dan selagi kamu pingsan, saya membawamu kemari dan menaruhmu di sini, di kolam penuh inti mana. Tentu saja agar kamu pulih. Kolam ini juga jadi tempat pemandian yang amat indah, mana dan tenaga jadi seketika pulih.


“Kita bisa bersantai seharian di sini, sekalian kamu beristirahat.”


Sans hanya mengangguk.


“Pakaianmu basah, sebaiknya kamu lepaskan semuanya.”


“Hah?”


“Lakukan saja. Kita ini sesama laki-laki.”


Sans pun mematuhi permintaan Duke. Wajahnya memerah, baru kali ini ia mandi bersama. Ia melepas pakaiannya, terutama mantel putih dan kemeja, serta meletakkannya di lantai keramik di belakangnya.


Bulu kuduknya kembali tegak saat air dari genangan air mana itu seakan menembus kulit menuju ototnya, memicu kehangatan di sekujur tubuhnya, setara dengan saat berada di pemandian air panas.


“Kamu merasakannya?”


“Ni-nikmat sekali.” Sans sampai seperti mabuk kepayang menikmati air mana meresap pada sekujur tubuhnya.


“Kita santai dulu seharian penuh di sini ya.” Duke berbalik dan keluar dari kolam tersebut untuk meraih pakaiannya. “Sampai pakaianmu kering.”


“Oh, Anda mau selesai?”


“Belum.” Ia mengambil sesuatu dari saku pakaiannya dan melemparnya pada Sans. “Tangkap!”


Sans menangkap sesuatu tersebut dan melongo mendapati sebatang bambu manis di genggamannya. “Lagi?”


“Makanlah.” Duke mengelilingi sisi kolam tersebut sebelum mengambil seluruh pakaian Sans dari lantai. “Kamu belum makan dari kemarin, bukan?”


Sans terdiam menatap Duke mengambil seluruh pakaiannya dan menaruh semuanya di stupa yang terkena sinar matahari. Dalam diam, ia mulai menikmati gigitan pertama bambu manis di genggaman.


***


Sans selesai memakai seluruh pakaiannya kembali saat matahari seakan tertelan bumi menjelang pergantian menuju warna hitam pada langit. Ia juga memastikan belati hitamnya telah tersimpan di bagian pinggang celananya, hanya untuk berjaga-jaga.


Melihat kembali genangan air pada kolam inti mana, warna aquamarine mulai memancarkan lebih banyak cahaya menjelang malam. Sungguh indah membuat matanya terpana.


“Kita kembali ke Arcanium sebelum malam semakin larut.”


Tidak ingin menunggu lagi, Duke memimpin perjalanan. Mereka berdua menapaki jalan berwarna krem meninggalkan kolam inti mana di belakang.


Saat jalan menanjak menuju jalan keluar kuil telah di depan mata, Duke merentangkan tangan kirinya. Sebuah langkah kaki dapat terdengar di hadapan mereka.


Benar, seseorang telah menuruni jalan tersebut. Seorang pria berambut hitam panjang dan berbando tipis. Pria itu menghentikan langkah begitu menatap Sans dan Duke.


Menatap sosok pria itu, terpiculah sebuah kilasan mengenai sosok familiar itu bagi Sans. Ia pernah melawannya saat berada di Labirin Oslork semester lalu bersama Beatrice dan Sierra, sampai sedikit kewalahan.


“Siapa kau?” tanya Duke tegas.


“Kita bertemu lagi, laki-laki berkulit sawo matang,” sapa pria itu.


Sans menjawab pertanyaan Duke, “Ceritanya cukup rumit, dia adalah pria yang kukira seorang profesor saat kami field trip di Silvarion semester lalu. Dia adalah Spinarcia.”


Sans menyentuh gagang belatinya yang masih terpasang di bagian pinggang celana. Begitu erat sampai ia tidak sabar ingin mengambilnya. Bulu kuduknya kembali berdiri seriing giginya gemericik.


“Oh, kamu tidak bersama dua gadis cantik merona itu?” Spinarcia menjulurkan lidah sampai menjilat bibir meronanya. “Sayang sekali, padahal aku sangat menantikan kehadiran mereka. Sayang sekali, kamu bersama seorang pria yang lebih tua daripada dirimu.”


“Terima kasih banyak.” Duke menempatkan kaki kirinya ke depan, ia mengepalkan tangannya ingin menghajar Spinarcia.


“Tunggu dulu.” Spinarcia mengangkat tangan kirinya. “Aku hanya ingin melawan pemuda ini. Kamu tidak perlu ikut campur.”


“Apa?”


“Kebetulan sekali, benar-benar kebetulan.” Spinarcia menepuk tangannya. “Aku bertemu dirimu saat berniat untuk kemari. Sekarang mood-ku jadi berubah, aku ingin bertarung denganmu.”


“Kami tidak punya waktu untuk ini!” balas Duke geram.


Sans mengangkat tangan kirinya pada Duke. “Tidak apa-apa. Lagipula, dia sudah menyusup ke Labirin Oslork waktu itu. Aku salah mengira dia sebagai profesor Akademi Lorelei.” Ia mengambil belati hitamnya dengan erat. “Aku belum tahu siapa dirimu sebenarnya dari lama.”


“Kamu tidak perlu tahu, laki-laki berkulit sawo matang.” Spinarcia juga ikut mengambil belatinya.


Sans dan Spinarcia saling melirik tajam dan mengambil posisi kuda-kuda. Genggaman belati juga makin erat. Spinarcia melebarkan bibir sinis menyaksikan Sans tidak jauh berbeda daripada sebelumnya.


“Sans, hati-hati. Tampaknya dia lawan yang sangat kuat,” tegur Duke.


Tanpa aba-aba sama sekali, Spinarcia mulai melesat dan mengayunkan belatinya ke belakang. Lebih cepat dalam melangkah daripada sebelumnya, Sans sampai kaget.


Spinarcia mengempaskan tenaga dalam mengunci tulang rusuk kiri Sans sebagai target tebasannya. Sungguh cepat sampai Sans hampir tidak berkutik menghadapi serangannya.


Sans secara refleks lambat menangkis serangan Spinarcia. Sungguh lambat, tubrukan dua mata belati menimbulkan bunyi nyaring. Tenaganya kalah gesit, memicu belati mata belati Spinarcia meluncur. Mata belati tersebut sampai menghantam lengan bawahnya.


“Uh!”


Sans seakan terlempar mundur menahan rasa sakit seperti jarum pentul. Darah sedikit menetes dari goresan luka tersebut. Akan tetapi, Sans justru memaksakan diri dalam mengayunkan belatinya, ingin membalas serangan lawannya.


Sungguh cepat Spinarcia menubrukkan mata belatinya pada belati milik Sans, bunyi gemericik dari kedua belati itu semakin kencang setiap kali bertubrukan. Setiap arah Sans membidik celah lawannya, sangat lincah pula lawannya itu bertahan.


Kecepatan Spinarcia dalam mengendalikan genggaman belatinya memang lebih lincah daripada saat di Labirin Oslork sebelumnya. Apalagi ini merupakan pertarungan satu lawan satu, tanpa sedikitpun bantuan.


Setiap celah yang ia kejar dalam mengayunkan belatinya terus tertahan oleh tangkisan belati Spinarcia. Sans pun terengah-engah, tertekan menghadapi kenyataan lawannya lebih cepat berkembang sejak pertemuan terakhir.


Lamunannya lama kelamaan semakin mendominasi konsentrasinya hingga sedikit terdistraksi. Renungan tentang perkembangan dirinya satu per satu muncul, seorang diri ia sering mengalahkan berbagai monster liar saat menjalankan misi, baik sendirian atau bersama temannya. Terakhir kali ia bertarung sendiri saat melawan Dolce di ujian akhir semester lalu.


Ia tidak ingin kalah seperti sebelumnya. Ambisinya untuk mengalahkan Spinarcia seorang diri memacunya dalam menyalurkan tenaga pada ayunan belatinya. Begitu banyak tenaga dan napas yang keluar membuatnya kesulitan dalam menyeimbangkan konsentrasi dan ayunan belati.


Spinarcia mendorong tebasan belatnya, sungguh keras hingga membuyarkan konsentrasinya. Tebasan lawannya itu memicu belati hitamnya terpental ke belakang kirinya, hampir mengenai salah satu pilar.


Sans juga ikut terempas hingga tersandung dar belakang. Bokongnya terlebih dahulu menyentuh lantai paduan marmer dan batu tersebut. Memperhatikan dirinya terlebih dahulu jatuh, apalagi belatinya tergeletak di lantai dekat salah satu pilar di sebelah kanannya, kali ini ia kalah dalam kemampuan dan tenaga dari lawan di hadapannya itu.


“Sans!” jerit Duke tercengang.


Spinarcia mengacungkan belatinya mengarah pada wajah Sans. “Ayo berdiri.” Dari intonasi, Spinarcia seakan mengejeknya. “Ayo cepat ambil belatimu dan berdiri.”


Sans sedikit merangkak dan meraih belatinya. Dengan napas ternganga, ia kembali menggenggam belatinya dan menempatkan tangan kiri di lantai belakang punggungnya.


“Tidak seru kalau kamu menyerah begitu saja setelah tumbang sekali.”


Sans menempatkan tangan kiri di lantai sebelum kembali bangkit memasang posisi kuda-kuda.


“Akhirnya berdiri juga.” Spinarcia menggoyangkan kepala sampai rambut panjangnya mengayun ke belakang. “Aku senang.”


Sans mengarahkan belatinya ke depan, menuju Spinarcia. Ia akhirnya menjerit dan kembali melesat, mendorong genggaman belatinya ke belakang menuju posisi menusuk.


“Bagus.” Spinarcia mengempaskan genggaman belati Sans dari atas seraya menahannya. Ia memperhatikan belati Sans mengunci bagian perut sebagai target.


Sans melampiaskan momentum tenaganya tidak ingin membiarkan belatinya jatuh begitu saja. Ia mendorong tangkisan belati dari lawannya menuju ke atas. Begitu kuat tubrukan kedua mata belati itu, ia sampai menggeretakkan gigi dan mendesis sebagai reaksi melawan dorongan dari Spinarcia.


Sangat setara kekuatan yang mereka keluarkan, seakan tidak bergerak ketika kedua belati tetap bertubrukan. Tidak sabar ingin menyerang, Spinarcia sampai menarik belatinya ke atas, menghentikan tangkisannya terhadap belati Sans.


Sans kembali mengayunkan belatinya menuju segala celah dan kembali melangkah. Kali ini menyerong memojokkan Spinarcia menuju salah satu pilar. Ia bahkan tidak ingin mundur meski Spinarcia sekuat tenaga menangkis dan melangkah.


Spinarcia semakin tertegun tenaga Sans seperti meledak drastis setelah terjatuh. Ia tersenyum menyadari bara semangat Sans telah melebihi tenaganya dalam mengayunkan belati.


“HAAAA!!”


Spinarcia sampai lengah dan ternganga mendengar sahutan Sans. Refleksnya kini melambat menghadapi ayunan belati Sans, amat terlambat dalam menangkis. Apalagi saat belati Sans mengarah dekat dada dan leher.


Akhirnya tenaga pada genggaman belati Spinarcia kurang mampu menahan tangkisan belati milik Sans. Dapat ia lihat belatinya terdorong menuju leher.


“Uh!” Spinarcia menelan ludah mendapati punggung belati ungunya hampir mencapai leher.


“Sudah cukup, Sans!” Duke berlari menemui mereka. “Kamu tidak perlu membunuhnya.”


Sans menghela napas melepas tenaga pada dorongan belatinya dan menurunkannya. Ia menggelengkan kepala, rasa tidak puas menghujani pikirannya setelah pertarungan itu. Berat hati, ia pun mundur menjauhi Spinarcia.


“Tampaknya aku dikalahkan untuk kedua kalinya. Kedua kali.” Spinarcia menekankan intonasinya.


“Anda telah membuang-buang waktu kami,” sahut Duke.


“Sungguh, kenapa? Kenapa Anda ingin bertarung denganku? Siapa dirimu sebenarnya?” Sans sampai tidak sabaran mengonfrontasi Spinarcia.


“Aku?” Spinarcia berdehem dan menoleh, menghindari kontak mata. “Masih penasaran juga kalian. Kalau bertemu lagi, nanti kalian juga akan tahu. Terutama dirimu, Sans. Selamat tinggal.”


Persis sekali seperti sebelumnya, sama persis, Melihat hal tersebut memicu Sans untuk meminjakkan kaki kanan ke depan. Urusan tersebut sama sekali belum selesai, masih ada berbagai pertanyaan belum terjawab.


Justru, kumpulan asap abu menenuhi pandangan di depan mata. Spinarcia menghilang kala asap tersebut menghilang sampai tidak bersisa. Sekali lagi, kesempatannya untuk mencari tahu identitas pria berambut hitam panjang berbando itu hilang.


“Sialan!” jerit Sans,


“Biarkan saja dia, Sans. Daripada membuang-buang tenaga untuk mengejarnya, bootcamp belum berakhir.”


Sans menaruh kembali belatinya dan mendesah. Amat tidak puas dengan pertarugannya melawan Spinarcia, saat awal ia cukup lamban dalam mengayunkan belati dan bereaksi.


“Kenapa dia sampai tahu tempat ini?” Duke menatap langit malam. “Lalu bagaimana dia bisa menembus Labirin Oslork tanpa ketahuan pihak akademi?”


“Sa-saya tidak tahu.” Sans berbalik menghadap Duke.


“Selanjutnya, materi dari Buku Dasar Alchemist sudah selesai. Semenjak sudah mulai membuat ramuan middle-grade, kamu sudah siap, Materi menengah siap kamu pelajari.”


Sans membuka mulutnya lebar, sungguh puas ia telah “naik tingkat” sebagai seorang alchemist. Satu lagi langkah telah ia capai, semakin dekat ia mencapai tujuan utamanya.


"Tapi kita akan memulainya setelah bootcamp berakhir.”


Cukup kecewa. Sans memang tidak begitu puas jika hanya mengulang membaca Buku Dasar Alchemist. Ia ingin materi lebih banyak lagi, lebih kompleks, dan lebih menantang.


“Oh, saya lupa satu hal lagi.” Duke menubrukkan kedua kepalan tangannya. “Saat libur musim dingin, saya pernah bilang kita akan berlatih di tempat lain, bukan? Selain di kantor pribadi saya.”


“Ah! Saya juga lupa,” tambah Sans berupaya menghibur Duke.


“Saya sudah menemukan sebuah lorong kosong yang jarang dilewati siapapun, bahkan profesor sekalipun. Kita akan mulai materi alchemist tingkat menengah di sana ya.”


“Baik!” Sans membalas.


Tanpa perlu berbicara lagi, mereka kembali melangkah. Tidak sabar ingin segera meninggalkan kuil Aresmos dan kembali ke Arcanium. Dalam diam, mereka juga merenungi sebuah hal.


Benar, masih terbayang-bayang sebuah pertanyaan. Siapa Spinarcia sebenarnya?