Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 94



Tanpa terasa, bayi phoenix yang mereka rawat dan jaga di sudut timur laut halaman kastel akademi telah bertumbuh kembang. Ukuran tubuhnya sudah kurang lebih dua kali lipat daripada saat ia masih bayi. Bulu merah membaranya juga sudah semakin mengembang bermekaran dan menutupi kulit. Paruhnya kini menjadi lebih berwarna emas. Kedua mata sudah terbuka lebar.


Sans, Beatrice, dan Yudai kembali secara sembunyi-sembunyi mengamati perkembangan phoenix itu. Sama sekali belum mengeluarkan air mata semenjak “faktor lain” belum mencukupi.


Sans meletakkan kumpulan cacing di dalam sarang sang phoenix, yaitu kolong akar pohon di sudut.


“Setidaknya ini cukup untuk dua malam, bukan?” Yudai ingin memastikan.


“Semoga saja cukup. Kita juga akan kembali ke sini secepat mungkin,” ucap Sans.


Menatap ke arah langit, matahari mulai meluncur dari ufuk dan seakan masih bersembunyi di balik salah satu awan, menandakan puncak dari siang hari. Cuaca pun masih terasa dingin meski begitu, meski menjelang berakhirnya musim dingin.


Beatrice kembali berjongkok begitu Sans bangkit, menatap sang phoenix peliharaan mereka. “Nah. Kamu baik-baik ya selagi kami pergi. Saat kami kembali, kami akan tetap menjagamu seperti biasa, oke?”


“Jangan lupa air mata phoenix-nya,” celoteh Yudai. “untuk Sans.”


“Baik. Kami pergi dulu,” Beatrice mengucapkan salam perpisahan.


Memang tidak enak meninggalkan sang phoenix untuk sementara waktu, debaran jantung menambah adrenalin, khawatir jika terjadi apapun pada burung itu. Sans dan Yudai memastikan bahwa selama bersembunyi, phoenix akan baik-baik saja.


***


Semenjak mereka kembali menyelesaikan setidaknya tiga misi, tentunya misi kelas C yang masih cocok untuk mereka, Sans dan teman-temannya telah mempersiapkan penghasilan itu untuk biaya pembekalan.


Pertama, mereka membeli obat-obatan hanya untuk berjaga-jaga, sama seperti kebanyakan murid tahun pertama. Obat yang dimaksud bukan ramuan seperti yang dibuat oleh alchemist, melainkan berbagai bahan umum yang biasanya menjadi sebuah penyembuh seperti tanaman obat dan rempah-rempah.


Kedua, yang menjadi hal wajib bagi mereka, mengunjungi kedai roti. Jenis baguette dan croissant menjadi jenis roti yang mereka beli untuk bekal selama perjalanan melintasi lautan. Tentu saja, Beatrice mengajak teman-temannya itu untuk menikmati sebagian roti yang mereka beli terlebih dahulu, tidak enak tidak dimakan jika sudah diterima hangat.


Seluruh murid akhirnya berbondong-bondong menuju pantai setelah melalui pembekalan masing-masing menjelang terbenamnya matahari. Begitu tiba di dermaga, seperti biasa setiap profesor pendamping menyuruh agar membagi barisan berdasarkan jenis kelamin, tidak memandang rombongan kelas umum yang mereka datangi


Seperti saat menuju Silvarion, enam buah kapal berukuran besar, badan kayu terlihat seperti cokelat keemasan dan terdapat layar putih polos untuk menerima angin, telah menunggu.


Setiap barisan masing-masing memasuki kapal sesuai arahan setiap professor pendamping, lurus dan tertib. Seperti biasa, perempuan terlebih dahulu. Beatrice dan Sierra menjadi salah satu anggota barisan pertama yang terlebih dahulu menaiki salah satu kapal.


Sans, Yudai, Tay, dan Neu menjadi anggota barisan keempat secara keseluruhan, yaitu barian laki-laki pertama, yang menaiki kapal.


Lima belas jam, itulah lama perjalanan dari Aiswalt menuju Pulau Familiar Izaria. Tidak heran setiap profesor pendamping mengusahakan agar kegiatan di sana dimulai pagi hari,


Setelah setiap barisan murid tahun pertama menaiki kapal masing-masing, kru kapal mulai mengangkat jangkar besi dari dasar laut. Embusan angin turut membantu kapal lepas sandar dari dermaga.


Masing-masing murid langsung memasuki bagian dalam kapal, yaitu ruang khusus untuk tidur. Masuk akal untuk berjaga-jaga jika ada badai di tengah laut. Kebanyakan murid memutuskan untuk bersantai hingga terlelap sambil menunggu perjalanan semalam penuh. Tentu saja, tidak ada tempat tidur, melainkan hanya lantai kayu.


Sans, Tay, dan Neu hanya berdiam diri, duduk. Tidak ada apapun yang ingin mereka lakukan sama sekali selain bersantai. Yudai bersantai dalam posisi berbaring, menatap langit-langit kapal tanpa penerangan.


Sans melirik pada Tay dan Neu yang tidak saling berbicara. Teringat bahwa kedua musuh bebuyutan itu pernah mengunjungi Pulau Familiar Izaria saat libur musim dingin berlangsung.


Dalam hati, ia memendam sebuah pertanyaan. Sejuah ini, ia hanya dapat membayangkan situasi di Pulau Familiar Izaria dari deskripsi di salah satu buku tentang Familiar. Memang akan lebih baik untuk bertanya langsung pada orang yang sudah pernah mengunjunginya.


“Kebetulan!” Sebuah suara menginterupsi niatnya.


Memang sudah tidak asing bagi keempatnya. Siapa lagi kalau bukan Zerowolf yang telah berdiri di hadapan mereka? Murid archer itu seperti biasa melirik Yudai yang bangkit dari posisi berbaring saking kagetnya.


“Akan kutantang dirimu siapa yang akan dapat Familiar duluan, Yudai!”


Sudah biasa, Zerowolf kembali menantang rivalnya itu. Itu yang Sans, Tay, dan Neu pikirkan secara bersamaan.


Zerowolf bahkan tidak memedulikan situasi sama sekali dalam menantang Yudai dalam hal apapun, terutama dalam mock battle antar archer. Tidak heran, seluruh murid di sekitar mereka ikut melongo atas kehebohan itu.


“Dasar ….” Giliran Riri yang menghampiri Zerowolf dari belakangnya. “Lagi-lagi kamu berani menantang Yudai saat begini. Bisa tidak hentikan dulu itu, kita ke Pulau Familiar Izaria hanya untuk mengerjakan tugas, bukan untuk saling bersaing. Lagipula, kamu tahu kan Familiar itu sulit sekali ditangkap berdasarkan caranya. Jangan harap kamu cepat menangkap salah satu dari mereka.


Zerowolf menelan ludah, seakan mematung terpicu oleh kenyataan.


Neu menggelengkan kepala menyaksikan tingkah Zerowolf itu. Sama sekali tidak berubah. Mengingat kembali sudah dua kali ia melihat Zerowolf menantang Yudai, pertama saat di kantin dan kedua saat akan mengerjakan tugas libur musim dingin.


Tay pun justru mengungkapkan secara jujur, “Kamu memang pencari perhatian.”


Zerowolf membuka suara setelah mematung sebentar, “Jadi sepertinya untuk menangkap Familiar memang butuh keberuntungan! Kalau begitu, Yudai, kita mock battle lag—”


Riri menghentikan tingkahnya. “Zerowolf, ini bukan waktunya!”


***


Situasi di salah satu kapal berisi murid perempuan lebih tenang daripada setiap kapal berisi murid laki-laki. Kebanyakan dari mereka sudah telanjur terlelap di lantai kayu ruang dalam kapal, menunggu tiba di Pulau Familiar Izaria.


Beatrice duduk bersandar di dinding kayu di samping Sierra, menatapi minoritas masih mondar-mandir masuk keluar geladak atau membuat diskusi sendiri. Ia tahu topik utama beberapa diskusi itu adalah cara menangkap familiar.


Phoenix yang ia rawat bersama Sans dan Yudai kembali masuk ke dalam benaknya dalam bentuk bayangan. Ingatan demi ingatan dari saat burung itu masih bayi yang lugu hingga menjadi dewasa kerap berdatangan.


Semakin ia ingat, semakin tidak sabar ia untuk kembali merawat phoenix. Ia tidak ingin meninggalkan phoenix itu sendirian di sekitar halaman akademi. Ia hanya ingin membantu Sans mendapat air mata phoenix.


“Apa kamu sakit?” Sierra membuyarkan pikirannya.


“Kamu masih memikirkan kondisi ayahmu?”


“Uh,” Beatrice menjawab jujur sebagai kesempatan untuk mengalihkan sebuah kenyataan, “a-aku … belum mendapat kabar lagi tentang itu. Semenjak aku sudah memberikan air mata phoenix itu pada Oya, tidak ada satupun, bahkan Teruna, mengirimkan kabar dari rumah.”


Sierra mengusap pundak Beatrice. “Aku tahu kamu telah mengalami hal berat. Tidak mudah untuk mencapai Akademi Lorelei dan menjadi seperti sekarang. Sekali lagi, aku turut simpati pada ayahmu. Suatu saat nanti, kamu akan mendengar kabar ayahmu, bahkan saat kamu lulus.”


“Ya. Terima kasih, Sierra.”


Beatrice menghela napas. Betapa rindunya dengan sang ayah yang telah membantu dirinya kabur dari rumah. Pesan sang ayah kerap ia ingat sebagai sebuah motivasi untuk terus maju sebagai song mage dan pejuang mimpi.


Menyelesaikan misi bersama kelima teman dekatnya, pergi ke Silvarion, mendapat air mata phoenix, mengalahkan basilisk di Salazar, hingga memburu Familiar di pulau Izaria. Petualangannya seakan terus tertuang halaman demi halaman.


Ia melirik murid perempuan lain sambil percaya bahwa semua murid Akademi Lorelei ingin menggapai mimpi dan menjadi petualang berkeliling dunia. Tidak seperti dirinya yang berasal dari kelas bangsawan, kebebasan untuk memilih jalan sendiri untuk masa depan terbuka lebar.


Sedangkan dirinya, saat masa kecil, terkurung di jebakan budaya bangsawan. Perempuan harus mematuhi segalanya, ini dan itu, terutama dalam mematuhi perintah suami kelak, apalagi terjerumus ke dalam sebuah perjodohan dengan laki-laki yang tidak ia kenal dan cintai. Seandainya ia dapat keluar dari budaya itu dari awal, mungkin keadaan akan berbeda.


“A-anu, Sierra.” Katherine menghampiri. “Bo-bolehkah aku duduk bersama kalian?”


Beatrice dan Sierra menoleh pada Sierra, teralihkan dari lamunan masing-masing.


“Ah, tentu!” jawab Beatrice bersemangat.


“Ah, apa kamu ingin meminta saran lagi? Tentang priest?” tanggap Sierra.


“A-anu … aku belum bisa tidur, jadi a-aku … aku—”


“Ah! Di sini kalian rupanya!” Giliran Lana yang menghampiri mereka berdua.


Beatrice dan Sierra melongo menatap gadis berambut hitam panjang dan ber-headband merah itu. Melihat wajahnya secara teliti, mata sipit menjadi karakteristik khas, lebih sipit daripada Yudai. Alis tipis juga menjadi hal menonjol.


“A-anu … apa aku mengenalmu?” tanya Sierra.


“Oh, hai, Lana. Sudah lama tidak bertemu,” tanggap Beatrice.


“Sudah lama sekali. Selama libur musim dingin aku telah menunggu sambil mengerjakan tugas. Begitu sudah kembali masuk semester kedua, sayang sekali, aku bahkan tidak sempat bertemu Kakak.”


“Kakak?” Sierra heran. 


“Lebih tepatnya secara harfiah. Si murid bermantel putih yang menjadi teman kalian sudah kuanggap sebagai kakak.”


Sebuah kilas balik terlintas pada benak Beatrice. Pertama kali ia bertemu bersama Sans, Yudai, Tay dan Neu setelah menyaksikan Riri beraksi dalam ujian akhir semester.


Ia memandang Lana kagum terhadap Sans setelah mematahkan ekspektasi tentang murid bermantel putih sebagai murid yang tidak punya harapan dalam ujian. Hal yang benar-benar tidak ia sangka, sungguh.


Lana melanjutkan, “Oh ya, lain kali, aku ingin berlatih bersama kalian. Kalau menyelesaikan misi juga boleh.”


“I-iya.” Beatrice kehabisan kata-kata.


“Omong-omong, aku ingin tahu Sans itu orangnya seperti apa? Apa dia terus berlatih keras? Apa makanan favoritnya? Apa kebiasaan favoritnya? Ah, banyak sekali yang ingin kutanyakan.”


Bagi Beatrice, memikirkan banyak pertanyaan sudah membuat dirinya kewalahan, apalagi menjawab satu per satu. Ia tidak menyangka Lana sangat ingin tahu segala hal tentang Sans.


Katherine juga semakin ragu menatap Lana secara percaya diri ingin tahu tentang Sans, sedangkan dirinya … masih saja harus berpikir dua kali ketika di dalam benaknya ingin tahu tentang Yudai.


Katherine menyimpulkan Lana pernah bertemu dan berbicara dengan Sans. Sementara ia mengagumi tingkah Lana yang tidak malu-malu berinisiatif, dirinya iri, cukup iri. Seperti merasa jengkel, tetapi ia tidak mau hal itu terlihat pada seluruh orang di dalam kapal, terutama Beatrice, Sierra, dan Lana.


Ia merasa tidak bisa seperti mereka bertiga. Jika ia berlagak begitu, peluang besar untuk mendapat penolakan di depan mata.


“Katherine?” panggil Sierra.


“Eh!” Katherine buyar. “Y-ya? A-anu … be-begini, sebenarnya aku ingin tahu rahasia kamu menguasai mantra penyembuh begitu cepat, Sierra.”


Katherine tahu dari dalam lubuk hatinya bukan itu yang ingin ia ungkapkan, melainkan sesuatu tentang Yudai. Sudah telanjur malu, makai a tidak bisa mengubah pertanyaan.


“Ah. Benar,” Beatrice menambah, “saat kamu tidak ada saat libur musim dingin, Sierra, Katherine membantu Sans, Yudai, dan aku dalam menjalankan misi. Sebenarnya kami juga dibantu Riri. Misi kami waktu itu, menumpas Basilisk, ular yang sangat, sangat besar! Kekuatannya begitu mematikan.”


“Ah! Kalau begitu hebat sekali!” puji Lana. “Tidak salah aku memilih Sans sebagai kakak! Dia adalah kakak yang tidak terduga!”


Sierra mengangguk pada Katherine. “Kamu hebat bisa membantu mereka mengalahkan Basilisk. Aku tahu monster itu dapat membunuh hanya dengan menatap mata secara langsung. Aku bahkan tidak menyangka kalian bisa mengalahkannya.”


Katherine memalingkan wajahnya yang memerah. “A-anu, a-a-aku hanya menyembuhkan Sans, Yudai, dan Riri.”


Beatrice kembali mengulum senyuman menatap Sierra dapat cepat akrab dengan Katherine dan Lana, meski bukan bagian dari kelompok teman dekatnya. Terpikir juga bahwa ia ingin mengajak Lana suatu saat nanti dalam menyelesaikan misi bersama Sans, Yudai, Tay, dan Neu.


Ia mendengar saran Sierra pada Katherine tentang menjadi priest andal. Kepercayaan diri, optimisme, dan ketulusan, kunci rahasia untuk menyempurnakan kemampuan itu.


Sekarang, percakapan menjadi satu-satunya untuk mengalihkan perhatian selama perjalanan berlangsung. Sudah cukup lama bagi Beatrice tidak berbicara banyak dengan teman perempuan selain Sierra, apalagi pada masa kecilnya di rumah, hanya orang dewasa yang berada di sampingnya.


Benar-benar berbeda jika dibandingkan hanya berbicara pada kerumunan teman laki-laki. Saling pengertian dan lembut menjadi hal utama yang ia alami dalam percakapan itu. Setidaknya, selama petualangannya di Akademi Lorelei memasuki semester kedua.